Home / Travel / Menelusuri Pesona Himeshima, “Pulau Para Putri” yang Asri di Oita

Menelusuri Pesona Himeshima, “Pulau Para Putri” yang Asri di Oita

Himeshimas Sennindo in Oita Prefecture
An overhead aerial shot of Oita Prefecture’s island of Himeshima

Ketika menjelajahi Jepang, sering kali kita menemukan destinasi yang jarang diketahui wisatawan mancanegara, namun sangat populer di kalangan wisatawan lokal seperti Kanazawa atau Atami. Di sisi lain, ada pula tempat-tempat yang benar-benar asing bahkan bagi warga Jepang sendiri. Salah satunya adalah Himeshima, sebuah pulau kecil yang terletak di lepas pantai Semenanjung Kunisaki di Prefektur Oita.

Meskipun pulau sepanjang tujuh kilometer ini minim pembangunan modern dan infrastruktur perkotaan, Himeshima menawarkan keaslian yang luar biasa. Bagi siapa saja yang ingin merasakan atmosfer perkampungan nelayan Jepang yang sesungguhnya, bermalam di Himeshima adalah pilihan yang sangat menarik.

Di balik ukurannya yang kecil, Himeshima menyimpan sejarah yang sangat penting. Catatan tertua mengenai pulau ini dapat ditemukan di dalam Kojiki, catatan tertulis tertua di Jepang mengenai mitos dan sejarah kuno. Disusun pada abad kedelapan, teks ini menceritakan kisah dewa pencipta Jepang, yaitu Izanagi-no-Mikoto dan Izanami-no-Mikoto. Dalam catatan tersebut, Himeshima disebut sebagai daratan kedua belas yang diciptakan oleh kedua dewa ini. Sulit dibayangkan bahwa pulau berpenduduk sekitar 2.600 jiwa ini menjadi bagian dari mitos penciptaan Jepang.

Selain kaitannya dengan legenda kuno, Himeshima juga terkenal pada masa lalu sebagai penghasil obsidian berkualitas tinggi. Berbeda dengan batu obsidian pada umumnya yang berwarna hitam, obsidian dari Himeshima memiliki warna abu-abu susu yang khas. Para arkeolog bahkan pernah menemukan perkakas dari batu ini di Pulau Tanegashima di Prefektur Kagoshima hingga ke Osaka. Mengingat ukuran pulau ini yang sangat kecil, pencapaian ini menunjukkan betapa berharganya komoditas dari Himeshima pada masa prasejarah.

Nama Himeshima sendiri, yang berarti “Pulau Putri”, berasal dari salah satu legenda lokal. Konon, dahulu kala seorang putri dari daratan Korea melarikan diri untuk menghindari pernikahan yang tidak diinginkan dan terdampar di pantai Himeshima. Cerita rakyat ini terus diwariskan dari generasi ke generasi oleh para nelayan dan petani setempat, bahkan beberapa tengara di pulau ini masih mendedikasikan diri untuk mengenang kisah tersebut melalui Tujuh Keajaiban Himeshima.

Cara Menuju ke Sana

A roundtrip ticket to Oita Prefecture’s Himeshima from Imi Port in Kunisaki City

Perjalanan menuju Himeshima bukanlah hal yang mudah. Pertama-tama, Anda harus mencapai Prefektur Oita di pulau Kyushu. Menggunakan pesawat terbang adalah pilihan terbaik untuk menghemat waktu dibandingkan harus menggunakan kereta api yang rumit dan memakan waktu seharian.

Setibanya di Prefektur Oita, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Imi di Kunisaki City dalam waktu sekitar 45 menit. Meskipun menyewa mobil direkomendasikan saat menjelajahi Oita, membawa kendaraan ke Himeshima memerlukan biaya feri yang cukup mahal. Alternatif yang lebih praktis adalah menggunakan taksi.

Karena wilayahnya yang kecil, cara terbaik untuk mengeksplorasi Himeshima adalah dengan menggunakan sepeda yang dapat disewa di beberapa titik. Pengunjung juga dapat menyewa mobil listrik ramah lingkungan yang sangat cocok untuk menyusuri jalan-jalan sempit di pulau ini, terutama saat musim dingin tiba.

Tujuh Keajaiban Himeshima

Setibanya di Himeshima, salah satu kegiatan terbaik yang bisa dilakukan adalah menjelajahi berbagai lokasi yang masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Himeshima:

  • Sennin-do: Sebuah aula kecil yang menghadap ke formasi batuan vulkanik di sisi barat laut pulau. Tempat ini sangat memukau saat matahari terbenam. Menurut cerita rakyat, 1,000 orang pernah bersembunyi di sini untuk menghindari pajak.
  • Hyoshimizu: Mata air panas dengan suhu sekitar 23 derajat Celsius yang kaya akan zat besi dan berkarbonasi alami. Air ini bahkan dikonsumsi langsung oleh warga lokal dan digunakan di fasilitas pemandian umum terdekat.
  • Ukisu: Gerbang torii yang terletak di daratan menjorok ke laut, yang menurut warga setempat tidak pernah tenggelam oleh ombak bahkan saat badai besar.
  • The Inverted Willow: Pohon willow yang konon tumbuh dari tusuk gigi putri Korea yang ditancapkan secara terbalik ke tanah.
  • The Ohaguro Stone: Batu unik yang dikaitkan dengan legenda sang putri dan tradisi kuno Jepang menghitamkan gigi.
  • Ukita: Area sawah kecil di atas lokasi di mana penduduk desa tanpa sengaja mengubur seekor ular besar, yang konon masih menyisakan aura kemarahan sang reptil.
  • Amida Oysters: Kumpulan tiram di dalam gua dekat mercusuar yang bentuknya menyerupai Buddha, dan hanya dapat dilihat dari laut.

Menikmati Kuliner Lokal

Himeshima’s speciality of kuruma ebi at a ryokan on the island in Oita Prefecture

Daya tarik utama Himeshima adalah Kuruma Ebi, udang raksasa berukuran besar yang sangat dihargai di seluruh Jepang sebagai meibutsu atau kuliner khas setempat. Meskipun bisa ditemukan di tempat lain, Kuruma Ebi paling segar dinikmati langsung di Himeshima, terutama pada musim gugur ketika pulau ini mengadakan festival khusus untuk merayakannya.

Cara tradisional warga setempat menikmati Kuruma Ebi adalah dalam keadaan mentah yang disebut odori atau udang menari. Pengunjung akan disajikan udang segar, lalu memenggal kepalanya, mengupas kulitnya, dan mencelupkan dagingnya yang masih bergerak ke dalam kecap asin sebelum disantap. Bagi yang merasa kurang nyaman dengan cara ini, restoran di sana dapat membantu menyiapkannya di dapur, meskipun sisa gerakan udang tersebut terkadang masih bisa terlihat.

Festival Tari Rubah Obon

Kids dress up as foxes for Himeshima’s annual Kitsune Odori festival during autumn

Salah satu daya tarik musiman paling terkenal di Himeshima adalah Kitsune Odori atau Tari Rubah. Tradisi unik yang merupakan bagian dari Festival Obon ini diakui sebagai Properti Budaya Rakyat Takbenda oleh pemerintah Jepang pada tahun 2012. Setiap bulan Agustus, anak-anak setempat mengenakan kostum rubah dan menari mengikuti tabuhan drum taiko sambil membawa payung kertas.

Perbedaan tradisi ini dengan festival Obon di wilayah lain di Jepang disebabkan oleh lokasi Himeshima yang terisolasi. Kuil utama di pulau ini merupakan cabang dari Usa Jingu yang berada di Semenanjung Kunisaki. Isolasi geografis tersebut membuat evolusi budaya di Himeshima berjalan secara unik hingga melahirkan tradisi Kitsune Odori seperti sekarang.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

A pair of Nio guardians watch over the entrance to Futago-ji on Oita Prefecture’s Kunisaki Peninsula

Semua keunikan ini menjadikan Prefektur Oita, khususnya Semenanjung Kunisaki dan Pulau Himeshima, sebagai destinasi yang sempurna bagi wisatawan yang mencari pengalaman spiritual dan perjalanan yang jauh dari keramaian turis konvensional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *