Home / Travel / Serigala, Kucing, & Kegelapan | Kuil Shinto dan Buddha Unik di Tokyo

Serigala, Kucing, & Kegelapan | Kuil Shinto dan Buddha Unik di Tokyo

A Small Temple Hall Near Senso ji in Asakusa

Bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Tokyo, menemukan kuil-kuil Buddha maupun Shinto di antara gedung-gedung pencakar langit bukanlah hal yang asing. Sebagian besar mungkin tampak biasa saja, namun ada beberapa tempat ibadah yang menawarkan keunikan tersendiri. Meskipun tidak selalu wajib dikunjungi sebagai destinasi utama, ada tiga lokasi tersembunyi di Tokyo yang sangat menarik untuk disambangi jika Anda memiliki waktu luang di sela-sela jadwal liburan.

Lokasi-lokasi ini berada di luar jalur wisata konvensional dan jarang diketahui oleh sebagian besar penduduk lokal sekalipun. Berikut adalah beberapa permata tersembunyi yang ada di ibu kota Jepang ini.

Serigala Penjaga di Shibuya

A statue of a wolf at Shibuya’s Miyamasu Mitake Shrine in Tokyo

Meski populasi serigala liar telah punah di Jepang sejak lama, ada sebuah kuil kecil di kawasan Shibuya yang justru mendedikasikan penghormatannya kepada hewan tersebut. Dikenal sebagai Miyamasu Mitake Shrine, tempat tersembunyi ini terletak hanya beberapa menit berjalan kaki dari Stasiun Shibuya. Didirikan antara tahun 1673 hingga 1681, asal-usul kuil ini masih menyimpan banyak misteri.

Alih-alih patung rubah yang biasanya mendominasi tempat suci di Jepang, Miyamasu Mitake Shrine menampilkan patung serigala. Hewan-hewan ini bahkan menggantikan peran patung anjing singa atau komainu yang umumnya menjaga gerbang masuk kuil. Kuil ini buka selama 24 jam dan sangat menarik dikunjungi saat festival lokal berlangsung pada bulan September.

Misteri Asal-Usul Maneki Neko

Hundreds of maneki neko statues at Tokyo’s Gotoku-ji temple complex

Figur kucing yang melambaikan tangan sambil memegang koin atau yang dikenal sebagai Maneki Neko tentu sudah tidak asing lagi. Sejak zaman Edo, para pedagang telah memajang patung pembawa keberuntungan ini di depan toko mereka. Kendati catatan sejarah mengenai kemunculan pertamanya masih abu-abu, ada dua tempat di Tokyo yang sama-sama mengeklaim sebagai tempat lahirnya patung kucing legendaris ini.

Kuil pertama adalah Gotoku-ji yang terletak di Bangsal Setagaya, di mana area kuil dipenuhi oleh ribuan patung Maneki Neko berbagai ukuran. Konon, seorang penguasa feodal dari Kastil Hikone pernah diselamatkan dari badai setelah dipanggil oleh seekor kucing menuju kuil ini. Sebagai bentuk rasa terima kasih, ia menjadikan kuil tersebut sebagai tempat perlindungan keluarganya.

The unassuming Imado Shrine in Tokyo’s Asakusa area

Situs kedua yang juga mengklaim sebagai tempat asal Maneki Neko adalah Imado Shrine, sebuah kuil berusia sangat tua yang berdiri sejak tahun 1063 di dekat kawasan Asakusa. Kuil ini didedikasikan untuk pasangan dewa Izanagi dan Izanami, sehingga sering dikunjungi oleh mereka yang mencari keberuntungan dalam percintaan.

Legenda setempat mengisahkan seorang wanita lansia miskin yang terpaksa merelakan kucing kesayangannya pergi. Sang kucing kemudian hadir dalam mimpinya dan menyarankannya untuk membuat figur menyerupai dirinya. Patung-patung buatan wanita tersebut ternyata sangat diminati dan berhasil mengangkatnya dari kemiskinan, yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal kerajinan keramik gaya Imado-yaki dan tradisi Maneki Neko.

Menelusuri Kegelapan Total di Tamagawa Daishi

Buddhist statues at Tokyo’s Tamagawa Daishi temple complex

Terakhir, terdapat Tamagawa Daishi, sebuah kuil yang terletak di kawasan yang agak jauh dari pusat keramaian Tokyo. Dari luar, kuil ini tampak seperti bangunan keagamaan pada umumnya. Namun di balik lantai tataminya, terdapat sebuah jaringan terowongan bawah tanah yang menawarkan pengalaman sensorik yang ekstrem dalam kegelapan total.

Dengan membayar tiket masuk yang sangat terjangkau, pengunjung dapat menuruni tangga menuju lorong bawah tanah yang gelap gulita. Tanpa adanya bantuan penglihatan, pengunjung dipaksa mengandalkan indra lainnya, sebuah proses yang dipercaya dapat menjernihkan pikiran dan memberikan ketenangan batin layaknya meditasi.

Terowongan sepanjang lebih dari 100 meter ini mengarah ke tiga ruangan yang diterangi cahaya lilin. Ruangan utamanya menyimpan 88 patung Buddha kecil yang merepresentasikan ziarah terkenal di Shikoku. Bagi pengunjung yang memahami aksara kanji, terdapat angka pada patung yang sering dikaitkan dengan usia seseorang, di mana tradisinya adalah meninggalkan koin di dekat patung yang sesuai dengan umur pengunjung.

Pengalaman ini tentu tidak disarankan bagi mereka yang memiliki claustrophobia atau takut akan ruang sempit dan gelap gulita. Pertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk menjelajahi lorong bawah tanah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *