Gunung Fuji telah lama dipuja sebagai gunung suci jauh sebelum catatan sejarah modern Jepang bermula. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa masyarakat pada zaman Jomon telah menganggap gunung ini sebagai objek pemujaan yang berkaitan dengan bentuk awal Shinto. Sebelum letusan besar mengubah bentuknya menjadi kerucut tunggal seperti yang terlihat saat ini, gunung ini awalnya memiliki puncak kembar akibat pertemuan tiga lempeng tektonik.
Meskipun bentuk pemujaan masa lalu masih diliputi misteri, catatan sejarah dari milenium pertama Masehi mulai memberikan kejelasan. Pendakian pertama yang tercatat dilakukan pada tahun 663 Masehi oleh seorang biksu Buddha anonim. Pada masa-masa awal, masyarakat setempat memandang puncak tersebut sebagai tempat bersemayam para dewa, sehingga mereka tidak berani menginjakkan kaki di kawasan suci tersebut.
Pusat pemujaan utama Gunung Fuji berpusat di kompleks Fujisan Hongu Sengen Taisha yang terletak di kaki gunung, tepatnya di kota Fujinomiya. Berdasarkan catatan kekaisaran, situs ini didirikan pada masa pemerintahan Emperor Suinin dan diselesaikan di bawah kekuasaan Emperor Keiko. Kompleks ini diyakini dibangun untuk meredakan kemarahan dewa gunung mengingat aktivitas vulkanik yang tinggi pada masa itu.
Dahulu, kompleks ini merupakan salah satu kuil termegah dan berfungsi sebagai titik awal bagi para peziarah yang ingin mendaki ke puncak. Seiring berjalannya waktu, serangkaian gempa bumi telah merusak sebagian besar bangunan yang didirikan atas perintah Tokugawa Ieyasu pada awal tahun 1600-an. Kendati demikian, bangunan utama seperti Honden, Haiden, dan gerbang kuil tetap berdiri megah hingga kini.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Fujinomiya dari Tokyo memerlukan beberapa kali transit. Pengunjung dapat naik kereta Shinkansen menuju Stasiun Mishima, dengan catatan untuk menghindari kereta tipe Nozomi yang hanya berhenti di Nagoya. Dari Stasiun Mishima, perjalanan dilanjutkan menggunakan Jalur JR Tokaido menuju Stasiun Fuji, kemudian berpindah ke Jalur JR Minobu hingga tiba di Stasiun Fujinomiya.
Seluruh perjalanan dari wilayah Tokyo memakan waktu sekitar dua jam, sehingga kunjungan ini sangat ideal dijadikan sebagai perjalanan sehari. Bagi wisatawan yang memiliki waktu luang, kawasan sekitar Stasiun Mishima juga menawarkan objek menarik seperti Mishima Taisha dan taman tradisional Rakuju-en.
Kompleks Fujisan Hongu Sengen Taisha

Kompleks Fujisan Hongu Sengen Taisha dapat dicapai dengan berjalan kaki selama sekitar sepuluh menit dari Stasiun Fujinomiya. Di dekat kuil, pengunjung dapat melihat aliran Sungai Kanda yang bersumber langsung dari Kolam Wakutama di dalam area kuil. Pada masa lampau, air jernih dari kolam ini digunakan oleh para peziarah untuk menyucikan diri sebelum mendaki Gunung Fuji.
Meskipun popularitas Fujisan Hongu Sengen Taisha sempat bergeser ke Kitaguchi Hongu Fuji Sengen Shrine di Prefektur Yamanashi setelah pusat pemerintahan berpindah ke Edo pada abad ke-17, wilayah resmi kuil ini secara hukum mencakup seluruh area di atas stasiun kedelapan Gunung Fuji, termasuk bagian puncak dan kawahnya.
Waktu terbaik untuk mengunjungi kompleks ini adalah pada akhir Maret hingga awal April, ketika lebih dari 500 pohon sakura bermekaran di sepanjang jalur Sakura-no-baba. Selain itu, kuil ini juga menyelenggarakan berbagai ritual penting, termasuk upacara pembukaan dan penutupan musim pendakian gunung pada bulan Juli dan September.
Pusat Warisan Dunia Gunung Fuji

Untuk memahami sejarah keagamaan dan latar belakang budaya Gunung Fuji secara lebih mendalam, pengunjung dapat mendatangi Mt. Fuji World Heritage Center yang terletak tak jauh dari kompleks kuil. Dibangun pada tahun 2017 untuk memperingati status gunung tersebut sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, fasilitas ini memiliki arsitektur unik berbentuk kerucut terbalik yang mencerminkan bayangan Gunung Fuji di atas kolam.
Di dalam gedung berlantai lima ini, pengunjung dapat mempelajari berbagai aspek mengenai sejarah spiritual gunung serta tradisi pendakian kuno melalui pameran informatif. Dengan biaya masuk yang terjangkau, fasilitas ini menyediakan jalur ramp spiral sepanjang 193 meter yang dilengkapi dengan tayangan video selang waktu pendakian bagi pengunjung yang tidak dapat mendaki secara langsung.
Asal Usul Nama Gunung Fuji

Salah satu legenda paling terkenal yang diasosiasikan dengan Gunung Fuji berkaitan dengan kisah rakyat Putri Kaguya. Cerita bermula ketika seorang penebang bambu tua menemukan seorang bayi perempuan berukuran seukuran jari di dalam batang bambu yang memancarkan cahaya terang di dekat kaki Gunung Fuji.
Bayi tersebut dirawat oleh pasangan suami istri tua dan diberi nama Nayotake no Kaguya-hime. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi perempuan berparas sangat jelita hingga menarik perhatian banyak bangsawan dan bahkan sang kaisar, yang semuanya berniat meminangnya.
Namun, Kaguya-hime menolak berbagai lamaran tersebut karena ia sebenarnya berasal dari Istana Bulan dan harus kembali ke tempat asal pada malam bulan purnama. Sebelum kepulangannya, ia meninggalkan jubah kenang-kenangan untuk orang tua angkatnya serta surat permohonan maaf dan sebotol ramuan keabadian bagi sang kaisar.

Merasa sangat terpukul atas kepergian sang putri, kaisar memerintahkan para pengawalnya untuk membawa surat dan ramuan tersebut ke puncak gunung tertinggi di negeri itu untuk dibakar, dengan harapan pesannya dapat sampai kepada Kaguya-hime di bulan. Dari kisah pembakaran ramuan keabadian atau “Fushi” inilah pelafalan tersebut berakulturasi dan berkembang secara etimologis hingga membentuk nama Gunung Fuji yang dikenal pada masa kini.








