Suatu ketika di bulan Juli saat pelaksanaan kegiatan rutin Baemeshi—sebuah perusahaan media yang saya dirikan bersama mantan atasan saya dari Kyodo PR yang kini menjabat sebagai ketua—ia menceritakan pengalamannya berziarah ke Ono Terusaki Shrine di Tokyo. Karena merasa penasaran, saya menanyakan apa daya tarik tempat yang tergolong jarang disorot tersebut hingga layak dikunjungi. Dengan antusiasme yang biasanya hanya ia tunjukkan saat membahas kuliner yang estetik untuk Instagram, ia menjelaskan bahwa kuil Shinto ini menyimpan sebuah rahasia unik.
Kisah ini merupakan bagian ke-15 dari seri artikel bertajuk Backyard Tourism. Proyek yang bermula pada musim panas 2019 ini bertujuan untuk membuktikan bahwa hampir setiap sudut di Jepang memiliki potensi wisata yang menarik jika kisahnya digali dengan baik. Selama perjalanan saya melintasi berbagai wilayah di negara ini, saya belum pernah menemukan satu pun lokasi yang mengecewakan.
Lantas, apa yang membuat Ono Terusaki Shrine patut untuk disambangi? Kompleks suci berukuran kecil ini berkaitan dengan legenda unik seputar tradisi melepaskan atau berpantang makanan tertentu. Konon, seorang penyair dan sarjana terkemuka dari zaman Heian (794–1185) bernama Ono-no-Takamura, yang disemayamkan di kuil tersebut, kerap menjalani puasa atau berpantang makan demi meningkatkan kemampuan spiritualnya. Berkat keahliannya dalam berkomunikasi dengan alam gaib, kebiasaan berpuasa ini melekat erat dengan tradisi mempersembahkan pantangan makanan di kuil ini.
Berdasarkan cerita dari ketua Kyodo PR tersebut, banyak pengunjung datang ke kuil ini untuk berdoa sambil berikrar meninggalkan konsumsi jenis makanan tertentu. Semasa hidupnya, Ono-no-Takamura dikabarkan menghindari terong karena dianggap memiliki efek mendinginkan yang dapat menurunkan energi atau semangat hidup. Oleh karena itu, para peziarah kerap mengikuti jejak tersebut dengan melepaskan suatu hal sebagai bentuk devosi dan disiplin spiritual.

Selain dikenal sebagai tempat spiritual bagi mereka yang ingin berpantang makanan—bahkan termasuk bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok—Ono Terusaki Shrine juga terkenal dengan buku cap goshuin yang sangat indah. Bagi para pelancong yang gemar mengoleksi cap kuil selama berkeliling Jepang, merogoh kocek beberapa ratus yen di sini akan membuahkan hasil sebuah buku suci berdesain memukau.
Sebelum membahas aspek logistik perjalanan, perlu dicatat bahwa saya tidak mewajibkan pembaca untuk harus mendatangi tempat ini. Tujuan utama dari tulisan ini adalah menyoroti potensi tersembunyi yang dimiliki berbagai destinasi di Jepang. Jadi, silakan mampir jika Anda merasa perlu melakukan ritual pantangan, namun jangan merasa tertekan jika Anda lebih memilih mengunjungi objek wisata arus utama di Tokyo.
Cara Menuju ke Sana

Akses menuju Ono Terusaki Shrine tergolong sangat praktis. Anda cukup menumpang jalur Hibiya Line hingga Stasiun Iriya, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki selama beberapa menit. Alternatif lainnya, bagi yang tidak keberatan berjalan sedikit lebih jauh, kuil ini juga dapat dicapai dari Stasiun Uguisudani yang dilewati oleh Yamanote Line sehingga lebih selaras dengan kebanyakan rencana perjalanan di Tokyo. Untuk rute tercepat, Anda selalu bisa mengandalkan layanan seperti Jorudan.
Ketika berkunjung pada akhir pekan, suasana di kuil ini tampak cukup sepi dengan segelintir umat yang beribadah. Meskipun lokasinya berada di kawasan Taito-ku yang cukup dekat dengan keramaian Ueno—berikut tautan Google Maps untuk memudahkan navigasi—suasana di dalam kompleks kuil terasa tenang. Tempat ini sangat ideal bagi siapa saja yang ingin meluangkan waktu sekitar satu jam untuk menikmati suasana kuil tradisional yang tidak jauh dari Ueno Park.
Secara luar biasa, Ono Terusaki Shrine berhasil bertahan melewati berbagai zaman. Didirikan pada periode Heian (794–1185), kuil ini sempat berpindah lokasi beberapa kali sebelum akhirnya menetap di tempatnya sekarang sejak periode Edo (1603–1868). Walau sempat membutuhkan perbaikan akibat musibah Gempa Besar Kanto pada tahun 1923, struktur bangunan kuil ini ajaibnya selamat dari kehancuran Perang Dunia II.
Seorang Sarjana Zaman Heian Awal

Sosok historis Ono-no-Takamura yang diabadikan sebagai dewa di kuil ini menyimpan sejarah yang menarik. Lahir pada awal tahun 800-an dari keluarga terpandang yang lekat dengan tradisi keilmuan dan pelayanan publik, ia dengan cepat meniti karier di istana kekaisaran sebagai seorang sarjana, penyair, serta pejabat pemerintah. Meskipun sempat mengalami pengasingan akibat dinamika politik istana pada masa itu, ia kini dikenang luas atas kecerdasannya di bidang akademik.
Serupa dengan Abe-no-Seimei yang kerap dijuluki sebagai “Merlin dari Jepang”, figur Ono-no-Takamura dikelilingi oleh berbagai legenda rakyat yang memitologikan pencapaian hidupnya. Cerita-cerita tradisional menyebutkan bahwa ia memiliki kemampuan langka untuk berinteraksi dengan arwah orang mati serta bertindak sebagai perantara antara dunia manusia dan Yomi, alam akhirat dalam mitologi Jepang. Narasi tersebut memperkuat reputasinya sebagai tokoh yang memiliki kedalaman spiritual dan kebijaksanaan tinggi.
Setelah wafat pada tahun 853, Ono-no-Takamura didewakan di berbagai tempat di seluruh Jepang, termasuk Ono Terusaki Shrine di Tokyo. Hingga hari ini, ia disembah sebagai dewa pembelajaran dan puisi. Warisan intelektual tersebut membuat para pekerja di bidang akademis, industri hiburan, serta seni rupa kerap mendatangi kuil ini untuk memanjatkan doa.
Miniatur Gunung Fuji di Kompleks Kuil

Di dalam area Ono Terusaki Shrine, pengunjung dapat menemukan sebuah gundukan tanah berbentuk miniatur Gunung Fuji yang terletak berdampingan dengan bangunan utama kuil. Lanskap buatan semacam ini banyak dijumpai di berbagai wilayah di Jepang, yang bermula dari maraknya tradisi pemujaan terhadap Gunung Fuji selama periode Edo (1603–1868). Mengingat perjalanan jarak jauh pada masa itu memerlukan izin khusus yang sulit didapat, masyarakat biasa memanfaatkan bukit-bukit mini ini sebagai sarana simbolis untuk menyampaikan penghormatan.
Sayangnya, replika Gunung Fuji di Ono Terusaki Shrine dilindungi oleh pagar pembatas dan hanya dibuka untuk umum saat festival kuil berlangsung pada bulan Juni. Di luar periode tersebut, pengunjung harus puas memberikan penghormatan di aula utama. Kendati demikian, bagi yang tetap ingin melihat atau mendaki miniatur serupa di Tokyo, terdapat lokasi lain seperti Shinagawa Shrine yang pernah saya ulas sebelumnya.
Destinasi Menarik di Sekitar Kuil

Mengingat lokasi kuil ini berada di kawasan Iriya, perjalanan Anda akan lebih maksimal jika digabungkan dengan kunjungan ke beberapa objek menarik lain di sekitarnya. Wilayah ini dikelilingi oleh berbagai kuil serta museum menakjubkan yang sayang untuk dilewatkan.
Berikut adalah beberapa rekomendasi tempat terdekat beserta tautan panduan sebelumnya bagi yang ingin membaca lebih lanjut:
- Ueno Park
Jika Anda hanya memiliki waktu singkat di Jepang, menyempatkan diri mengunjungi Ueno Park adalah keputusan yang tepat. Berada hanya beberapa stasiun dari Iriya, taman ini menawarkan berbagai hal mulai dari Ueno Toshogu Shrine yang megah hingga jalur gerbang torii di Hanazono Inari Shrine. - Yanaka
Kawasan ini merupakan salah satu bagian kota favorit yang berhasil selamat dari pemboman udara Perang Dunia II, sehingga mempertahankan nuansa retro yang kental. Anda bisa menyimak ulasan lengkap mengenai kawasan ini melalui panduan khusus Yanaka. - Yoshiwara
Sebagai bekas distrik hiburan malam paling terkenal pada masa Keshoguan Tokugawa di era Edo, kawasan ini menyimpan sisi historis tersendiri. Pembahasan mendalam mengenai sejarah kelam tersebut telah saya tulis dalam artikel terpisah bagi pembaca yang tertarik mendalami sejarah sosial Jepang.
Sampai jumpa pada petualangan berikutnya!








