Home / Travel / Tanda-tanda di Jepang yang Menunjukkan Hari Anda Telah Berakhir: Jangan Jadi Orang Menyebalkan yang Masih Berdiri di Toserwa Saat Mereka Memutar “Auld Lang Syne

Tanda-tanda di Jepang yang Menunjukkan Hari Anda Telah Berakhir: Jangan Jadi Orang Menyebalkan yang Masih Berdiri di Toserwa Saat Mereka Memutar “Auld Lang Syne

header 640x 15

Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk pamit pulang adalah sebuah keterampilan hidup yang penting, sekaligus sering kali diabaikan. Di negara asal masing-masing, orang mungkin sudah terbiasa dengan norma sosial yang berlaku, namun aturannya tentu berbeda ketika berada di tempat lain. Seperti halnya berbagai aspek dalam budaya Jepang di mana rutinitas sosial dijaga demi keharmonisan bersama, terdapat cara-cara yang unik dan kreatif untuk memberi tahu seseorang bahwa sudah waktunya untuk pulang.

Tergantung pada lokasi, siapa rekan Anda, atau bahkan usia Anda, ada berbagai isyarat yang mengingatkan bahwa sudah saatnya beranjak pulang. Jika tidak memahami tanda-tanda ini, Anda bisa dianggap bertamu terlalu lama atau bahkan tertinggal kereta. Setidaknya ada tiga situasi utama yang patut dicermati: pusat perbelanjaan, jam malam anak-anak, dan situasi sosial secara umum.

Tempat Perbelanjaan

American supermarket
Source: Sean Gregor

Sebagian besar supermarket di Jepang tidak begitu saja mengumumkan bahwa toko akan segera tutup, karena cara tersebut dianggap terlalu kasar. Sebagai gantinya, sebuah melodi yang familier akan mengalun lembut dari pengeras suara untuk memandu para pembelanja—terutama para pekerja kantoran yang kelelahan setelah lembur—menuju area kasur. Bagi orang asing, pengalaman berbelanja ini terasa seperti memiliki lagu tema sendiri, lengkap dengan kebiasaan kasir Jepang yang menyebutkan satu per satu barang belanjaan yang dipindai bagaikan kredit penutup dalam sebuah film.

Pastikan Anda tidak sampai kehabisan waktu hingga lagu tersebut selesai diputar. Jika hal itu terjadi, Anda akan mendapati suasana kasir menjadi sunyi senyap tanpa musik, seolah-olah ada karakter utama yang baru saja tewas—sebuah gambaran yang membuat hilangnya “kontrak sosial” tak tertulis di masyarakat Jepang terasa sangat canggung bagi semua orang di dalam toko.

Lagu lembut yang sering diputar di toko-toko, pusat kebugaran, atau gedung perkantoran tersebut sebenarnya adalah Auld Lang Syne, sebuah lagu tradisional Skotlandia dari puisi abad ke-15 yang dicatat oleh Robert Burns. Judulnya secara harfiah berarti “masa lalu yang panjang,” dan liriknya merupakan ajakan untuk mengenang serta menghargai persahabatan lama.

Antara tahun 1929 hingga 1952, penyanyi asal Kanada Guy Lombardo membawakan lagu ini dalam siaran langsung dari New York setiap malam pergantian tahun. Hal inilah yang membuat lagu tersebut sangat lekat dengan perayaan tahun baru di dunia Barat, di mana orang-orang bernyanyi bersama sambil merayakan pergantian tahun.

Melodi ini kemungkinan besar dibawa ke Jepang oleh para misionaris. Hal serupa juga terjadi di Semenanjung Korea, di mana lagu kebangsaan Korea Selatan yang lama, yaitu Aegukga, sempat menggunakan nada Auld Lang Syne hingga tahun 1948. Maladewa bahkan menggunakan nada yang sama untuk lagu kebangsaan mereka sampai tahun 1972.

Jika Anda bertanya kepada orang Jepang mengenai judul lagu yang sedang diputar di supermarket, mereka tidak akan menyebutkan Auld Lang Syne atau versi Jepangnya Ōrudo Rangu Sain, melainkan Hotaru no Hikari atau “Cahaya Kunang-kunang”. Diperkenalkan pada akhir abad ke-19, lagu ini menggunakan nada yang sama dengan Auld Lang Syne, namun liriknya diubah untuk menceritakan kerja keras seorang pelajar yang membaca buku di bawah cahaya kunang-kunang demi mengabdi pada Jepang.

Meskipun lirik barunya sama sekali tidak menyinggung soal perpisahan, lagu ini tetap digunakan sebagai simbol perpisahan di Jepang. Selain berfungsi sebagai pengusir halus di pusat perbelanjaan, Hotaru no Hikari kerap dilantunkan dalam acara kelulusan sekolah dan acara akhir tahun stasiun televisi NHK, Kōhaku Uta Gassen.

Pulang Bersama Kawanan Burung Gagang

sunset in the city
Source: t-mizo

Anak-anak di mana pun tentu memiliki sifat yang suka bermain hingga lupa waktu. Orang tua di Jepang memiliki cara yang efektif untuk mengatasi aturan jam malam tanpa harus repot mengingatkan anak-anak mereka satu per satu. Di banyak negara, jam malam bergantung pada kesepakatan orang tua masing-masing anak, tetapi di Jepang, satu kota utuh dapat memiliki jam malam yang sama yang ditandai dengan alunan musik atau pengumuman melalui pengeras suara publik.

Waktu ini bisa berbeda tergantung pada wilayah dan musim, namun biasanya diputar persis sebelum matahari terbenam. Di kawasan Koenji, Tokyo, misalnya, lagu tersebut biasanya diputar pada pukul 4 sore, disusul oleh anak-anak sekolah berseragam kelasi yang berjalan pulang ke rumah.

Di beberapa kota, pengumuman suara biasa digunakan sebagai tanda agar anak-anak segera pulang, tetapi sebagian besar tempat memutar melodi berjudul Yūyake koyake (“Pijar Senja”) yang diciptakan oleh Nakamura Uko:

  • Yūyake koyake de hi ga kurete
    Yama no otera no kane ga naru
    Otete tsunaide mina kaerō
    Karasu to issho ni kaerimashō.

    Kodomo ga kaetta ato kara wa
    Marui ooki na otsukisama
    Kotori ga yume o miru koro wa
    Sora ni wa kirakira kin no hoshi.

  • Saat matahari terbenam dan malam tiba,
    Lonceng kuil gunung berbunyi.
    Mari bergandengan tangan pulang bersama,
    Mari pulang bersama kawanan burung gagang.

    Setelah anak-anak kembali ke rumah,
    Bulan purnama yang besar bersinar terang.
    Ketika burung-burung mulai bermimpi,
    Langit dipenuhi bintang keemasan.

Situasi Sosial

lantern outside izakaya
Source: Aleister Kelman

Interaksi sosial tentu membutuhkan kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan contoh-contoh sebelumnya. Seorang tuan rumah tidak mungkin tiba-tiba menyetel lagu Yūyake koyake atau Hotaru no Hikari di tengah-tengah obrolan untuk mengusir tamu secara halus. Meskipun tidak ada satu isyarat nasional yang pasti, ada beberapa petunjuk yang biasa digunakan dan umumnya juga dipahami di berbagai budaya lain.

Cara yang paling umum adalah gestur kelelahan. Tuan rumah mungkin mulai menguap kecil atau menggosok mata, sebelum akhirnya menegaskan rasa lelah mereka secara lebih jelas lewat ucapan seperti “Ahh, otsukareta” atau gestur menguap yang begitu kentara agar pesannya sampai kepada tamu.

Metode lainnya adalah seolah-olah membalikkan keadaan dengan mengatakan bahwa sang tamu lah yang tampaknya harus segera pulang, dengan harapan tamu tersebut akan menangkap sinyal tersebut. Ucapan seperti “Nanka osoku made gomen ne!” (Maaf ya jadi kemalaman!) juga sering dipakai sebagai bentuk pengingat bahwa waktu kunjungan sudah terlalu larut. Kombinasi antara trik psikologis ini dan bahasa tubuh kelelahan sering kali digunakan secara bersamaan.

Jadwal operasional kereta di perkotaan Jepang juga memegang peran penting dalam dinamika perpisahan ini. Mengingat tarif taksi yang sangat mahal, akhir dari sebuah acara sosial biasanya ditutup dengan pemandangan orang-orang yang sibuk menatap ponsel untuk mengecek jadwal kereta terakhir, lalu meminta maaf dengan tergesa-gesa sebelum berlari menuju stasiun.

Kereta terakhir juga menjadi alat yang fleksibel bagi tuan rumah maupun tamu untuk menyudahi pertemuan. Jika seseorang bertanya “Shūden heiki?” (Apakah masih sempat mengejar kereta terakhir?), pertanyaan tersebut bisa jadi merupakan bentuk kepedulian yang tulus, atau bisa juga menjadi isyarat halus bahwa waktu berkunjung Anda sudah habis.

Nah, bacaan ini sudah cukup panjang, Anda pasti sudah lelah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *