Pendahuluan
Dalam film anime “Princess Mononoke,” seorang pejuang muda harus berjuang menyelamatkan desanya dari amukan monster raksasa yang keluar dari hutan pegunungan. Setelah makhluk itu mati, terungkap bahwa wujud aslinya adalah dewa babi hutan yang telah tercemar oleh peluru besi tertancap di tubuhnya. Tidak lama kemudian, segerombolan babi hutan menyerang manusia sebagai upaya melindungi hutan dari perluasan wilayah yang dilakukan manusia.

Jika diamati dari dinamika nyata antara manusia dan babi hutan di Jepang, kisah dalam film tersebut terasa semakin relevan. Beberapa tahun belakangan, frekuensi insiden yang melibatkan babi hutan, seperti serangan terhadap warga dan perusakan lahan pertanian, menunjukkan tren peningkatan. Artikel ini akan mengulas keberadaan babi hutan di Jepang serta berbagai faktor di balik kemunculan masalah tersebut.
Makhluk Penuh Budaya

Babi hutan merupakan satwa asli yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Eurasia. Dalam bahasa Jepang, hewan ini dinamakan inoshishi 猪, sementara julukan tradisionalnya adalah yamakujira yang berarti “paus gunung”. Subspesies babi hutan Jepang (Sus scrofa leucomystax) tersebar luas di wilayah Honshu, Shikoku, dan Kyushu, sedangkan subspesies lainnya mendiami Kepulauan Ryukyu.
Meskipun popularitasnya tidak sementereng bangau, naga, atau tanuki dalam kebudayaan Jepang, babi hutan tetap memiliki tempat tersendiri dengan ketangguhan yang menjadi ciri khas mereka. Motif babi hutan bahkan telah ditemukan pada artefak tembikar dari zaman Jomon. Ketika Jepang mengadopsi penanggalan dan zodiak Cina pada abad ketujuh, posisi hewan kedua belas yang awalnya adalah babi domestik digantikan oleh babi hutan. Keputusan ini sangat masuk akal mengingat tidak ada babi ternak di Jepang selama berabad-abad berikutnya. Kendati demikian, harimau dan naga pun sebenarnya tidak ada di Jepang, sehingga pemilihan ini menunjukkan betapa pentingnya arti babi hutan bagi masyarakat setempat.
Pengaruh ajaran Buddha sempat membatasi konsumsi daging di sepanjang sejarah pra-modern Jepang, tetapi di sisi lain, daging babi hutan dikenal lezat. Walau bukan menu sehari-hari, hidangan ini kerap disajikan dalam kesempatan tertentu. Dagingnya memiliki cita rasa yang berada di antara daging babi biasa dan daging sapi. Memasuki zaman Edo (1600–1868), masyarakat mencari celah untuk tetap bisa menikmati daging dengan menggunakan istilah-istilah kiasan flora. Daging rusa disebut sebagai momiji (daun maple), daging kuda dinamai sakura (bunga sakura), dan babi hutan diberi nama botan (bunga peony).
Selain itu, babi hutan juga dikaitkan dengan tanaman lain dalam permainan kartu hanafuda yang berkembang pada zaman Edo, menyusul tradisi permainan kartu yang dibawa oleh orang Eropa pada abad keenamdesember. Kartu tersebut dibagi menjadi dua belas set bulan, masing-masing menggambarkan bunga tertentu serta beberapa di antaranya memuat unsur puisi atau hewan. Set bulan ketujuh menampilkan tanaman hagi (semak clover) bersanding dengan gambar babi hutan.
Bagi para penggemar serial Naruto, hanafuda turut menjadi inspirasi penamaan karakter dalam Team Asuma. Kombinasi kartu babi hutan, rusa, dan kupu-kupu dalam permainan tersebut dikenal sebagai formasi kuat bernama ino-shika-cho. Nama anggota Team Asuma yang terdiri dari Ino, Shikamaru, dan Choji mencerminkan kombinasi tersebut, di mana mereka tampil paling tangguh saat bekerja sama.
Sifat Liar dan Reproduksi

Masyarakat penutur bahasa Inggris dan Jepang sama-sama memiliki sebutan imut untuk anak babi hutan. Di dunia perburuan bahasa Inggris, mereka dijuluki squeakers. Pada tahun pertama kehidupan mereka, tubuhnya dihiasi garis-garis memanjang sehingga orang Jepang kerap memanggil mereka uribō yang berarti “bocah melon”.
Menginjak usia 8 hingga 15 bulan, babi hutan jantan mulai meninggalkan kelompok untuk hidup menyendiri, sementara betina umumnya hidup berkelompok. Ketika musim kawin tiba, jantan akan menjelajah jarak jauh demi mencari kelompok betina dan mengusir pejantan lain secara agresif. Mereka dibekali fisik yang mendukung untuk hal ini, termasuk kemampuan berlari hingga kecepatan 40 kilometer per jam. Pejantan umumnya memiliki ukuran tubuh 5 hingga 10 persen lebih besar serta berat 20 hingga 30 persen lebih berat dibanding betina. Selain memiliki taring, pejantan juga membentuk lapisan jaringan di bawah kulit untuk melindungi organ internal mereka dari benturan saat bertarung. Seekor jantan bahkan dapat mengawini 5 hingga 10 betina sekaligus. Masa gestasi betina berlangsung sekitar empat bulan dengan jumlah anak per kelahiran berkisar antara 4 hingga 6 ekor, yang kemudian meneruskan siklus hidup. Secara alami, babi hutan dapat bertahan hidup hingga usia 10 sampai 14 tahun, meski kebanyakan hanya mencapai umur 4 hingga 5 tahun di alam liar.
Babi hutan tergolong hewan omnivora. Mereka menyantap kacang-kacangan, buah beri, biji-bijian, dedaunan, kulit kayu, ranting, tunas, serta menggali tanah untuk mencari umbi-umbian. Menu makanan mereka juga mencakup cacing, serangga, ikan, kerang, hewan pengerat, telur burung, ular, kadak, katak, hingga bangkai. Singkat kata, mereka bukan hewan pemilih dalam urusan makanan.
Konflik dengan Manusia

Sejak dahulu, babi hutan kerap menjadi sumber masalah bagi para petani di Jepang. Hewan ini dikenal suka merusak tanaman pangan serta merusak pematang sawah akibat aktivitas menggali. Pada tahun 2005 silam, kerugian hasil pertanian akibat hewan liar mencapai 18,6 miliar yen, di mana babi hutan menjadi penyumbang terbesar dengan persentase mencapai 26,1 persen. Sebagian petani berupaya melindungi lahan mereka dengan memasang pagar setinggi lutut dari plastik bergelombang atau lembar aluminium, meski langkah ini tidak selalu membuahkan hasil optimal.
Dalam beberapa dekade terakhir, insiden serangan babi hutan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa kasus nyata mencakup kejadian di Kobe pada Januari 2011, ketika seorang wanita lanjut usia mencoba memberi makan babi hutan dan justru berujung pada jarinya yang tergigit. Praktik memberi makan babi hutan sebenarnya telah dilarang sejak sembilan tahun sebelumnya, namun sanksi yang diberlakukan tergolong ringan dan kurang ditegakkan secara tegas.
Kasus serupa terjadi di Taishi, Prefektur Hyogo, pada 6 April 2013, di mana delapan orang yang mayoritas merupakan warga lanjut usia mengalami luka-luka akibat amukan seekor babi hutan berukuran besar. Menurut keterangan kepolisian setempat, hewan tersebut awalnya menggigit seorang wanita di halaman rumahnya sebelum bergerak ke arah timur. Tada Miyuki yang berusia 68 tahun ditabrak hingga terjatuh dan mengalami patah dua buah tulang rusuk ketika sedang berbincang dengan rekannya di pinggir jalan. Otoritas setempat lantas mengeluarkan peringatan bagi warga, dan babi hutan yang diduga sebagai pelaku kemudian ditemukan mati tertabrak di jalan raya tidak jauh dari lokasi kejadian.
Di Kobe pada Juni 2014, media setempat melaporkan kemunculan babi hutan yang menyerang seorang remaja putri dan seorang pria paruh baya. Setelah menjatuhkan remaja tersebut, babi hutan itu beralih menyerang juru kamera yang berusaha menghindar dan membela diri, sehingga sang juru kamera harus mendapat jahitan pada kedua kakinya akibat gigitan. Penyelidikan lanjutan mengungkapkan bahwa babi hutan tersebut memiliki empat anak, sehingga serangan yang terjadi diduga kuat dipicu oleh naluri kebapakan atau keibuan untuk melindungi anaknya. Pihak berwenang akhirnya mengevakuasi induk babi tersebut tanpa informasi lebih lanjut mengenai nasib anak-anaknya.
Faktor Pemicu Peningkatan Konflik

Secara historis, babi hutan lazimnya menghuni area pegunungan dan hutan. Lantas, apa yang memicu lonjakan interaksi kekerasan antara babi hutan dan manusia? Faktor utama di balik peningkatan serangan ini adalah perambahan habitat alami oleh manusia. Di masa lalu, sebagian besar penduduk tinggal di dataran rendah yang memudahkan aktivitas pertanian. Namun, dengan jumlah populasi yang jauh lebih padat saat ini, manusia semakin jauh memasuki dan mengembangkan wilayah hutan demi pemukiman.
Di sisi lain, populasi babi hutan sendiri mengalami peningkatan. Sekalipun sempat ditekan oleh larangan keagamaan terkait konsumsi daging, masyarakat Jepang pada masa lampau tetap lebih sering berburu dan mengonsumsi babi hutan dibandingkan sekarang. Regulasi senjata api yang sangat ketat di Jepang serta menurunnya permintaan daging buruan pada abad kedua puluh turut menyebabkan aktivitas perburuan merosot tajam. Perubahan iklim juga memberikan pengaruh terhadap populasi hewan ini. Musim dingin yang lebih hangat membuat sebagian babi hutan mampu melahirkan dua kali dalam setahun, alih-alih satu kali seperti sebelumnya. Selain itu, karena memiliki kaki pendek yang tidak cocok untuk menghadapi salju tebal, mereka dahulu terbatas di wilayah selatan, namun kini merangsek ke utara seiring berkurangnya salju.
Faktor lain yang turut berperan adalah ketiadaan predator alami. Di kancah global, serigala merupakan pemangsa utama babi hutan. Akan tetapi, akibat wabah rabies pada abad ke-18, perambahan habitat, serta perburuan berlebih, populasi serigala terakhir di Jepang dinyatakan punah pada tahun 1905.

Berbagai langkah penanggulangan telah diupayakan untuk meredam insiden babi hutan. Larangan memberi makan satwa ini diterapkan di sejumlah kawasan, meskipun efektivitasnya terbatas karena babi hutan juga kerap mencari sisa makanan dari tempat sampah. Strategi alternatif adalah menggalakkan kembali kegiatan perburuan. Jumlah keseluruhan pemburu di Jepang telah merosot hingga separuhnya sejak era 1970-an, dengan mayoritas pelakunya adalah pria paruh baya atau lansia. Kendati demikian, jumlah pemburu wanita berusia 20-an dan 30-an justru menunjukkan kestabilan bahkan pertumbuhan di Hokkaido. Kementerian Lingkungan Hidup Jepang aktif mendorong pemburu muda untuk membantu mengendalikan ledakan populasi babi hutan maupun rusa. Meski demikian, kecil kemungkinan popularitas perburuan dapat mengimbangi tingkat perkembangbiakan babi hutan dalam waktu dekat.
Babi hutan memang menyimpan potensi bahaya, tetapi mereka pada dasarnya hanya bertindak sesuai insting alami mereka. Beban tanggung jawab berada di tangan manusia untuk memulihkan keseimbangan lingkungan yang telah terganggu akibat berbagai aktivitas pembangunan di masa lalu. Diharapkan solusi yang tepat dapat segera ditemukan demi mewujudkan hubungan yang selaras sebelum kerusakan yang lebih luas terjadi.








