Home / Travel / Tangga Menuju Surga | Persiapan Perjalanan Anda ke Jepang

Tangga Menuju Surga | Persiapan Perjalanan Anda ke Jepang

The Stairs of Fushimi Inari Taisha

Jika Anda sedang merencanakan liburan ke Jepang, ada satu hal penting yang sering kali luput dari persiapan: bersiaplah untuk menghadapi banyak sekali anak tangga. Bagi wisatawan yang belum pernah berkunjung, berbagai destinasi populer di Jepang kerap menuntut fisik yang prima untuk menaklukkan rute berundak-undak.

Ambil contoh Fushimi Inari Taisha di Kyoto yang sangat ikonis dengan ribuan gerbang torii berwarna merah cerah. Menelusuri jalur yang mendaki lereng Gunung Inari ini ternyata membutuhkan tenaga ekstra karena jumlah anak tangganya yang sangat banyak. Pemandangan wisatawan yang kelelahan karena tidak menduga beratnya jalur pendakian ini adalah hal yang lumrah dijumpai di tengah perjalanan.

Selain kuil tersebut, banyak lokasi menakjubkan lainnya yang hanya bisa dicapai dengan menaiki deretan tangga yang panjang. Sebut saja Kuil Kuon-ji di Gunung Minobu yang merupakan pusat keagamaan Buddha sekte Nichiren. Pengunjung harus menapaki 287 anak tangga batu untuk tiba di area utamanya. Sekilas angka tersebut tampak sepele, namun pendakian ini dijamin akan membuat Anda terengah-engah sebelum sempat mencapai setengah perjalanan.

2,446 stone steps ascending through a lush cedar forest on Mt. Haguro, part of the pilgrimage route to Dewa Sanzan Shrine in Yamagata Prefecture, Japan.

Bahkan untuk kawasan suci seperti Kuil Dewa Sanzan di Gunung Haguro, para pengunjung harus menaklukkan hingga 2.446 anak tangga batu. Tantangan fisik ini tidak hanya ditemukan di tempat wisata, melainkan juga dalam aktivitas sehari-hari di Jepang. Sejumlah stasiun kereta di wilayah pedesaan tidak menyediakan eskalator atau lift. Contohnya seperti Stasiun Doai di Minakami atau Stasiun Higashi Ginza di Tokyo, di mana para pelaju harus naik turun beberapa tingkat tangga hanya untuk berpindah jalur peron. Situasi ini tentu menyulitkan pelancong yang membawa koper besar namun kurang terbiasa berjalan kaki dan menaiki tangga.

Random Stairs in Tokyo

Terlepas dari urusan tangga, liburan di Jepang secara keseluruhan memang menuntut aktivitas berjalan kaki yang jauh lebih intens dibandingkan kebiasaan sehari-hari di negara barat. Rata-rata wisatawan bisa menempuh jarak belasan hingga puluhan kilometer dalam sehari hanya dengan berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya. Jika tidak didukung kondisi fisik yang bugar, mobilitas tinggi ini akan sangat menguras tenaga, terlebih jika harus dilakukan di tengah teriknya musim panas.

Ancient stone steps of the Kumano Kodo pilgrimage trail winding through a misty cedar forest in Japan's Kii Peninsula, surrounded by moss and fallen pine needles.

Imbauan ini tentu berlaku lebih tegas bagi pelancong yang berniat menyusuri jalur bersejarah Nakasendo di Lembah Kiso atau mendatangi tiga kuil utama yang dikenal sebagai Kumano Sanzan. Jalur ziarah seperti Kumano Kodo menyimpan tantangan tersendiri berupa jalanan curam dan tangga batu kuno yang panjang, sehingga menuntut stamina tingkat tinggi dari setiap pejalan kaki yang melintasinya.

Pada akhirnya, tingginya intensitas berjalan kaki dan menaiki tangga di Jepang merupakan salah satu faktor utama mengapa masyarakat setempat memiliki tingkat kebugaran yang baik. Aktivitas harian yang dinamis ini secara tidak langsung membantu menjaga kesehatan tubuh, sekaligus memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelancong untuk menikmati berbagai kuliner lezat seperti ramen otentik atau daging wagyu tanpa perlu merasa khawatir berlebihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *