Home / Travel / Tenugui: Kain Serbaguna Ala Jepang untuk Keseharian

Tenugui: Kain Serbaguna Ala Jepang untuk Keseharian

header 640x 34

“Apa ini?” tanyaku sambil membentangkan selembar kain yang diberikan oleh temanku. Kain tersebut terbuka menjadi sebuah persegi panjang yang cukup besar.

“Ini hadiah untukmu,” jawabnya.

“Terima kasih, tapi untuk apa ini?” Selain memiliki motif polkadot, kain tersebut terasa kasar, tipis, dan tidak memiliki keliman di pinggirannya.

“Banyak hal. Kamu bisa membungkus barang dengan itu,” jelasnya.

“Membungkus barang?” Aku membayangkan seorang gelandangan yang membawa seluruh harta bendanya dalam seikat kain di ujung tongkat. Hadiah itu membuatku bingung, namun aku tetap berpura-pura senang. Pada akhirnya, temanku pergi dan kain itu pun tersimpan di dalam lemari. Lagipula, aku tidak punya apa-apa untuk dibungkus, dan aku juga tidak berniat berkelana menjelajahi dunia—setidaknya untuk saat itu.

blue and white tenugui

Masuklah ke dalam lemari!

Pengalaman pertamaku dengan tenugui bisa dibilang cukup canggung. Selembar kain berumbai tentu menjadi hadiah yang aneh dan sama sekali tidak terlihat berguna. Aku tidak tahu sama sekali bahwa kain sederhana itu memiliki sejarah yang kaya serta fungsi yang sangat beragam.

Dalam Bentuk Paling Sederhana

Sekilas, tenugui memang tidak tampak istimewa. Pinggirannya yang berumbai dan bahannya yang tipis membuatnya mirip seperti kain lap bekas—setidaknya di mata orang Barat sepertiku. Aku bahkan sempat berpikir bahwa gambar dan pola rumit pada beberapa tenugui akan lebih cocok dijadikan kanvas lukisan atau poster daripada dicetak di atas kain yang rapuh.

Terkadang, tenugui memang hanya berfungsi sebagai kain atau lap biasa. Kain ini sering dipakai untuk mengeringkan tangan atau membersihkan sesuatu. Maka tidak heran jika kanji untuk tenugui (手拭いてぬぐい) terdiri dari kata te () yang berarti tangan dan nuguu (拭うぬぐう) yang berarti menyeka. Kendati demikian, “penyeka tangan” ini merupakan bentuk tenugui yang paling polosan, murah, dan paling biasa. Bahkan kanji tersebut belum mampu menggambarkan sepenuhnya asal-usul dan kemampuan dari kain ini.

Asal-Usul Tenugui

woman dressed up as heian era

Pada kenyataannya, tenugui memiliki latar belakang sejarah yang terhormat. Berdasarkan catatan toko Kamawanu, tenugui asli sudah ada sejak era Heian, yaitu antara tahun 794 hingga 1192 Masehi. Masa tersebut dikenal sebagai zaman kedamaian dan eksplorasi seni, yang oleh Museum Seni Metropolitan dijuluki sebagai era pencerahan budaya Jepang. Berkembang bersamaan dengan tradisi budaya terkenal lainnya seperti aksara kana, puisi waka, gaya lukisan yamato-e, serta karya naratif seperti The Tale of Genji, sangat wajar jika tenugui sempat luput dari perhatian.

Pada zaman Heian, tenugui merupakan barang mewah yang mahal. Tenugui digambarkan sebagai kain tenun halus berbahan sutra atau rami yang dipakai dalam berbagai upacara dan ritual keagaman. Karena teknik produksi massal belum ditemukan saat itu, proses pembuatan kain sangat rumit dan memakan biaya tinggi. Akibatnya, harga tenugui berada di luar jangkauan masyarakat umum.

Menjadi Sangat Populer

Edo period art with tenugui

Tenugui baru benar-benar merakyat jauh setelah periode Heian berakhir. Teknik pembuatan kain yang semakin maju sepanjang zaman Kamakura dan Edo berhasil menurunkan harga sekaligus meningkatkan ketersediaannya. Begitu harganya terjangkau, fleksibilitas kain ini langsung memicu penggunaan yang luas di tengah masyarakat. Lebih tahan lama daripada kertas, kain ini bisa dicuci dan dipakai berulang kali. Yang terpenting, tenugui mampu memenuhi berbagai kebutuhan pada masa itu—berfungsi sebagai penutup kepala, ikat pinggang, dompet, hingga pembungkus barang pelindung sekaligus dekoratif. Dengan fungsi yang nyaris tanpa batas, tenugui bertransformasi menjadi barang kebutuhan pokok.

Seiring waktu, harga tenugui menjadi sangat murah sehingga bisa dipakai untuk membersihkan rumah maupun tubuh. Tradisi mandi di onsen dan kebiasaan mandi rutin turut mendongkrak popularitas tenugui, menjadikannya perlengkapan wajib di pemandian umum. Mengingat handuk modern saat itu belum diciptakan, tenugui hampir tidak memiliki saingan.

japanese man dressed as tenugui theif

Namun, tradisi mandi bukan satu-satunya aspek budaya yang merangkul tenugui. Sifatnya yang serbaguna membuat kain ini menjadi barang andalan dalam festival musim panas—dikenakan sebagai penutup kepala, ikat pinggang, atau properti pendukung. Tenugui juga diandalkan sebagai ikat kepala oleh para praktisi kendo untuk menyerap keringat sekaligus melindungi kepala dari benturan helm pelindung. Kain ini bahkan sempat lekat dengan dunia kriminal. Gambaran pencuri tradisional Jepang belum lengkap tanpa sehelai tenugui yang diikatkan menutupi hidung sebagai masker penyamar identitas.

Belum lagi para pendongeng rakugo yang tidak akan lengkap penampilannya tanpa membawa tenugui. Seniman Katsura Sunshine menjelaskan bahwa pertunjukan rakugo menampilkan seorang pencerita tunggal yang hanya menggunakan kipas tangan dan sehelai kain sebagai properti untuk menghibur penonton lewat monolog komedi serta cerita tradisional. Di tangan seniman yang lihai, handuk atau tenugui tersebut dapat berubah bentuk menjadi apa saja, menggantikan berbagai properti yang dibutuhkan dalam cerita.

Kelahiran Tren Gaya

woman with blue background wearing tenugui

Kegunaan bukanlah satu-satunya pemicu melejitnya popularitas tenugui. Persaingan di antara para perajin serta meningkatnya selera fesyen turut mendorong evolusi estetika kain ini. Seiring transformasinya menjadi aksesoris busana, desain yang semakin menarik mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi para penjualnya.

Persaingan tersebut bukan sekadar urusan ekonomi. Berdasarkan catatan Kamawanu, berbagai kontes desain memicu persaingan ketat di kalangan perajin, yang kemudian melahirkan teknik pewarnaan serta percetakan baru.

Teknik-teknik mutakhir tersebut memungkinkan para perajin melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Untuk pertama kalinya, tenugui hadir dengan ragam warna, pola terperinci, serta gambar indah seperti pemandangan alam, fauna, atau figur manusia. Desain yang paling memukau bahkan dijadikan pajangan dekoratif untuk dikagumi.

Meski demikian, desain tenugui tidak hanya berpijak pada unsur estetika semata. Seiring trennya yang merambah sektor komersial, tenugui mulai beralih fungsi menjadi barang promosi. Perusahaan, aktor kabuki, hingga atlet sumo kerap menjual atau membagikan tenugui yang mencantumkan nama, potret, atau logo mereka. Berbagai keluarga juga memesan tenugui yang menampilkan lambang keluarga atau kamon (家紋かもん). Terkadang, kain yang memuat identitas pemiliknya bahkan digunakan sebagai pengganti kartu nama atau meishi (名刺めいし).

Kemajuan dalam industri produksi tekstil berhasil mengubah tenugui dari barang upacara yang mahal menjadi benda sehari-hari yang dinikmati masyarakat luas. Berkat inovasi teknik celup dan cetak, kain sederhana tersebut sukses menjelma menjadi aksesoris fesyen yang trendi sekaligus karya seni bernilai tinggi.

Tenugui di Era Modern

digital camera tenugui
Source: akaitori

Pada akhirnya, tenugui sempat mengalami penurunan popularitas dan tergeser oleh sapu tangan, handuk katun, tisu sekali pakai, serta berbagai kain modern lainnya. Barang-barang khusus yang murah dan praktis seperti topi, tas tangan, kantong plastik, wadah berisolasi, kotak bento, dan kertas pembungkus mulai menggantikan kain tradisional tersebut. Kehadiran kancing, peniti, ritsleting, serta perekat velcro turut merevolusi dunia pakaian dan aksesoris, membuat tenugui sempat dicap sebagai barang kuno yang ketinggalan zaman.

Namun, seperti kata arsitek asal Australia, Harry Seidler, bahwa desain yang baik tidak akan pernah lekang oleh waktu, kebutuhan zaman belakangan ini justru menghidupkan kembali kepopuleran tenugui. Barangkali, dalam ketergesaan kita untuk mengejar modernisasi, keunggulan-keunggulan utama tenugui sempat terabaikan.

Lantas, apa yang membuat tenugui begitu istimewa dibandingkan kain masa kini? Bahannya yang tipis membuatnya cepat kering, sehingga sangat ideal untuk membersihkan sesuatu, mandi, dijadikan sapu tangan, maupun sebagai ikat kepala. Karena tidak mudah menyimpan debu, tenugui sangat handal untuk mengelap berbagai permukaan seperti kaca jendela, meja dapur, wastafel, layar televisi, dan monitor.

Tenugui juga memiliki karakter yang unik. Kamawanu menjelaskan bahwa akibat proses pewarnaannya, terutama teknik celup tangan, tidak ada dua helai tenugui yang benar-benar persis. Pewarna alami dapat menghasilkan warna dan tingkat kepekatan yang berbeda. Faktor cuaca, suhu, serta tingkat kelembapan udara juga turut memengaruhi hasil akhir proses pewarnaan tersebut.

Penggunaan sehari-hari juga memberikan pengaruh tersendiri pada tenugui. Berbeda dari kain lain yang akan rusak seiring frekuensi pemakaian, tenugui justru semakin baik dari waktu ke waktu. Pemakaian yang berulang membuat kain ini menjadi semakin lembut dan nyaman saat bersentuhan dengan kulit. Seiring bertambah usianya, tenugui akan mengalami sedikit pudar dan liputan alami yang mencerminkan sejarah serta karakter penggunaannya. Alhasil, setiap tenugui memiliki keunikannya masing-masing.

Tenugui juga sangat digemari oleh kalangan pemerhati lingkungan. Gotokyo.com mendeskripsikan tenugui sebagai alat kehidupan yang praktis dan ramah lingkungan berakar dari kebudayaan tradisional Jepang. Sifatnya yang dapat dipakai ulang serta mudah terurai secara alami membuat tenugui hampir tidak meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan. Karena itulah, tenugui sangat cocok dengan masyarakat yang peduli lingkungan saat ini—khususnya di Jepang, di mana filosofi mottainai (pemborosan adalah hal yang tabu) memberikan nilai tambah tersendiri bagi barang-barang guna ulang.

Aspek favoritku dari tenugui adalah hal yang juga disukai oleh temanku—kain ini sangat cocok dijadikan omiyage atau oleh-oleh. Bobotnya yang ringan, mudah dibawa, dan bercita rasa khas Jepang menjadikan tenugui sebagai suvenir yang sempurna. Kain khas daerah biasanya menampilkan ilustrasi yang ikonik; misalnya tenugui dari Nara yang bergambar rusa, atau oleh-oleh dari Ehime yang bermotif pohon jeruk mandarin. Tenugui biru dari Tokushima merayakan warisan kerajinan pewarnaan indigo di wilayah tersebut, sementara Museum Manga Internasional Kyoto bahkan menjual tenugui khusus bertema seri manga klasik Jepang.

Sebagai bukti nyata bahwa tenugui mampu bertahan melintasi zaman, kain tradisional ini kini kembali menikmati lonjakan popularitas di masyarakat.

Pelajaran yang Dipetik

various colorful tenugui

Belum lama ini, aku menghubungi temanku kembali untuk menyampaikan rasa terima kasih atas hadiah yang ia berikan dulu. Ia tertawa begitu mendengar reaksi awalku saat menerimanya, namun ia tampak senang mengetahui kecintaanku yang baru terhadap kain tradisional Jepang tersebut.

“Kamu mau tahu kenapa pinggirannya tidak berjahit?” tanyanya.

“Memangnya ada alasannya?” tanyaku balik.

“Itu agar kainnya lebih mudah diperas dan cepat kering.”

Bahkan bagian tanpa kelim yang tadinya sempat membuatku heran ternyata menyimpan keunggulan tersendiri.

Bicara soal hadiah dari temanku itu, kini kain tersebut tidak lagi tersimpan di dalam kardus di dalam lemari. Ketika aku membawa bekal bento, aku menggunakannya sebagai kain pembungkus. Kain itu juga membantuku melewati musim panas di Jepang yang terik saat dipakai sebagai ikat kepala atau handuk kecil. Saat aku berkunjung ke onsen, aku selalu membawanya serta. Sepertinya aku harus mulai mengoleksi lebih banyak tenugui.

Namun, tenugui kesayanganku justru terpajang di dinding kamar. Dulu aku sempat berpikir bahwa gambar-gambar indah itu terasa sia-sia jika dicetak di atas “kain lap”, tetapi bukankah kanvas lukis pada dasarnya juga sehelai kain lap? Bukankah poster juga hanyalah selembar kertas? Koleksi tenugui milikku mengingatkan pada tempat-tempat yang pernah aku kunjungi serta kemeriahan berbagai festival musim. Kain-kain tersebut juga menjadi simbol atas pelajaran berharga yang kudapatkan. Meskipun sepintas tampak seperti selembar kain biasa, tenugui merupakan salah satu tradisi paling fungsional di Jepang yang akan terus aku hargai kapan pun dibutuhkan. Seperti ungkapan terbaik dari Gotokyo.com, “Tenugui tidak punya aturan baku—batasannya hanya sebatas imajinasi penggunanya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *