Home / Travel / Panduan Minum di Jepang: Cara Menghindari Salah Etiket Kultural

Panduan Minum di Jepang: Cara Menghindari Salah Etiket Kultural

Someone Pours a Cup of Sake in Japan

Bagi banyak orang, peran alkohol dalam kehidupan sehari-hari di Jepang mungkin terasa mengejutkan. Berbeda dengan negara-negara yang memiliki aturan ketat terkait minuman keras, budaya minum di Jepang mengakar sangat kuat dan seolah menjadi pilar penting yang menjaga masyarakatnya tetap berfungsi. Mulai dari kewajiban bersosialisasi dengan klien dan rekan kerja setelah jam kantor hingga berkumpul bersama teman di akhir pekan, alkohol adalah bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas sosial di sana.

Sikap toleran masyarakat Jepang terhadap konsumsi alkohol di ruang publik sering kali membuat wisatawan asing terkesan longgar. Mengonsumsi minuman beralkohol di tempat umum adalah hal yang legal, begitu pula melihat seseorang tertidur di jalan akibat terlalu banyak minum. Jaringan minimarket seperti 7-Eleven dan FamilyMart dengan mudah menyediakan berbagai jenis bir dan minuman beralkohol lainnya. Proses verifikasi usianya pun sangat sederhana, cukup dengan menyentuh layar konfirmasi pada panel digital bahwa pembeli telah berusia minimal 20 tahun.

Karena kebebasan ini, tidak heran jika kelompok orang kerap terlihat menikmati minuman di depan minimarket tempat mereka membelinya. Restoran dan izakaya juga sering kali menawarkan paket minum sepuasnya selama dua hingga tiga jam untuk memfasilitasi suasana mabuk bersama. Ditambah dengan tradisi minum bersama rekan kerja selepas pulang kantor, pemandangan orang yang mabuk ringan hingga berat di jalanan kota pada malam hari adalah hal yang lumrah dijumpai.

Drinking in Japan is very easy due to all of the convenience stores selling alcohol

“Sebuah peradaban maju atau runtuh berdasarkan sejauh mana minuman keras telah merasuk ke dalam kehidupan rakyatnya, dan dari sudut pandang tersebut Jepang berada di peringkat teratas di antara peradaban dunia.”

— Yoshida Kenichi

Budaya dan Sejarah Minuman Keras di Jepang

Hubungan antara masyarakat Jepang dan alkohol telah terjalin sejak masa-masa awal sejarah kepulauan tersebut. Catatan dalam naskah kuno Kojiki menyebutkan bahwa minuman beralkohol pertama kali diperkenalkan dari Korea oleh seseorang bernama Susukori. Sejak saat itu, masyarakat setempat dengan cepat menyukai efek relaksasi yang ditimbulkannya, hingga seorang utusan asal Tiongkok pada abad ketiga mencatat bahwa orang Jepang sangat menyukai minuman keras.

Seiring perkembangan zaman, industri pembuatan sake tumbuh menjadi salah satu perusahaan komersial swasta pertama di wilayah tersebut. Meskipun pada awalnya produksi alkohol dimonopoli oleh kuil-kuil dan istana kekaisaran, peralihan kekuasaan ke Keshogunan Kamakura pada tahun 1185 membuka jalan bagi para petani dan wirausahawan untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat terhadap minuman keras.

Di tengah budaya kelas prajurit yang sangat kaku, alkohol berfungsi sebagai pelumas sosial yang penting untuk meredakan emosi dan stres. Hingga hari ini, kebiasaan mabuk sering kali dimanfaatkan sebagai pelampiasan tekanan hidup, di mana segala ucapan atau perilaku di bawah pengaruh alkohol dianggap angin lalu dan dilupakan begitu saja keesokan harinya.

Alcohol and drinking is a very important part of Japanese culture

Etika dan Aturan Saat Minum Bersama

Meskipun masyarakatnya kini hidup di era modern, akar tradisi dari masa lalu tetap memengaruhi etika saat minum bersama. Salah satu aturan yang paling dijunjung tinggi adalah larangan menuangkan minuman ke dalam gelas sendiri. Sebagai gantinya, seseorang harus menuangkan minuman untuk rekan semeja, dan mereka akan melakukan hal yang sama sebagai bentuk timbal balik.

Jika seseorang ingin berhenti minum tanpa terlihat tidak sopan, mereka biasanya akan membiarkan gelasnya tetap penuh sebagai isyarat halus bahwa mereka telah mencapai batas. Bagi yang tidak mengonsumsi alkohol sama sekali, memesan teh oolong adalah pilihan paling aman karena minuman tersebut telah menjadi lambang universal bagi mereka yang tidak ingin minum alkohol di Jepang.

Selain itu, urutan dalam menuangkan minuman biasanya dimulai dari orang yang memiliki status sosial atau senioritas paling tinggi di meja tersebut. Bir juga hampir selalu menjadi pilihan minuman pertama untuk memulai acara bersulang atau kanpai, sebelum akhirnya beralih ke jenis minuman lain pada ronde berikutnya.

A group of co-workers go drinking in Japan after a long day at the office

Pandangan Terhadap Kecanduan Alkohol

Di satu sisi, budaya minum di Jepang memberikan ruang pelepasan stres yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi kedisiplinan kerja. Istilah nomunication, gabungan dari kata nomu (minum) dan komunikasi, menggambarkan bagaimana interaksi sosial terjalin erat di atas meja minum. Namun, di sisi lain, negara ini masih tergolong enggan memandang alkoholisme sebagai masalah kesehatan atau penyakit yang serius.

Meskipun jutaan orang di Jepang diperkirakan mengalami gangguan terkait penggunaan alkohol, kecanduan sering kali dianggap sebagai kegagalan pribadi dalam mengendalikan diri ketimbang akibat dari zat adiktif itu sendiri. Akibatnya, penanganan yang ada lebih berfokus pada pengendalian perilaku antisosial daripada menghentikan konsumsi minuman keras secara menyeluruh.

A salaryman passes out after drinking too much in Japan with his co-workers

Bagi para pelancong, ketersediaan alkohol yang begitu luas di Jepang bisa menjadi pengalaman yang menarik atau justru melelahkan, tergantung pada preferensi masing-masing. Jika Anda ingin ikut merasakan kemeriahan kehidupan malamnya, pastikan untuk menikmati suasana tersebut dengan bijak dan memanfaatkan berbagai produk penangkal mabuk yang tersedia di minimarket terdekat keesokan harinya. Sebaliknya, jika Anda lebih memilih untuk menghindarinya, memahami etika lokal akan membantu Anda menolak dengan sopan tanpa merusak keharmonisan sosial.

A man passes out in the middle of the street after drinking too much in Japan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *