Home / Travel / Mengenal Daikon: Bagaimana Umbi Jepang Ini Menyelamatkan Hidup Saya

Mengenal Daikon: Bagaimana Umbi Jepang Ini Menyelamatkan Hidup Saya

A Japanese Farmer in a Daikon Field

Daikon, atau yang secara internasional dikenal sebagai daikon radish, adalah jenis lobak musim dingin dengan rasa yang ringan. Sayuran akar ini awalnya berasal dari wilayah Tiongkok bagian utara dan kini sangat populer di berbagai negara Asia, bahkan sering disebut menggunakan nama Jepangnya. Bagi penulis artikel ini, umbi asal Asia tersebut menyimpan ikatan personal yang cukup unik.

Kisah mengenai bagaimana daikon menyelamatkan hidup sang penulis bermula dari kecintaannya yang mendalam terhadap Jepang. Rasa kagum dan suka cita terhadap negara ini begitu besar, hingga ia merasa terusik manakala ada kalangan ekspatriat lain yang melontarkan kritik terhadap Jepang.

Dulu, ia sempat merasa sendirian karena memiliki kecintaan yang begitu kuat pada Jepang, sementara banyak orang asing lain justru mengalami pengalaman kurang menyenangkan. Ia meyakini bahwa seseorang cenderung menemukan apa yang ingin mereka lihat dalam hidup. Meskipun Jepang memiliki beberapa kekurangan kecil, sisi positif dari negara tersebut jauh lebih mendominasi.

Melalui pertemanannya dengan sesama blogger bernama Cheesie, ia akhirnya menemukan cara untuk memvisualisasikan kecintaannya pada Jepang melalui metafora daikon. Perumpamaan ini memberikan kerangka yang jelas bagi perasaannya yang sebelumnya sulit digambarkan secara abstrak.

Ketika pandemi membuat Jepang menutup perbatasannya, simbol daikon menjadi sandaran emosional yang sangat berarti. Ibarat seorang prajurit yang mengenang orang terkasih lewat foto di dalam lokan, alegori daikon membantunya mengingat kembali tujuan dan hal yang diperjuangkannya.

An old Japanese farmer holds a daikon in her hand while smiling at the camera

Bayangan tentang seorang wanita paruh baya yang bekerja keras di ladang demi menghasilkan daikon berkualitas memberikan keberanian tersendiri untuk terus melangkah di tengah masa-masa sulit akibat pandemi. Bagi penulis, daikon telah menjadi penopang mental yang krusial sepanjang tahun 2020.

Simbol tersebut turut membantu mengalihkan prioritasnya, dari yang semula berfokus pada pariwisata inbound menjadi misi yang lebih besar untuk mendukung Jepang secara langsung. Selama perjalanan internasional belum pulih, ia mendedikasikan tenaga untuk membantu kemajuan Negeri Sakura.

Saat ini, fokus utamanya adalah membantu wilayah pedesaan agar mampu bertransformasi ke ranah digital. Pandemi membuat adaptasi digital menjadi sebuah keharusan bagi para perajin lokal yang sebelumnya kesulitan memasarkan produk secara daring. Sebagai pemasar digital lepas, ia berkeinginan membantu bisnis-bisnis lokal tersebut membangun pemasaran e-commerce agar dapat berkembang secara profesional.

Bagi siapa saja yang ingin berbagi kekaguman terhadap Jepang, penulis mengajak untuk mengikuti akun media sosial mereka guna terus merawat kecintaan pada dunia pariwisata dan kebudayaan Jepang di masa-masa penuh tantangan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *