Sebagai seseorang yang menggemari sejarah Jepang, saya sering kali tidak punya cukup waktu untuk membaca dokumen sumber asli secara mendalam. Beruntung, ada banyak kreator konten yang meringkas kisah-kisah masa lalu dengan sangat menarik. Baru-baru ini, melalui History of Japan Podcast dan kanal YouTube Linfamy, saya mendengarkan pembahasan tentang salah satu makhluk mitologi paling terkenal di Jepang, yaitu Shuten Doji.
Kisah Shuten Doji bukanlah hal baru bagi saya. Dikenal sebagai salah satu dari tiga yokai paling jahat dalam cerita rakyat Jepang, iblis berwujud oni ini bersemayam di Gunung Oe. Terdorong oleh rasa penasaran setelah menyimak ulasan dari dua sumber tersebut, saya memutuskan untuk mengunjungi langsung lokasi nyata yang menjadi latar belakang legenda kuno ini.
Kisah Shuten Doji

Pada masa pemerintahan Emperor Ichijo, ibu kota Heian-kyo diwarnai keresahan akibat banyaknya wanita bangsawan muda yang menghilang secara misterius. Istana kemudian meminta bantuan seorang peramal yang menggunakan teknik Onmyodo untuk melacak pelaku penculikan tersebut. Hasilnya, dalang di balik teror ini adalah raja iblis dari Gunung Oe. Untuk mengatasi ancaman ini, kekaisaran memanggil seorang ksatria legendaris bernama Minamoto-no-Raiko.
Bersama para pengikut setianya yang juga merupakan prajurit tangguh—Watanabe-no-Tsuna, Sakata-no-Kintoki, Urabe-no-Suetake, dan Usui-no-Sadamitsu—Raiko memohon restu para dewa sebelum berangkat. Mereka bahkan mengunjungi beberapa kuil penting di wilayah Kansai, termasuk Iwashimizu Hachimangu di Kyoto.
Untuk menyusup ke wilayah kekuasaan oni, kelompok ini menyamar sebagai pendeta gunung yamabushi. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan tiga pria tua misterius yang ternyata adalah manifestasi para dewa. Orang tua bijak tersebut memberikan petunjuk jalan, memperingatkan mereka tentang Shuten Doji (yang berarti “Iblis Pemabuk”), serta membekali Raiko dengan helm tahan rusak dan sake ajaib.
Setibanya di sarang musuh, kelompok Raiko berhasil menyusup setelah meyakinkan para iblis bahwa mereka adalah pengikut pertapa gunung yang bersahabat dengan kaum ogre. Shuten Doji yang terkesan lalu menjamu mereka dengan daging wanita muda dan sake. Sebagai balasan, Raiko menawarkan sake ajaib pemberian para dewa kepada sang raja iblis dan para pengikutnya.
Sake tersebut membuat Shuten Doji dan para pasukannya mabuk berat hingga jatuh tertidur lepas. Saat itulah Raiko dan pasukannya melepaskan penyamaran, mengenakan helm suci, dan menebas kepala Shuten Doji. Meski telah dipenggal, kepala sang iblis sempat mencoba menyerang balik sebelum akhirnya benar-benar tewas. Setelah menumpas seluruh anak buah Shuten Doji dan menyelamatkan para sandera, Raiko kembali ke Kyoto sebagai pahlawan.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Gunung Oe tergolong cukup menantang. Bagi pelancong yang ingin ke sana, disarankan untuk memulai perjalanan dari Osaka atau Kyoto sejak pagi hari. Anda perlu naik kereta menuju Stasiun Fukuchiyama, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan jalur Kyoto Tango Railway hingga tiba di Stasiun Oe.
Setibanya di Stasiun Oe, Anda harus mencari halte bus kecil di luar stasiun. Bus lokal yang beroperasi berbentuk seperti van kecil dengan jadwal keberangkatan sekitar satu setengah jam sekali. Pastikan untuk mencari papan tujuan bertuliskan karakter Oeyama-no-Ie dengan tarif yang sangat terjangkau.
Atraksi Menarik di Sekitar Gunung Oe

Selain kental dengan nuansa mitologi, kawasan sekitar Gunung Oe juga menawarkan berbagai destinasi menarik untuk dikunjungi:
- Japan Oni Cultural Museum: Museum ini memamerkan berbagai koleksi dan atribut bertema oni. Lokasinya berada di dalam kompleks Oeyama-no-Ie, tepat di sebelah ubin onigawara raksasa berbobot sepuluh ton.
- Motoise Naiku Kotai Shrine: Tempat suci kuno yang konon usianya lebih tua daripada kompleks Ise Jingu yang termasyhur. Kuil ini terletak sekitar 15 menit dari Stasiun Oeyamaguchi Naiku.
- Onitake Inari Shrine: Kuil kecil yang terletak di dataran tinggi Gunung Oe ini menawarkan pemandangan spektakuler berupa “Lautan Awan” yang terbentang di antara lembah.
- Amanohashidate: Salah satu pemandangan alam paling ikonik dan dianggap sebagai tiga pemandangan terindah di Jepang, yang dapat diakses menggunakan Kyoto Tango Railway ke Stasiun Amanohashidate.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya!








