Home / Travel / Menjelajah Amanohashidate dan Ine, Pesona “Kyoto di Pinggir Laut

Menjelajah Amanohashidate dan Ine, Pesona “Kyoto di Pinggir Laut

The Sandbar of Kyotos Amanohashidate e1691812653392

Bagi sebagian besar pelancong, Kyoto identik dengan kuil-kuil kuno, jalanan tradisional, dan suasana spiritual yang megah. Namun, prefektur ini menyimpan sisi lain yang jarang dijamah wisatawan internasional, terletak jauh di sepanjang pesisir Laut Jepang. Wilayah yang sering disebut sebagai “Kyoto by the Sea” ini menawarkan permata tersembunyi yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, dengan Amanohashidate dan desa nelayan Ine sebagai dua daya tarik utamanya.

Meskipun popularitas kawasan ini mulai merangkak naik berkat media sosial, lokasinya tetap membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Dari Stasiun Kyoto, waktu yang diperlukan untuk mencapai Amanohashidate hampir sama dengan perjalanan kereta Shinkansen dari Tokyo menuju Kyoto. Jarak yang membentang dari kawasan perkotaan ini membuat wilayah pesisir tersebut bebas dari dampak buruk pariwisata berlebihan, sehingga keaslian pesonanya masih terjaga dengan sangat baik.

Cara Menuju ke Sana

A train in Japan leaves Kyoto for Miyazu and Ama no Hashidate

Untuk menjelajahi “Kyoto by the Sea” dari Stasiun Kyoto, moda transportasi yang paling diandalkan adalah kereta limited express Hashidate. Durasi perjalanan memakan waktu sedikit lebih dari dua jam. Kursi di baris paling depan dan belakang pada kereta ini dilengkapi dengan colokan listrik bagi penumpang yang membutuhkannya.

Setibanya di Stasiun Amanohashidate, cara paling efisien untuk berkeliling adalah dengan menyewa sepeda seharga sekitar 500 yen yang tersedia dari berbagai penyedia jasa. Opsi kendaraan roda empat atau mobil sewaan juga tersedia bagi wisatawan yang menginginkan kenyamanan lebih.

Kunjungan ke Amanohashidate sebenarnya dapat dilakukan sebagai perjalanan sehari penuh, namun menyambangi desa Ine akan membutuhkan waktu menginap setidaknya satu malam. Pilihan akomodasi seperti hotel dan ryokan tersedia di sekitar kawasan tersebut. Mengingat sebagian besar fasilitas tutup lebih awal pada pukul 17.00 sore, disarankan untuk menikmati makan malam terlebih dahulu di kota atau membawa bekal ekiben sebelum menaiki kereta terakhir menuju utara.

Amanohashidate

A woman looks at Ama no Hashidate through her legs during a visit to Amanohashidate View Land

Nama Amanohashidate merujuk pada gundukan pasir sepanjang 3,3 kilometer yang ditumbuhi ribuan pohon pinus dan membelah Teluk Miyazu. Lanskap alam ini diakui sebagai salah satu dari tiga pemandangan terindah di Jepang. Jembatan darat ini secara harfiah diartikan sebagai jembatan yang menghubungkan antara surga dan bumi.

Wisatawan dapat berjalan kaki melintasi gundukan pasir ini dalam waktu sekitar 45 menit, atau memanfaatkan sepeda sewaan untuk perjalanan yang lebih cepat sambil menikmati keindahan pantai berpasir putih dan sekitar 8.000 pohon pinus. Untuk menikmati panorama terbaik dari ketinggian, pengunjung dapat menaiki kereta gantung atau kursi gantung menuju area pegunungan di sisi utara maupun selatan.

Sisi selatan kawasan ini menjadi rumah bagi Amanohashidate View Land, sebuah taman hiburan kecil yang dilengkapi berbagai wahana seperti bianglala dan go-kart. Tradisi unik yang wajib dicoba saat menikmati pemandangan di sini adalah matanozoki, yaitu melihat panorama gundukan pasir dengan posisi membungkuk dan melihatnya di antara kedua kaki. Konon, lanskap tersebut akan menyerupai seekor naga yang sedang terbang di langit.

The site of the Chionji temple complex is just a minute walk from the hotel I stayed at.

Selain gundukan pasir yang ikonik, beberapa situs menarik di sekitar area ini meliputi:

  • Chion-ji: Kompleks kuil di ujung selatan Amanohashidate yang didedikasikan untuk dewa kebijaksanaan Buddha, lengkap dengan ukiran detail menggambarkan neraka versi tradisi Jepang.
  • Motoise Kono Shrine: Tempat suci bersejarah di sisi utara yang dulunya memuja dewi matahari Amaterasu sebelum dipindahkan ke Ise Jingu.
  • Nariai-ji: Kuil yang terletak jauh di dalam pegunungan seberang teluk, dapat diakses menggunakan kombinasi kereta gantung dan bus lokal.

Desa Nelayan Ine

A view of one a funaya hotel in the fishing village of Ine in the Tango region of Kyoto

Perjalanan di wilayah pesisir ini kurang lengkap tanpa singgah di dusun nelayan Ine. Untuk mencapainya, pengunjung dapat naik bus dari Stasiun Amanohashidate menuju kawasan perkampungan nelayan tersebut dengan durasi kurang dari satu jam.

Daya tarik utama Ine adalah keberadaan sekitar 230 bangunan tradisional bernama funaya atau rumah perahu. Bangunan dua lantai ini memiliki lantai dasar terbuka yang berfungsi langsung sebagai garasi untuk menyimpan kapal nelayan. Sebagian besar bangunan ini masih dihuni oleh para nelayan lokal yang aktif bekerja.

Letak geografis teluk Ine yang menghadap ke selatan serta dilindungi oleh Pulau Aoshima di dekat mulut teluk membuat perairan di sekitarnya sangat tenang dan terlindung dari terjangan ombak besar selama berabad-abad. Suasana otentik dan lambat di desa ini menawarkan pengalaman khas yang sulit ditemukan di destinasi wisata mainstream lainnya di Jepang.

Atraksi Menarik Lainnya

A view of the Miyazu region’s Mt. Oe during July feels like heaven

Paling tidak, alokasikan waktu sekitar satu setengah hari untuk mengeksplorasi Amanohashidate dan Ine secara menyeluruh. Bagi para penggemar mitologi maupun sejarah militer, terdapat beberapa lokasi tambahan di sekitar wilayah ini yang patut dimasukkan ke dalam daftar kunjungan:

  • Gunung Oe & Shuten Doji: Gunung yang diasosiasikan dengan legenda Shuten Doji, salah satu yokai paling terkenal dalam mitologi Jepang yang konon pernah meneror Kyoto dari istananya di puncak gunung ini. Museum Kebudayaan Oni Jepang menjadi salah satu titik singgah menarik di kawasan ini.
  • Kota Maizuru: Terletak di sebelah timur Amanohashidate, kota pelabuhan ini memegang peranan strategis bagi angkatan laut kekaisaran selama Perang Dunia II. Saat ini, daya tarik utama Maizuru adalah deretan bangunan bata merah bersejarah yang tertata rapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *