Bagi siapa saja yang mengikuti perjalanan saya di media sosial, tentu tahu bahwa saya sangat menyukai kawasan Shonan, khususnya Kamakura. Selama musim panas lalu, saya sering mengunjungi wilayah ini untuk mencari bahan konten. Tanpa diduga, saya menemukan sebuah lokasi yang jauh melampaui ekspektasi saya, yaitu Kuil Hase-dera. Kuil ini terletak di kawasan Hase, hanya berjalan kaki sebentar dari Teluk Sagami dan Pantai Yuigahama, di lereng bukit bagian barat Kamakura yang juga menjadi lokasi patung Buddha Besar.
Hase-dera sangat terkenal dengan bunga hydrangea yang mekar setiap bulan Mei dan Juni saat musim hujan di Jepang. Kendati demikian, karena popularitasnya yang sangat tinggi, antrean untuk masuk ke kompleks kuil bisa memakan waktu hingga dua jam. Hal ini, ditambah lokasinya yang berada di jalur utama wisatawan, sempat membuat saya enggan berkunjung sebelumnya. Namun, seperti halnya saat saya melihat patung Buddha raksasa di Kamakura, keramaian tersebut terkadang sedikit mengurangi nuansa spiritual kuil. Pada puncak musim Mekar, jalur hydrangea di lereng bukit bahkan memerlukan tiket bernomor khusus di luar tiket masuk reguler, sehingga ada baiknya memeriksa situs resmi mereka sebelum memutuskan berkunjung di akhir pekan yang basah.
Jujur saja, awalnya saya sempat mengabaikan kuil ini setelah melihat bus-bus turis berdatangan ke area parkir Hase-dera dan posisinya yang masuk dalam itinerary standar Kamakura. Namun, ketika saya tanpa sengaja melangkah ke sana pada suatu pagi Minggu yang berawan, saya justru dikejutkan oleh keindahan tersembunyi di balik gerbangnya yang sederhana. Saya sangat menyarankan Anda untuk mengunjungi Hase-dera, tetapi usahakan untuk menghindari jam-jam padat di tengah hari jika memungkinkan.
Cara Menuju ke Sana

Hase-dera terletak di bagian barat daya Kamakura dan menyatu secara alami di perbukitan lembah ibu kota kuno tersebut. Cara paling mudah untuk mencapai Kamakura adalah dengan menggunakan Jalur JR Yokosuka dari Stasiun Tokyo, Shimbashi, atau Shinagawa. Jika Anda tidak menginap di dekat jalur lingkar Yamanote, disarankan untuk merencanakan rute terbaik terlebih dahulu. Sesampainya di Stasiun Kamakura, pengunjung dapat berjalan kaki ke arah barat menuju Hase-dera atau naik kereta vintage Enoden menuju Stasiun Hase, lalu melanjutkan jalan kaki sekitar lima menit ke gerbang kuil.
Rute favorit saya menuju Kuil Hase melibatkan sedikit jalan kaki dan jalan memutar; pertama, singgah di Kuil Sasuke Inari lalu dilanjutkan ke Zeniarai Benten. Saya amat merekomendasikan kedua tempat ini bagi para pelancong! Setelah puas menjelajahi dua lokasi tersebut, sebuah jalan setapak di bagian belakang akan membawa Anda langsung ke area Daibutsu di Kotoku-in. Dari sana, Anda bisa berjalan menuju Hase-dera sambil menikmati kuliner lokal spesial Shirasu-don di sepanjang perjalanan.
Kawasan kuil ini mulai dibuka setiap hari pada pukul 08.00 pagi, yang ditandai dengan pemukulan lonceng kuil di gerbang. Dari bulan Juli hingga Maret, area ini tutup pada pukul 17.00 dengan batas masuk terakhir pukul 16.30; sedangkan dari bulan April hingga Juni tutup pada pukul 17.30 dengan batas masuk pukul 17.00. Mulailah perjalanan Anda lebih awal karena tangga dan gua-gua di dalam kompleks kuil akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan pada peta.
Kuil Penuh Belas Kasih

Legenda setempat menyebutkan bahwa Hase-dera didirikan lebih dari 1.200 tahun yang lalu, meskipun catatan resmi kuil mencatat pendiriannya berlangsung pada periode Kamakura (1185–1333). Saat ini, Hase-dera merupakan bagian dari sekte Buddha Jodo dan terkenal dengan patung Kannon kayu setinggi 9,18 meter. Dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Guanyin dan dalam bahasa Sanskerta sebagai Avalokitesvara, Kannon adalah bodhisatwa yang melambangkan welas asih dan belas kasihan. Patung tersebut disimpan di aula utama kuil yang terletak di teras lereng tengah sebelah barat Kamakura. Dari teras inilah pengunjung dapat menikmati pemandangan Teluk Sagami dan lembah Kamakura yang luar biasa menakjubkan.
Tiket masuk kawasan Hase-dera seharga 400 yen untuk dewasa dan 200 yen untuk anak-anak usia enam hingga 11 tahun. Pihak kuil telah menyediakan mesin tiket elektronik di luar gerbang utama untuk memperlancar proses masuk pengunjung. Meskipun mesin-mesin tersebut tampak kontras dengan bangunan tradisional, kehadirannya sangat membantu para biksu dan terbukti sangat efektif saat musim hujan ketika ribuan wisatawan memadati kuil. Di samping aula utama, terdapat Museum Kannon dengan tiket masuk terpisah seharga 500 yen bagi pengunjung yang ingin melihat berbagai artefak kuno.
Begitu memasuki area kuil, Anda akan disambut oleh kolam-kolam yang indah serta jalur setapak yang tertata rapi. Kompleks Hase-dera membentang dari kolam di bagian bawah melewati Jizo-do hingga teras Kannon-do di lereng bukit.
Gua di Hase-dera

Kawasan Shonan di Kamakura dan Enoshima memiliki hubungan erat dengan Benzaiten, dewi segala hal yang mengalir seperti air, waktu, kata-kata, kefasihan, musik, dan pengetahuan. Tak heran jika saya menemukan situs suci yang didedikasikan untuk sang dewi di Hase-dera.
Mirip dengan gua-gua legendaris di Enoshima, situs pemujaan Benzaiten di Hase-dera dipahat langsung ke dalam tebing gunung. Dikenal dengan nama Benten-kutsu, gua ini terletak di sisi paling utara kompleks kuil, tepat di belakang Benten-do, aula kecil yang didedikasikan untuk Benzaiten. Berdasarkan catatan sejarah, gua ini berkaitan dengan praktik meditasi Kobo Daishi, di mana pengunjung dapat meninggalkan patung kecil Hono Benzaiten beserta catatan harapan di ruang terakhir.
Setelah melewati gerbang torii di pintu masuk gua, pengunjung akan disambut oleh ukiran dinding yang menggambarkan sosok Benzaiten bersama enam belas anak. Konon, gua-gua ini dipahat oleh para pendiri Hase-dera di masa lampau. Perlu diingat bahwa langit-langit gua terkadang cukup rendah, sehingga pengunjung yang bertubuh tinggi harus berjalan dengan membungkuk.
Doa untuk Jiwa yang Hilang

Di tengah perjalanan menaiki tangga menuju aula utama, terdapat sebuah area bernama Aula Jizo-do. Tempat suci ini didedikasikan untuk Jizo, pelindung para anak. Diperkirakan lebih dari 50.000 patung Jizo telah disumbangkan ke Hase-dera sejak akhir Perang Dunia II. Mengingat reinkarnasi adalah prinsip utama dalam agama Buddha, para orang tua yang mengalami keguguran atau kehilangan anak sering kali mendonasikan patung Jizo agar anak mereka mendapatkan jalan yang aman menuju kehidupan berikutnya. Setiap patung kecil biasanya dibiarkan berada di tempatnya selama kurang lebih satu tahun, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus mengharukan.
Aula Utama Hase-dera

Melangkah lebih tinggi menaiki tangga, Anda akan tiba di teras tempat aula utama Hase-dera berdiri. Di sisi paling kanan area ini terdapat Menara Lonceng Shoro. Tradisi setempat mengharuskan lonceng raksasa ini dibunyikan sebanyak 108 kali pada malam Tahun Baru guna menghapus 108 penderitaan umat manusia. Tepat di sebelah menara lonceng terdapat aula Kannon-do dan Amida-do. Aula pertama menyimpan patung kayu Kannon setinggi 9,18 meter yang merupakan salah satu patung Buddha kayu terbesar di Jepang.
Kisah asal-usul patung ini masih dilestarikan oleh pihak kuil hingga hari ini. Pada tahun 721, seorang biksu bernama Tokudo Shonin dikabarkan menemukan pohon kamper di dekat Hase, Nara, yang cukup besar untuk dibuat menjadi dua patung Kannon bermuka sebelas. Patung yang lebih kecil tetap berada di Hase-dera di Nara, sementara patung yang lebih besar dilarungkan ke laut dengan doa agar terdampar di tempat yang membutuhkan pertolongan. Lima belas tahun kemudian, pada malam 18 Juni 736, patung tersebut terdampar di Pantai Nagai di Semenanjung Miura memancarkan cahaya, dan kuil Kamakura pun dibangun untuk menaunginya.

Di samping Kannon-do, terdapat museum yang memamerkan berbagai koleksi barang antik serta materi tentang sang Dewi Welas Asih. Sementara itu, di sebelah kanan aula Kannon, pengunjung dapat melihat patung emas Amida di Aula Amida-do yang dikaitkan dengan Minamoto no Yoritomo selaku shogun pertama Kamakura sebagai pelindung dari marabahaya.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Kuil

Setelah puas menjelajahi teras Kannon, Hase-dera masih memiliki beberapa sudut menarik lain untuk dikunjungi. Titik pengamatan dan jalur pejalan kaki di sini menawarkan pemandangan indah ke arah Teluk Sagami dan kawasan Yuigahama. Jika Anda merasa lapar, terdapat restoran berlayanan penuh bernama Kaikoan yang menyuguhkan pemandangan spektakuler serupa. Tempat ini sangat ideal sekadar untuk menikmati secangkir teh atau kopi sambil menikmati panorama alam, dan beroperasi dari pukul 10.00 hingga 16.00.
Terakhir, terdapat sebuah bangunan bernama Kyozo yang terletak di dekat restoran. Di dalam struktur kayu ini terdapat rak buku berputar yang disebut Rinzo, tempat penyimpanan sutra-sutra suci Buddha. Konon, memutar rak rinzo ini diyakini memberikan pahala yang sama besarnya dengan membaca seluruh isi sutra tersebut. Dari teras ini, Anda bisa berjalan turun kembali melalui lereng bukit menuju Stasiun Hase atau melanjutkan perjalanan ke pantai.








