Home / Travel / Sejarah Umat Kristen di Kyushu: Masuk, Berkembang, dan Terusirnya Yesus dari Jepang

Sejarah Umat Kristen di Kyushu: Masuk, Berkembang, dan Terusirnya Yesus dari Jepang

header 640x 4

Kedatangan orang Eropa pertama ke Jepang terjadi pada tahun 1543. Saat itu, kapal Tiongkok yang membawa dua atau tiga pedagang Portugis terpaksa mendarat di Pulau Tanegashima di sebelah selatan Kyushu akibat badai. Hanya berselang enam tahun kemudian, misionaris Kristen pertama menginjakkan kaki di Jepang. Peristiwa ini menandai dimulainya era yang oleh sebagian sejarawan disebut sebagai “abad Kristen” di Jepang. Kendati sempat mendominasi selama satu abad, saat ini populasi penganut agama Kristen di Jepang hanya tersisa sekitar satu persen saja. Artikel ini akan mengulas perjalanan sejarah di balik perubahan drastis tersebut, dengan menitikberatkan wilayah Kyushu yang menjadi pusat dari berbagai peristiwa penting sejarah Kristen di Jepang.

Para pedagang Portugis yang tiba di Tanegashima kala itu turut memperkenalkan senjata api untuk pertama kalinya ke Jepang. Abad keenam-belas menjadi saksi bisu bagaimana perkembangan senjata api dan agama Kristen saling berkelindan erat. Kedua hal tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap Kyushu maupun Jepang secara keseluruhan pada masa yang dikenal sebagai Zaman Sengoku atau era negara-negara berperang. Pada kurun waktu tersebut, kekuasaan pusat melemah dan berbagai klan samurai saling bertarung demi memperebutkan dominasi.

Rasul dari Timur

painting of Jesuit missionary Francis Xavier

Francis Xavier (1506-1552), misionaris Kristen pertama di Jepang, lahir dari keluarga bangsawan di Spanyol. Xavier merupakan salah satu pendiri Serikat Yesus atau yang lebih dikenal sebagai kaum Jesuit, yaitu ordo pertama yang secara khusus menjadikan kegiatan misi sebagai tujuan utama mereka. Memasuki awal abad ke-16, bangsa Portugis telah mendirikan koloni di India, termasuk Goa. Pada tahun 1541, Xavier berlayar menuju Goa untuk memimpin misi Serikat Yesus di sana. Setelah beberapa tahun berkhotbah kepada penduduk India selatan serta para pelaut Portugis yang dinilainya kurang beradab namun hanya membuahkan sedikit hasil, ia melanjutkan perjalanan ke koloni Portugis lainnya di Malaka, Malaysia, pada tahun 1545.

Di Malaka inilah Xavier bertemu dengan seorang pemuda Jepang bernama Anjiro—atau Yajiro menurut sumber lain—yang menunjukkan ketertarikan besar terhadap agama Kristen. Anjiro berasal dari Satsuma yang kini merupakan Prefektur Kagoshima di bagian selatan Kyushu. Dirinya terpaksa melarikan diri ke Malaka akibat kasus pembunuhan, di mana ia kemudian mempelajari bahasa Portugis dan mulai mendalami ajaran Kristen. Ketertarikan tersebut, ditambah dengan berbagai cerita Anjiro mengenai tanah airnya, meyakinkan Xavier bahwa Jepang adalah wilayah yang sangat potensial untuk menyebarkan ajaran Injil. Bersama dua imam Yesuit asal Spanyol, seorang biarawan asal India, serta dua orang penganut baru asal Jepang, mereka berlayar dan mendarat di Kagoshima pada tanggal 15 Agustus 1549.

Memberikan Kesan Pertama yang Baik

map showing route of Francis Xavier
Source: Roke

Keluarga Shimazu yang menguasai wilayah Satsuma juga memegang kendali atas Tanegashima, pulau tempat pendaratan orang Eropa pertama. Klan Shimazu terkesan dengan teknologi senjata api Eropa dan langsung bergerak cepat untuk memproduksinya kembali. Oleh karena itu, ketika Xavier tiba, mereka menyambutnya dengan penuh hormat karena penasaran dengan apa yang dibawanya. Mereka memberikan izin kepada Xavier untuk berbicara kepada rakyatnya, dan dengan bantuan penerjemah, kegiatan penyebaran ajaran pun dimulai. Xavier beserta rekan-rekan Spanyolnya mulai mempelajari bahasa Jepang dan tak lama kemudian mencoba menyampaikan khotbah dalam bahasa Jepang yang ditransliterasikan ke dalam huruf Latin.

Secara umum, Xavier dan para misionaris Eropa gelombang berikutnya memiliki pandangan yang positif terhadap masyarakat Jepang. Kaum Jesuit bersikap teguh dalam urusan keyakinan, namun di sisi lain mereka berusaha menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Mereka membatasi konsumsi daging agar lebih dapat diterima oleh masyarakat Jepang. Meskipun mereka enggan untuk mandi setiap hari seperti kebiasaan penduduk lokal, mereka berkompromi dengan mandi seminggu sekali atau dua minggu sekali saat musim dingin. Kendati menemukan banyak hal mengagumkan dari penduduk setempat, hubungan antara kaum Jesuit dengan para pemuka agama Buddha cenderung kurang harmonis. Di tengah segelintir persahabatan lintas agama yang terjalin, kaum Jesuit kerap menuduh para biksu Buddha bersikap malas dan melakukan praktik sodomi, sementara pihak Buddhis menganggap orang-orang Eropa sedang menyebarkan kebohongan.

Misi yang Penuh Tantangan

Japanese Christian text from 16th century
Source: Uploadalt

Beberapa keunikan paling menarik dari misi kaum Jesuit di Jepang muncul akibat kendala bahasa. Xavier bahkan sempat mendeskripsikan bahasa Jepang sebagai “bahasa milik iblis.” Xavier dan rekan-rekannya banyak bekerja melalui perantara penerjemah lokal, sementara mereka berusaha menyampaikan konsep-konsep keagamaan yang belum pernah ada sebelumnya di Jepang. Kesalahan awal yang cukup fatal terjadi ketika Anjiro menerjemahkan kata Tuhan sebagai Dainichi, yang merupakan salah satu dewa dalam ajaran Buddha. Hal ini membuat masyarakat mengira para rohaniawan tersebut berasal dari sekte Buddha yang baru, dan Xavier baru menyadari kesalahan terjemahan ini setelah dua tahun berlalu.

Mereka sempat mencoba menggunakan kata Deus atau deusu, namun dinilai terlalu mirip dengan kata daiuso yang berarti “kebohongan besar.” Akhirnya, mereka memilih menggunakan istilah Tenshu yang berarti “Penguasa Surga.” Para misionaris menyadari bahwa banyak kosakata terjemahan yang telanjur membawa konotasi Buddhis, sehingga mereka mulai mengadopsi kata-kata berbahasa Latin atau Portugis untuk konsep-konsep baru. Sebagai contoh, mereka menggunakan sebutan bataren yang berasal dari kata padre dalam bahasa Portugis untuk merujuk pada diri mereka sendiri, agar tidak disamakan dengan para pendeta Buddha.

Datang dan Pergi

old illustration of Japanese Christians in Portuguese style clothing

Sepuluh bulan berselang sejak kedatangan Xavier, sikap klan Shimazu berubah drastis terhadap umat Kristen. Mereka melarang kegiatan penyebaran agama serta segala bentuk perpindahan keyakinan lebih lanjut. Perubahan sikap ini disinyalir terjadi karena sebuah kapal Portugis mendarat di Hirado, wilayah Kyushu bagian utara yang berada di luar kekuasaan Shimazu. Hal ini memupus harapan klan Shimazu untuk mendapatkan monopoli perdagangan Eropa melalui jalur para misionaris. Xavier lantas bertolak ke Hirado setelah berhasil membaptis sekitar 100 orang di Kagoshima. Di Hirado, ia kembali memperoleh 100 orang pengikut baru namun tidak tinggal terlalu lama. Ia meninggalkan Kyushu dan menuju Kyoto dengan harapan dapat menemui shogun atau kaisar, serta sempat singgah sejenak di Yamaguchi dan Sakai dalam perjalanannya.

Setibanya di ibu kota Kyoto, ia justru mendapati kenyataan pahit akibat dampak perang saudara. Sang shogun berada dalam pengasingan, kaisar tidak memiliki kekuasaan serta nyaris jatuh miskin, dan para penduduk terlalu mencemaskan ancaman serangan musuh sehingga tidak peduli dengan pesan keagamaannya. Xavier pun memutuskan untuk kembali melalui rute semula. Dalam persinggahan pertamanya di Yamaguchi, Xavier sempat memberikan kesan yang kurang baik kepada penguasa setempat bernama Ouchi Yoshitaka (1507-1551). Namun dalam perjalanan pulangnya, ia memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Kali ini ia mengerahkan segala upaya dengan mengenakan jubah sutra yang indah serta membawakan berbagai hadiah mewah seperti jam, anggur, tekstil, gelas potong, sepasang kacamata, teleskop, dan senapan lontak laras tiga.

Sang penguasa merasa senang dan memberikan izin kepada mereka untuk berkhotbah serta mendiami sebuah kuil terbengkalai bernama Daidoji. Xavier menghabiskan waktu selama empat bulan di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Bungo di wilayah Kyushu bagian timur. Selama petualangannya di Jepang, Xavier tetap memegang posisi sebagai pemimpin misi Jesuit di Goa, India. Ketika sebuah kapal Portugis merapat di Bungo, ia berharap mendapat kabar dari misi Indianya tersebut. Karena tidak ada berita yang diterima, Xavier merasa harus kembali ke Goa dengan kapal tersebut untuk menjalankan tanggung jawabnya. Setelah dua setengah tahun berada di Jepang menabur benih misi Kristen, Xavier mengucapkan selamat tinggal kepada negeri yang pernah ia sebut sebagai “satu-satunya negeri yang ditemukan di wilayah ini yang memiliki harapan bagi agama Kristen untuk berakar secara permanen.” Tahun berikutnya, ia wafat karena sakit di sebuah pulau kecil di Tiongkok.

Penyambutan yang Pragmatis

statue of Otomo Sorin
Source: 大分帰省中

Sebelum meninggalkan Bungo menuju Goa, Xavier diberikan kesempatan untuk menghadap penguasa setempat, Otomo Sorin (1530-1587). Sorin kemudian menghibahkan sebuah bangunan kepada kaum Jesuit yang kemudian difungsikan sebagai markas besar mereka. Bertahun-tahun kemudian, Sorin sendiri akhirnya memutuskan memeluk agama Kristen. Kendati demikian, kemurahan hati awal yang ditunjukkannya kemungkinan besar dilandasi oleh motif politis guna menarik jalur perdagangan Portugis ke wilayahnya. Kyushu pun bertransformasi menjadi kawasan utama tempat para penguasa lokal berpindah keyakinan.

Penguasa pertama yang memeluk agama Kristen adalah Omura Sumitada (1533-1587) yang menguasai wilayah Kyushu barat laut. Pada tahun 1561, kaum Jesuit mendatanginya dan menyampaikan bahwa jika ia bersedia mengizinkan hukum Tuhan diberitakan di wilayahnya, maka keuntungan rohani maupun duniawi yang besar akan menyertainya. Sumitada menyerahkan pelabuhan Yokose-ura kepada mereka dan resmi dibaptis menjadi penganut Kristen pada tahun 1563. Meskipun “keuntungan duniawi” tampaknya menjadi salah satu faktor pendorong, Sumitada bertindak sangat gigih demi keyakinan barunya dengan membakar berbagai kuil dan tempat pemujaan tradisional. Tindakan tersebut memicu pemberontakan yang dipimpin oleh anggota keluarganya sendiri. Pelabuhan Yokose-ura dibakar oleh para pemberontak, sehingga pada tahun 1570 Sumitada membuka pelabuhan Nagasaki bagi kaum Jesuit. Pada awal pembukaannya, Nagasaki hanyalah sebuah desa nelayan kecil, namun seiring berjalannya waktu wilayah tersebut berkembang pesat menjadi pusat aktivitas asing.

Musuh dari Musuhku

recreation of imitation of Azuchi castle
Source: 名古屋太郎

Pada periode ini, kaum Jesuit berhasil menjalin sekutu paling kuat dalam sejarah misi mereka di Jepang, yakni Oda Nobunaga (1534-1582). Tokoh pemersatu pertama Jepang tersebut mulai memberikan perlindungan kepada umat Kristen pada tahun 1568. Langkah ini membantunya dalam memperlancar jalur perdagangan dengan Portugis guna memperoleh pasokan senapan dan meriam untuk menunjang kampanye penaklukannya. Nobunaga mengapresiasi kesederhanaan kaum Jesuit dan menilai adanya kemunafikan di kalangan pemuka agama Buddha yang kerap berkhotbah mengenai penderitaan namun hidup dalam kemewahan.

Nobunaga tidak pernah memeluk agama Kristen dan tampaknya juga tidak pernah meyakini ajaran tersebut, namun ia jelas-jelas tidak menyukai lembaga-lembaga keagamaan Buddha yang selama ini sering menjadi duri dalam daging bagi kekuasaannya. Ia membakar kompleks kuil besar di Gunung Hiei yang menewaskan sekitar 25.000 orang, serta menghabiskan waktu selama sebelas tahun untuk memerangi kelompok ikko-ikki, sebuah faksi militan Buddhis. Di bawah bayang-bayang kastilnya di Azuchi, kaum Jesuit mendirikan sebuah sekolah bagi anak-anak kaum elit lokal yang dinamakan Seminario. Di sekolah tersebut, mereka mengajarkan bahasa Latin, sejarah agama Kristen, musik, serta sastra Jepang. Sayangnya, institusi pendidikan ini hanya bertahan selama tiga tahun karena pada tahun 1582 Nobunaga mengakhiri hidupnya dengan melakukan ritual bunuh diri setelah dikhianati oleh salah satu jenderalnya. Para pengkhianat kemudian menyerang Kastil Azuchi hingga terbakar habis bersama bangunan Seminario di dalamnya. Kematian Nobunaga merupakan pukulan telak dan sumber kekhawatiran besar bagi masa depan misi Kristen di Jepang.

Tonggak kekuasaan selanjutnya diambil alih oleh salah satu jenderal kepercayaan Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi (1536-1598). Hideyoshi merangkak naik dari latar belakang rakyat jelata hingga menjelma menjadi sosok paling berkuasa di Jepang. Berkat latar belakang sosialnya, ia tidak pernah menyandang gelar shogun, namun pengaruh politiknya sangat dominan. Kebijakan-kebijakan yang diterapkannya menjadi fondasi bagi peristiwa-peristiwa selanjutnya, termasuk tumbuhnya kecurigaan mendalam terhadap motif di balik pergerakan kaum Kristen.

Penguasa Bungo

stone relief of otomo sorin
Source: Twilight2640

Menjelang kepulangannya dari Jepang pada tahun 1551, Francis Xavier sempat bertemu dengan Otomo Sorin (1530-1587) selaku penguasa Bungo di Kyushu timur. Pada mulanya Sorin enggan menemui Xavier akibat berbagai hasutan negatif yang disebarkan oleh para biksu Buddha. Namun, seorang kapten kapal Portugis berhasil meyakinkannya dengan menggambarkan Xavier sebagai sosok terpandang yang mampu memerintahkan kapal Eropa kapan pun ia kehendaki. Sorin memberikan izin kepada kaum Jesuit untuk berkhotbah di wilayahnya sekaligus menyediakan sebuah bangunan, kendati kemurahan hatinya saat itu tampak belum didasari oleh motivasi keagamaan. Pada tahun 1562, ia bahkan sempat ditahbiskan menjadi seorang penganut awam Buddha.

Seiring berjalannya waktu, pandangan keagamaannya mengalami pergeseran. Pada tahun 1578, ia resmi memeluk agama Kristen dan memilih nama baptis Francisco sebagai bentuk penghormatan kepada Xavier. Keputusan perpindahan keyakinan ini sebenarnya dipicu oleh permasalahan rumah tangga. Sorin menikahi seorang wanita pada tahun 1550 yang memegang teguh keyakinan tradisional serta memiliki hubungan yang penuh ketegangan dengan kaum Jesuit—sosok yang oleh para misionaris sering dijuluki sebagai Izebel. Ketika Sorin jatuh sakit pada tahun 1578, seorang rohaniawan bernama Luis Frois menuduh penyakit tersebut sebagai akibat ulah sang istri. Sorin kemudian dirawat oleh salah satu dayang istana istrinya, dan ia jatuh cinta kepada wanita tersebut. Sorin membawa wanitapujaan hatinya itu ke sebuah vila pesisir agar mereka bebas mendengarkan ajaran Kristen. Wanita tersebut memeluk agama Kristen terlebih dahulu dengan nama Julia, disusul oleh Sorin sendiri tidak lama kemudian. Mereka lantas menikah, sementara sang istri pertama yang tetap menganut keyakinan lama bukan lagi menjadi penghalang. Tindakan tersebut memicu skandal di mata masyarakat luas, namun dipandang sebagai sebuah pencapaian heroik oleh kaum Jesuit. Kendati demikian, kebahagiaan Sorin tidak bertahan lama.

Di saat bersamaan, gejolak politik mulai membara di wilayah selatan. Klan Shimazu yang secara tegas menolak agama Kristen mulai memperluas wilayah kekuasaan mereka ke arah utara. Mereka sukses mengalahkan pasukan Otomo dalam Pertempuran Mimigawa pada tahun 1578. Dominasi klan Shimazu kian tak terbendung hingga pada pertengahan tahun 1580-an, hampir seluruh daratan Kyushu berada di bawah kendali mereka. Menyadari bahwa serangan penentuan dari klan Shimazu akan segera tiba, Sorin memohon bantuan kepada Toyotomi Hideyoshi. Pada tahun 1587, pasukan Hideyoshi bergerak memasuki Kyushu dan memukul mundur pasukan Shimazu hingga kembali ke wilayah asal mereka dan terpaksa menyerah.

Delegasi Kristen ke Eropa

Pope Gregory receiving delegation from Japan
Delegasi Jepang saat berkunjung menghadap Paus Gregorius.

Di tengah kecamuk konflik melawan klan Shimazu pada tahun 1582, Otomo Sorin bersama dua penguasa Kristen lainnya mensponsori pengiriman delegasi resmi pertama Jepang menuju Benua Eropa. Gagasan ini dicetuskan oleh seorang rohaniawan Yesuit asal Italia bernama Alessandro Valignano (1539-1606) yang telah menjalankan misi di Jepang selama tiga tahun. Delegasi Tensho—yang dinamai berdasarkan nama era kekaisaran saat itu—terdiri dari empat orang pemuda Jepang yang telah dibaptis. Mereka didampingi oleh seorang guru sekaligus penerjemah asal Eropa serta dua orang pelayan. Dalam perjalanan panjang tersebut, mereka sempat singgah di Makau, Kochi, dan Goa, di mana Valignano turut mendampingi mereka hingga wilayah Goa.

Rombongan delegasi tersebut tiba di Lisbon pada tahun 1584 dan melanjutkan perjalanan hingga ke Roma. Selama tur keliling Eropa, mereka diterima oleh sejumlah raja serta dua paus secara bergantian. Di kota Roma, salah satu dari pemuda utusan tersebut bahkan dianugerahi status sebagai warga kehormatan. Mereka akhirnya kembali menginjakkan kaki di Jepang pada tahun 1590, dan setibanya di tanah air, Valignano menahbiskan mereka sebagai imam Yesuit pribumi pertama di Jepang.

Toleransi yang Semakin Rapuh

woodblock print of Hideyoshi climbing a mountain

Setelah berhasil menaklukkan Kyushu, Hideyoshi menuntaskan ambisi yang sebelumnya dirintis oleh Nobunaga dengan menyatukan seluruh Jepang di bawah panjinya. Sebagaimana pendahulunya, Hideyoshi menunjukkan ketertarikan terhadap berbagai penawaran yang dibawa oleh bangsa Eropa. Ketika Delegasi Tensho kembali dari Eropa, ia menyambut mereka di Kastil Osaka untuk mendengarkan kisah perjalanan serta alunan musik instrumen Eropa seperti harpsichord yang telah mereka pelajari. Kendati demikian, di bawah kepemimpinannya pula bibit-bibit keraguan mulai tumbuh yang pada akhirnya berujung pada keruntuhan misi Kristen di Jepang.

Pada tahun 1587, Hideyoshi mengeluarkan maklumat pengusiran terhadap para misionaris asing. Ia tampak cemas melihat banyaknya penguasa lokal yang memeluk agama Kristen sekaligus memaksa para pengikut dan rakyat di wilayah kekuasaan mereka untuk ikut berpindah keyakinan. Muncul kekhawatiran bahwa para daimyo beragama Kristen memiliki loyalitas ganda yang dapat membahayakan negara. Untungnya bagi para rohaniawan, dekrit tersebut tidak ditegakkan secara ketat. Mereka masih diizinkan tinggal di Jepang meski harus bersikap lebih tenang untuk sementara waktu. Hal serupa tidak berlaku bagi ordo Fransiskan dan ordo-ordo keagamaan lain yang datang belakangan dan tetap berkhotbah secara terang-terangan, situasi yang pada akhirnya melahirkan para martir pertama di Jepang.

Dua Puluh Enam Martir

painting of martyred Christian monks on crosses

Pada tahun 1596, sebuah kapal galleon milik Spanyol bernama San Felipe terdampar di lepas pantai Shikoku dengan membawa muatan sutra dan emas. Ketika aparat setempat menyita seluruh kargo tersebut dan menahan para awak kapal, sang pilot kapal melontarkan peringatan agar mereka berhati-hati agar tidak bernasib sama seperti wilayah Amerika Selatan yang jatuh menjadi koloni Spanyol. Ia menyatakan bahwa para misionaris yang datang merupakan garda depan dari Raja Spanyol.

Pernyataan tersebut memicu kemarahan besar dari Hideyoshi. Dari daftar yang memuat 4.000 nama, sebanyak 24 tokoh terkemuka umat Kristen dari wilayah Kansai akhirnya ditangkap. Hideyoshi memerintahkan agar mereka diarak berjalan kaki menuju Nagasaki untuk menjalani eksekusi mati. Pemilihan lokasi ini memiliki makna simbolis karena Nagasaki telah berkembang menjadi salah satu basis kekuatan Kristen terbesar di Jepang. Di sepanjang perjalanan sejauh 450 mil tersebut, dua orang lagi ditangkap karena memberikan bantuan kepada para tahanan, termasuk seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang menolak tawaran untuk melepaskan keyakinannya. Pada tanggal 5 Februari 1597, ke-26 orang tersebut disalibkan di atas sebuah bukit di Nagasaki. Meskipun penyaliban sudah lama menjadi bentuk hukuman yang umum di Jepang, pemilihan metode eksekusi ini diyakini sengaja dipilih oleh Hideyoshi sebagai bentuk pesan simbolis yang menohok.

Transisi Kekuasaan ke Keshogunan Tokugawa

painting of Yukinaga in armor

Di tengah upaya mengamankan situasi dalam negeri, Hideyoshi mengerahkan puluhan ribu samurai untuk melancarkan invasi militer ke Korea pada rentang tahun 1592 hingga 1598. Salah satu dari dua jenderal utama yang memimpin ekspedisi tersebut adalah seorang penganut Kristen bernama Konishi Yukinaga (1555-1600). Yukinaga kerap berselisih paham dengan jenderal terkemuka lainnya, yaitu Kato Kiyomasa (1561-1611) yang merupakan seorang penganut Buddha sekte Nichiren. Ketika Hideyoshi wafat pada tahun 1598, para jenderalnya yang telah kelelahan akibat perang berunding untuk mengakhiri konflik di Korea, namun masalah yang dihadapi Yukinaga ternyata belum usai.

Jatuhnya kekuasaan segera memecah belah Jepang ke dalam dua kubu: mereka yang mendukung pewaris klan Toyotomi dan mereka yang berpihak kepada mantan sekutu Oda Nobunaga lainnya, yakni Tokugawa Ieyasu (1543-1616). Pertempuran penentu Sekigahara meletus pada tahun 1600 dan dimenangkan oleh pihak Ieyasu. Konishi Yukinaga yang bertempur di pihak yang kalah memilih untuk menghadapi eksekusi mati alih-alih melakukan ritual bunuh diri seppuku. Tindakan ini dipandang kurang terhormat di mata sebagian besar rekan sesama samurai, namun keyakinan Kristiani yang dianutnya mengajarkan bahwa bunuh diri merupakan sebuah dosa besar.

Tokugawa Ieyasu kemudian mendirikan keshogunan yang akan menguasai Jepang selama 268 tahun berikutnya. Pada mulanya, ia mengambil sikap berhati-hati terhadap perkembangan agama Kristen, serupa dengan kebijakan pendahulunya. Pada tahun 1600, tidak lama sebelum Pertempuran Sekigahara, seorang pelaut asal Inggris bernama William Adams (1564-1620)—yang kemudian menjadi figur inspiratif bagi tokoh utama dalam novel Shogun karya James Clavell—tiba di Jepang. Ieyasu menghargai wawasan yang dimiliki Adams, namun sang pelaut yang membawa prasangka Protestan terhadap umat Katolik turut memperkeruh kekhawatiran sang penguasa bahwa para misionaris merupakan agen pendahuluan dari penaklukan militer oleh kekuatan Katolik.

Palu Keputusan Jatuh

painting of a Jesuit talking to a Japanese nobleman

Selain kecemasan akan invasi asing, isu utama yang paling dikhawatirkan oleh Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu terhadap agama Kristen adalah masalah loyalitas. Bagi seorang samurai yang beragama Kristen, manakah yang harus diutamakan: kesetiaan kepada sang shogun atau kepada Paus di Roma? Kecurigaan ini semakin menguat ketika terjadi skandal penyuapan pada tahun 1212 yang melibatkan seorang daimyo serta anggota dewan penasihat Ieyasu yang keduanya beragama Kristen. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa ikatan di antara sesama penganut iman bisa jadi jauh lebih kuat daripada kepatuhan terhadap otoritas pusat. Terlebih lagi, dalam sebuah eksekusi mati seorang penganut Kristen, seorang rohaniawan sempat menyatakan kepada khalayak ramai bahwa ketaatan kepada Gereja harus didahulukan di atas ketaatan kepada daimyo mereka.

Berbagai rentetan kejadian tersebut mendorong Ieyasu untuk melarang keberadaan agama Kristen di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali langsung pihak keshogunan, sebuah langkah yang kemudian diikuti oleh banyak daimyo lain. Puncaknya pada tahun 1614, ia mengeluarkan Maklumat Pengusiran Bataren yang memuat berbagai tuduhan keras terhadap para rohaniawan. Mereka diperintahkan untuk segera meninggalkan wilayah Jepang, sementara para penganut lokal diwajibkan untuk menanggalkan keyakinan mereka. Sebagian besar misionaris memilih keluar negeri, namun beberapa di antara mereka tetap nekat menjalankan aktivitas secara sembunyi-sembunyi. Siapa pun yang tertangkap basah langsung dijatuhi hukuman mati.

Tindakan penindasan anti-Kristen semakin diperketat di bawah pemerintahan shogun ketiga, Tokugawa Iemitsu, yang naik takhta pada tahun 1623. Diperkirakan pada tahun 1612 jumlah umat Kristen di Jepang mencapai sekitar 300.000 jiwa, namun angka tersebut merosot tajam menjadi separuhnya atau bahkan lebih sedikit pada tahun 1625.

Masa Depan yang Kelam

small headless statues

Kehidupan umat Kristen di Jepang tidak pernah berjalan mudah sejak era Sengoku. Seiring langkah negeri ini menuju penyatuan dan perdamaian, mereka justru berada di bawah pengawasan yang jauh lebih ketat. Meskipun sebagian alasan pelarangan didasari oleh berbagai faktor lain, masalah paling mendasar tetaplah ketakutan pihak penguasa terhadap potensi loyalitas ganda para penganut Kristen. Setelah melalui satu abad penuh kekacauan, pengkhianatan, dan perang saudara, stabilitas semacam itu merupakan hal mutlak yang dijaga oleh pihak Keshogunan.

Keshogunan Tokugawa mulai memberlakukan penganiayaan sistematis karena khawatir keyakinan tersebut merusak tatanan serta hierarki sosial yang telah susah payah mereka bangun dan pertahankan. Pada tahun 1614, Tokugawa Ieyasu mengeluarkan maklumat resmi yang mengusir seluruh misionaris Katolik. Umat Kristen Jepang terpaksa menjalankan ibadah secara rahasia dan dikenal sebagai umat Kristen Tersembunyi atau kakure kirishitan. Di bawah kepemimpinan shogun-shogun berikutnya, gelombang penganiayaan kian menghebat hingga mencapai titik didih pada tahun 1637 ketika sebuah letupan pemberontakan pecah di wilayah Kyushu.

Perlawanan di Shimabara

Shimabara Castle in Nagasaki

Semenanjung Shimabara terletak di bagian barat Kyushu yang agak terpencil. Penguasa wilayah tersebut sebelumnya adalah Arima Harunobu (1576-1612), seorang penganut Kristen yang taat. Selepas dikeluarkannya dekrit pengusiran oleh Hideyoshi pada tahun 1587, banyak kaum Jesuit yang mencari suaka ke wilayah kekuasaan Harunobu. Namun, ia kemudian terseret dalam skandal korupsi pada tahun 1610 yang mengakibatkan tanah kekuasaannya dicabut dan ia diperintahkan melakukan seppuku, sebelum akhirnya digantikan oleh Matsukura Shigemasa.

Kehidupan sebagai petani Jepang pada masa itu umumnya diwarnai oleh penderitaan yang mendalam. Perlakuan buruk dari penguasa lokal merupakan hal yang lumrah, tetapi Matsukura Shigemasa dikenal memiliki kekejaman yang luar biasa. Ia mengenakan berbagai pungutan pajak untuk segala hal, bahkan untuk peristiwa kelahiran dan kematian, serta tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang gagal membayar. Hukuman yang dijatuhkannya sangat tidak manusiawi, salah satunya adalah tarian jas hujan atau mino odori, di mana korban dipakaikan jas hujan jerami yang telah disiram minyak lalu dibakar hidup-hidup agar mereka menari kesakitan. Anggota keluarga dari mereka yang menunggak pajak juga kerap disandera atau turut disiksa. Puncaknya terjadi pada tahun 1637 ketika salah satu anak buah Shigemasa menganiaya istri seorang petani yang tengah hamil, insiden yang membuat kesabaran rakyat benar-benar habis.

Api Pemberontakan

old illustrated map of the siege of Hara Castle
Peta Kastil Hara dan wilayah sekitarnya. Di sebelah selatan semenanjung tampak dua kapal besar milik Belanda yang membantu menembaki para pemberontak demi kepentingan keshogunan akibat ketegangan antara Protestan dan Katolik.

Gelombang kekerasan dengan cepat menjalar dari desa asal menuju wilayah lain di Semenanjung Shimabara, berubah menjadi sebuah pemberontakan berskala besar. Massa yang tertindas bergerak mengepung Kastil Shimabara meski gagal merebutnya. Sementara itu, para petani di Kepulauan Amakusa yang berada di seberang lautan turut mengangkat senjata. Setelah melakukan perundingan, mereka memutuskan untuk bergabung di Kastil Hara yang terletak di ujung selatan semenanjung. Lokasi benteng yang tidak berpenghuni serta menghadap langsung ke laut menjadikannya basis pertahanan yang ideal bagi para pemberontak. Walaupun kepemilikan senjata secara hukum dilarang bagi rakyat jelata, para pemberontak tetap berhasil mengumpulkan sejumlah persenjataan, meski banyak di antara mereka yang terpaksa bertempur hanya mengandalkan alat-alat pertanian, tongkat, serta batu.

Motif keagamaan di balik pemberontakan ini seringkali dipertanyakan, karena pada tahap awal faktor pendorong utamanya bukanlah agama Kristen, melainkan tekanan hidup yang ekstrem serta kekejaman yang dilakukan oleh Matsukura Shigemasa terhadap para petani. Kendati demikian, setelah berkumpul di Kastil Hara, gerakan tersebut mulai mendapatkan kepemimpinan bernuansa Kristen. Terdapat segelintir ronin atau samurai tanpa tuan yang beragama Kristen, serta seorang pemuda misterius yang memimpin di jajaran terdepan.

statue of Amakusa Shiro

Pemuda tersebut adalah Amakusa Shiro (sekitar 1621-1638). Lahir di Kepulauan Amakusa, ia merupakan putra dari mantan pengikut klan Konishi—keluarga samurai Kristen yang pemimpinnya dieksekusi akibat salah memilih kubu dalam Pertempuran Sekigahara. Ia sempat menimba ilmu bersama kaum Jesuit di Nagasaki dan dikenal luas karena menyuarakan pesan kesetaraan serta martabat bagi kaum miskin di Pulau Oyano. Tidak banyak catatan historis lain mengenai dirinya, namun selama pemberontakan berlangsung, para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah sosok yang diramalkan bertahun-tahun sebelumnya oleh Pastor Marco Ferraro, seorang rohaniawan yang pernah bertugas di wilayah tersebut sebelum diusir. Sang pastor sempat bernubuat bahwa setelah 25 tahun, seorang anak Tuhan akan datang menyelamatkan rakyat.

Para pemberontak mampu bertahan dalam pengepungan yang memakan waktu cukup panjang. Namun, seiring berjalannya bulan-bulan musim dingin, persediaan makanan menipis dan pertahanan benteng akhirnya berhasil ditembus. Pasukan keshogunan menghabiskan waktu selama tiga hari untuk membantai para pemberontak. Diperkirakan sekitar 37.000 jiwa tewas dalam tragedi tersebut, termasuk Amakusa Shiro. Sebanyak 10.000 kepala dipancangkan di sekeliling benteng sebagai peringatan keras, sementara 3.300 kepala lainnya dikirim ke Nagasaki untuk menghadapi perlakuan serupa.

Menyusul Redaman Pemberontakan Shimabara, Keshogunan Tokugawa mengambil langkah pamungkas untuk membentengi negeri dari pengaruh subversif asing dengan mengusir seluruh warga Eropa dari Jepang serta melarang kepulangan mereka di bawah ancaman hukuman mati. Pengecualian satu-satunya diberikan kepada Pulau Dejima yang terletak di lepas pantai Nagasaki, tempat di mana segelintir kapal dagang asal Belanda diizinkan berlabuh secara amat terbatas.

Metode Pengawasan Keshogunan

fumi-e icon of Jesus on the cross

Pada dekade-dekade sebelum dan sesudah Pemberontakan Shimabara, pemerintah keshogunan merancang berbagai strategi ketat guna memastikan kesetiaan rakyat sekaligus membasmi sisa-sisa umat Kristen Tersembunyi. Pada tahun 1635, pemerintah mulai mewajibkan seluruh penduduk untuk mendaftarkan diri di kuil Buddha setempat, sebuah kewajiban administratif yang sejak tahun 1666 harus diperbaharui setiap tahun. Selain kewajiban registrasi tahunan ini, warga mungkin tidak perlu sering-sering mengunjungi kuil tersebut. Namun, sistem pengawasan berbasis kelompok rukun warga diterapkan di mana setiap keluarga diwajibkan saling mengawasi dan melaporkan satu sama lain. Jika salah seorang anggotanya kedapatan menganut agama Kristen, maka seluruh keluarganya akan ikut menanggung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *