Home / Travel / Pesona Musim Gugur di Aomori: Keindahan Daun Khas Jepang Utara

Pesona Musim Gugur di Aomori: Keindahan Daun Khas Jepang Utara

A Leaf during Autumn in Aomori

Bagi saya, musim gugur di Jepang adalah waktu yang paling istimewa dalam setahun. Meskipun musim semi terkenal dengan bunga sakuranya dan musim panas dengan berbagai festival tradisionalnya, keindahan kedua musim tersebut masih belum bisa menandingi pesona musim gugur. Selain suhu udaranya yang jauh lebih nyaman dibandingkan bulan Juli atau Agustus yang sering menjadi waktu kunjungan populer, seluruh penjuru negeri seolah hidup kembali dengan balutan warna merah, kuning, dan oranye yang memukau. Banyak wisatawan yang salah kaprah mengira bahwa bunga sakura adalah puncak dari keindahan alam Jepang, padahal guguran daun di musim gugur menawarkan pemandangan yang luar biasa indah.

Walaupun seluruh wilayah Jepang tampak menakjubkan saat musim gugur, keramaian di dekat kota-kota besar sering kali mengurangi kenyamanan menikmati alam bebas. Kendala ini bisa diatasi dengan meninggalkan kota-kota seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, lalu menjelajahi prefektur pedesaan. Nikko telah lama menjadi salah satu tempat favorit saya, namun karena saya sudah terlalu sering berkunjung ke sana, saya langsung menyambut baik ketika mendapat undangan untuk menjelajahi berbagai objek wisata musim gugur di Prefektur Aomori.

Sama seperti petualangan saya sebelumnya di Semenanjung Kunisaki, menyewa mobil sangat disarankan jika Anda ingin mengikuti rute perjalanan berikut. Meskipun moda transportasi umum tersedia, Aomori adalah wilayah dengan kultur berkendara yang kuat. Sewa mobil hampir pasti diperlukan jika Anda ingin meniru rute perjalanan saya secara persis, meskipun saya akan tetap berupaya menyertakan informasi transportasi umum sekiranya memungkinkan.

Cara Menuju ke Sana

Paper floats from Aomori Prefecture’s famed Nebuta Festival

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai perjalanan dua hari melintasi Aomori, mari kita lihat letak geografis prefektur ini dan cara untuk mencapainya. Terletak di ujung paling utara Pulau Honshu sebagai pulau utama Jepang, Aomori secara historis menjadi benteng peradaban terakhir sebelum memasuki Hokkaido. Meski terkenal dengan Festival Nebuta tahunannya, prefektur ini kerap dilewatkan oleh wisatawan mancanegara asal barat yang lebih memilih Kyoto atau Hiroshima. Padahal, Aomori menyimpan keindahan yang luar biasa saat musim gugur tiba.

Secara logistik, perjalanan ke Aomori tidak terlalu sulit meski Anda harus menempuh jarak yang cukup jauh. Wisatawan yang memiliki anggaran lebih dan waktu terbatas dapat menggunakan penerbangan JAL atau ANA dari kota besar mana pun. Sebagai alternatif, Aomori juga bisa diakses menggunakan kereta Shinkansen dalam waktu sekitar tiga jam. Bagi para pemegang JR Rail Pass, pilihan ini jauh lebih ekonomis. Pastikan untuk memeriksa jadwal kereta melalui layanan seperti Jorudan. Perlu diingat bahwa stasiun Shinkansen di prefektur ini bernama Stasiun Shin-Aomori, bukan Stasiun Aomori, mirip seperti perbedaan antara Stasiun Osaka dan Shin-Osaka.

Setibanya di Aomori, Anda sangat disarankan untuk menyewa mobil. Walaupun sebagian destinasi dapat dikunjungi menggunakan transportasi umum secara terpisah, sarana transportasi penghubung antar-objek wisata di sini sangat terbatas. Demi kenyamanan Anda, menyewa kendaraan adalah keputusan terbaik.

Musim Gugur di Aomori: Hari Pertama

The entrance to the Aomori Museum of Art in Aomori Prefecture

Destinasi pertama saya setelah tiba di Aomori adalah Aomori Museum of Art. Dibuka pada tahun 2006, museum ini didirikan untuk memperkenalkan seni dan kerajinan khas prefektur ini kepada dunia. Tempat ini menyimpan lebih dari 120 karya Yoshitomo Nara, seorang seniman muda asal Aomori, yang meliputi lukisan serta karya tiga dimensi. Patung raksasa Aomori Dog menjadi salah satu karya paling terkenal dan sering dijadikan latar belakang foto. Selain itu, terdapat pula karya dari seniman lokal lainnya seperti Narita Toru dan Terayama Shuji. Museum ini juga rutin mengadakan konser, lokakarya, dan pertunjukan teater dengan tiket masuk seharga 510 yen.

Tidak jauh dari museum tersebut, terdapat Situs Sannai-Maruyama yang wajib Anda kunjungi. Situs arkeologi ini ditemukan pada tahun 1992 ketika pemerintah setempat sedang melakukan survei untuk pembangunan stadion bisbol. Situs ini memegang peranan penting dalam memahami transisi masyarakat pada periode Jomon (14.000–300 SM) dari pola hidup meramu dan berburu menjadi menetap. Penggalian di lokasi ini menemukan berbagai lubang penyimpanan serta sisa tempat tinggal yang menandai akhir dari kehidupan nomaden. Berkat signifikansinya terhadap kebudayaan Jomon, Situs Sannai-Maruyama ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Khusus Nasional Jepang dengan tiket masuk gratis.

Karena lokasinya yang berdampingan dengan Aomori Museum of Art, kedua tempat ini sangat ideal untuk dikunjungi secara bersamaan. Keduanya juga dilayani oleh bus wisata kota Aomori, yaitu Nebutan-go, sehingga mudah dijangkau bahkan tanpa menyewa mobil.

Furukawa Fish Market’s nokkedon in Aomori Prefecture

Setelah puas berkeliling museum dan situs arkeologi, perut saya mulai keroncongan sehingga kami memutuskan pergi ke pusat Kota Aomori. Tujuan kami adalah Pasar Ikan Furukawa yang menawarkan pengalaman makan siang yang unik. Konsepnya cukup sederhana: pengunjung dapat membeli sekumpulan kupon sebanyak lima hingga sepuluh lembar dengan harga berkisar antara 650 hingga 1.300 yen. Setelah mendapatkan kupon, langkah selanjutnya adalah menuju stasiun nasi untuk menukar satu atau dua kupon dengan porsi nasi biasa atau besar.

Bagian paling seru dimulai setelah Anda mendapatkan mangkuk nasi tersebut. Para pedagang di pasar ini tidak hanya menjual ikan utuh dengan cara konvensional, tetapi juga mengizinkan Anda menukar kupon dengan porsi kecil makanan laut segar pilihan mereka. Anda bisa meracik sendiri mangkuk hidangan laut sesuai selera, mulai dari salmon mentah, tuna, gurita, hingga berbagai pilihan hidangan matang. Semuanya terasa sangat segar dan menggugah selera. Anda tinggal memilih lauk yang diinginkan lalu menikmati santapan tersebut di meja yang telah disediakan.

Aomori Prefecture’s Hakkoda mountain range during autumn

Perjalanan dilanjutkan menuju Pegunungan Hakkoda yang megah. Gugusan gunung berapi ini masuk dalam daftar 100 gunung terkenal di Jepang. Walaupun namanya mungkin kurang begitu familiar di kalangan wisatawan asing, Pegunungan Hakkoda sangat populer di antara para pendaki lokal dan pecinta alam karena keindahan musimannya. Dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter, kawasan ini menjadi salah satu wilayah pertama di Jepang yang menyambut panorama musim gugur. Daun-daun di sekitar puncak mulai berubah warna pada bulan September, sementara area kaki gunung mencapai puncak keindahannya pada pertengahan Oktober.

Selain keindahan musim gugurnya, Pegunungan Hakkoda bersama Gunung Zao di Yamagata adalah sedikit tempat di Jepang di mana Anda bisa melihat fenomena monster salju. Pada musim dingin, kawasan ini diselimuti salju tebal yang menjadikannya surga bagi para pemain ski dan snowboarding. Fasilitas kereta gantung atau Hakkoda Ropeway tetap beroperasi saat musim gugur, menawarkan cara terbaik untuk menikmati pemandangan bentang alam yang luas dengan harga tiket pulang-pergi sekitar 1.850 yen.

A room in a ryokan at Aomori Prefecture’s Sukayu Onsen

Malam harinya, saya menginap di sebuah ryokan bersejarah bernama Sukayu Onsen yang telah berdiri lebih dari tiga ratus tahun. Daya tarik utama penginapan ini adalah Hiba Sennin-buro (Pemandian 1,000 Orang) yang legendaris. Terletak di dalam aula kayu bergaya pedesaan yang atmosferik, pemandian ini dialiri air panas bersulfur tinggi yang bersumber langsung dari perut Pegunungan Hakkoda. Kandungan mineralnya begitu pekat hingga membuat airnya tampak keruh.

Hal unik dari Hiba Sennin-buro adalah statusnya sebagai salah satu dari sedikit pemandian air panas berendam campur pria dan wanita yang masih tersisa di Jepang. Namun, Anda tidak perlu merasa khawatir karena uap panas yang mengepul dan air yang kaya mineral membuat pandangan di dalam area pemandian menjadi sangat terbatas. Bagi pengunjung wanita yang merasa risih, pihak penginapan menyediakan jam khusus wanita setiap pukul 08.00–09.00 pagi dan malam hari. Selain itu, tersedia pula fasilitas pemandian terpisah khusus pria dan wanita. Pengunjung yang tidak menginap juga dapat menikmati pemandian ini untuk penggunaan harian antara pukul 07.00 hingga 18.00 dengan biaya di bawah 1.000 yen.

Musim Gugur di Aomori: Hari Kedua

A leaf is held in front of a stream during autumn at Oirase Gorge in Aomori Prefecture

Memasuki hari kedua, perjalanan dilanjutkan menuju Jurang Oirase yang membentang sejauh 14 kilometer dari kaki Pegunungan Hakkoda hingga tepi Danau Towada. Berpusat pada aliran Sungai Oirase yang jernih, jurang ini dikelilingi oleh hutan gugur yang berubah menjadi terowongan warna-warni yang memukau saat musim gugur tiba. Tempat ini paling ideal dijelajahi menggunakan mobil, meskipun tersedia jalur pejalan kaki yang elok bagi mereka yang ingin menikmati alam secara lebih dekat.

Destinasi berikutnya adalah Danau Towada yang merupakan danau kaldera terbesar di pulau utama Jepang sekaligus bagian dari Taman Nasional Towada-Hachimantai. Danau ini dikelilingi oleh dinding kaldera berhutan lebat dan memiliki bentuk yang unik berkat dua semenanjung besar yang menjorok ke tengahnya. Sebagian besar wilayah di sekitar danau dibiarkan alami, kecuali di kawasan Yasumiya tempat saya beristirahat untuk makan siang.

A komainu lion-dog guards Lake Towada’s Towada Shrine in Aomori Prefecture

Bagi pelancong yang ingin mencari keunikan lain di sekitar wilayah ini, terdapat satu situs tidak biasa yang terletak sekitar 25 kilometer di sebelah timur Danau Towada. Di kota terpencil Shingo, terdapat dua gundukan tanah di atas bukit berhutan yang oleh legenda lokal diyakini sebagai makam Yesus Kristus dan saudaranya, Isukiri. Meskipun hampir pasti merupakan cerita rekaan, dokumen kuno yang ditemukan pada tahun 1930-an mengklaim bahwa Yesus sempat melarikan diri ke Jepang pada masa mudanya dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya pada usia 106 tahun.

Selepas menikmati hidangan Towada Barayaki yang lezat, saya melanjutkan perjalanan selama satu jam menuju Hirosaki. Setibanya di sana, tujuan utama saya adalah kompleks Istana Hirosaki yang bersejarah. Dibangun pertama kali pada tahun 1611, menara utama istana ini sempat terbakar akibat sambaran petir pada tahun 1627 dan kemudian dibangun kembali pada tahun 1810. Istana Hirosaki menjadi satu-satunya istana asli di wilayah utara Jepang yang bukan merupakan hasil rekonstruksi modern, sehingga menampilkan atmosfer yang jauh lebih autentik.

Catatan: Bekas kawasan taman istana di Hirosaki ini juga dikenal sebagai salah satu tempat terindah di dunia untuk menikmati musim bunga sakura!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *