Home / Travel / Panduan Lengkap Wisata Prefektur Ibaraki, Permata Tersembunyi di Jepang

Panduan Lengkap Wisata Prefektur Ibaraki, Permata Tersembunyi di Jepang

Fields of Nemophila at Hitachi Seaside Park in Ibaraki Prefecture

Prefektur Ibaraki sering kali dipandang sebelah mata, baik oleh wisatawan mancanegara maupun masyarakat Jepang sendiri. Wilayah ini sebenarnya menyimpan banyak sekali daya tarik yang menarik, hanya saja memang tidak memiliki satu ikon tunggal yang begitu mendunia hingga mampu memikat wisatawan untuk datang berkunjung hanya demi satu hal tersebut. Ibarat dalam dunia bisbol, objek wisata di Ibaraki ibarat pukulan base hit yang konsisten—jika dikumpulkan semuanya akan menjadi sebuah kemenangan, tetapi kurang memiliki daya kejut yang bombastis seperti lemparan home run. Berbeda dengan prefektur seperti Nara yang langsung diasosiasikan dengan taman rusa ikoniknya, Ibaraki belum memiliki tingkat kepedulian merek yang sama di kancah internasional.

Namun, tentu saja ada satu pengecualian besar yang patut disebutkan, yaitu Hitachi Seaside Park. Suaka alam yang memukau ini kerap menjadi satu-satunya destinasi yang paling dikenal, terutama saat musim bunga nemophila berwarna biru cerah bermekaran. Di luar periode singkat tersebut, sangat sedikit wisatawan asing yang memprioritaskan kunjungan ke sana. Padahal, kawasan taman ini sebenarnya menawarkan pemandangan yang menawan sepanjang tahun.

Perjalanan menjelajahi Ibaraki membutuhkan perencanaan yang matang. Secara geografis, prefektur ini berbatasan langsung dengan Fukushima di utara, Tochigi di barat laut, Saitama di barat daya, serta Chiba di selatan, sehingga jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Tokyo. Kendati demikian, bentang alamnya yang dikelilingi oleh danau-danau besar membuat jalur kereta api harus memutar, sehingga wilayahnya terbagi menjadi beberapa kantong area yang terisolasi. Koneksi antarwilayah yang tidak selalu langsung berarti Anda perlu memeriksa jadwal perjalanan dengan teliti menggunakan layanan seperti Jorudan sebelum berangkat.

Mito dan Kairaku-en

Mito Station in Ibaraki Prefecture.

Sebagai ibu kota prefektur, Mito menawarkan suasana perkotaan yang pas—tidak terlalu padat dan menekan seperti Tokyo, tetapi juga tidak terlalu sepi atau pedesaan. Kota ini berhasil mencapai keseimbangan yang jarang ditemui di tempat lain, sekaligus kaya akan warisan sejarah dan budaya yang siap memanjakan para pelancong pencinta sejarah.

Daya tarik utama di Mito tentu saja adalah Kairaku-en, sebuah taman tradisional yang dinobatkan sebagai salah satu dari tiga taman terindah di Jepang. Terletak di tepi Danau Senba dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari pusat kota, taman ini dipenuhi oleh lebih dari 3.000 pohon plum yang mencapai keindahannya pada akhir musim dingin hingga awal musim semi. Jangan lewatkan pula kunjungan ke Kobuntei, sebuah vila bersejarah yang dulunya digunakan oleh para penguasa setempat.

Oarai dan Kuilnya

The seaside torii of Oarai Isosaki Shrine in Ibaraki Prefecture.

Jepang terkenal dengan berbagai lokasi fotogenik yang sering menghiasi media sosial, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Ibaraki juga memiliki salah satu spot menakjubkan tersebut, yaitu Oarai Isosaki Shrine. Terletak di atas tebing karang pantai, kuil ini memiliki gerbang torii ikonik yang berdiri gagah di tepi laut, menyajikan panorama pesisir yang magis. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai atau mengandalkan layanan bus lokal yang jadwalnya cukup terbatas.

Hitachi Seaside Park

Ibaraki Prefecture’s Hitachi Seaside Park.

Terbentang luas di atas lahan sekitar 350 hektare tidak jauh dari Mito, Hitachi Seaside Park menawarkan lebih dari sekadar hamparan bunga. Kompleks ini juga mencakup taman hiburan serta jaringan jalur pejalan kaki dan sepeda. Lokasi ini dapat diakses dengan naik bus dari Stasiun Katsuura setelah perjalanan singkat menggunakan Jalur JR Joban dari Mito.

Meskipun terkenal dengan bunga nemophila birunya pada musim semi, taman ini sebenarnya memamerkan keindahan flora yang berbeda di setiap musimnya. Sebagai contoh, perbukitan di sini akan diselimuti warna merah menyala oleh tanaman kochia pada musim gugur, membuktikan bahwa tempat ini selalu layak dikunjungi kapan pun waktunya.

Kashima Jingu

The main hall of Ibaraki Prefecture’s Kashima Jingu

Tahukah Anda bahwa rusa-rusa terkenal di Nara konon berasal dari Kashima Jingu di Ibaraki? Menurut legenda ketika ibu kota dipindahkan ke Nara pada tahun 710, dewa agung Takemikazuchi yang bersemayam di kuil ini diminta pindah ke Kasuga Taisha di Nara dengan menunggangi seekor rusa jantan putih besar. Legenda inilah yang dipercaya menjadi asal usul populasi rusa di Taman Nara saat ini.

Terlepas dari cerita mitologis tersebut, Kashima Jingu adalah salah satu destinasi perjalanan sehari favorit dari Tokyo. Meskipun terletak di sudut terpencil dekat perbatasan Prefektur Chiba, suasana sakral di dalam kawasan kuil ini selalu berhasil memberikan ketenangan batin yang luar biasa.

Ushiku Daibutsu

Ibaraki Prefecture’s Ushiku Daibutsu.

Berdiri megah setinggi 120 meter, patung Buddha Amida di Ushiku ini merupakan salah satu struktur raksasa yang paling mengesankan di Jepang. Selesai dibangun pada tahun 1993, patung ini sempat memegang rekor sebagai patung tertinggi di dunia selama bertahun-tahun. Wisatawan diizinkan masuk ke dalam tubuh patung untuk menjelajahi museum empat lantai serta naik elevator menuju dek observasi di ketinggian 85 meter untuk menikmati pemandangan alam sekitar.

Karena ukurannya yang masif, patung ini tentu tidak dibangun di tengah kota yang padat, melainkan di area yang relatif tenang. Untuk mencapainya, pengunjung dapat naik Jalur JR Joban ke Stasiun Ushiku, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus dari Pelabuhan 2 selama kurang lebih 30 menit.

Gunung Tsukuba

The twin peaks of Ibaraki Prefecture’s Mt. Tsukuba

Sering disandingkan dengan Gunung Fuji karena bentuknya yang elok—hingga memunculkan ungkapan “Fuji di Barat, Tsukuba di Timur”—Gunung Tsukuba memiliki keunikan tersendiri berupa warna permukaannya yang tampak berubah-ubah sepanjang hari. Gunung ini sering digambarkan berwarna nila di pagi hari, hijau pada siang hari, dan berubah menjadi ungu menjelang matahari terbenam.

Di kaki gunung ini berdiri Tsukubasan Shrine, sebuah kuil berusia ribuan tahun yang memuja seluruh kawasan Gunung Tsukuba. Selain kekayaan alam dan sejarahnya, wilayah sekitar Gunung Tsukuba juga menjadi pusat pengembangan teknologi antariksa Jepang melalui Tsukuba Space Center milik JAXA yang telah beroperasi sejak tahun 1972.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *