Home / Anime / Wawancara: Kellen Goff, Pengisi Suara Overhaul, Diavolo, Carnage, dan Lainnya

Wawancara: Kellen Goff, Pengisi Suara Overhaul, Diavolo, Carnage, dan Lainnya

1785214017 0249dfb9c181a29d69b14e25db7fb0c3 1024x576 1

Kellen Goff adalah seorang pengisi suara terkemuka yang telah mengisi berbagai karakter populer dalam serial anime dan permainan video. Namanya sangat melekat dengan waralaba Five Nights at Freddy’s, di mana ia menyuarakan karakter ikonis seperti Freddy Fazbear, Funtime Freddy, Glamrock Freddy, Sun dan Moon, hingga Foxy dalam versi filmnya. Di dunia anime, ia dikenal sebagai pengisi suara untuk karakter-karakter utama seperti Kai Chisaki atau Overhaul dalam My Hero Academia, Diavolo di JoJo’s Bizarre Adventure, Porco Galliard atau The Jaw Titan di Attack on Titan, Sasaki dalam Sasaki and Miyano, dan banyak lagi. Kami berkesempatan untuk berbincang-bincang dengannya mengenai berbagai peran tersebut, peran barunya sebagai Carnage dalam Marvel Tokon: Fighting Souls, serta figur dirinya yang penjualannya didedikasikan untuk mendukung The Jonathan Foundation.

Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting demi kejelasan.

Q: Sebagai pertanyaan pembuka, saya ingin membahas mengenai Diavolo dari JoJo’s Part 5, terutama karena saya selalu tertarik dengan karakter yang memiliki kepribadian atau identitas ganda. Bagaimana rasanya membawakan karakter yang harus terus-menerus disandingkan dengan karakter lain yang tidak disuarakan oleh Anda?

Goff: Itu seperti sebuah latihan akting yang luar biasa. Saya rasa saya belum terlalu banyak melakukan hal bertema Jekyll dan Hyde hingga titik itu, tetapi bekerja bersama Griffin Burns yang memerankan Doppio sungguh menyenangkan. Ketika Anda memerankan seseorang yang merupakan kebalikan dari rekan seimbangnya, Anda harus berusaha sebaik mungkin untuk menonjolkan sifat-sifat yang tidak dimiliki karakter tersebut. Jadi, saya mencoba membuatnya tampak lebih penuh perhitungan dan sedikit lebih tertutup, sementara Doppio digambarkan lebih ceria dan santai pada beberapa momen. Tujuannya agar perubahan ketika Doppio berubah menjadi Diavolo terasa lebih berdampak. Saya selalu memandangnya—meskipun ada beberapa orang yang tidak sependapat dengan sudut pandang ini—sebagai seseorang yang benar-benar ingin diam, berada di latar belakang, dan mengendalikan segalanya dari balik layar. Jadi, saya merasa ketika ia ditarik keluar dari zona amannya, ia menjadi sedikit seperti anak kecil. Ia menganggap dirinya sebagai raja, penguasa, atau dewa, dan semakin dewa itu berteriak karena merasa takhtanya direbut, semakin saya berpikir, “Wah, yang satu ini benar-benar manja. Yang ini selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya.” Berperilaku seperti anak kecil dan mengamuk saat takhta mereka direbut terasa seperti konsekuensi yang logis, dan itu juga yang membedakannya dari Doppio, yang tidak pernah benar-benar ingin terlibat dalam semua kekacauan itu.

Q: Bagaimana pendekatan Anda dalam melakoni adegan mengamuk seperti anak kecil atau momen-momen kemarahan yang sangat intens?

Goff: Saat itu, saya baru saja mulai melakukan rekaman ketika pandemi 2020 melanda, di mana ada banyak ketidakpastian dan ketidaknyamanan bagi semua orang. Jadi, saya memilih untuk menyalurkan energi tersebut ke dalam rasa tidak nyaman dan ketidakpastian milik Diavolo, untuk memicu teriakan-teriakan itu dan dorongan kuat agar keadaan bisa berbeda sesuai keinginannya. Saya melakukan yang terbaik untuk mengubah energi gugup yang kami rasakan saat itu menjadi tenaga untuk teriakan-teriakan tersebut, dan hasilnya ternyata cukup baik. Hal itu menjadi bahan bakar yang luar biasa bagi saya.

1785213840 c6b65dbabdbe7dc158fd726eddf4ee12

©LUCKY LAND COMMUNICATIONS/SHUEISHA,JOJO’s Animation GW Project

Q: Hal itu sangat masuk akal. Satu hal yang membuat saya penasaran, bagaimana rasanya mencoba mempelajari dan memahami kemampuan Stand miliknya?

Goff: (tertawa) Saya hanya diberi tahu lelucon yang sering beredar oleh semua orang, yaitu “Semuanya berjalan begitu saja.” Tetapi saya berusaha semaksimal mungkin untuk memahaminya dengan cara saya sendiri, bagaimana kemampuannya berbeda dari milik Dio dan yang lainnya. Saya sempat mengunggah sebuah video TikTok menggunakan acar, dengan cara mengiris bagian tengahnya dan membuat garis waktu baru dari situ. Saya pikir itu cukup bagus, tetapi seiring berjalannya waktu, saya mencoba memikirkannya lebih dalam lagi. Pada akhirnya, konsep itu memang masuk akal di permukaan, tetapi jika Anda mulai masuk ke ranah sainsnya, hal itu cukup sulit untuk dicerna hingga hari ini. Dan itulah hal favorit saya untuk dilakukan: mencari akal dari keajaiban atau ilmu sains yang tidak memiliki penjelasan, lalu memberikan penjelasan logis. Itu adalah salah satu hal yang paling saya sukai dalam penulisan saya sendiri. Namun, konsep waktu selalu menjadi hal yang rumit. Satu-satunya hal yang bisa saya gunakan untuk membenarkannya adalah garis waktu alternatif. Ia hanya melompat ke garis waktu lain di mana segala sesuatunya berjalan sesuai keinginannya, yang mana itu mungkin saja terjadi. Dalam dunia Stand, apa pun bisa terjadi, bukan? Jadi, itulah satu-satunya cara saya bisa membenarkannya pada diri sendiri. Tapi siapa tahu, mungkin seseorang akan membuat sebuah video esai yang bisa menjelaskannya dengan sempurna untuk saya.

1785213630 ca6b18a7b74b175fc69c62a950b820ef

© K. Horikoshi / Shueisha, My Hero Academia Project

Q: Anda juga menyuarakan Overhaul, karakter lain yang menyeramkan namun cenderung pendiam. Aspek kepribadian apa darinya yang menurut Anda membuat figur penjahat ini begitu menarik untuk diperankan?

Goff: Overhaul adalah pengalaman pertama saya memerankan karakter penjahat anime berskala besar. Jadi, itu adalah tantangan yang menarik untuk langsung terjun total ke dalam jiwa seperti miliknya. Cara saya memahaminya sekarang, setelah mengetahui latar belakang dan segalanya—ia adalah seorang anak yatim piatu. Ia dibuang karena memiliki Quirk yang merusak orang-orang yang dicintainya dan tidak bisa ia kendalikan. Jadi ia dibuang ke jalanan dan tumbuh di lingkungan yang sangat kejam serta mengerikan selama bertahun-tahun pada masa pembentukan karakternya. Di lingkungan seperti itu, orang-orang yang pernah saya ajak bicara dan tumbuh dalam keadaan malang yang serupa sangat mengimani konsep adil dan tidak adil. Semuanya terasa tidak adil, sehingga satu-satunya hal yang bisa Anda kendalikan adalah apa yang Anda anggap sebagai hukum balas air, mata ganti mata. Itulah satu-satunya keadilan yang bisa Anda dapatkan, yaitu keadilan yang Anda ciptakan sendiri. Jadi, ketika pemimpin Shie Hassaikai menemukannya dan menjadi figur ayahnya, ia sangat mengidolakan pria tersebut.

Pria itulah yang menyelamatkan Overhaul dari kehidupan yang sangat mengerikan. Oleh karena itu, mulai saat itu, setiap langkah yang ia ambil—tidak peduli apa motivasi permukaannya—di dasarnya selalu bertujuan untuk membalas kebaikan “Pops”, sang ayah, yang telah menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim tersebut. Bagi Overhaul, tujuan menghalalkan segala cara karena ia memiliki pandangan mata ganti mata yang sudah terdistorsi, bahwa hidup itu tidak adil dan Anda harus membuat aturan sendiri. Itulah sebabnya ia tidak berpikir panjang saat menyiksa seorang anak kecil, yang sayangnya memang benar terjadi. Dan tentu saja, itulah alasan mengapa ia pantas berada di penjara karena pola pikir menghalalkan segala cara sangatlah berbahaya. Jadi ya, Anda bisa melihat hal itu di sepanjang cerita. Dalam dunia kejahatan, ia tidak menjadi jahat sekadar untuk berbuat jahat. Ia menjadi jahat ketika ia ingin membalas pukulan seseorang, atau ketika ia merasa disinggung. Namun dalam banyak hal, sebagai contoh pada pertemuan pertamanya dengan League of Villains, ia menghentikan pertarungan ketika kedua belah pihak kehilangan salah satu anak buahnya, dan menyuruh mereka menenangkan diri lalu kembali lagi. Ia mungkin pernah menghadapi situasi serupa saat tumbuh di jalanan. Jadi pada akhirnya, ketika semuanya sia-sia, ketika ia memiliki rencana yang sempurna dan sangat yakin bisa berhasil serta membalas budi ayahnya, ia justru dihentikan oleh hal-hal yang paling ia benci: para pahlawan, orang-orang dengan Quirk, orang-orang yang ia anggap sakit.

Selain itu, saya percaya bahwa tumbuh besar di jalanan dengan segala kotoran yang harus ia hadapi membuatnya sering jatuh sakit, benar-benar sakit parah beberapa kali dan harus berjuang sendiri. Saya pikir dari sanalah fobia terhadap kuman miliknya berasal. Saya merasa ketika ia dikalahkan oleh orang-orang yang ia anggap “sakit” tersebut, hal itu membawanya kembali ke masa kecilnya dan segala momen saat ia dirobohkan oleh penyakit. Dan itu benar-benar menghancurkan jiwanya, bahwa hidup menghentikannya dan melemparkannya kembali ke jalanan saat ia sedang mencoba membalas budi ayahnya. Saya merasa itu sangat merusaknya dari lubuk hati yang paling dalam. Pada titik itu, yang ingin ia lakukan hanyalah mengulang dari awal dan meminta maaf kepada figur ayahnya. Jadi pada akhirnya, ketika figur ayahnya mengatakan betapa mengerikannya dirinya, saya yakin itu sangat menghancurkan hatinya. Dan saya hanya berharap ia akhirnya bisa sadar dari keterpurukan itu, melakukan apa yang diinginkan ayahnya, dan menjadi seseorang yang berguna. Meminta maaf kepada Eri, dan menggunakan Quirk miliknya untuk hal-hal yang menyembuhkan alih-alih merusak. Karena Quirk miliknya sangat luar biasa. Ia bisa mempreteli apa saja pada tingkat mikroskopis, dan jika disatukan kembali dalam waktu 10 detik, Anda akan sepenuhnya sembuh dari penyakit apa pun, termasuk kanker. Ia bisa menyembuhkan apa saja, tetapi ia menggunakannya untuk menghancurkan. Sungguh sangat disayangkan. Saya benar-benar menginginkan sebuah alur penebusan dosa untuknya karena ada banyak hal baik yang bisa ia lakukan.

Q: Kedua karakter tadi adalah penjahat, tetapi Anda juga telah memerankan berbagai jenis tipe karakter lainnya. Apakah ada tipe karakter yang belum sempat Anda perankan dan sangat ingin Anda suarakan?

Goff: Suatu saat dalam hidup saya, saya sangat ingin memerankan protagonis anime shonen klasik. Saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berada di posisi itu. Bisa jadi di anime atau serial yang tidak ditonton banyak orang, saya tidak masalah. Saya tetap berharap orang-orang mau menontonnya, tapi saya hanya ingin merasakan pengalaman tersebut. Karena saya tumbuh dengan mengagumi para protagonis. Betapa klisenya kedengarannya, Naruto adalah karakter Naruto favorit saya. Untuk beberapa waktu, Goku adalah karakter Dragon Ball favorit saya. Saya ingin sekali berada dalam posisi di mana karakternya menjadi underdog atau ceritanya berpusat pada dirinya. Saya memang pernah memerankan karakter utama dalam anime romantis lewat Sasaki and Miyano. Proyek anime romantis itu sangat menyenangkan untuk dikerjakan dan membuat hati saya senang, tetapi rasanya tetap berbeda dari protagonis petualangan aksi shonen. Ada banyak alasan mengapa saya selalu ingin melakukannya, jadi itu adalah impian terbesar saya.

Q: Pertanyaan saya berikutnya berkaitan dengan Attack on Titan. Saya penasaran bagaimana rasanya, dari segi suasana dan energi, bisa terlibat dalam penutupan serial tersebut.

Goff: Itu adalah sebuah kehormatan besar, karena musim pertama serial itu ditayangkan saat saya masih duduk di bangku SMA. Jadi, tumbuh bersama sebuah karya lalu bertahun-tahun kemudian bisa memerankan seorang Titan Shifter yang terlibat—meskipun berada di balik layar—dalam cerita yang menemani masa pertumbuhan saya, rasanya sangat melegakan dan emosional bagi saya. Anime tersebut adalah sebuah karya yang legendaris dengan penulisan cerita yang luar biasa, dan akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu yang terbaik. Jadi, bisa memegang peran apa pun di dalamnya, terlebih lagi sebagai seorang Titan Shifter, ya Tuhan, itu adalah salah satu kehormatan terbesar dalam hidup dan karier saya. Sangat menyenangkan bisa menjadi bagian darinya. Proses perekamannya juga menjadi semacam pencerah di tengah masa-masa sulit saat kami harus menjalani karantina. Hal itu mengangkat semangat saya di saat-saat yang sangat saya butuhkan. Oleh karena itu, Attack on Titan dan karakter Porco memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya. Proyek itu juga menjadi salah satu tempat di mana saya bisa bekerja sama dengan seorang teman baik, Mike McFarland, yang saat ini sedang berjuang melawan masalah medisnya. Kami semua sangat, sangat berharap ia bisa melewatinya. Ia adalah sosok yang sangat menyenangkan untuk diajak bekerja sama, dan merupakan anugerah bisa mengenalnya melalui proyek tersebut maupun di luar itu. Jadi, semua kenangan itu meninggalkan kesan yang sangat positif bagi saya.

Q: Pertanyaan selanjutnya ini tentang sebuah peran yang cukup unik, namun saya merasa terhibur dengannya. Anda memerankan Ball Guy di Pokémon Masters. Bagaimana awalnya peran itu bisa didapatkan, dan seperti apa pengalamannya?

Goff: Itu murni didapat lewat proses audisi. Saya selalu menjadi penggemar berat Pokémon. Salah satu video game pertama yang saya miliki dan bukan game edukasi komputer adalah Pokémon Gold. Saya membeli Game Boy lama milik teman saya beserta kaset Pokémon Gold seharga 15 dolar saat saya masih anak-anak. Saya menyembunyikannya dari orang tua saya karena mereka belum mengizinkan saya bermain game saat itu. Namun sejak saat itu, saya menjadi penggemar berat Pokémon. Saya selalu membeli setiap gamenya dan telah menamatkan semuanya berkali-kali. Jadi, bisa memberikan kontribusi untuk alam semesta tersebut rasanya—kalau boleh dibilang—sebuah kelegaan sekaligus kehormatan yang luar biasa, terutama karakter Ball Guy. Saya sempat mengikuti audisi untuk Pokémon Masters beberapa kali, tetapi karakter itu muncul ketika ia tengah menjadi sebuah meme populer saat itu. Sosok pria berbadan kekar yang melompat-lompat dan membantu petualangan Anda di wilayah Galar. Mengikuti audisi dan mendapatkan peran tersebut sungguh menyenangkan. Sangat seru mengerjakannya, baik untuk versi aslinya maupun pembaruan kostum yang ia dapatkan kemudian. Karakter ini sangat gemar melontarkan plesetan kata, tetapi semuanya selalu menggunakan kata “ball” (bola). Yang ia lakukan hanyalah mengganti suku kata pada kata-kata tertentu yang terdengar mirip dengan kata “ball”. Misalnya seperti, “oh, itu terri-ball” atau “saya akan bersenang-senang (have a ball) denganmu.” Karakternya sangat konyol dan saya sangat menyukai peran-peran yang konyol. Peran yang lucu selalu berhasil mengangkat suasana hati saya.

Q: Berikutnya, saya ingin mendengar sedikit lebih banyak tentang Carnage dan game Marvel Tokon: Fighting Souls. Bagaimana pengalaman Anda saat mendapatkan peran tersebut dan membawakannya?

Goff: Hal itu terjadi beberapa tahun lalu. Proyek tersebut menggunakan nama sandi yang sangat ketat. Saya tidak tahu persis apa proyeknya, tetapi Anda selalu memiliki firasat dan harapan. Saya tahu siapa yang membuatnya, jadi saya sempat berpikir, apakah ini proyek itu? Setelah lolos audisi dan mengetahuinya, ternyata benar itu adalah Carnage. Saya sangat menyukai Marvel. Bahkan hari ini, saya menonton ulasan para YouTuber tentang trailer Doomsday. Proses awalnya sangat menyenangkan. Mereka memperlihatkan karya seninya saat sesi rekaman. Saya berusaha sebaik mungkin untuk mengambil elemen-elemen dari berbagai inkarnasi sebelumnya serta penampilan para aktor terdahulu, guna menghormati mereka yang telah mendahului saya dan mencari cara terbaik untuk menyajikannya bukan sebagai Carnage yang sempurna, melainkan Carnage yang memuaskan semua orang. Saya sangat menyukai hasil akhir yang kami ciptakan di sini. Karakter ini memiliki nada suara tinggi dan suara makhluk buas ala penampilan Dee Bradley Baker. Ia juga memiliki nada rendah dan geraman dari versi David Sobolov dan Woody Harrelson. Ia memiliki kegilaan yang sama seperti versi Scott Cleverdon. Saya sangat antusias mendengar tanggapan orang-orang mengenainya. Dari sana, prosesnya diisi dengan sesi rekaman teriakan dan suara-suara parau dari dalam tenggorokan, memastikan bahwa karakternya tetap tampak gila sepanjang waktu sehingga para pemain yang melawannya akan merasa sangat kesal saat dikalahkan, namun juga merasa puas ketika berhasil mengalahkannya. Pengalaman ini sangat menyenangkan. Saya sungguh, sungguh ingin bisa kembali memerankan Carnage lagi entah bagaimana caranya nanti.

1785213366 844e9f35ce80f283b66f873c845ec104

Q: Terakhir, saya melihat figur yang familiar di belakang Anda. Bisakah Anda menceritakan sedikit lebih banyak tentang figur tersebut?

Goff: Ya, tentu. Ini adalah figur Youtooz diri saya. Ini adalah versi Kellen kecil, bagian dari koleksi Five Nights at Freddy’s. Anda bisa melihat ada beberapa karakter Freddy di sana, lalu ada mikrofon Funtime Freddy yang saya pegang di tangan saya. Figur ini bermula secara kebetulan ketika kami berdiskusi untuk membuat figur Youtooz pengisi suara yang disesuaikan dengan tiga pengisi suara dari film FNAF 2. Hal itu kemudian berkembang menjadi produk mandiri yang berdiri sendiri, dan saya sangat, sangat bersyukur atas hal itu. Saya selalu ingin dibuatkan mainannya. Hasil pendapatan apa pun yang saya dapatkan darinya tidak ingin saya ambil untuk diri sendiri. Saya menyumbangkan semuanya ke The Jonathan Foundation, sebuah badan amal luar biasa yang membantu anak-anak dalam spektrum autisme untuk mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan agar hidup mereka menjadi lebih mudah diakses. Mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk setiap anak penyandang disabilitas. Saya sangat, sangat senang bisa berkontribusi untuk hal itu dengan satu atau lain cara. Batas waktu pemesanan figur ini berakhir pada tanggal 28 Juli, jadi kalian masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.


Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Kellen Goff karena telah meluangkan waktu untuk berbincang dengan kami. Figur YouTooz miliknya tersedia untuk dipesan hingga akhir tanggal 28 Juli dan seluruh hasil penjualannya akan disumbangkan untuk The Jonathan Foundation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *