Home / Travel / Layak Mendapatkan Matahari: Evolusi Komitmen Saya pada Jepang

Layak Mendapatkan Matahari: Evolusi Komitmen Saya pada Jepang

Sunset Over Mt. Fuji

“The only way out is through…”

— Jordan B. Peterson

Merenungkan perjalanan waktu yang terasa berjalan begitu cepat, tiba-tiba tanggal 21 November kembali menjelang, menandai bertambahnya usia satu tahun lagi. Rasanya baru kemarin tahun berganti, namun dalam kenyataannya, kesibukan harian membuat waktu seolah berhenti di tempat sejak tanggal yang sama di tahun sebelumnya, bagaikan siklus tanpa akhir yang melelahkan.

Sudah menjadi tradisi tahunan untuk menggunakan momen ulang tahun sebagai waktu kontemplasi diri, mengevaluasi sejauh mana langkah kaki telah sejalan dengan misi hidup. Walaupun 365 hari terakhir menjadi masa pembelajaran yang sangat berharga dalam memperdalam keahlian pemasaran digital bersama para ahli terkemuka, kemajuan yang tampak secara kasatmata pada hal-hal yang paling esensial, diakui atau tidak, masih sangat minim.

Terjebak dalam pusaran kesibukan bisnis tanpa arah dan tujuan yang benar-benar tajam—selain dorongan samar untuk mendedikasikan diri bagi Jepang—membuat ruang untuk berpikir jernih menjadi sangat terbatas. Menangani berbagai proyek secara bersamaan menuntut konsentrasi tingkat tinggi layaknya menggunakan Sharingan, dan tanpa komitmen kuat untuk memberikan nilai terbaik kepada setiap klien, fondasi kerja ini tentu sudah runtuh sejak lama.

Bagaikan Meja Berkaki Satu

The main approach to Ominesan-ji on Nara Prefecture’s sacred Mt. Omine. In June 2024, Donny Kimball did spiritual training here as a way of getting back to nature and back to his true self.

Meskipun tingkat efektivitas kerja terbilang tinggi, arah pergerakan jangka panjang terasa kabur. Menyadari bahwa kesibukan sebagai seorang workaholic tidak akan membawa pencapaian ke tingkat berikutnya, refleksi selama menjalani tempaan spiritual di Gunung Omine di Prefektur Nara menyadarkan suatu hal penting: diri ini telah berubah menjadi seperti meja berkaki satu, rapuh dan tidak memiliki stabilitas untuk menopang beban yang lebih berat.

Sebagai salah satu pengelola iklan digital terkemuka di Jepang, kapasitas fisik memiliki batasan. Untuk melangkah lebih jauh, langkah demi langkah harus ditarik ke belakang demi menciptakan ruang keleluasaan hidup. Selama ini, kebutuhan dasar seperti istirahat yang cukup, olahraga, dan pola makan sehat sering kali dikorbankan demi menuruti dalih kesibukan kerja.

Dengan durasi kerja harian mencapai 14 hingga 16 jam yang dihabiskan untuk rapat klien, perjalanan, penulisan artikel, hingga pemantauan akun iklan, batas maksimal kapasitas waktu telah tercapai. Peningkatan dampak positif, khususnya bagi Jepang, mustahil terwujud jika hanya mengandalkan penambahan jam kerja. Satu-satunya jalan keluar adalah menerapkan prinsip Pareto, menyisihkan hal-hal kecil yang kurang bermakna demi fokus pada prioritas utama.

Proses penataan ulang hidup ini masih terus berjalan. Kebiasaan mengagungkan kesibukan harus dihentikan, sementara perhatian terhadap kesehatan fisik perlu dikembalikan sebagai prioritas utama agar efisiensi kerja tercapai tanpa harus terus-menerus merasa kelelahan.

Bisikan di Gunung Inari

Unbeknownst to many foreign tourists to Japan, Kyoto’s famed Fushimi Inari Taisha is actually open 24 hours a day. In a stark contrast to the daytime, there are hardly any other people there during the evening hours.

Kenangan kembali terbang ke masa pandemi, ketika duduk seorang diri di keheningan malam puncak Gunung Inari di tengah deretan gerbang torii. Di bawah sana, kota Kyoto tampak tenang tanpa kehadiran wisatawan akibat pembatasan. Di tengah keheningan itu, sebuah kalimat terlintas di dalam benak: “Jadilah sosok yang pantas bagi Jepang yang begitu kamu cintai.”

Dalam ajaran Mikkyo atau Buddha Esoterik Jepang, terdapat keyakinan bahwa seseorang dapat melampaui siklus karma dalam satu masa hidup melalui latihan spiritual yang mendalam. Sejak malam di Fushimi Inari Taisha tersebut, gagasan mengenai kelayakan diri untuk berada di Jepang terus membekas dalam pikiran. Perasaan kagum yang mendalam terhadap keindahan budaya dan masyarakat Jepang memunculkan tekad untuk bekerja sebaik mungkin di segala bidang, dengan harapan suatu hari nanti dapat meninggalkan warisan karma yang selaras dengan keagungan negeri ini.

Namun, rutinitas harian yang padat sempat menggeser perenungan tersebut ke latar belakang pikiran. Permintaan proyek dari berbagai pihak, kebutuhan pemasaran klien, hingga jadwal konten pribadi membuat peta jalan menuju pencapaian tujuan besar tersebut terabaikan, hingga akhirnya inspirasi kembali datang melalui pemikiran Dr. Peter Attia dalam buku Outlive mengenai kerangka kerja fisik jangka panjang yang disebut Centenarian Decathlon.

Fajar Baru di Usia yang Baru

The sun rises through Kamiiso-no-Torii of Oarai Isosaki Shrine in Ibaraki Prefecture on the first day of a new year. Many Japanese people like to visit this shrine for their Hatsumode as a way to ring in the new year.

Menyongsong usia ke-39, pendekatan terhadap misi hidup mengalami pergeseran menjadi jauh lebih holistik. Fokus tidak lagi sekadar mengejar volume pekerjaan semata, melainkan menyeimbangkan aspek kesehatan, kreativitas yang bermakna, serta keahlian pemasaran digital secara proporsional.

Komitmen baru ini menuntut keberanian untuk lebih tegas memprioritaskan kebutuhan pribadi, berani menolak proyek yang tidak sejalan dengan visi utama, serta menjadikan waktu istirahat dan kebugaran tubuh sebagai hal yang tidak bisa ditawar. Pengorbanan masa lalu tidak disesali, tetapi evolusi diri menuju dekade berikutnya memerlukan fondasi yang jauh lebih kokoh agar mampu menopang target-target yang lebih tinggi.

Menurunkan ego dari predikat seorang workaholic tentu membutuhkan kerendahan hati. Walaupun demikian, transformasi diri untuk menjadi pribadi yang benar-benar selaras dan layak bagi Jepang jauh lebih penting daripada sekadar bekerja keras tanpa arah yang jelas. Perjalanan ini masih panjang, dan langkah ke depan harus terus dilalui dengan kesadaran penuh.

Sampai jumpa pada tulisan berikutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *