Home / Travel / Menyelami Oita, Lebih dari Sekadar Pemandian Air Panas Beppu

Menyelami Oita, Lebih dari Sekadar Pemandian Air Panas Beppu

Tourism Oita at Futago ji

Bagi banyak pelancong, Prefektur Oita di Jepang sering kali identik dengan pemandian air panas atau onsen. Namun, daya tarik wilayah ini jauh lebih luas daripada sekadar sumber air panasnya. Di balik kepopuleran onsen tersebut, tersimpan berbagai kisah sejarah tersembunyi dan narasi budaya yang kaya, terutama di kawasan Semenanjung Kunisaki.

Menjelajahi Oita secara mendalam membutuhkan persiapan khusus, terutama karena beberapa tempat terpencil masih minim fasilitas bagi wisatawan asing maupun dukungan bahasa Inggris. Perjalanan dua hari menyusuri sudut-sudut kurang dikenal di Oita memberikan pengalaman unik yang melampaui jalur pariwisata konvensional.

Mengenal Semenanjung Kunisaki yang Bersejarah

The Kumano Magaibutsu on Oita Prefecture’s Kunisaki Peninsula

Semenanjung Kunisaki terletak di bagian timur laut Oita yang menjorok ke Laut Pedalaman Seto. Kawasan ini dikenal sebagai tempat lahirnya kebudayaan Rokugo Manzan, yaitu perpaduan unik antara ajaran Shinto dan Buddha yang bermula lebih dari 1.300 tahun lalu. Kombinasi antara pendeta Shinto dan biksu Buddha membentuk lanskap budaya yang sangat khas di wilayah pegunungan ini.

Destinasi pertama yang wajib dikunjungi di kawasan ini adalah Kumano Magaibutsu. Situs ini menyimpan pahatan relief batu terbesar di Jepang yang berstatus sebagai Kekayaan Budaya Penting. Relief tersebut menampilkan sosok Fudo Myoo dan Buddha Gautama yang diperkirakan telah ada sejak periode Heian akhir atau periode Kamakura awal. Tangga batu menuju situs ini memiliki cerita rakyat tersendiri tentang seorang oni atau ogre yang konon hampir membangun seratus anak tangga demi memikat penduduk desa.

An artist’s rendition of the oni myth surrounding the Kumano Magaibutsu on the Kunisaki Peninsula

Perjalanan dilanjutkan ke Maki Odo, yang dulunya merupakan kuil terbesar dari sekte Tendai di Semenanjung Kunisaki. Meskipun sebagian besar bangunan aslinya musnah akibat kebakaran besar berabad-abad lalu, gedung penyimpan harta karun modern di kompleks ini masih menyimpan patung kayu Buddha Amida, Fudo Myoo, dan Daiitoku Myoo yang sangat megah dan selamat dari kehancuran.

Statues of the four heavenly kings at Maki Odo on the Kunisaki Peninsula

Kawasan Tennen-ji juga menjadi saksi penting tradisi Rokugo Manzan melalui Festival Shujo Onie yang diadakan setiap bulan Februari. Dalam festival ini, para oni digambarkan sebagai entitas pembawa berkah yang menyebarkan percikan api ke kuil untuk mendoakan kesehatan dan kelimpahan panen bagi warga sekitar.

[[MEDIA_0]]

Masks and other tools related to the Kunisaki Peninsula’s Shujo Onie Festival

Tidak jauh dari sana, terdapat kompleks kuil Futago-ji yang berada di puncak Gunung Futago setinggi 721 meter. Kuil yang berdiri sejak tahun 718 ini dijaga oleh sepasang patung Nio yang megah di gerbang masuknya. Suasana hutan alami di sekitar kuil memberikan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung.

The iconic Nio guardians of Futago-ji on Oita Prefecture Kunisaki Peninsula

Titik penutup di Semenanjung Kunisaki adalah Monjusen-ji, kuil tertua dalam tradisi Rokugo Manzan yang berlokasi di tebing curam. Letak geografis Semenanjung Kunisaki yang berada di jalur pelayaran menuju Tiongkok pada masa lampau menjadikan wilayah ini sebagai garda terdepan dalam menyerap dan mengembangkan ajaran agama Buddha esoteris.

A bunch of stone Buddhas at Monjusen-ji on Oita Prefecture’s Kunisaki Peninsula

Menjelajahi Keindahan Geopark Bungo-Ono

A stone lantern in the middle of one of Bungo-Ono’s rice fields in Oita Prefecture

Memasuki hari kedua, perjalanan berlanjut ke arah selatan menuju wilayah pedesaan Bungo-Ono. Kawasan ini terkenal dengan lanskap geopark yang terbentuk dari aktivitas vulkanik purba. Letusan gunung berapi di masa lalu menghasilkan batuan lunak yang kemudian dimanfaatkan oleh para perajin lokal untuk memahat berbagai patung Buddha, termasuk Fuko-ji Magaibutsu yang memiliki tinggi lebih dari 11 meter.

Selain situs batu bersejarah, Bungo-Ono juga memiliki Air Terjun Harajiri yang sering dijuluki sebagai Air Terjun Niagara versi Jepang. Keindahan alam ini berpadu dengan kuliner lokal yang menyajikan sayuran segar di kafe-kafe sekitar kawasan tersebut.

A lunch plate at the Vege Café Ms in Oita Prefecture Bungo-Ono area

Pesona Patung Buddha Batu Usuki

The ancient Usuki Stone Buddhas in Oita Prefecture

Destinasi terakhir dalam rangkaian perjalanan ini adalah Usuki, rumah bagi kumpulan patung Buddha batu yang dipahat dari abu vulkanik mengeras pada periode Heian. Berbeda dengan pahatan relief di tempat lain, struktur batuan di Usuki memungkinkan para pemahat menciptakan bentuk tiga dimensi yang lebih hidup.

Sebanyak 59 patung di kompleks ini telah ditetapkan sebagai harta karun nasional Jepang pada tahun 1995. Detail ukiran yang perlahan dimakan usia memberikan kesan mendalam mengenai kefanaan hidup. Suasana di sekitar kawasan ini semakin syahdu apabila dikunjungi saat hari hujan, di mana warna asli pada batuan pahatan tampak lebih jelas.

Rental bikes at Usuki’s tourism information center in Oita Prefecture

Bagi pelancong yang ingin mencari pengalaman spiritual dan sejarah mendalam di luar jalur wisata umum, Oita menawarkan kekayaan narasi yang luar biasa dan patut untuk dieksplorasi secara lebih dekat.

Sleeping Snorlax e1692007390806

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *