Dalam artikel ini, istilah “half” merujuk pada seseorang dengan latar belakang ras campuran, khususnya darah blasteran Jepang. Meskipun selama dua dekade terakhir banyak pihak yang menganjurkan penggunaan istilah “berdarah campuran” atau mixed-race, kata “half” tetap menjadi pilihan yang paling populer di kalangan masyarakat Jepang. Selain itu, sebagian orang di sana mempercayai sebuah rumus tidak resmi:
Jepang × Non-Asia = 1/2 = Berpenampilan menarik.
Beberapa waktu lalu, mungkin Anda sempat membaca ulasan tentang bagaimana rasanya tumbuh sebagai anak blasteran di Jepang. Sayangnya, pengalaman tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kendati demikian, banyak perempuan Jepang yang justru mendambakan fitur fisik ala orang blasteran; seperti mata yang besar, bulu mata lentik, hidung yang mancung, dan garis wajah yang tegas. Mengingat saya menikah dengan seorang pria asal Kanada, Anda bisa menebak reaksi paling umum yang sering saya terima dari orang-orang Jepang.
“Wah, kamu menikah dengan orang Kanada (pria Kaukasia)? Kalau begitu, anak kalian nanti pasti blasteran dan kelihatan imut banget. Iri deh!”
Faktanya, setiap kali saya membicarakan pernikahan saya untuk pertama kalinya, lebih dari 90 persen orang memberikan respon serupa. Secara pribadi, saya merasa agak konyol menilai ketampanan atau kecantikan seorang bayi yang bahkan belum lahir, tanpa mengetahui apakah suaminya sendiri berpenampilan menarik atau tidak. Namun, hal tersebut tampaknya sudah menjadi bagian dari basa-basi yang lumrah di tengah masyarakat.
Dominasi Wajah “Half” di Layar Kaca

Keyakinan bahwa anak blasteran pasti berwajah imut ini tampaknya semakin diperkuat oleh kemunculan para idola berdarah campuran yang menghiasi televisi. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Jepang sedang mengalami gelombang popularitas bagi para figur publik blasteran. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah selebritas blasteran di layar kaca begitu membludak hingga membuat penonton kerap merasa bingung membedakan satu sama lain. Bahkan, beberapa dari selebritas itu sendiri sempat mengeluhkan fenomena yang sudah terlalu umum ini.
Situasi tersebut tidak hanya dirasakan oleh penonton, tetapi juga oleh mereka yang berkecimpung di industri penyiaran. Sebagian pekerja televisi merasa khawatir posisi mereka tergeser oleh gelombang perempuan blasteran yang kian mendominasi. Komedian ternama Hiroyuki Ariyoshi, yang dikenal dengan gaya humornya yang blak-blakan, pernah membahas keresahan ini dalam program radio miliknya, SUNDAY NIGHT DREAMER. Ia menyebutkan bahwa para komedian dengan imej kutu buku mulai kehilangan tempat di televisi akibat kehadiran para perempuan blasteran ini.

Peningkatan visibilitas perempuan blasteran yang berwajah menarik ini tentu tidak lepas dari pertumbuhan jumlah keluarga multiras di Jepang. Berdasarkan data statistik dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, angka pernikahan internasional (antara warga Jepang dan warga negara asing) pada era 1970-an hanya berkisar di angka 5.500 kasus. Angka ini melonjak tajam pada dekade 1980-an seiring dengan meroketnya gelembung ekonomi Jepang. Kendati sempat mencapai puncaknya pada tahun 2006 dengan hampir 45.000 pasangan, tercatat masih ada 23.657 pernikahan internasional pada tahun lalu, yang berarti lebih dari empat kali lipat dibanding era 70-an.
Namun, statistik tersebut tidak serta-merta menjelaskan mengapa selebritas blasteran mendominasi televisi secara tidak proporsional. Selain faktor jumlah anak blasteran yang memang semakin banyak, dinamika dalam keluarga multiras tampaknya turut memegang peranan penting. Masyarakat Jepang umumnya dikenal pemalu dan pendiam, karakter yang kurang begitu cocok untuk dunia hiburan televisi. Sebaliknya, banyak budaya asing yang mendorong warganya untuk lebih ramah dan ekspresif. Cara pengasuhan dalam keluarga multiras kemungkinan besar membentuk anak-anak mereka menjadi pribadi yang lebih supel dibandingkan rata-rata anak Jepang pada umumnya. Perpaduan antara penampilan fisik yang menarik dan kepribadian yang ekspresif menjadikan mereka sosok yang sangat ideal untuk industri penyiaran.
Transformasi Penampilan

Semakin sering perempuan blasteran tampil di media, semakin besar pula keinginan perempuan Jepang untuk meniru penampilan tersebut. Meskipun ada sebagian pria Jepang yang mengagumi standar kecantikan ini, mayoritas dari mereka tidak menggunakan riasan wajah, sehingga kecil kemungkinan bagi mereka untuk mengubah penampilan secara drastis tanpa takut menjadi bahan lelucon.
Sebaliknya, kaum perempuan memiliki keleluasaan dalam menggunakan riasan dan sebagian dari mereka sangat gigih dalam usaha mewujudkan impian berpenampilan ala blasteran. Mereka yang mendambakan wajah khas non-Asia ini bahkan menciptakan berbagai teknik rias wajah dan membagikan video tutorialnya di YouTube, dengan beberapa di antaranya mendulang kepopuleran yang cukup tinggi. Hasil perubahan penampilan melalui riasan ini sungguh luar biasa dan drastis.

Tutorial Rias Wajah Ala Blasteran oleh Ayano Saito dari God Make

Rias Wajah Musim Gugur Ala Blasteran oleh Naoko
Dari berbagai video tutorial tersebut, terlihat jelas bahwa fokus utama perubahan terletak pada area mata dan alis. Karena struktur wajah orang Asia cenderung lebih datar jika dibandingkan dengan ras Kaukasia, penekanan diberikan pada upaya menciptakan dimensi wajah yang lebih menonjol atau tiga dimensi. Beberapa teknik yang biasa digunakan meliputi:
- Menggambar alis dengan bentuk yang lebih tebal.
- Mempersempit jarak antara alis dan mata.
- Membuat bagian pangkal alis tampak sedikit lebih tebal untuk mengurangi kesan datar.
- Mengaplikasikan beberapa gradasi perona mata serta penebal garis mata.
- Membuat garis mata yang lebih panjang.
- Menggunakan penyorot (highlighter) pada batang hidung agar tampak lebih mancung.
Selain upaya memberikan dimensi tiga dimensi pada wajah, penggunaan lensa kontak berwarna dan bulu mata palsu seolah menjadi perlengkapan wajib. Tidak ada hal yang lebih merepresentasikan penampilan non-Asia selain mata yang tidak berwarna cokelat gelap.
Ketika Rias Wajah Belum Cukup
Saya tidak tahu persis berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk merias wajah seperti itu, tetapi tampaknya durasinya tidak sedikit. Saya pribadi jarang mengenakan riasan kecuali untuk acara-acara khusus, sehingga saya cukup mengagumi dedikasi serta usaha yang mereka curahkan. Kendati demikian, sebagian orang merasa bahwa merias wajah setiap hari adalah hal yang melelahkan. Bagi mereka yang ingin memiliki wajah blasteran tanpa harus repot berdandan dalam waktu lama, klinik bedah plastik menawarkan jalan pintas. Takasu Clinic adalah salah satu penyedia layanan bedah rekonstruksi wajah agar tampak seperti orang asing atau blasteran.
Fenomena ini bahkan menarik minat para siswi sekolah menengah, di mana beberapa dari mereka mulai mempertimbangkan atau bahkan telah menjalani prosedur operasi pada bagian mata.
Saya secara pribadi merasa kurang sependapat dengan keputusan untuk mengubah bentuk tubuh secara drastis — seseorang seharusnya mensyukuri dan menikmati apa yang telah dianugerahkan sejak lahir. Namun, saya tidak dapat sepenuhnya memahami pola pikir setiap individu karena itu adalah tubuh mereka sendiri. Di sisi lain, beberapa prosedur operasi plastik memang memiliki fungsi praktis, seperti operasi kelopak mata ganda yang cukup populer. Prosedur ini tidak hanya membuat mata terlihat lebih besar dan menyerupai standar barat, tetapi juga mencegah kelopak mata turun seiring bertambahnya usia.
Meski demikian, mengikuti tren kecantikan secara berlebihan tentu memiliki risiko tersendiri. Bagaimana jika suatu hari seseorang menyesali keputusannya, atau jika prosedur medis tersebut mengalami kegagalan? Dampak negatifnya terlalu besar. Pada akhirnya, yang terpenting adalah merasa nyaman dan percaya diri dengan penampilan alami.
Mencoba Sendiri Penampilan Blasteran
Setelah cukup banyak memberikan penilaian, kini saatnya saya mencoba sendiri tren riasan tersebut. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya bukan tipe orang yang gemar mengenakan riasan wajah, namun melihat berbagai tips yang ada membuat saya tertarik untuk mencobanya.
Kendati demikian, saya tidak memiliki perlengkapan dasar seperti lensa kontak berwarna ataupun bulu mata palsu. Untungnya, teknologi penyuntingan foto hadir membantu melalui bantuan seniman virtual bernama Aya. Apakah Anda siap? Saya bersiap untuk bertransformasi menjadi seorang “blasteran”.

Tampilan tanpa riasan wajah.

Tampilan dengan sedikit sentuhan riasan.

Apakah sekarang saya sudah terlihat seperti blasteran?

Ataukah dua pertiga?
Hal pertama yang terlintas di pikiran saya saat melihat foto-foto tersebut adalah tertawa terbahak-bahak. Rasanya sangat janggal melihat diri sendiri dengan rupa seperti itu. Saya pribadi masih bisa menerima hasil pada foto kedua, namun dua foto terakhir di mana saya mengenakan lensa kontak berwarna dan mengecat rambut tampak sedikit menyeramkan. Ketika saya mengirimkan gambar-gambar tersebut kepada orang tua saya, mereka pun turut tertawa. Eksperimen ini menjadi alasan yang kuat bagi saya untuk tetap mempertahankan rambut hitam dan mata cokelat alami. Bagaimanapun juga, tampil natural adalah pilihan terbaik.
Foto kedua juga sempat membuat saya membayangkan rupa anak perempuan saya di masa depan. Saat ini saya belum memiliki anak, namun jika suatu hari saya dikaruniai seorang putri, mungkin penampilannya akan mirip dengan hasil foto tersebut. Untung saja suami saya tidak memiliki mata biru atau rambut pirang, jadi anak saya nanti tidak akan terlihat menakutkan… selama ia tidak mengenakan jenis riasan wajah seperti ini!








