Tahukah Anda bahwa tahun 2018 menandai perayaan 150 tahun berdirinya Tokyo modern? Hanya berselang satu setengah abad lalu, pusat kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang bernama Edo resmi berganti nama menjadi Tokyo. Walau masa lalu sering kali terasa sangat jauh dari kehidupan sehari-hari, nyaris hanya terbentang beberapa generasi saja antara kita saat ini dan orang-orang yang menutup babak akhir Edo period (1603–1868). Jika direnungkan kembali, sungguh luar biasa melihat betapa drastisnya transformasi kota ini dalam kurun waktu 150 tahun.
Perjalanan Tokyo hingga menjadi metropolitan seperti sekarang tentu menyimpan sejarah yang panjang. Secara singkat, hingga tahun 1868, Kyoto berstatus sebagai ibu kota resmi negara. Kendati demikian, pusat kendali politik yang sesungguhnya sering kali berada di wilayah lain seperti Kamakura atau Edo. Walaupun setiap kebijakan politik dijalankan atas nama kaisar, praktiknya jauh berbeda. Sebagai contoh, selama hampir 250 tahun, Tokugawa shogunate memegang kendali penuh atas seluruh negeri meskipun sang kaisar secara teknis tetap melanjutkan pemerintahannya di Kyoto.

Sistem ini tampak berjalan lancar hingga seorang komodor asal Amerika Serikat bernama Matthew C. Perry muncul di perairan Teluk Tokyo pada tahun 1853. Kedatangan armada kapal perang hitam miliknya memicu gelombang kepanikan yang pada akhirnya meruntuhkan otoritas shogun Tokugawa. Mengusung semboyan “sonno-joi” (hormatilah Kaisar, usir orang asing), para pendukung keluarga kekaisaran bersatu dan menggulingkan kekuasaan Tokugawa pada akhir tahun 1860-an. Kendati ringkasan sejarah kerap menggambarkan peristiwa ini terjadi dalam sekejap, ketidakpuasan terhadap keshogunan sebenarnya sudah lama membara di tengah masyarakat.
Apa yang terjadi berikutnya telah menjadi catatan sejarah dunia. Dalam waktu yang terasa begitu singkat, Jepang berhasil memodernisasi diri dan mengejar ketertinggalannya dari dunia Barat. Namun, sedikit yang menyadari bahwa banyak fondasi dari keajaiban ini sebenarnya telah diletakkan sepanjang Edo period (1603–1868). Walaupun sebagian orang menganggap Jepang pada masa itu tertinggal seperti wilayah abad pertengahan, anggapan tersebut keliru. Faktanya, Edo merupakan salah satu kota terbesar di dunia, dan para pemimpinnya tetap memantau perkembangan dunia Barat secara cermat meskipun Jepang memberlakukan period of total isolation. Buktinya, salah satu pertanyaan pertama yang diajukan kepada pihak Amerika adalah mengenai siapa pemenang Perang Meksiko.

Kembali pada perayaan 150 tahun Tokyo, pemulihan kekuasaan di tangan kaisar menandai dimulainya era Meiji restoration. Sebagai bagian dari perubahan besar ini, basis keshogunan terdahulu yaitu kota Edo resmi ditetapkan sebagai ibu kota dan berganti nama menjadi Tokyo (yang berarti “Ibu Kota Timur”). Walaupun megapolitan ini telah melewati berbagai tantangan berat mulai dari peperangan hingga bencana alam selama satu setengah abad terakhir, Tokyo kini telah berkembang menjadi fenomena yang luar biasa.
Bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah Tokyo, sangat disarankan untuk mengunjungi Edo-Tokyo Museum in Ryogoku yang menjadi salah satu museum paling menarik untuk dijelajahi.

Sejalan dengan usianya yang menginjak 150 tahun, Pemerintah Metropolitan Tokyo menyelenggarakan berbagai perayaan sepanjang tahun 2018 untuk menghormati sejarah kota yang kaya ini. Berbagai acara dan festival digelar guna merayakan tonggak sejarah tersebut. Salah satu kegiatan menarik yang diadakan adalah pameran Monozukuri — A Celebration of Japanese Artisanal Techniques. Pameran ini menampilkan berbagai hal, mulai dari kerajinan tangan tradisional hingga inovasi robotika terkini.
Daya tarik utama dari ajang Monozukuri adalah banyaknya kesempatan bagi pengunjung untuk mengikuti kegiatan interaktif secara langsung. Para pengunjung dapat mempelajari cara membuat berbagai barang autentik atau melihat langsung bagaimana para arsitek masa lalu mampu mendirikan bangunan megah tanpa menggunakan satupun paku. Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan panggung, termasuk peragaan busana yang spektakuler serta kehadiran para perajin terampil dari seluruh penjuru Jepang.

Pameran Monozukuri — A Celebration of Japanese Artisanal Techniques tahun ini diselenggarakan pada tanggal 8 hingga 10 Agustus. Pameran ini menawarkan wawasan unik mengenai warisan pengerjaan tangan di Jepang, dan disarankan bagi wisatawan yang berkunjung pada bulan Agustus untuk mencari informasi lebih awal agar tidak ketinggalan.

Menjelang ajang Olimpiade 2020, suasana di Tokyo semakin semarak. Perjalanan kota ini selama setahun ke belakang sungguh luar biasa, dan masa depan Tokyo dalam 150 tahun mendatang tentu patut dinantikan.
Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya…








