Istilah “mumi” mungkin paling sering dikaitkan dengan firaun Mesir kuno, namun banyak umat Buddha dan praktisi di Jepang kurang menyukai penggunaan kata tersebut untuk menyebut Sokushinbutsu. Sebagai bentuk penghormatan kepada para praktisi yang taat, mari kita gunakan istilah aslinya untuk membahas fenomena luar biasa ini.
Secara singkat, Sokushinbutsu adalah para biksu Buddha di Jepang yang menjalani proses mumifikasi diri semasa hidup agar jasad mereka dapat awet secara alami. Praktik disiplin religius tingkat tinggi ini diyakini bermula dari aliran Shingon Buddhism, di mana tokoh legendaris Kukai dikabarkan membawa ajaran tersebut setelah belajar di Tiongkok pada masa Dinasti Tang.
Kukai memainkan peran penting dalam mempopulerkan tradisi ini. Catatan sejarah menyebutkan bahwa sang pendiri aliran Shingon mengakhiri hidupnya dengan berpuasa dari makanan dan cairan. Hingga saat ini, para pengikutnya di Oku-no-in, Mt. Koya, meyakini bahwa Kukai tidak wafat, melainkan sedang bermedrasi dalam waktu yang sangat lama dan akan bangkit kembali di masa depan.
Bagi masyarakat modern, keputusan untuk melakukan mumifikasi diri tentu sulit untuk dipahami. Namun, pada masa lampau, masyarakat Jepang meyakini siklus reinkarnasi dan penderitaan dalam ajaran Buddha yang dikenal sebagai Rinne atau Samsara. Penganut aliran esoteris percaya bahwa seseorang dapat mencapai tingkat kebuddhaan dalam satu masa hidup saja melalui latihan yang sangat keras, yang memicu banyaknya percobaan Sokushinbutsu.
Saat ini, praktik Sokushinbutsu telah dilarang oleh hukum di Jepang. Atas perintah Kaisar Meiji, pemerintah Jepang melarang mumifikasi diri dan segala bentuk bunuh diri berbantuan pada tahun 1879. Kendati demikian, beberapa orang tetap mencobanya secara sembunyi-sembunyi. Percobaan terakhir yang tercatat dilakukan oleh seorang biksu bernama Bukkai Shonin pada tahun 1903. Karena dilakukan secara ilegal, jasadnya baru diekshumasi pada tahun 1961.
Tim peneliti dari Tohoku University terkejut mendapati jasad Bukkai Shonin masih dalam kondisi yang sangat terawat meski telah terkubur selama puluhan tahun. Saat ini, sisa jasadnya disemayamkan di Daihizan Kannon-ji, kompleks kuil di Prefektur Niigata. Secara keseluruhan, terdapat 18 jasad Sokushinbutsu yang masih bertahan di Jepang, dengan sebagian besar ditemukan di wilayah utara Tohoku, terutama di sekitar Prefektur Yamagata.
Biksu Buddha dan Mumifikasi Diri

Jika mumi Mesir melibatkan proses pengangkatan organ dan pengawetan buatan oleh spesialis, langkah-langkah untuk menjadi Buddha mumi diri ini berjalan jauh berbeda karena dilakukan secara mandiri sejak orang tersebut masih hidup.
Proses dari seorang biksu menjadi Sokushinbutsu biasanya memakan waktu sedikit di bawah satu dekade. Pada tahap awal, para biksu menerapkan pola makan yang sangat ketat. Berdasarkan catatan sejarah, mereka hanya mengonsumsi kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan selama 1.000 hari pertama sambil menempa diri secara fisik di pegunungan.
Memasuki fase kedua yang juga berdurasi 1.000 hari, asupan makanan dikurangi secara drastis hanya menjadi jarum pinus, kulit kayu, resin, dan biji-bijian gunung. Pola makan ekstrem ini dikenal dalam bahasa Jepang sebagai mokujiki, yang bertujuan menghilangkan lemak tubuh sebanyak mungkin. Lemak tubuh merupakan bagian yang paling cepat mengalami pembusukan setelah seseorang meninggal.
Kombinasi latihan fisik yang berat di pegunungan dan puasa panjang membuat persentase lemak dan massa otot para biksu mendekati angka nol. Ketahanan mental yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi fisik tersebut tentu berada di luar bayangan manusia biasa.
Setelah dua tahap 1.000 hari terlewati, para biksu memasuki tahap akhir persiapan. Tubuh mereka yang sudah sangat rapuh tidak lagi dilatih secara fisik, melainkan difokuskan pada meditasi mendalam. Disiplin religius dan biokimia puasa ini diyakini membuat para biksu tidak merasakan penderitaan yang berarti di hari-hari terakhir mereka.
Selain mengikis lemak dan otot, langkah krusial lainnya adalah membuang seluruh cairan tubuh. Untuk mencapainya, para calon Sokushinbutsu menghindari segala jenis minuman kecuali teh beracun yang dibuat dari getah pohon urushi—bahan yang sama digunakan untuk kerajinan pernis tradisional Jepang dan dapat memicu reaksi alergi yang kuat.
Konsumsi cairan beracun ini memicu muntah, keringat, dan buang air kecil secara intensif untuk menguras cairan tubuh secara cepat. Selain itu, getah urushi melapisi lambung para biksu dari dalam, yang diyakini para ahli menjadi salah satu faktor utama mengapa jasad Sokushinbutsu dapat awet dan terhindar dari pembusukan alami setelah kematian.

Para biksu di Mt. Yudono juga menyeduh teh mereka menggunakan air dari pemandian air panas di puncak gunung yang kaya akan kandungan arsenik. Meskipun arsenik dalam dosis tertentu sangat mematikan, para peneliti menduga kandungan mineral dari mata air suci Mt. Yudono turut membunuh mikroba yang memicu pembusukan pada jasad.
Menjelang akhir hayatnya, para biksu akan merangkak masuk ke dalam makam batu yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari posisi duduk bersila. Di dalam ruangan gelap tersebut, mereka diisolasi dari dunia luar dan hanya menyisakan sebuah selang bambu kecil untuk pasokan udara, lalu melanjutkan meditasi hingga akhir hayat.
Sebelum makam disegel, para biksu biasanya membawa lonceng kecil untuk memberi tahu para pengikut di luar bahwa mereka masih bernapas. Ketika suara lonceng berhenti, itu menjadi tanda bahwa sang biksu telah wafat. Selang udara kemudian dicabut, dan makam tersebut disegel rapat selama 1.000 hari sebelum akhirnya dibuka kembali untuk memeriksa keberhasilan proses tersebut.
Meskipun banyak yang mencoba, hanya segelintir biksu yang berhasil menjadi Sokushinbutsu. Kegagalan di masa lalu sering dianggap sebagai kurangnya kekuatan spiritual, namun sains modern membuktikan bahwa keberhasilan sangat bergantung pada kombinasi teh getah urushi, kadar arsenik mata air Mt. Yudono, serta penyusutan jaringan lunak tubuh yang sempurna.
Lokasi untuk Melihat Jasad Mumi Biksu

Sebagian besar jasad Sokushinbutsu yang tersisa di Jepang dapat ditemukan di wilayah utara, khususnya di Prefektur Yamagata dan sekitarnya. Berikut adalah beberapa kuil tempat Anda bisa melihat langsung situs bersejarah ini:
- Kaiko-ji di Sakata: Terletak di kota Sakata, kuil ini menjadi satu-satunya tempat di Jepang yang menyimpan dua jasad Sokushinbutsu sekaligus, yaitu Chukai Shonin dan Enmyokai Shonin, dalam kondisi terawat sempurna. Kuil ini juga dilengkapi museum kecil dan panduan audio berbahasa Inggris. Lokasinya tergolong paling mudah diakses menggunakan transportasi umum.
- Churen-ji di Mt. Yudono: Berada di kaki Mt. Yudono, kuil ini menyimpan jasad Sokushinbutsu bernama Tetsumonkai Shonin, yang dulunya merupakan seorang petani sebelum memilih jalan pertapaan di kuil ini. Tempat ini dapat dicapai menggunakan kombinasi bus wisata Dewa Sanzan dan taksi.
- Ryusui-ji Dainichibo: Kompleks kuil ini terletak tidak jauh dari Churen-ji dan menjadi rumah bagi Shinnyokai Shonin, salah satu mumi Sokushinbutsu dengan kondisi terbaik yang wafat pada tahun 1783 di usia 96 tahun.
- Honmyo-ji: Kuil terpencil ini menyimpan jasad Honmyokai Shonin yang diyakini sebagai mumi biksu tertua di kawasan tersebut. Perlu dicatat bahwa kuil ini menerapkan sistem reservasi khusus, sehingga disarankan datang bersama seseorang yang menguasai bahasa Jepang.
- Daihizan Kannon-ji: Berlokasi agak ke selatan di kota Murakami, Prefektur Niigata, kuil ini merawat jasad Bukkai Shonin—satu-satunya Sokushinbutsu yang prosesnya dilakukan secara ilegal setelah adanya pelarangan pemerintah pada abad ke-19 dan baru diekshumasi pada tahun 1960-an.
Atraksi Menarik Lainnya di Sekitar

Jika Anda merencanakan kunjungan ke Yamagata untuk melihat situs Sokushinbutsu, sangat disarankan untuk menjelajahi kawasan pegunungan Dewa Sanzan. Selain Mt. Yudono, terdapat puncak gunung suci lainnya seperti Mt. Gassan dan Mt. Haguro yang kaya akan sejarah budaya spiritual Jepang. Perhatikan musim kunjungan Anda, karena Mt. Gassan biasanya ditutup pada musim dingin akibat salju lebat.
Kota pesisir Sakata di sebelah utara kawasan Dewa Sanzan juga menawarkan banyak daya tarik sejarah bagi para pelancong, mengingat perannya di masa lalu sebagai pelabuhan dagang penting yang menghubungkan wilayah utara dengan Osaka melalui Laut Jepang.








