Home / Travel / Menyusuri Kure, Sisi Lain Hiroshima yang Terlupakan

Menyusuri Kure, Sisi Lain Hiroshima yang Terlupakan

An Old Photo of the Yamato Battleship that was Made in Kure
Modern Japanese Self Defense Force ships sit at the dock in Kure, Hiroshima

Ketika membahas pariwisata dan sejarah Jepang, era Perang Dunia II seringkali dilewatkan begitu saja. Walaupun banyak pelancong mendatangi Kubah Bom Atom di Hiroshima, sangat jarang wisatawan yang mencari destinasi lain yang berkaitan dengan masa lalu militer Jepang. Karena berbagai alasan yang cukup rumit, topik sejarah ini seolah menjadi hal yang jarang disentuh. Padahal, menjelajahi tempat-tempat seperti Yushukan di Yasukuni Shrine dapat memberikan perspektif yang berbeda, meski lokasi yang berkaitan dengan Perang Dunia II kerap dianggap sebagai topik yang sensitif.

Sebagai pengecualian, mari mengulas sebuah kota di Prefektur Hiroshima yang jarang sekali masuk dalam buku panduan wisata, yaitu Kure. Terletak di tepi Laut Pedalaman Seto yang indah, kota pelabuhan dan pusat pembuatan kapal ini dulunya merupakan markas besar Distrik Angkatan Laut Kure. Sepanjang Perang Pasifik, kawasan yang kini jarang terekspos ini berfungsi sebagai gudang senjata dan pangkalan angkatan laut terbesar di Jepang. Hingga kini, Kure tetap mempertahankan statusnya sebagai pusat maritim penting yang menaungi berbagai kapal milik Japan Maritime Self-Defense Force.

Secara historis, pencapaian terbesar Kure adalah fasilitas galangan kapalnya yang melahirkan Yamato. Dikenal dalam sejarah sebagai kapal perang berlapis baja paling berat dan bersenjata paling kuat yang pernah dibuat, Yamato adalah raksasa di lautan lepas. Dilengkapi dengan sembilan meriam utama Tipe-94 berukuran 46 cm, kapal ini merepresentasikan komitmen Jepang terhadap kualitas dan kesempurnaan dengan kaliber meriam terbesar yang pernah dipasang di atas kapal perang. Meskipun tenggelam pada April 1945, Yamato dirancang khusus untuk menandingi armada Amerika Serikat yang jauh lebih unggul dalam jumlah.

Sayangnya, sebagian besar warisan fisik Kure musnah akibat amukan perang. Mengingat statusnya sebagai pusat kekuatan angkatan laut Jepang selama Perang Dunia II, tidak heran jika kota ini menjadi sasaran utama pengeboman udara secara berkala. Kendati sisa-sisa pertahanan anti-serangan udara masih bisa ditemukan oleh mereka yang tahu di mana harus mencarinya, sebagian besar wilayah Kure diratakan oleh pesawat pembom berat B-29 Superfortress milik Amerika Serikat. Operasi militer tersebut bahkan dirancang sedemikian rupa untuk menimbulkan kerusakan parah di tengah padatnya populasi setempat.

Bagi para pecinta sejarah militer, sulit untuk menemukan destinasi lain yang lebih krusial terhadap keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II selain Kure. Saat merencanakan kunjungan ke Prefektur Hiroshima, menyempatkan diri mampir ke Kure adalah pilihan yang tepat untuk melengkapi perjalanan setelah mengunjungi Kubah Bom Atom.

Cara Menuju ke Sana

A train passes over a bridge while en route to Kure on the JR Kure Line

Karakter kanji untuk menuliskan nama Kure pada masa lalu memiliki arti harfiah “Sembilan Puncak”. Alasan utama dipilihnya Kure sebagai pusat angkatan laut pada tahun 1889 adalah karena letaknya yang terlindung secara alami dari segala penjuru. Dikelilingi oleh formasi sembilan bukit karang, wilayah daratan Kure sangat sulit untuk diserang musuh, sehingga pihak penyerang dari arah laut harus menghadapi armada angkatan laut Jepang secara langsung.

Kendati demikian, perkembangan teknologi persenjataan seperti pesawat pembom berat B-29 Superfortress membuat pertahanan alami tersebut kehilangan fungsinya. Walaupun dikelilingi oleh gugusan sembilan puncak, akses perjalanan menuju Kure tergolong cukup mudah. Berkat sejarah panjang kehadiran militer di kawasan ini, pemerintah membangun infrastruktur transportasi darat yang mumpuni, di mana banyak jalur kereta api di Jepang memiliki kaitan erat dengan masa lalu kemiliterannya.

Perjalanan dari Stasiun Hiroshima menuju Kure memakan waktu kurang dari satu jam menggunakan JR Kure Line tanpa perlu melakukan transit. Calon penumpang disarankan untuk memeriksa jadwal keberangkatan terlebih dahulu melalui layanan perencana rute seperti Jorudan, mengingat frekuensi kereta di jalur ini tidak sebanyak di pusat kota. Saat ini, populasi Kure tercatat lebih dari 228.000 jiwa, namun atmosfer kotanya tetap terasa tenang dan bernuansa pedesaan.

Yamato Museum di Kure

A 1:10 scale model of Japan’s Yamato battleship at the Yamato Museum in Kure, Hiroshima Prefecture

Saat ini, Kure tampak seperti bayangan dari masa lalunya yang gemilang, karena kota ini tidak pernah sepenuhnya pulih dari kehancuran akibat pengeboman di tahun-tahun akhir Perang Dunia II. Berbeda dengan Yokosuka yang mempertahankan pangkalan militer aktif, Kure memancarkan suasana yang lebih sunyi, seolah masih menyimpan bayang-bayang sejarah pelabuhannya.

Kendati demikian, kota ini memiliki satu daya tarik utama yang wajib dikunjungi, yaitu Kure Maritime Museum, yang lebih dikenal sebagai Yamato Museum. Di dalam museum ini, pengunjung dapat mempelajari sejarah Distrik Angkatan Laut Kure. Sebagian besar koleksinya menyajikan narasi sejarah perang yang cukup mendalam, meski suasananya tidak sekelam pameran di Hiroshima. Pengunjung disarankan untuk menyiapkan mental sebelum mengamati berbagai artefak yang dipamerkan.

Daya tarik utama museum ini adalah replika kapal perang Yamato dengan skala 1:10. Meskipun hanya sepersepuluh dari ukuran aslinya, model ini memiliki panjang mencapai 26,3 meter dan dibuat dengan tingkat detail yang luar biasa tinggi berdasarkan cetak biru, foto, serta dokumentasi bawah air dari kapal aslinya.

Tiket masuk museum ini dibanderol seharga beberapa ratus yen saja. Lokasinya berada tepat di atas area di mana kapal Yamato dahulu diselesaikan. Pengunjung dapat berjalan kaki dalam beberapa menit dari Stasiun Kure atau menggunakan bus kota.

Destinasi Menarik di Sekitar Kure

Bagi pelancong yang menjelajahi wilayah ini, meluangkan waktu untuk mengunjungi Hiroshima City, Miyajima, dan Iwakuni adalah ide yang bagus. Selain itu, terdapat sejumlah pulau kecil di sekitar Kure yang menyimpan reruntuhan peninggalan Perang Dunia II. Kawasan pulau seperti Etajima, dengan desa nelayan tradisional serta sisa-sisa benteng di atas Gunung Hodai, menawarkan pengalaman menarik bagi para peminat sejarah militer.

Bagi yang ingin menikmati suasana di pusat kota Kure, mengunjungi Miyake Honten yang telah berdiri selama 150 tahun patut dipertimbangkan. Pabrik sake ini terkenal dengan produk lokal bernama Sempuku, yang dulunya disukai oleh kalangan angkatan laut karena daya tahannya yang baik di iklim lembap. Di tempat ini, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan sake serta mencicipi berbagai varian produknya.

Jangan lewatkan pula kesempatan untuk mencicipi roti melon khas lokal Kure yang berukuran besar dan diisi dengan krim melimpah. Roti ini dapat ditemukan di berbagai toko di penjuru Kure maupun di gerai oleh-oleh Stasiun Hiroshima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *