Ketika penat dengan rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan melanda, Semenanjung Boso di Prefektur Chiba selalu menjadi tempat pelarian favorit saya. Beberapa waktu lalu, saya sempat mengunjungi Katsuura untuk mencari ketenangan. Namun, ketika masalah kembali datang menghimpit, saya memutuskan untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menyepi di ujung selatan Semenanjung Boso. Di sanalah saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Awa Shrine, sebuah permata tersembunyi di bagian selatan Prefektur Chiba yang sudah lama menarik perhatian saya.
Awa Shrine merupakan destinasi yang sangat cocok bagi para pelancong yang ingin keluar dari jalur wisata konvensional. Berdasarkan tradisi kuil, tempat ini dulunya merupakan salah satu dari dua tempat suci Shinto di Provinsi Awa yang memegang status sebagai ichinomiya, atau kuil utama di wilayah tersebut. Asal-usul berdirinya kuil ini diselimuti misteri, meski catatan sejarah menyebutkan bahwa kuil ini didirikan sekitar 2.670 tahun yang lalu oleh para leluhur Klan Imbe, sebuah keluarga berpengaruh yang menjadi pendahulu dari Klan Fujiwara yang legendaris.
Perjalanan sejarah kuil ini tidak selalu mulus. Kompleks bangunan aslinya hancur rata dengan tanah akibat gempa bumi besar pada tahun 1499. Karena situasi Jepang yang saat itu tengah dilanda perang saudara, kuil baru bisa dibangun kembali pada tahun 1593 setelah negeri mulai bersatu. Memasuki era modern, kuil ini sempat mendapat dukungan dari Keshogunan dan diangkat menjadi kuil kekaisaran tingkat pertama. Bangunan kuil yang berdiri saat ini berasal dari tahun 1875, yang berarti usianya telah melampaui satu abad.
Meskipun aksesnya cukup menantang dan mungkin bukan destinasi utama bagi sembarang wisatawan, Awa Shrine sangat layak dikunjungi jika Anda sedang berada di ujung Semenanjung Boso dan ingin menikmati suasana kuil yang sepi dari turis. Perlu dicatat juga bahwa festival utama kuil ini diadakan setiap tahun pada tanggal 10 Agustus. Mengingat musim panas di Jepang terkenal cukup terik, melipir ke wilayah selatan Chiba bisa menjadi cara yang tepat untuk menghindari panasnya cuaca.
Cara Menuju ke Sana
Mari kita bahas sedikit mengenai logistik perjalanannya. Mengunjungi bagian selatan Prefektur Chiba memang bukan perkara mudah, dan waktu tempuh yang lama justru menjadi alasan mengapa wilayah pedesaan ini sangat cocok untuk melarikan diri dari kesibukan Tokyo. Rute perjalanan menuju Kota Tateyama, tempat Awa Shrine berada, sangat bergantung dari titik keberangkatan Anda, sehingga layanan seperti Jorudan sangat membantu untuk mengecek jadwal kereta. Dalam perjalanan saya, saya menumpang Jalur Sobu menuju Stasiun Kimitsu, lalu berganti kereta ke Jalur Uchibo dengan tujuan Tateyama dan Awa-Kamogawa.
Alternatif lain untuk mencapai Semenanjung Boso adalah dengan menaiki feri yang menyeberangi Teluk Tokyo, mirip seperti rute perjalanan menuju Nokogiriyama. Cara ini sangat ideal bagi wisatawan yang memulai perjalanan dari Prefektur Kanagawa, misalnya setelah puas menjelajahi Yokohama atau Kamakura. Opsi ini bahkan lebih menguntungkan jika Anda menggunakan mobil sewaan, karena kendaraan tersebut dapat dibawa serta ke atas feri dengan sedikit biaya tambahan.
Berbicara soal transportasi lokal di sekitar sana, akses menuju Awa Shrine tergolong cukup menantang. Bus lokal memang tersedia, namun jadwal dan rutenya yang terbatas bisa membatasi kebebasan Anda untuk mengeksplorasi tempat menarik lainnya di sekitar sana. Oleh karena itu, menyewa sepeda setibanya di Stasiun Tateyama atau menggunakan mobil pribadi adalah pilihan terbaik untuk memaksimalkan pengalaman liburan Anda.
Bagi yang tetap memilih bus, pastikan untuk turun di halte bus Awa Jinja Mae. Berdasarkan situs resmi kuil, bus yang dituju adalah bus menuju Shirahama via Kanbe. Jika Anda merasa tersesat, Anda cukup menunjukkan tulisan Kanji untuk tempat tersebut kepada petugas di pusat bus. Kendati demikian, Anda harus memperhitungkan sendiri waktu perjalanan kembali ke stasiun.
Mengenal Lebih Dekat Awa Shrine

Terletak sekitar selusin kilometer di sebelah selatan pusat kota Tateyama, kompleks kuil kuno ini biasanya tampak tenang dan bersahaja di luar musim-musim tertentu. Namun, suasananya berubah drastis pada akhir Maret hingga awal April, di mana ratusan pohon sakura yang berada di area kuil bermekaran dan membalut kawasan tersebut dengan warna merah muda yang memukau, menciptakan pemandangan bak di dalam negeri dongeng.
Tidak seperti kebanyakan kuil pada umumnya, Awa Shrine memiliki dua aula utama yang dikenal sebagai Kuil Atas dan Kuil Bawah. Kedua tempat suci ini memuja dewa Amenofutodama-no-Mikoto dan Amenohiritome-no-Mikoto. Seluruh kompleks ini awalnya didirikan oleh keturunan mereka, yaitu Amenotomi-no-Mikoto, yang dalam legenda diyakini sebagai leluhur Klan Inbe. Jika silsilah mitologi ini terdengar rumit, yang perlu Anda ketahui adalah bahwa kuil di pelosok desa ini didirikan oleh tokoh leluhur dari keluarga yang kelak memegang pengaruh besar di Kyoto kuno.
Selain statusnya sebagai salah satu ichinomiya di Provinsi Awa, asal-usul kuil ini masih menyimpan misteri. Legenda setempat menuturkan bahwa pada masa pemerintahan Kaisar Jimmu, seorang dewa datang dari barat menggunakan perahu menuju ujung Chiba hampir tiga ribu tahun lalu, lalu mendirikan Awa Shrine sekaligus Klan Imbe.
Meskipun catatan sejarah pastinya masih abu-abu, bukti arkeologis menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni sejak lama. Dalam ekskavasi tahun 1931, para peneliti menemukan berbagai artefak seperti pecahan tembikar tanah liat, cermin perunggu, serta puluhan kerangka manusia. Hasil penanggalan karbon mengonfirmasi bahwa artefak-artefak tersebut berasal dari zaman Jomon dan Kofun, yang berarti usianya telah mencapai setidaknya enam belas abad.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Sini

Berkunjung ke ujung selatan Chiba akan terasa kurang lengkap jika Anda hanya mendatangi Awa Shrine seorang diri. Sebaiknya, luangkan waktu untuk menginap di salah satu hotel tepi pantai dan jelajahi berbagai objek wisata menarik di sekitarnya:
- Taman Shiroyama: Berada di atas tebing di pusat Kota Tateyama, taman publik ini merupakan lokasi dari Kastil Tateyama yang telah direkonstruksi. Tempat ini sangat indah pada musim semi ketika bunga sakura bermekaran di seluruh area bukit.
- Aloha Garden Tateyama: Berlokasi tidak jauh dari Awa Shrine, tempat ini menggabungkan fungsi pusat layanan jalan raya dan kebun raya tropis yang luas. Pengunjung dapat menikmati rumah kaca berisi tanaman langka, kebun binatang mini yang dihuni kapibara, serta pertunjukan tari Hula dan Tahiti pada akhir pekan.
- Sunosaki Shrine: Merupakan kuil ichinomiya “lain” di Provinsi Awa yang berdiri di atas Tanjung Sunosaki. Kuil ini telah lama disembah oleh para nelayan dan pelaut sebagai penjaga Teluk Tokyo.
- Nagisa-no-Eki Tateyama: Kompleks tepi pantai yang terletak hanya beberapa menit berjalan kaki dari Stasiun Tateyama. Tempat ini memiliki akuarium dengan tangki ikan lokal yang besar, dek observasi dengan pemandangan Teluk Tateyama, serta kafe yang nyaman.
- Daifuku-ji Kannon-do: Kuil unik yang dibangun langsung pada dinding tebing dan dijuluki oleh warga lokal sebagai “Kuil Tebing.” Didirikan pada abad ke-8 oleh biksu terkenal Gyoki, tempat ini menawarkan pemandangan menakjubkan dari berandanya.
- Sawah Terasering Oyama: Terletak agak jauh dari rute utama, kompleks yang terdiri dari 375 petak sawah terasering ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para fotografer lanskap dari berbagai penjuru negeri.
Sebagai tambahan, wilayah ini juga mencakup destinasi populer seperti Nokogiriyama atau Gunung Gergaji. Menggabungkan kunjungan ke Awa Shrine dan Nokogiriyama dengan perjalanan pulang menaiki feri menyeberangi Teluk Tokyo akan menjadi penutup perjalanan yang sempurna, terutama jika Anda beruntung mendapatkan pemandangan Gunung Fuji yang megah dari kejauhan.








