Home / Travel / Onigiri: Kepalan Nasi yang Dibumbui Sempurna, Ledakan Rasa dari Isiannya, Hangat atau Dingin, Selalu Lezat

Onigiri: Kepalan Nasi yang Dibumbui Sempurna, Ledakan Rasa dari Isiannya, Hangat atau Dingin, Selalu Lezat

header 640x 29

Seorang warga berusia 52 tahun ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Kitakyushu. Di samping jenazahnya, pihak berwenang menemukan sebuah jurnal yang mengungkap bahwa pria tersebut kelaparan. Dalam catatan terakhirnya, ia menuliskan:

“Pukul 3 pagi. Manusia ini sudah tidak makan selama 10 hari tapi masih hidup… Aku ingin makan nasi. Aku ingin makan kepalan nasi.”

Kisah tersebut sempat menjadi berita utama di seluruh Jepang pada musim gugur tahun 2007. Peristiwa ini memicu perdebatan nasional, bukan sekadar karena korban meninggal akibat kelaparan, melainkan karena ia mengembuskan napas terakhirnya sambil berharap bisa menikmati onigiri.

Makna di Balik Sebuah Kata

japanese woman holding a lantern that says peace
Source: freedomiiphotography

Istilah onigiri memiliki asal-usul yang tidak pasti. Seorang koki sushi asal Jepang pernah berkelakar bahwa kata tersebut sebenarnya bukan berasal dari o-nigiri (お握りおにぎり) yang berarti genggaman nasi, melainkan oni-giri (鬼義理おにぎり) atau kewajiban iblis. Lelucon bernada mistis itu sempat membuat merinding, terutama karena sang koki benar-benar memercayainya dan bahkan mendedikasikan sebuah altar kecil untuk Inari, dewa padi, di bar miliknya.

Bagi masyarakat Jepang, penulisan kanji sering kali memegang peran penting dalam memahami arti suatu kata. Fenomena ini terlihat dari kebiasaan orang Jepang yang kerap menggoreskan huruf di udara dengan jari telunjuk mereka untuk memahami makna melalui bentuk karakternya.

Simbol Budaya Kuliner Jepang

umeboshi pickled red plums drying in the sun
Source: tamakisono

Meskipun ada banyak panduan di internet mengenai cara membuat nasi kepal ini mulai dari pemilihan beras hingga teknik membungkus dengan nori, catatan sejarah mengenai asal-usul onigiri sebenarnya cukup terbatas. Dokumen sejarah mencatat bahwa para samurai mengonsumsi onigiri sebagai bekal praktis di medan perang pada abad ke-17. Bahkan, literatur dari abad ke-11 telah menyebutkan kebiasaan membawa bola nasi untuk kegiatan piknik.

“Nasi kepal untuk para pengikut disiapkan di taman.” Catatan dari The Diary of Lady Murasaki (sekitar 973–1020)

Ada pula yang menyebut onigiri sebagai makanan cepat saji pertama di Jepang. Dengan membelah sebuah onigiri menggunakan pisau saku, isinya yang berupa umeboshi (plum asin) dan nasi putih sekilas menyerupai lambang matahari terbit di tengah kelopak bunga sakura, atau yang dikenal sebagai Hinomaru.

Perkembangan Menuju Bentuk Modern

very fancy japanese room hotel house
Source: tanaka_juuyoh
  • Periode Yayoi (300 SM hingga Masehi 250): Pengenalan Chimaki, yaitu beras ketan yang dibungkus daun bambu dari daratan utama Asia.
  • Periode Kofun hingga Asuka (250 hingga 710): Beras ketan mendominasi pola makan masyarakat.
  • Periode Nara (710 hingga 794): Sebelum penggunaan sumpit, bentuk bola dari nasi ketan semakin populer.
  • Periode Heian (794 hingga 1185): Munculnya Tonjiki, yaitu beras ketan yang dibentuk menjadi ukuran camilan praktis.
  • Periode Muromachi (1337 hingga 1573): Masuknya tembikar keras dari Korea serta peralihan dari beras ketan ke beras Japonica sebagai makanan pokok utama, disertai penggunaan nori sebagai pembungkus.

Kepopuleran beras Japonica terus meningkat sejak saat itu. Namun, bentuk segitiga ikonik yang dikenal luas saat ini baru benar-benar dipopulerkan secara massal pada tahun 1980-an berkat ditemukannya mesin pencetak nasi kepal otomatis.

Pandangan Para Sejarawan Kuliner

woman standing outside japanese food onigiri stand
Source: wordridden

Sebagian sejarawan makanan berpendapat bahwa hidangan Jumuk Bap dari Korea mungkin lebih dulu ada dibandingkan bentuk nasi kepal lainnya. Di sisi lain, klaim dari Tiongkok sering kali diragukan karena catatan sejarah menunjukkan keengganan mereka memakan nasi dingin selama beberapa abad sebelum kemunculan onigiri.

Kendati demikian, satu hal yang tidak terbantahkan adalah bahwa onigiri kini menjadi standar global untuk kategori makanan nasi kepal. Berkat ekspansi jaringan waralaba seperti Family Mart di Asia Tenggara, restoran-restoran kecil di Paris, hingga tren kuliner Jepang di dunia Barat, onigiri telah menjadi representasi utama dari inovasi makanan Jepang.

Ikatan Emosional dan Nostalgia

young girls wearing kimonos eating at japanese shop
Source: mujitra

Ketika ditanya mengenai apa yang membuat onigiri begitu khas Jepang, kebanyakan orang akan mengaitkannya dengan kenangan masa lalu. Ada yang teringat saat ibunya membawakan bekal onigiri sederhana bergaram ketika darmawisata sekolah, sementara yang lain mengenang momen mendaki Gunung Fuji sambil menikmati bekal buatan anggota keluarga.

Menariknya, rasa dari onigiri tersebut tidak selalu sempurna. Ada kalanya nori menjadi lembap karena menempel terlalu lama atau tekstur nasinya sedikit kering. Namun, kenangan dan emosi yang menyertainya membuat makanan ini memiliki nilai lebih.

Nasi yang Sarat Makna

a crying onigiri

Bagi banyak warga Jepang, onigiri menghadirkan momen ketenangan di tengah kesibukan. Seorang warga pernah menceritakan bagaimana neneknya berjuang mengumpulkan butiran beras selama masa perang hanya untuk membuat satu buah kepalan nasi sebagai sebuah kemewahan yang luar biasa.

Kini, deretan onigiri rapi dengan berbagai varian rasa dapat dengan mudah ditemukan di setiap sudut toko swalayan. Meskipun tidak selalu membelinya, keberadaan makanan sederhana ini senantiasa memberikan rasa nyaman dan kedekatan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *