Home / Travel / Proses Pemakaman di Jepang: Apa yang Terjadi Saat Seseorang Meninggal di Jepang? Urusan Seri Pemakaman dan Makam di Jepang

Proses Pemakaman di Jepang: Apa yang Terjadi Saat Seseorang Meninggal di Jepang? Urusan Seri Pemakaman dan Makam di Jepang

Makam dan pemakaman di Jepang memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan tradisi di negara-negara barat. Batu nisan di sana umumnya berbentuk blok batu besar yang terkadang dilengkapi dengan wadah atau komponen pendukung lainnya. Bagi orang awam, bentuk ini mungkin tampak asing dan menyimpan banyak tanda tanya mengenai makna di baliknya.

Sebenarnya, apa arti dari berbagai bentuk dan elemen pada makam tersebut? Apakah ada ruang bawah tanah atau sesuatu yang tersembunyi di dalamnya? Mari kita telusuri lebih dekat bagaimana prosesi pemakaman dan tradisi makam di Jepang berjalan.

Prosesi Pemakaman Dimulai dengan Kremasi

the flames of a fire

Berbeda dari kebanyakan negara barat yang mayoritas menguburkan jenazah secara utuh, Jepang menerapkan sistem kremasi untuk hampir seluruh jenazah. Jepang mencatat salah satu tingkat kremasi tertinggi di dunia, yakni mencapai 99,85% pada tahun 2008.

Karena ukuran sisa kremasi jauh lebih kecil daripada jenazah utuh, abu tersebut lebih mudah untuk diurus oleh keluarga yang ditinggalkan. Bagi mereka yang tidak ingin menyimpan abu di rumah, pilihannya adalah membeli lahan pemakaman yang harganya cukup mahal untuk mendirikan sebuah nisan. Berbeda dengan makam kuno yang hanya berupa batu peringatan, makam modern di Jepang dirancang khusus untuk menyimpan abu jenazah.

Dalam proses kremasi ala Jepang, peti mati diletakkan di atas sebuah nampan di dalam krematorium. Pihak keluarga biasanya menyaksikan saat-saat ketika jenazah dimasukkan ke dalam ruang pembakaran. Durasi kremasi bervariasi tergantung ukuran tubuh; rata-rata membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk orang dewasa, 45 menit untuk anak-anak, dan sekitar 15 menit untuk bayi yang lahir mati.

japanese-funeral-ritual-of passing bones between chopsticks

Setelah proses selesai, para kerabat kembali untuk mengambil sisa tulang dari abu dan memindahkannya ke dalam sebuah kendi atau kendi abu menggunakan sumpit berukuran besar atau penjepit logam. Dalam tradisi ini, dua orang kerabat terkadang memegang tulang yang sama secara bersamaan menggunakan sumpit mereka. Ini adalah satu-satunya momen di Jepang di mana dua orang diperbolehkan memegang benda yang sama secara bersamaan dengan sumpit.

Di luar situasi pemakaman, tindakan dua orang memegang benda dengan sumpit secara bersamaan dianggap sebagai pantangan sosial yang besar karena mengingatkan orang-orang pada suasana duka pemakaman kerabat dekat.

Agar almarhum dapat beristirahat dengan tenang, proses pemindahan tulang diatur dengan cermat di mana tulang bagian kaki diletakkan terlebih dahulu, sementara bagian kepala diletakkan paling akhir.

Dalam beberapa kasus, abu jenazah dapat dibagi ke dalam beberapa wadah berbeda. Sebagian abu mungkin ditempatkan di makam keluarga, sebagian di kuil atau makam perusahaan, dan ada pula yang bahkan dikirim ke luar angkasa.

the okunoin graveyard in the forest

Sejumlah perusahaan di Jepang bahkan memiliki area makam khusus di pemakaman terbesar di negara tersebut, yaitu Okunoin. Makam-makam ini diperuntukkan bagi mantan karyawan beserta keluarga mereka, dan sering kali memiliki bentuk nisan yang mencerminkan bidang usaha perusahaan tersebut. Sebagai contoh, perusahaan kopi UCC menyediakan batu nisan yang bentuknya menyerupai cangkir kopi.

Anatomi Makam Khas Jepang

Makam keluarga di Jepang umumnya terdiri dari monumen batu yang dilengkapi tempat untuk meletakkan bunga, dupa, serta air di bagian depannya. Di bawah monumen tersebut terdapat ruang atau kripta tertutup untuk menyimpan kendi abu keramik. Bagian depan pilar batu biasanya mencantumkan nama marga atau keluarga pemilik makam.

Nama-nama anggota keluarga terkadang dipahat secara bersamaan pada salah satu sisi batu bagian atas, di mana nama anggota keluarga yang masih hidup diberi warna merah. Warna merah tersebut nantinya akan dihapus ketika orang bersangkutan meninggal dunia. Praktik ini dulunya dilakukan karena alasan efisiensi biaya, meskipun kini sudah semakin jarang ditemui.

a massive hakaba graveyard in kyoto

Selain itu, makam di Jepang sering kali dilengkapi dengan lambang keluarga serta lentera batu di depannya. Beberapa makam bahkan memiliki kotak pos kecil untuk meninggalkan kartu nama sebagai tanda bahwa seseorang telah berkunjung dan memberikan penghormatan, serta lempengan batu yang memuat silsilah keluarga.

Fakta Unik dan Masa Depan Pemakaman di Jepang

a fluffy brown cat with big blue eyes

Batu nisan di Jepang ternyata juga bisa dimanfaatkan secara tidak resmi untuk mengukur skala gempa bumi. Jika batu bagian atas sampai terjatuh dan pecah berkeping-keping, hal itu menandakan bahwa gempa yang terjadi cukup besar.

Tingginya harga lahan pemakaman di Jepang yang rata-rata mencapai 2.000.000 yen telah melahirkan inovasi layanan baru berupa “apartemen makam”. Dalam sistem ini, sebuah petak makam berukuran seukuran lemari simpan dapat dibeli dengan harga sekitar 400.000 yen. Beberapa fasilitas bahkan dilengkapi layar sentuh yang menampilkan foto almarhum, pesan, silsilah keluarga, serta informasi lainnya.

Sebagai perkembangan lebih lanjut, beberapa pembuat nisan di Jepang bahkan mulai menyematkan teknologi kode batang (barcode) pada batu nisan. Pengunjung dapat memindai kode tersebut menggunakan ponsel pintar mereka untuk melihat informasi mendetail mengenai almarhum sekaligus mencatat riwayat kunjungan anggota keluarga lainnya.

Ada pula fasilitas penyimpanan abu modern di mana sisa kremasi disimpan dalam kotak khusus di dalam brankas bawah tanah berteknologi tinggi. Saat pengunjung ingin memberikan penghormatan, mereka cukup memindai kartu RFID, dan sistem otomatis akan membawa kotak tersebut ke ruang doa.

Di sisi lain, praktik kremasi juga memiliki kelemahan, yaitu abu jenazah menjadi lebih rentan terhadap tindak pencurian. Beberapa kasus pencurian abu tokoh terkenal pernah terjadi di masa lalu, termasuk abu kartunis Machiko Hasegawa, istri dari ketua perusahaan real estat Takichi Hayasaka, novelis Yukio Mishima, novelis Naoya Shiga, hingga istri dari pemain bisbol Sadaharu Oh.

A sign of a thief with a no sign over it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *