Home / Travel / Mari Telanjang Bersama! Onsen dan Citra Tubuh: Jangan Malu, Ayo Masuk!

Mari Telanjang Bersama! Onsen dan Citra Tubuh: Jangan Malu, Ayo Masuk!

header 640x 34

Berendam di dalam air panas tentu menjadi salah satu kegiatan paling menyenangkan. Tubuh langsung terasa rileks, sementara kepenatan sehari-hari seolah menguap begitu saja bersama kepulan uap hangat. Namun, bayangkan jika tiba-tiba ada seorang perempuan paruh baya dalam kondisi tanpa busana menatap lekat ke arah Anda. Sontak, momen relaksasi tersebut berubah menjadi mimpi buruk yang mirip seperti situasi canggung saat Anda bermimpi pergi ke sekolah tanpa mengenakan pakaian.

Pengalaman mendatangi onsen atau pemandian air panas umum di Jepang memang bisa dirasakan demikian bagi sebagian orang. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, onsen menawarkan lebih dari sekadar ketenangan fisik. Tempat ini bahkan berpotensi mengubah cara pandang seseorang terhadap tubuhnya sendiri secara mendalam.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai onsen, penting untuk dicatat bahwa pengalaman ini ditulis berdasarkan sudut pandang pribadi sebagai seorang perempuan asing di Jepang. Berdasarkan cerita dari rekan-rekan, perempuan terkadang memiliki pengalaman yang cenderung lebih positif saat berkunjung ke onsen dibandingkan laki-laki asing yang kerap mendapat perhatian lebih.

Handuk Kecil dan Rasa Insecure

japanese onsen towel body image
Source: Christina Kaden

Kunjungan pertama ke onsen dulunya dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa. Seorang teman mengajak berkunjung ke sebuah hotel pemandian air panas di kota sebelah, dan sepanjang perjalanan pikiran diselimuti kecemasan. Apakah kehadiran sebagai orang asing akan memicu ketidaksukaan dari pengunjung lain akibat kesalahan budaya? Ditambah lagi, ada beban kultural mengenai ketelanjangan yang melekat sejak masa sekolah dasar, di mana anak-anak perempuan selalu berusaha menghindari terlihat telanjang bahkan di depan sesama teman.

Kecemasan lainnya datang dari ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh sendiri, mulai dari selulit hingga bentuk lengan dan pinggul. Ketika diberi selembar handuk berukuran kecil di onsen, muncul keraguan apakah benda sekecil itu mampu menutupi seluruh kekurangan tubuh.

Meski demikian, demi menghargai antusiasme teman yang sudah lama menantikan kunjungan tersebut, pakaian akhirnya dilepaskan dan ditaruh di dalam keranjang yang disediakan. Dengan rasa canggung, langkah kaki membimbing menuju ruang pancuran beruap. Di sana, setiap orang duduk di bangku pendek untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke kolam pemandian.

Selama berada di dalam air, rasa sadar diri yang berlebihan terus menghantui. Berbeda dengan sang teman yang tampak begitu menikmati suasana dengan tenang, ketegangan justru menyulitkan diri ini untuk merasakan kehangatan air maupun keindahan langit malam di luar ruangan.

Situasi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan kunjungan yang dilakukan tiga tahun kemudian. Tanpa rasa canggung, proses melepas pakaian, membersihkan diri, hingga berjalan menuju kolam pemandian dilakukan dengan santai sambil mengobrol bersama teman-teman. Rambut diikat menggunakan handuk kecil tanpa ada niat untuk menyembunyikan bentuk tubuh. Duduk di pinggir pemandian air panas luar ruangan atau rotemburo sambil merasakan sejuknya udara malam kini mendatangkan kebahagiaan tersendiri.

Transformasi dari seorang perempuan yang penuh kecemasan menjadi pribadi yang lebih santai ini berkat satu hal yang sering dijumpai di sana: para perempuan paruh baya atau oba-chan yang tampil percaya diri apa adanya.

Kebenaran di Balik Ketelanjangan

onsen instructions japanese body image
Source: John G. Cramer III

Kehidupan sehari-hari kerap mengekspos pandangan publik terhadap bentuk tubuh perempuan melalui standar kecantikan media yang kerap disunting sedemikian rupa, atau sebaliknya, menyoroti setiap cela selebritas secara berlebihan. Tidak heran jika hal tersebut membentuk citra tubuh yang negatif bagi banyak perempuan.

Onsen menjadi ruang pertama di mana tubuh perempuan asli dapat disaksikan tanpa rekayasa digital maupun penghakiman. Di tempat ini, tubuh-tubuh tidak dipamerkan untuk tujuan komersial atau daya tarik visual semata. Orang-orang hanya beristirahat dan berbincang wajar dalam balutan ketelanjangan. Beragam bentuk tubuh dapat ditemukan di sana, mulai dari yang bertubuh gempal, kurus, memiliki bekas luka operasi caesar, berbulu, hingga bentuk payudara yang beragam akibat proses menyusui. Bentuk fisik tersebut tidak lagi penting karena tujuan utama pengunjung datang adalah menikmati air hangat.

Kesadaran ini perlahan terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari. Cara pandang terhadap tubuh bergeser dari sekadar penampilan visual menjadi fungsi fungsionalnya sebagai alat untuk menjalani berbagai aktivitas, mulai dari mendaki gunung hingga mengetik tulisan ini. Rasa syukur terhadap tubuh pun semakin meningkat.

Pelajaran dari Para Oba-chan

outdoor onsen japanese body image
Source: Christopher Cotrell

Obrolan mengenai dinamika citra tubuh ini sempat dibahas bersama seorang teman saat berada di onsen. Teman tersebut memiliki penampilan fisik yang kerap dikagumi oleh masyarakat Jepang, seperti rambut pirang dan mata biru. Obrolan tersebut menyadarkan bahwa rumput tetangga selalu tampak lebih hijau bagi siapa pun, baik warga lokal maupun warga asing. Perempuan Jepang kerap mengagumi penampilan fisik orang asing, sementara sebagian perempuan asing justru mendambakan bentuk tubuh ramping perempuan Jepang.

Meskipun onsen memberikan rasa bebas secara personal, isu mengenai citra tubuh di kalangan perempuan Jepang rupanya masih menjadi tantangan tersendiri. Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan usia dua puluhan di Jepang berada di bawah berat badan ideal, yang kerap dikaitkan dengan pengaruh media dan standar ketat dari figur publik.

Menariknya, demografi pengunjung onsen lebih didominasi oleh perempuan usia lanjut dan para ibu yang membawa anak kecil. Generasi muda yang rentan mengalami masalah citra tubuh justru kerap kali terlalu sibuk bekerja untuk meluangkan waktu berkunjung ke sana. Sebaliknya, para oba-chan memiliki waktu luang yang cukup untuk memahami bahwa penampilan fisik seiring bertambahnya usia bukanlah hal yang perlu dicemaskan.

Mari Menikmati Onsen

Pengalaman menghindari onsen karena rasa tidak percaya diri adalah sebuah kerugian besar, mengingat manfaat positif yang bisa didapatkan dari tempat ini. Jepang memiliki banyak pilihan pemandian air panas yang menarik, mulai dari Dogo Onsen yang menginspirasi film animasi terkenal, pemandian alami gratis di pegunungan, hingga fasilitas rekreasi seperti Oodeo Onsen di Odaiba, Tokyo.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Jepang, menyempatkan diri menikmati onsen adalah hal yang sangat disarankan. Jangan biarkan rasa malu menghalangi pengalaman berharga yang tidak hanya menyegarkan kulit, tetapi juga menenangkan pikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *