Dari Kertas hingga Plastik: Sejarah Singkat Payung di Jepang
Sejak zaman dahulu kala, manusia telah berusaha mencari cara untuk melindungi diri dari terpaan air hujan. Jika nenek moyang kita dulunya mengandalkan gua dan pepohonan sebagai tempat berlindung sementara, kreativitas manusia akhirnya melahirkan atap portabel yang bisa dibawa ke mana-mana, yang kini kita kenal sebagai payung. Dengan teknologi sederhana ini, setiap orang bisa bepergian dengan bebas tanpa takut basah kuyup.
Di Jepang, payung telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari sekaligus seni tradisional mereka. Payung berbahan kertas minyak awalnya merupakan penemuan dari Tiongkok yang kemudian menyebar ke berbagai negara tetangga, termasuk Jepang yang diyakini menerimanya melalui Korea pada periode Asuka (538–710).

Pada masa awal kemunculannya, payung adalah barang mewah yang bahkan memiliki nilai spiritual tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu dan berbagai penyempurnaan, payung menjadi jauh lebih lumrah digunakan pada periode Edo (1603–1868). Pembuatan payung tradisional pada masa itu melibatkan keahlian tangan yang cukup rumit. Para samurai yang kekurangan uang bahkan kerap membuat payung di rumah sebagai sumber penghasilan tambahan. Payung juga sering muncul dalam berbagai pementasan seni visual dan pertunjukan.
Memasuki periode Meiji hingga setelah Perang Dunia II, dominasi payung tradisional mulai bergeser oleh kehadiran payung gaya Barat. Pasca Perang Dunia II, lembaran plastik sisa yang digunakan oleh tentara pendudukan menginspirasi pendiri perusahaan White Rose untuk menciptakan payung plastik pertama di dunia. Meskipun butuh waktu sebelum akhirnya populer, inovasi ini berlanjut hingga payung plastik transparan seharga 500 yen kini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai sudut toko kelontong di Jepang.
Saat ini, sebagian besar payung plastik diproduksi di Tiongkok, menjadikan White Rose sebagai satu-satunya perusahaan Jepang yang masih memproduksi payung jenis tersebut secara lokal. Sementara itu, perajin payung tradisional kini jumlahnya sangat sedikit dan terkonsentrasi di Kyoto, Yodoe, serta Prefektur Gifu.
Berbagai Jenis Payung di Jepang
Dalam bahasa Jepang, payung disebut sebagai kasa 傘. Menariknya, karakter kanji tersebut terdiri dari empat lambang manusia hito 人 yang bernaung di bawah sebuah atap. Sementara itu, payung kertas tradisional disebut wagasa 和傘. Ada beberapa variasi payung tradisional yang dikenal luas:
- Bangasa 番傘: Payung yang lebih besar dan berat, umumnya digunakan oleh kaum pria.
- Higasa 日傘: Payung matahari yang tidak dilapisi minyak dan khusus difungsikan sebagai pelindung panas.
- Honshiki nodategasa 本式野点傘: Payung berukuran besar yang biasa dipakai dalam acara luar ruangan seperti upacara minum teh.
- Ja no me kasa 蛇の目傘: Payung “mata ular” yang dinamai demikian karena memiliki pola lingkaran konsentris. Jenis ini biasanya lebih ringan, memiliki lebih sedikit tulang payung, dan sering digunakan oleh wanita.
- Maigasa 舞傘: Payung ringan yang digunakan untuk keperluan tari tradisional.

Teknologi dan Konstruksi Wagasa

Payung wagasa memiliki sejumlah perbedaan mencolok dibandingkan payung gaya Barat. Alih-alih menggunakan bahan tahan air, wagasa menggunakan kertas tradisional washi yang kemudian dilapisi dengan minyak biji rami agar tahan terhadap air hujan.
Mekanisme pembukaannya pun berbeda. Wagasa ditopang oleh 30 hingga 70 tulang bambu yang merentang saat payung dibuka, membentangkan kertas yang direkatkan di sepanjang tulang luar tersebut. Sebaliknya, payung Barat mengandalkan ketegangan tulang logam untuk mendorong penutupnya. Akibat perbedaan struktur ini, tulang wagasa tetap lurus saat dibuka sehingga membentuk bidang datar, sementara payung Barat melengkung membentuk kubah. Selain itu, wagasa yang ditutup biasanya diletakkan dengan posisi gagang menghadap ke bawah.

Proses pembuatan wagasa membutuhkan ketelitian tinggi. Perajin mula-mula menyiapkan rangka bambu, memasangkan puluhan tulang payung ke dalam cincin kayu berpola takik, lalu merangkainya pada bagian dasar. Setelah itu, kertas washi dipotong dan dilekatkan pada kerangka tersebut.
[[MEDIA_0]]
Setelah lem mengering, kertas diberi warna dan hiasan sebelum dilapisi minyak pengedap air. Payung kemudian harus dijemur kembali selama beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum aksesori pelengkap dipasang.
Kehadiran Payung dalam Budaya Jepang
Teater dan Seni Pertunjukan

Dalam pementasan teater kabuki berjudul “Sukeroku” yang dipentaskan perdana pada tahun 1713, karakter utamanya digambarkan menggunakan payung ja no me untuk melengkapi gaya penampilannya saat menyusuri jalanan Yoshiwara. Festival tari payung juga menjadi pemandangan yang mudah dijumpai di berbagai daerah, salah satunya adalah Shan Shan Matsuri di Tottori yang digelar setiap bulan Agustus dengan menampilkan para penari yang membawa payung warna-warni.
Kisah Folktale dan Mitologi

Sebagai benda yang dirawat dengan baik, wagasa dapat bertahan hingga puluhan tahun. Namun, dalam cerita rakyat Jepang, payung yang berusia lebih dari seabad dipercaya dapat berubah wujud menjadi makhluk mitologi bernama kasa obake atau karakasa kozo. Makhluk ini digambarkan memiliki satu mata, satu kaki, dan dua tangan, serta dikenal suka berulah usil namun tidak berbahaya.
Seni Rupa

Karena menjadi bagian penting dari pemandangan sehari-hari, payung sering diabadikan dalam seni cetak blok kayu atau ukiyo-e. Mulai dari para aktor, geisha, hingga warga biasa, payung kerap muncul dalam karya-karya seniman masa lampau.



Bahkan, pelukis barat seperti Aimé Morot juga pernah memasukkan unsur payung Jepang ke dalam karya seni mereka.
Budaya Modern

Inovasi seputar payung terus berlanjut di era modern. Contohnya adalah UnBrella rancangan Hiroshi Kajimoto yang memiliki mekanisme buka terbalik, sehingga bagian basah payung berada di dalam saat ditutup agar pakaian tetap kering. Selain itu, grup musik OK Go juga pernah menjadikan payung sebagai elemen utama dalam video musik mereka yang direkam di Jepang dengan melibatkan ratusan figuran.









