Pada awal Januari 2024, sebuah petualangan epik selama lima hari melintasi sebagian besar wilayah Jepang utara dimulai. Tujuan utamanya adalah memproduksi tiga video reel guna mempromosikan JR East Pass (Tohoku Area), sekaligus menguji seberapa banyak destinasi yang bisa dikunjungi dalam waktu hanya 120 hari. Meskipun tiket kereta regional tidak mengalami kenaikan harga seheboh Japan Rail Pass nasional, tetap terjadi sedikit penyesuaian harga. Artinya, para pelancong kini perlu merencanakan perjalanan dengan lebih cermat agar mendapatkan nilai maksimal dari tiket tersebut.
JR East Pass (Tohoku Area) merupakan salah satu tiket terusan favorit untuk menjelajahi wilayah utara. Berlaku bagi siapa saja yang memiliki paspor asing—termasuk ekspatriat—tiket ini menawarkan perjalanan tanpa batas di area yang ditentukan. Dengan harga sekitar 30.000 yen, pengguna bisa menaiki kereta Shinkansen, limited express, serta seluruh kereta lokal di dalam cakupan wilayah tersebut secara gratis setelah pembelian.

Untuk reservasi kursi, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan. Cara paling mudah bagi yang tidak ingin repot adalah mendatangi kantor tiket JR atau pusat layanan di stasiun besar seperti Stasiun Sendai. Alternatif yang lebih cepat adalah menggunakan mesin tiket otomatis mandiri. Namun, jika terburu-buru, kursi bebas (jiyuseki) juga bisa menjadi pilihan pada kereta tertentu, meskipun perlu diingat bahwa kereta Hayabusan pada Tohoku Shinkansen sepenuhnya mewajibkan reservasi kursi.
Pembelian tiket ini dapat dilakukan secara online melalui situs web resmi JR East. Setelah pembayaran selesai, wisatawan akan menerima e-voucher yang dapat ditukarkan di stasiun atau diproses melalui mesin tiket elektronik.
Hari Pertama di Tohoku

Perjalanan ini dimulai tepat sehari setelah tiba kembali di Jepang dari Amerika Serikat. Mengingat minimnya pakaian bersih yang dibawa, dua hari pertama perjalanan dirancang sebagai kunjungan harian (day trip) dari Tokyo agar bisa menyempatkan diri mencuci pakaian. Berbekal JR East Pass (Tohoku Area), perjalanan bolak-balik ini dapat dilakukan tanpa biaya tambahan.
Pada hari pertama, kereta pagi pertama dinaiki menuju Stasiun Shiroishi-Zao. Tujuan utamanya adalah Zao Fox Village yang terletak di sisi Gunung Zao di Prefektur Miyagi, sebuah lokasi populer untuk merekam video satwa yang menggemaskan.

Setelah pengambilan gambar selesai, perjalanan dilanjutkan dengan taksi kembali ke stasiun, lalu naik Shinkansen menuju Stasiun Sendai. Dari sana, perjalanan berlanjut menggunakan jalur kereta Senzan menuju kuil gunung Yamadera atau yang secara resmi dikenal sebagai Risshaku-ji. Kompleks kuil ini menawarkan pemandangan musim dingin yang luar biasa menakjubkan ketika diselimuti salju tebal.
Menjelang sore, perjalanan kembali ke Stasiun Sendai menggunakan kereta lokal dilakukan dengan memperhitungkan jadwal keberangkatan yang cukup jarang di daerah pedesaan. Setibanya di Sendai, semangkuk gyutan (lidah sapi panggang) dinikmati di stasiun sebelum kembali ke Tokyo untuk bermalam.
Hari Kedua di Tohoku

Hari kedua dimulai sebelum subuh demi melanjutkan konsep kunjungan harian dari Tokyo. Tujuan kali ini adalah kota kastil bersejarah Aizu-Wakamatsu di Prefektur Fukushima. Untuk mencapainya, perjalanan diawali dengan Shinkansen menuju Koriyama, dilanjutkan dengan transfer ke Ban’etsu West Line.
Setibanya di Aizu-Wakamatsu, taksi langsung dinaiki menuju Iimoriyama untuk melihat Sazaedo, sebuah bangunan kayu berbentuk heliks ganda dari tahun 1796 yang memiliki jalur naik dan turun terpisah. Selanjutnya, kunjungan berlanjut ke Kastil Tsuruga, benteng penting yang menjadi saksi bisu era akhir samurai pada masa periode Edo.

Waktu yang terbatas mengharuskan perjalanan segera dilanjutkan ke Stasiun Aizu-Wakamatsu untuk menaiki Aizu Line menuju Stasiun Yunokami Onsen. Dari sana, perjalanan diteruskan dengan bus ke desa pos bersejarah Ouchijuku, yang terkenal dengan jajaran rumah beratap jerami tradisional kayabuki. Sebagai penutup hari yang padat, perjalanan kilat sempat dilakukan ke Ginzan Onsen demi mendapatkan rekaman video lampu gas tradisional di tengah turunnya salju.
Hari Ketiga di Tohoku

Memasuki hari ketiga, perjalanan mulai merambah ke wilayah yang lebih utara. Akita Shinkansen dinaiki menuju Stasiun Tazawako, yang kemudian dilanjutkan dengan bus menuju kawasan pemandian air panas Nyuto Onsen. Tujuan utamanya adalah Tsuru-no-Yu, sebuah ryokan pemandian air panas bersejarah yang telah beroperasi selama sekitar 400 tahun.

Setelah menikmati suasana pemandian air panas terbuka di tengah salju yang turun, perjalanan turun kembali dilakukan menuju Stasiun Tazawako. Di sela-sela urusan pekerjaan digital yang harus diselesaikan secara online, kesempatan tidak dilewatkan untuk mencicipi kiritanpo, makanan khas lokal Akita. Hari ketiga ditutup dengan perjalanan menggunakan Shinkansen menuju Stasiun Morioka untuk beristirahat di hotel.
Hari Keempat di Tohoku

Hari keempat diisi dengan berjalan kaki sejauh lebih dari 40 kilometer untuk menjelajahi keindahan Kota Morioka. Destinasi pertama adalah Kuil Morioka Hachimangu yang tampak anggun dihiasi salju tipis. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kuil Hoon-ji untuk melihat 500 patung pengikut Buddha, serta mampir sejenak ke Kuil Mitsuishi yang menjadi asal-usul nama Prefektur Iwate.

Menjelang siang, agenda utama di Morioka pun tiba, yaitu tantangan makan mi Soba legendaris di Azumaya Honten yang dikenal sebagai Wanko Soba. Dalam tantangan ini, pelayan akan terus mengisi mangkuk mi kecil dengan cepat hingga peserta menyerah. Sebanyak 75 mangkuk berhasil dihabiskan sebelum akhirnya menyerah, melampaui rata-rata umum meskipun masih kalah jauh dari penduduk lokal yang bisa menghabiskan lebih dari 150 mangkuk.








