Karya terbaru dari Kyoto Animation berjudul Sparks of Tomorrow menghadirkan pendekatan yang segar bagi studio tersebut. Mengusung genre romansa alternatif di mana tenaga listrik tidak pernah ditemukan, cerita ini berpusat pada penemuan, komunikasi, serta hubungan antara dua karakter utamanya, yaitu Kihachi dan Inako.
Menjelang penayangan serial ini, Anime Corner berkesempatan untuk mewawancarai Sutradara Minoru Ota dan Produser Satori Senami, serta melibatkan beberapa tanggapan dari ABC Animation. Mereka membahas bagaimana menafsirkan ulang teknologi yang akrab di kehidupan nyata melalui sudut pandang berbeda, menjadikan latar seni sebagai pusat visual, menjaga inti emosional cerita, hingga membagikan karya terbaru ini ke kancah global lewat platform Netflix.
P: Sparks of Tomorrow berlatar di dunia alternatif yang unik di mana listrik tidak pernah berkembang. Apakah latar tersebut memberikan peluang kreatif atau tantangan tersendiri bagi Anda sebagai sutradara?
Sutradara Ota: Seluruh perangkat elektrik yang muncul dalam Sparks of Tomorrow—seperti bola lampu dan telepon—adalah benda-benda yang juga ada di dunia nyata kita. Justru karena benda-benda tersebut sangat akrab bagi semua orang, saya merasa sangat tertantang sekaligus menikmati proses menyajikannya dengan cara yang baru dan imajinatif.
Aspek unik lainnya dari film ini adalah latarnya yang berada di dunia sejarah alternatif. Hal tersebut memungkinkan kami untuk sedikit melonggarkan batasan realisme dan memberikan kebebasan kreatif yang lebih besar. Kami dapat mengembangkan cerita dalam skala yang lebih luas serta mengeksplorasi jangkauan emosi karakter yang lebih dalam, sehingga memungkinkan kami mengambil tantangan kreatif yang lebih ambisius.
P: Di dunia ini, listrik lebih terasa seperti sebuah impian dan harapan daripada kenyataan yang dapat dinikmati sejak awal. Bagaimana cara Anda menampilkan sensasi “hampir mencapainya” secara visual sebelum benar-benar hadir di layar?
Sutradara Ota: Sepanjang cerita, Kihachi lebih banyak berfokus pada upaya menciptakan perangkat listrik dan menggunakannya. Namun, jika kami menggambarkan kedatangan “era listrik” secara harfiah, cerita mau tidak mau harus beralih ke hal-hal yang lebih praktis seperti produksi massal, infrastruktur, dan ekspansi bisnis. Ketimbang menggambarkan pertumbuhan industri secara langsung, kami memilih untuk mengekspresikan datangnya era listrik secara metaforis melalui perkembangan pribadi Kihachi dan Inako. Perjalanan mereka sebagai individu pada akhirnya menjadi penggerak utama dunia menuju terwujudnya era kelistrikan.
P: Berbagai materi resmi menyebut karya ini sebagai “batas baru Kyoto Animation”. Apa hal yang benar-benar baru atau sulit bagi Anda secara pribadi dalam proyek ini, jika dibandingkan dengan karya-karya Anda sebelumnya di studio?
Sutradara Ota: Saya rasa salah satu tantangan terbesar—baik bagi diri saya sendiri maupun industri secara umum—adalah keputusan kami untuk menjadikan latar seni sebagai pusat visual dari serial ini. Menerapkan pendekatan tersebut untuk produksi satu musim penuh menjadikannya sebuah pekerjaan yang sangat besar.
Akibatnya, sebagian besar pengalaman produksi yang telah kami kumpulkankan dari proyek-proyek sebelumnya menjadi tidak relevan. Setiap kali kami menemui jenis adegan baru, kami harus mengembangkan teknik baru dan menguji apakah teknik tersebut benar-benar berfungsi. Satu hal yang tidak kami duga sebelumnya adalah efek pencahayaan pascaproduksi kami ternyata tidak cocok dengan latar seni serial ini. Latar belakang bergaya lukisan dengan sapuan kuas yang jelas tidak dapat berpadu secara alami dengan gradasi halus yang dihasilkan melalui proses kompositing.
Ketika kami menyadari bahwa pendekatan pencahayaan konvensional tidak akan berhasil, itu menjadi masalah besar bagi kami. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk melukis cahaya secara langsung ke dalam latar seni itu sendiri. Langkah tersebut tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memungkinkan kami menciptakan pencahayaan yang jauh lebih khas dan ekspresif ketimbang hanya mengandalkan proses kompositing.
P: Jika penonton datang dengan ekspektasi menonton karya steampunk khas KyoAni dan tidak mengharapkan hal lain, apa pesan utama yang ingin Anda sampaikan kepada mereka?
Sutradara Ota: Sebuah kota yang dipenuhi uap dan debu jelaga, masyarakat gelap di mana perkembangan teknologinya mengalami stagnasi—semua elemen ini merupakan peran utama dari latar steampunk dalam karya ini, yakni menciptakan lingkungan yang menyesakkan bagi para karakter yang tinggal di dalamnya. Jika ditanya apa yang paling ingin saya sampaikan kepada penonton dari cerita ini, saya ingin mereka melihat bagaimana Kihachi, Inako, dan karakter lainnya terus melangkah maju betapa pun tidak masuk akalnya situasi yang mereka hadapi.
Seandainya Kihachi dan Inako tidak pernah saling bertemu dan terus menjalani hidup masing-masing secara terpisah, mereka mungkin pada akhirnya akan menyerah pada impian mereka. Namun, mereka bertemu. Mereka menghargai pertemuan tersebut dan tidak pernah mengabaikan perkataan satu sama lain, bahkan ketika kata-kata itu terasa berat atau sulit didengar. Melalui kisah ini, saya berharap penonton dapat merasakan kekuatan yang lahir dari ketekunan untuk terus berkomunikasi dan dengan jujur mengikuti impian masing-masing.
P: Jika penonton hanya bisa mengingat satu hal dari Episode 1, apakah itu dunianya, pasangan utamanya, atau gagasan tentang listrik itu sendiri?
Sutradara Ota: Secara pribadi, saya berharap penonton mengingat pasangan utamanya, yaitu hubungan antara dua protagonis tersebut di atas segalanya. Tentu saja, saya juga ingin mereka memperhatikan pembangunan dunianya serta konsep listrik itu sendiri, namun saya percaya daya tarik terbesar dari serial ini terletak pada drama manusianya. Latar dunia dan konsep listrik adalah elemen yang utamanya hadir untuk memperkuat drama manusia tersebut. Dengan berfokus pada Kihachi, Inako, dan karakter lainnya, penonton dapat merasakan cerita pada tingkat yang lebih mendalam dan mengapresiasi karya ini dengan lebih baik.
P: Ini adalah pengalaman pertama Anda menyutradarai serial TV. Insting apa dari pengalaman bertahun-tahun sebagai animator yang paling Anda Andalkan sebagai seorang sutradara?
Sutradara Ota: Karena saya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai keuatan dan karakteristik masing-masing animator, saya dapat menempatkan staf pada setiap episode dan adegan dengan tingkat presisi yang tinggi. Saya juga secara alami mengerti apa yang memotivasi para animator dan hal apa yang mampu memunculkan karya terbaik dari diri mereka.
Melalui komunikasi sehari-hari, saya yakin saya dapat memberikan dorongan serta inspirasi kepada mereka dengan cara yang natural.
P: Judul ini memiliki judul bahasa Jepang, subjudul ciptaan, dan kini judul bahasa Inggris untuk rilis internasional. Bagaimana strategi penamaan tersebut dirancang agar dapat diterima oleh kedua belah pihak penonton?
ABC Animation: Judul bahasa Inggris untuk serial ini adalah Sparks of Tomorrow. Saat mengembangkan judul internasional tersebut, ketimbang membuat terjemahan langsung, kami ingin menyampaikan tema-tema utama dari karya ini—seperti “listrik” dan semangat untuk mengambil tantangan demi masa depan—dengan cara yang dapat mengomunikasikan daya tarik serial ini kepada khalayak yang lebih luas. Judul ini juga dikembangkan melalui diskusi bersama Netflix, yang menjadi mitra platform penayangan eksklusif global kami.
P: Ini adalah pertama kalinya KyoAni merilis karyanya secara eksklusif di seluruh dunia melalui Netflix, serentak dengan penayangan di Jepang. Apa yang berubah dari strategi perencanaan rilis Anda akibat kemitraan tersebut?
ABC Animation: Sejak tahap awal produksi, kami memang berniat untuk menghadirkan karya ini kepada para penggemar anime di seluruh dunia, dan kami telah merencanakan berbagai inisiatif internasional termasuk pemutaran perdana dunia. Distribusi global melalui Netflix tidak secara signifikan mengubah jadwal rilis atau strategi global kami secara keseluruhan.
Kendati demikian, Netflix telah mendukung kami dalam upaya promosi baik di Jepang maupun kancah internasional, termasuk kampanye luar ruang serta nominasi di Festival Film Animasi Internasional Annecy. Melalui kemitraan ini, kami yakin dapat membawa serial ini menjangkau penonton yang lebih luas lagi.
P: Dengan adanya penayangan serentak di seluruh dunia yang kini telah menjadi standar, apakah hal tersebut mengubah cara pandang Anda terhadap kesan pertama dari sebuah judul, jika dibandingkan dengan peluncuran karya-karya studio sebelumnya?
Produser Senami: Sejak awal produksi, kami bertujuan untuk menyampaikan karya ini kepada khalayak di seluruh dunia sembari tetap setia pada nilai-nilai dan kualitas yang selalu kami utamakan dalam setiap karya kami. Dalam hal ini, dapat membagikan dunia unik dari serial ini kepada para penonton di mana pun secara bersamaan adalah sesuatu yang sangat bermakna bagi kami. Kami berharap para penonton di seluruh dunia dapat menikmati pengalaman menyaksikan serial ini seiring cerita yang terungkap secara langsung.
P: Sparks of Tomorrow terpilih untuk berkompetisi secara resmi di Annecy, yang merupakan pencapaian pertama bagi Kyoto Animation. Apa arti pengakuan tersebut dari sudut pandang seorang produser, dan apakah reaksi penonton festival memberikan gambaran mengenai bagaimana serial ini diterima secara internasional?
Produser Senami: Dari sudut pandang produser, saya merasa sangat bersyukur atas pengakuan tersebut, dan di saat yang bersamaan, hal itu juga menjadi sebuah kelegaan yang besar.
Sepanjang proses produksi, kami memasukkan berbagai pendekatan baru dan ambisius dengan tujuan membagikan karya ini kepada penonton di seluruh dunia—mulai dari cara kami menggambarkan dan mengadaptasi unsur sejarah hingga komposisi visual yang digunakan untuk membangun dunia dalam serial ini.
Karena kami secara sengaja mengejar bentuk ekspresi yang berbeda dari karya-karya Kyoto Animation sebelumnya, mendapatkan pengakuan atas pilihan-pilihan tersebut merupakan sebuah pencapaian yang signifikan bagi seluruh tim produksi.
P: Anda juga telah memproduksi Liz and the Blue Bird, A Silent Voice, dan Miss Kobayashi’s Dragon Maid yang semuanya memiliki nada dan genre yang sangat berbeda. Hal apa yang terbawa dari pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam proyek seperti Sparks of Tomorrow?
Produser Senami: Salah satu kekuatan terbesar Kyoto Animation adalah cara para stafnya bersatu dan berkolaborasi erat untuk menciptakan setiap karya. Karena tim inti sebagian besar tetap konsisten dari satu proyek ke proyek berikutnya, teknik dan pengalaman yang dikembangkan melalui produksi sebelumnya secara alami akan terwariskan. Kelanjutan itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa ciri khas “KyoAni” dapat dirasakan dalam karya-karya kami. Di sisi lain, kami selalu berfokus untuk menetapkan konsep yang unik bagi setiap judul dan mengejar gaya artistik yang spesifik untuk karya individu tersebut. Melalui Sparks of Tomorrow, kami membangun di atas pengetahuan dan pengalaman yang telah diwarisi sekaligus mengambil tantangan untuk menciptakan ekspresi yang belum pernah dilihat oleh penonton sebelumnya. Hasilnya, saya yakin kami berhasil mencapai perpaduan antara kualitas yang mendefinisikan Kyoto Animation dengan nuansa karya Kyoto Animation yang baru.
P: Jika dikenang kembali, apa percakapan paling awal yang Anda berdua lakukan mengenai hal apa yang mutlak harus dipertahankan dalam adaptasi ini?
Produser Senami: Sejak awal, kami berfokus untuk mempertahankan esensi cerita sebagai narasi “boy meets girl”, kontras antara Kihachi dan Inako, serta perkembangan karakter mereka.
Sutradara Ota: Kami juga mendiskusikan keseluruhan nada yang ingin kami hadirkan dalam karya ini—sesuatu yang dapat dinikmati oleh penonton tanpa merasa terintimidasi, namun tetap menjadi cerita yang mampu menarik minat mereka.
P: Bagaimana cara Anda menentukan bagian mana dari dunia ini yang perlu dijelaskan kepada penonton, dan bagian mana yang bisa dibiarkan tersirat melalui visual seperti asap, arsitektur, dan mesin alih-alih melalui dialog?
Sutradara Ota: Manusia secara alami tertarik pada hal-hal yang belum mereka pahami, sehingga kami merasa bahwa penjelasan yang berlebihan mengenai dunia tersebut justru dapat mengurangi rasa penasaran penonton. Bahkan ketika elemen-elemen yang asing muncul di dalam latar seni, kami ingin penonton merasakan keajaiban dan misteri terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, kami sengaja menjaga penjelasan mengenai dunia dan latar tempat pada batas minimum yang benar-benar diperlukan.
P: Bagian mana dari identitas KyoAni yang menurut Anda dapat diterjemahkan ke berbagai budaya tanpa memerlukan penjelasan apa pun—apakah itu penampilan karakternya, warna, ritme, atau sesuatu yang lain?
Produser Senami: Saya percaya itu adalah pendekatan kami yang tulus dan berdedikasi terhadap seni animasi itu sendiri. Tekad kami untuk tidak pernah mengambil jalan pintas dan menghadirkan karya terbaik yang mungkin pada akhirnya muncul di layar melalui penampilan karakter yang cermat serta ekspresi visual.
Sutradara Ota: Saya merasakan hal yang sama. Semangat yang dibawa oleh para kreator ke dalam kerajinan mereka terkadang dapat melampaui niat awal seorang sutradara dan menciptakan daya tarik yang tidak dapat dihitung atau direncanakan sebelumnya. Setiap saat saya merasa takjub karena proses tersebut terasa hampir seperti sihir.
Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Sutradara Minoru Ota, Produser Satori Senami, serta ABC Animation karena telah meluangkan waktu menjawab pertanyaan kami dan membantu mewujudkan wawancara ini. Serial anime ini sedang tayang secara eksklusif di Netflix.
Official Website Sparks of Tomorrow
©Hiro Yuki, Kyoto Animation/Sparks of Tomorrow Production Committee








