“I am going to burn them with the flames of war and let the true Buddha be called forth from these ashes!”
— Oda Nobunaga
Bayangkan jika Anda baru saja berhasil menguasai sebagian besar wilayah Jepang, namun masih ada satu duri dalam daging yang terus mengganggu kekuasaan Anda. Para biksu prajurit dari Gunung Hiei dengan gigih terus campur tangan dalam berbagai urusan politik. Berpusat di benteng pegunungan Enryaku-ji, kelompok Buddhis ini sudah lama memegang pengaruh kuat atas percaturan politik di Kyoto. Konon, pada masa lampau, Kaisar Shirakawa pernah meratapi bahwa hanya ada tiga hal di dunia ini yang tidak dapat ia kendalikan: arus Sungai Kamo, lemparan dadu, dan para biksu Gunung Hiei.
Situasi rumit inilah yang harus dihadapi oleh pemimpin militer Oda Nobunaga. Meskipun ia telah menguasai Kyoto sejak tahun 1568, benteng keagamaan Buddha yang terletak di sebelah timur laut Gunung Hiei tersebut tetap menjadi masalah pelik. Para biksu prajurit ini memiliki keyakinan arogan bahwa moralitas keagamaan tertinggi yang mereka miliki memberi mereka hak untuk ikut campur dalam urusan politik tanpa takut mendapatkan perlawanan. Merasa aman di dalam kompleks kuil yang dibentengi, mereka berpikir tidak akan ada seorang pun yang berani menantang dan menghentikan tindakan mereka.
Gagasan tentang biksu yang agresif mungkin terasa mengejutkan bagi para pelancong yang masa kini mengenal kelembutan para pengikut ajaran Buddha di Jepang. Kendati demikian, banyak pemuka agama pada masa lalu yang jauh berbeda dari potret modern saat ini. Di tengah kekejaman era Sengoku (1467–1603), para biksu ini kerap merasa tidak memiliki pilihan selain menjadi penegak hukum Buddha dengan cara-cara yang keras. Pepatah lama menyebutkan bahwa kekuasaan membawa korupsi, dan para biksu Gunung Hiei tidak terkecuali. Dilindungi oleh kekebalan mutlak keagamaan, para pengikut Enryaku-ji dengan cepat menyadari bahwa mereka dapat mendikte ibu kota tanpa perlu mengkhawatirkan konsekuensi apa pun.

Bagi orang kebanyakan, situs suci seperti Enryaku-ji di Gunung Hiei mungkin dianggap sebagai tempat yang kebal terhadap segala bentuk hukuman. Bagaimanapun juga, tempat suci tersebut didirikan pada abad-abad sebelumnya untuk melindungi Kyoto dari energi buruk yang diyakini mengalir dari arah timur laut. Sialnya bagi para biksu yang tinggal di sana, Oda Nobunaga bukanlah orang biasa. Melanggar hampir semua norma yang dipegang teguh pada zamannya, sang panglima perang memutuskan bahwa seluruh institusi yang korup itu harus dibersihkan agar cahaya Buddha dapat kembali bersinar dari puncak Gunung Hiei.
Bagi yang belum memahami sepenuhnya, tindakan kejam Nobunaga ini merupakan pelanggaran ideologis yang sangat besar. Padanan yang setara di Eropa mungkin seperti membakar seluruh kawasan Vatikan hingga rata dengan tanah. Tindakan semacam itu sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, seperti yang kemudian disadari oleh para biksu prajurit Gunung Hiei, Oda Nobunaga bukanlah pemimpin yang mengikuti aturan konvensional. Mengabaikan bahkan pertentangan dari para petinggi pasukannya sendiri, ia melancarkan pembantaian berdarah di gunung tersebut yang akhirnya memberinya julukan “Raja Iblis.”
Pada suatu malam di bulan September tahun 1571, Oda Nobunaga mengerahkan pasukan sebanyak 30.000 prajurit dan bergerak menuju kompleks suci Buddha di Gunung Hiei. Menggunakan strategi bumi hangus, jenius militer yang ambisius ini membakar seluruh gunung suci tersebut. Secara keseluruhan, pasukan sang panglima perang membantai sekitar 20.000 jiwa dan melalap sekitar 300 bangunan hingga menjadi arang. Meskipun beberapa orang yang selamat kemudian diizinkan untuk membangun kembali Enryaku-ji, kompleks tersebut tidak akan pernah sama lagi, dan para biksu prajurit tidak pernah lagi berani mencampurkan diri dalam urusan politik.
Cara Menuju ke Sana
Agar lebih ringkas, pembahasan mendetail mengenai penyerangan Oda Nobunaga ke Gunung Hiei sengaja tidak diulas terlalu panjang di sini. Jika Anda tertarik mendalaminya, silakan saksikan video penjelasan mendalam dari The Shogunate yang disematkan di atas. Pada bagian selanjutnya, fokus tulisan ini akan beralih pada kondisi Gunung Hiei di masa kini dari sudut pandang pariwisata serta sisa-sisa kejayaan Enryaku-ji. Sebagai permulaan, mari kita bahas aspek logistik perjalanannya. Seperti yang telah disinggung, Gunung Hiei terletak di sebelah timur laut bekas ibu kota Jepang, sehingga langkah pertama Anda adalah menuju ke Kyoto.
Setibanya di sana, terdapat beberapa jalur alternatif untuk mencapai Gunung Hiei dari pusat kota. Satu rute dimulai dari sisi Kyoto, sementara rute lainnya mengharuskan Anda menyeberang ke Prefektur Shiga untuk melakukan pendakian. Bergantung pada musim kunjungan, tingkat kemudahan kedua jalur ini bisa sangat bervariasi. Berdasarkan berbagai pertimbangan, opsi melalui Prefektur Shiga dinilai lebih ideal dan sangat disarankan. Meskipun demikian, Anda tetap dianjurkan untuk mencari informasi tambahan secara daring guna menentukan jalur mana yang paling nyaman bagi Anda.
Untuk mencapai kereta gantung yang akan membawa Anda ke puncak Gunung Hiei, Anda bisa menaiki Jalur JR Kosei menuju Stasiun Hieizan-Sakamoto atau menggunakan Jalur Keihan Ishiyama-Sakamoto menuju Stasiun Sakamoto-Hieizanguchi. Opsi pertama memerlukan lebih sedikit transit jika Anda berangkat langsung dari Stasiun Kyoto, sedangkan opsi kedua membawa Anda sedikit lebih dekat ke area kereta gantung. Seperti biasa, manfaatkan layanan seperti Jorudan untuk memudahkan perencanaan jadwal kereta Anda. Stasiun mana pun yang Anda pilih, Anda tetap perlu berjalan kaki menuju kereta gantung atau menaiki bus jika tidak ingin lelah berjalan jauh.
Meskipun secara teknis Anda bisa mendaki Gunung Hiei dengan berjalan kaki, daya tarik utama yang wajib dikunjungi adalah kompleks Enryaku-ji. Oleh karena itu, menggunakan kereta gantung adalah pilihan yang paling logis. Biayanya memang sekitar 2.000 yen, namun harga tersebut sepadan dengan waktu dan tenaga yang Anda hemat. Perlu dicatat pula bahwa Anda harus merogoh kocek tambahan sebesar 1.000 yen untuk tiket masuk Enryaku-ji, serta tambahan 500 yen jika ingin mengunjungi balai harta karun kuil tersebut.
Gunung Hiei dan Enryaku-ji Masa Kini

Sebagai sebuah kompleks kuil, ukuran Enryaku-ji tergolong sangat masif dan megah. Kompleks ini terbagi menjadi tiga area terpisah, dan menjelajahi keseluruhannya akan memakan waktu hampir seharian penuh. Oleh karena itu, Anda harus mengalokasikan waktu yang cukup agar bisa melihat setiap sudut kawasan ini secara mendalam. Kendati membutuhkan investasi waktu yang tidak sedikit, benteng pertahanan Buddha di atas gunung ini memancarkan nuansa spiritualitas yang kuat dan sangat layak untuk dikunjungi.
Ketiga area utama yang membentuk Enryaku-ji meliputi:
- Todo (Pagoda Timur)
Kawasan ini merupakan bagian paling timur dari Enryaku-ji dan menjadi rumah bagi bangunan-bangunan terpenting kuil. Lebih dari seribu tahun lalu, dari sinilah seluruh kompleks Enryaku-ji bermula. Di sini, Anda akan menemukan balai utama yang dikenal sebagai Konpon Chu-do—yang ditetapkan sebagai harta karun nasional di Jepang—serta berbagai struktur bangunan kuno yang anggun. Di dekatnya terdapat pagoda yang megah dan balai pemujaan Buddha Amida. Selain itu, area Todo juga menyimpan balai harta karun Enryaku-ji yang memamerkan koleksi patung Buddha yang luar biasa menakjubkan. - Saito (Pagoda Barat)
Bergeser kembali ke arah sisi Gunung Hiei yang menghadap Kyoto, Anda akan menemukan area kedua Enryaku-ji yaitu Saito. Meskipun tersedia rute bus yang menghubungkan Todo dan Saito, terdapat jalur pejalan kaki yang asri dan sangat direkomendasikan untuk dilewati. Jalur ini akan membawa Anda melewati mausoleum Saicho, tokoh suci Buddha yang mendirikan Enryaku-ji pada awal tahun 800-an. Setelah itu, Anda akan menjumpai balai-balai berdampingan yang konon dipikul oleh biksu Benkei yang terkenal karena kekuatan fisiknya. Tidak jauh dari sana berdiri Shaka-do, bangunan tertua di gunung ini yang dipindahkan jauh-jauh dari Prefektur Shiga selama proses rekonstruksi pascapenghancuran oleh Oda Nobunaga. - Yokawa
Terletak beberapa kilometer di sebelah utara Todo dan Saito, area Yokawa cenderung lebih sepi pengunjung dibandingkan dua kawasan sebelumnya. Namun, jika Anda tidak keberatan menaiki bus atau berjalan kaki lebih jauh, menyempatkan diri berkunjung ke bagian Enryaku-ji yang lebih terpencil ini sangat dianjurkan. Salah satu daya tarik utamanya adalah Yokawa Chu-do, sebuah bangunan unik yang dirancang menjorok keluar di atas lereng curam dengan sokongan pilar-pilar berwarna merah vermilion.
Di samping area-area utama tersebut, pastikan juga untuk mencari keberadaan Ruri-do saat menjelajahi luasnya kawasan Enryaku-ji. Tersembunyi di balik jalur setapak yang sunyi di sekitar Saito, balai kecil ini merupakan satu-satunya struktur bangunan yang selamat dari amukan api saat pembersihan besar-besaran oleh Oda Nobunaga.
Sejarah Pendirian Gunung Hiei dan Enryaku-ji

Hingga hari ini, Enryaku-ji tetap diakui sebagai salah satu kompleks kuil terpenting di Jepang. Didirikan pada awal abad ke-9 oleh biksu terkemuka bernama Saicho, Enryaku-ji berfungsi sebagai pusat utama mazhab Buddha Tendai. Bersama dengan mazhab Shingon yang didirikan oleh rekan semasanya, Kukai, kedua aliran ini menandai awal mula masuknya ajaran Buddha esoteris ke Jepang. Kedua tokoh pendiri tersebut sempat menimba ilmu secara mendalam di Tiongkok dan membawa pulang ajaran rahasia dari biara-biara di sana.
Berdasarkan catatan sejarah, Saicho mulanya adalah seorang biksu yang ditahbiskan di Todai-ji, Nara. Suatu hari, ia memutuskan untuk pergi ke arah utara menuju Gunung Hiei. Walaupun alasan pasti kepergiannya tidak diketahui secara rinci, di puncak gunung yang suci itulah ia membenamkan diri dalam studi teks-teks Buddhis. Seiring berjalannya waktu, para biksu dari Nara dan berbagai wilayah lain mulai berdatangan ke Gunung Hiei, dan dari perkumpulan inilah cikal bakal Enryaku-ji terbentuk.
Salah satu kisah menarik mengenai Saicho menyebutkan bahwa ia memahat patung Yakushi Nyorai, Sang Buddha Pengobatan. Setelah itu, ia menyalakan pelita minyak di hadapan patung tersebut dan berdoa agar nyala api itu tidak pernah padam. Hebatnya, lebih dari 1.200 tahun kemudian, api tersebut terbukti tidak pernah padam sekalipun. Sebagai penghormatan atas peristiwa luar biasa ini, pelita yang menjaga nyala api tersebut kini dikenal sebagai Fumetsu-no-Hoto, atau “Lampa Dharma Abadi.” Ini berarti bahwa bahkan di tengah amukan brutal Oda Nobunaga, para biksu Gunung Hiei berhasil menjaga agar api warisan Saicho tetap menyala.
Meskipun berawal dari tempat pelarian spiritual yang sederhana bagi Saicho dan para pengikutnya, Enryaku-ji dan Gunung Hiei dengan cepat berkembang menjadi pusat keagamaan yang sangat penting. Perkembangan ini tidak lepas dari pemindahan ibu kota ke wilayah yang kini dikenal sebagai Kyoto pada tahun 794. Karena letak Gunung Hiei yang strategis di sebelah timur laut kota, Saicho berhasil menarik perhatian istana kekaisaran. Sejak saat itu, Gunung Hiei dan Enryaku-ji dianugerahi hak istimewa khusus sebagai pelindung spiritual kota Kyoto.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

Meskipun kunjungan ke Enryaku-ji akan menyita sebagian besar waktu Anda dalam sehari, terdapat beberapa objek wisata menarik lainnya di sekitar kawasan tersebut yang layak disinggahi jika Anda merencanakan perjalanan dengan baik:
- Ukimido di Mangetsu-ji
Kuil terapung di atas Danau Biwa ini merupakan salah satu pemandangan ikonis yang terinspirasi dari cetak biru seni cukio kayu bersejarah “Delapan Pemandangan Omi.” Walaupun bangunan yang berdiri saat ini merupakan rekonstruksi dari tahun 1937, strukturnya tetap mempertahankan keaslian bentuk aslinya yang telah ada selama berabad-abad. - Kuil Shirahige
Kuil ini semakin populer di kalangan pelancong berkat gerbang torii-nya yang berdiri anggun langsung di perairan Danau Biwa. Tempat ini sangat cocok dikunjungi baik bagi Anda yang mencari suasana tenang maupun sekadar ingin mengabadikan foto kenangan yang menawan. - Omi Jingu
Didirikan relatif baru pada tahun 1940, kuil ini terdaftar sebagai Properti Budaya Penting yang mendedikasikan penghormatannya kepada Kaisar Tenji. Kaisar tersebut dikenal atas berbagai reformasi bersejarah serta perannya dalam memindahkan ibu kota untuk menghindari pengaruh kuat para biksu di Nara.
Selain berbagai destinasi di sisi Prefektur Shiga tersebut, Anda juga bisa mempertimbangkan kawasan Kurama dan Kibune di Kyoto jika kondisi operasional kereta gantung memungkinkan. Sampai jumpa pada petualangan perjalanan berikutnya!








