Belakangan ini, karya terakhir Hayao Miyazaki yang berjudul The Wind Rises (Kaze Tachinu) menarik banyak perhatian publik. Di tengah banyaknya ringkasan cerita dan ulasan yang membahas film ini, ada sudut pandang lain yang menarik untuk dikupas, terutama jika dikaitkan dengan kondisi sosial masyarakat Jepang saat ini.
Jepang telah melewati berbagai masa sulit dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari bencana gempa bumi dan tsunami Tohoku pada bulan Maret 2011 hingga krisis pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima yang masih menimbulkan kekhawatiran. Di samping itu, pemerintahan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Abe berupaya memulihkan perekonomian negara, meski kebijakan tersebut kerap menuai kritik dari masyarakat. Singkatnya, Jepang sedang menghadapi masa-masa penuh badai.

Meskipun The Wind Rises merupakan fiksi sejarah tentang Jiro Horikoshi, perancang pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero, dinamika zaman dalam film ini terasa begitu relevan dengan situasi Jepang modern pra-Perang Dunia II dan masa kini. Melalui mahakarya ini, muncul pertanyaan penting mengenai pesan apa yang ingin disampaikan oleh Miyazaki kepada masyarakat Jepang saat ini.
Menjadi “Orang Jepang”
Film ini berfokus pada tokoh sejarah nyata, Jiro Horikoshi. Sepanjang cerita, ia berinteraksi dengan berbagai tokoh dari negara lain, seperti perancang pesawat asal Italia, Caproni, serta para insinyur Eropa di pabrik Jerman. Interaksi lintas negara ini digambarkan dengan cukup jelas oleh Miyazaki, yang tampaknya ingin mengajak penonton—khususnya warga Jepang—untuk merenungkan makna dari identitas mereka.

Secara historis, Jepang kerap berada dalam posisi “mengejar” dunia barat untuk melakukan modernisasi. Hal ini terlihat dari cara Jiro berinteraksi dengan para insinyur Jerman di pabrik terkemuka. Alih-alih menyoroti ketertinggalan teknologi, Miyazaki memperlihatkan ketenangan Jiro saat bernegosiasi untuk berdiri di posisi yang setara dengan rekan-rekan dari Jerman. Sikap ini dapat diartikan sebagai pengingat agar masyarakat Jepang bangga pada diri mereka sendiri tanpa terjebak dalam nasionalisme berlebihan, serta mengenali kualitas positif yang ada dalam kepribadian Jiro.
Melambatkan Langkah
Terdapat banyak kontras antara unsur “lama” dan “baru” di dalam film. Jiro memang berada di garis depan dalam merancang generasi pesawat terbang modern yang cepat dan tangguh, namun ia juga menyelipkan apresiasi terhadap kesederhanaan dan tempo yang lebih lambat.

Miyazaki seakan melemparkan pertanyaan mendasar: apakah kecepatan, modernitas, dan kenyamanan adalah segalanya? Pertanyaan ini sangat relevan bagi masyarakat Jepang modern, khususnya setelah bencana nuklir Fukushima. Energi nuklir memang menawarkan kemudahan bagi negara yang minim sumber daya alam, namun apakah negeri ini harus terus bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut? Melalui kisah ini, penonton diajak untuk tidak hanya bergantung pada modernitas, tetapi juga mempertimbangkan alternatif lain dan mengenang cara-cara tradisional yang pernah ada.
Pentingnya Kasih Sayang

Selain ambisi seorang insinyur pesawat, film ini juga menyoroti kisah cinta antara Jiro dan seorang gadis bernama Nahoko yang berjuang melawan penyakit. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, keduanya berusaha menghargai setiap momen kebersamaan.
Miyazaki biasanya tidak terlalu menonjolkan adegan romantis secara terbuka dalam film-film sebelumnya. Namun, dalam The Wind Rises, kedekatan fisik dan emosional antara Jiro dan Nahoko digambarkan secara lebih nyata. Di tengah era yang penuh gejolak, keduanya saling mendukung dan menguatkan.
Pesan ini tampaknya ingin disampaikan kepada masyarakat Jepang masa kini yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan pemulihan pascabencana. Miyazaki seolah mengingatkan pentingnya saling mendukung, menghargai orang terkasih, dan saling menjaga di masa-masa sulit. Bantuan antar sesama menjadi hal yang sangat esensial dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti.








