Home / Travel / Tanuki: Yokai Anjing Berbiji Besar Bukan badger, bukan rakun, dan awasi teko itu…

Tanuki: Yokai Anjing Berbiji Besar Bukan badger, bukan rakun, dan awasi teko itu…

header 640x 63

Anda akan segera mengenal salah satu unsur paling menarik, menggemaskan, sekaligus unik dalam budaya Jepang. Makhluk ini berbulu lebat, memiliki kemampuan magis, dan dikenal sering menggunakan bagian tubuhnya yang berukuran raksasa untuk melakukan berbagai aksi luar biasa. Kenalkan, inilah tanuki.

Pada pandangan pertama, tanuki dan rubah terlihat cukup mirip. Keduanya adalah hewan kanid liar berukuran sedang yang berasal dari Jepang serta sangat mudah beradaptasi di berbagai habitat, termasuk perkotaan. Di dalam cerita rakyat Jepang, keduanya sama-sama digambarkan memiliki kekuatan perubahan wujud untuk menipu manusia. Kemiripan ini bahkan membuat mereka sering disatukan dalam istilah jukugo kori, yang menggabungkan kanji untuk tanuki dan kitsune.

Kendati demikian, tanuki dan rubah memiliki banyak perbedaan mendasar. Rubah dikenal luas di berbagai belahan dunia dan muncul dalam mitologi banyak negara, sementara tanuki merupakan hewan yang unik khas Jepang. Orang Barat yang pertama kali menemui tanuki dan cerita rakyatnya sempat kesulitan menerjemahkan namanya, membuat makhluk ini kurang begitu dikenal di luar negeri.

Jika Anda masih penasaran, mari simak penjelasan singkat berikut:

Jika kitsune kerap diasosiasikan dengan aura bahaya dan misteri, tanuki justru bertransformasi menjadi sosok jenaka yang akrab dan santai. Makhluk ini terkenal sebagai pembuat keonaran yang membumi dan suka berkelakar.

Kemampuan Berubah Wujud Tanuki

tanuki in kimono art

Baik rubah maupun tanuki sama-sama bisa menipu manusia dengan menyamar menjadi manusia. Meski sesekali tanuki meniru gaya kitsune dengan menjelma menjadi wanita cantik untuk menggoda manusia, penyamaran favorit mereka sebenarnya adalah menjadi seorang biksu Buddha. Wujud ini bahkan memiliki sebutan khusus, yaitu tanuki-bōzu.

Hubungan tanuki dengan agama Buddha sering kali digambarkan melalui karya seni sebagai sosok yang gemuk dan hidup makmur, sangat kontras dengan pertapaan Zen yang ketat. Mereka juga kerap berkumpul di kuburan pada malam hari untuk menirukan ritual keagamaan, melantunkan doa, hingga menulis catatan dengan gaya bahasa yang unik.

Selain biksu, tanuki juga senang menirukan figur penting dalam masyarakat seperti pejabat pemerintah untuk mengerjai warga agar membayar pajak atau menuduh melakukan pelanggaran fiktif. Tanda-tanda untuk mengenali tanuki yang sedang menyamar tidak jauh berbeda dengan kitsune: tubuh mereka tampak sedikit memancarkan cahaya, kimono tetap kering meski hari hujan, dan ekor mereka terkadang mengintip keluar jika kehilangan fokus.

Aksi Tipu Daya Lainnya

kanuki as kettle brush art

Tanuki juga gemar mengubah diri menjadi benda mati seperti pohon, lentera batu, hingga bulan purnama untuk menjahili orang-orang. Salah satu cerita paling klasik mengenai penyamaran benda mati adalah Bunbuku Chagama, di mana seekor tanuki berterima kasih kepada petani yang menolongnya dengan mengubah diri menjadi teko teh.

Keusilan mereka juga diwujudkan dalam bentuk suara. Mereka suka melempar batu ke atap rumah, menjatuhkan ember ke sumur, atau menabuh perut buncit mereka untuk menyesatkan orang di dalam hutan. Di masa era Meiji, kebiasaan meniru suara ini bahkan sempat memicu kepanikan ketika seorang kondektur kereta mengira ada lokomotif lain yang melaju dari arah berlawanan, yang ternyata hanya tiruan suara dari seekor tanuki.

Ilusi Tanuki

ukiyo-e print of tanuki at night

Berbagai ilusi kerap diciptakan oleh tanuki, mulai dari uang yang berubah menjadi daun setelah mereka pergi, pemandangan palsu yang membuat orang tersesat, hingga kemunculan api misterius will-o’-the-wisp. Sastrawan era Meiji, Natsume Sōseki, bahkan pernah menulis karya di mana seorang tokoh membaca buku buatan tanuki yang mengeluhkan mengapa manusia begitu mengagungkan ilmu hipnotis ala Barat padahal bangsa tanuki telah melakukannya selama berabad-abad.

Bagian Tubuh Magis Tanuki

tanuki using its balls to drag other tanuki across a river

Salah satu ciri paling ikonik dan unik dari legenda tanuki adalah bagian skrotumnya yang dapat membesar secara magis hingga seluas delapan tikar tatami. Dalam karya seni era Edo, bagian tubuh ini sering digambarkan secara kreatif sebagai layar perahu, jaring ikan, payung, hingga selimut pelindung.

Meskipun jarang ditemukan dalam cerita rakyat tertulis dan lebih banyak muncul dalam seni visual ukiyo-e, kisah mengenai bagian tubuh magis ini berakar dari kebiasaan perajin logam di Kanazawa yang membungkus emas menggunakan kulit testis tanuki saat membuat lembaran emas tipis. Hubungan kata antara kin no tama (butir emas kecil) dan kintama (istilah slang untuk testis) turut mempopulerkan penggambaran ini dalam budaya populer Jepang.

Tanuki Adaptaasi di Era Modern

tanuki statues at shigaraki
Source: jpellgen

Di masa kini, representasi tanuki yang paling sering dijumpai adalah patung keramik lucu berutut buncit, mengenakan topi sedotan, dan bermata besar yang biasanya diletakkan di depan toko atau restoran. Tradisi pembuatan patung dari Shiga Prefecture ini meledak setelah Kaisar Hirohito mengunjungi wilayah tersebut pada tahun 1951 dan menulis puisi tentang patung tanuki.

Tanuki di Dunia Nyata

real life tanuki animal
Source: rumpleteaser

Hewan tanuki di dunia nyata sebenarnya memiliki moncong yang lebih lancip dan menyerupai rubah berbulu lebat. Asli berasal dari Asia Timur, tanuki kini juga dapat ditemukan di daratan Eropa setelah diperkenalkan pada abad ke-20 untuk keperluan perdagangan bulu. Sifat adaptif mereka memungkinkan hewan ini bertahan hidup di kawasan hutan utara hingga perkotaan padat seperti Tokyo, di mana mereka kerap terlihat di sekitar kuil atau bahkan stasiun kereta.

Bukan Sekadar Hewan Biasa

ninja tanuki statues
Source: rumpleteaser

Saat orang Barat pertama kali menulis tentang Jepang pada abad ke-19, sering terjadi kekeliruan dalam menerjemahkan tanuki, di mana hewan ini kerap disamakan dengan badger atau anjing rakun. Film animasi Studio Ghibli berjudul Pom Poko bahkan menerjemahkan tanuki sebagai rakun dalam versi bahasa Inggrisnya, meskipun secara biologis kedua spesies tersebut sama sekali berbeda.

Tanuki Masa Kini

tanuki safety sign in tokyo subway
Source: Joey Rozier

Hingga hari ini, tanuki tetap memegang peran penting dalam kebudayaan populer Jepang. Mulai dari maskot perusahaan, lambang lingkungan tetangga, hingga kuil-kuil bersejarah seperti di Akihabara dan Asakusa, kehadiran makhluk cerdik ini terus hidup dalam bentuk patung, cerita, maupun simbol keberuntungan.

tanuki statues at a temple
Source: Linda Lombardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *