Home / Travel / Sejarah Peta Jepang: Pertama Kalinya Jepang Melihat Dunia

Sejarah Peta Jepang: Pertama Kalinya Jepang Melihat Dunia

Matteo Ricci: Misionaris dan Pembuat Peta

Painting of a Matteo Ricci with the sun in the background

Matteo Ricci lahir di Italia pada tahun 1552 dengan ambisi awal menjadi misionaris di India. Namun, takdir membawanya ke Tiongkok, di mana ia tiba pada tahun 1582 di pos perdagangan Portugis di Makau. Berbeda dengan kebanyakan misionaris lain pada masa itu, ia memilih untuk mempelajari aksara Tionghoa. Bersama seorang rekan sesama misionaris bernama Ruggieri, ia berkeliling daratan Tiongkok untuk menjalankan misi keagamaannya.

Karena keahliannya dalam membuat peta, Ricci diundang untuk tinggal di Zhaoqing. Di sana, pada tahun 1584, ia berhasil menyusun peta bergaya Eropa pertama yang ditulis dalam bahasa Tionghoa. Meskipun peta aslinya tidak bertahan hingga kini, berbagai salinannya berhasil menyebar, termasuk ke Jepang.

Kunyu Wanguo Quantu

Old map of the world with various other diagrams and guides in the margin

Peta yang dikenal sebagai Kunyu Wanguo Quantu atau “Peta Berbagai Negara di Dunia” pertama kali dibuat oleh Ricci pada tahun 1584, dengan beberapa revisi lanjutan. Edisi ketiga yang dibuat pada tahun 1602 memiliki ukuran yang sangat besar, yakni 1,5 meter kali 3,66 meter. Tidak seperti peta Eropa pada masa itu yang menempatkan Benua Eropa di tengah, peta ini menempatkan Tiongkok dan Asia sebagai pusat dunia.

Peta ini akhirnya sampai ke Jepang, meskipun tidak langsung diadopsi secara masif seperti di Tiongkok. Kendati demikian, banyak informasi geografis di Jepang yang kemudian mengadopsi rujukan dari peta karya Ricci tersebut.

Peta Dunia Pertama di Jepang

Sebelum peta Tionghoa-Eropa populer melalui salinan-salinan selanjutnya, peta dunia awal di Jepang berakar dari tradisi Buddhis yang disebut nansenbusho. Peta-peta ini pada mulanya hanya memuat tiga negara utama: Tiongkok, India, dan Jepang.

A map laid out in a vaguely egg-like shape, with mountains and rivers and red lines connecting them

Peta tradisional ini tidak dirancang untuk navigasi geografis yang akurat, melainkan berpusat pada kosmologi Buddhis. Bagian tengah peta seringkali digambarkan sebagai pusat alam semesta tempat Sang Buddha dikaitkan. Baru pada tahun 1710, sebuah peta nansenbusho bernama “Nansenbushu bankoku Shoka no zu” diterbitkan dengan mulai menyertakan wilayah-wilayah lain di luar tiga negara utama tersebut, seiring mulai menyebarnya informasi dari peta karya Ricci.

Another old map with various mountains and rivers drawn on it—most of the land is clumped together with sea at the fringes
Ya, ini adalah sebuah peta dunia
Source: Geographicus

Meskipun mulai mencakup bagian dunia lain, peta Buddhis ini tetap memprioritaskan signifikansi religius ketimbang skala geografis yang sebenarnya. India dan Tiongkok mendapat porsi yang jauh lebih besar karena latar belakang historis keagamaan mereka.

A close up of the previous map with some land masses zoomed in on

Wilayah Eropa digambarkan di sudut kiri atas hanya sebatas kumpulan pulau kecil dengan nama-nama tempat seperti Inggris, Belanda, Hungaria, Italia, dan Prancis tanpa detail keagamaan yang signifikan.

An even closer view of what is a small blotch on the original map

Sementara itu, benua Afrika digambarkan sebagai pulau kecil di sebelah barat yang dinamai sebagai “Kerajaan Wanita Barat”.

Another close-up of a small portion of the original map

Di bagian kanan atas, tampak pula gambaran daratan Alaska dan jembatan darat Aleut yang menandakan wilayah Amerika turut dimasukkan ke dalam peta meskipun dengan bentuk yang sangat sederhana.

Peta Dunia Revisi Karya Nagakubo Sekisui

Pengaruh peta Ricci terus merambah Jepang hingga akhirnya menginspirasi seorang kartografer bernama Nagakubo Sekisui. Ia menyalin peta buatan Ricci menggunakan teknik cetak blok kayu serta melakukan berbagai revisi. Agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat setempat, ia menambahkan aksara katakana pada peta tersebut.

article title plus
Peta lama yang tampak lebih menyerupai peta modern dengan benua yang diberi warna berbeda

Peta yang diberi judul “Peta Dunia yang Direvisi dan Lengkap” ini diterbitkan sekitar tahun 1785. Dibandingkan karya aslinya, peta ini menawarkan detail yang lebih kaya di sekitar kawasan Asia, dengan gaya seni yang disesuaikan secara visual untuk pembaca di Jepang.

Peta “Modern” Jepang

An old sepia-toned map of Japan

Selain merevisi peta dunia, Nagakubo Sekisui juga merancang peta domestik Jepang dengan memanfaatkan koordinat geografis. Kendati demikian, wilayah Hokkaido pada saat itu masih belum dimasukkan secara utuh karena belum sepenuhnya dieksplorasi.

Memasuki periode yang hampir bersamaan, seorang tokoh penting bernama Ino Tadataka muncul atas penugasan langsung dari Shogun untuk memetakan wilayah Jepang secara akurat. Ia mendedikasikan 17 tahun terakhir hidupnya untuk mengukur garis pantai Jepang dengan menempuh perjalanan ribuan kilometer. Meski ia wafat sebelum proyek tersebut rampung pada tahun 1818, timnya berhasil menyelesaikannya pada tahun 1821.

A map where the cities farther from the perspective of the viewers seem to receed into the distance
Karya peta buatannya memperlihatkan perpaduan gaya 3D dan 2D yang unik

Peta buatan Ino terkenal karena tingkat akurasinya yang luar biasa tinggi dan terus digunakan hingga awal abad ke-20. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam dunia kartografi Jepang, didirikan pula sebuah patung peringatan untuk Ino Tadataka.

Statue of Ino Tadataka walking forward with a compass in his hand

Menuju Masa Depan

A modern map contrasted with an old-world map

Perkembangan teknologi modern telah mengubah cara manusia memetakan dunia secara drastis, mulai dari pencitraan satelit hingga fitur interaktif seperti Google Street View yang memungkinkan pengguna melihat suatu lokasi secara nyata dari sudut pandang 360 derajat.

Google streetview scene of a generic-looking city road in Japan
Source: Google Maps

Meskipun peta masa kini jauh lebih fungsional dan akurat untuk keperluan navigasi, peta-peta klasik buatan tangan di masa lampau tetap memiliki nilai seni dan estetika tersendiri yang menceritakan bagaimana peradaban manusia memandang dunia dari masa ke masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *