Bagi banyak wisatawan yang merencanakan perjalanan untuk menjelajahi kuil-kuil kuno di Jepang, Kyoto biasanya menjadi tujuan pertama yang terlintas di pikiran. Reputasi Kyoto sebagai ibu kota lama memang sudah mendunia. Kendati demikian, bagi para pelancong yang gemar mencari tempat-tempat tersembunyi, memperluas cakupan pencarian adalah langkah yang bijak. Seiring dengan lonjakan pariwisata di Jepang, destinasi populer seperti Fushimi Inari Taisha kini terasa sangat padat layaknya taman hiburan karena dibanjiri oleh gelombang pelancong.

Kali ini, kita akan mengulas sebuah kuil kuno berusia lebih dari 1.900 tahun. Dikenal dengan nama Atsuta Jingu, atau yang kerap disapa sebagai “Atsuta-sama”, kuil ini telah dihormati sejak zaman dahulu dan disetarakan dengan Ise Jingu yang sangat terkenal. Orang-orang mungkin mengira kuil ini akan dipenuhi wisatawan mancanegara, namun Atsuta Jingu terletak di Nagoya, sebuah kota yang sering dilewati begitu saja oleh para pelancong yang langsung menuju Kyoto.
Daya tarik utama Atsuta Jingu adalah statusnya sebagai tempat penyimpanan Kusanagi-no-Tsurugi, sebuah pedang yang dianggap sebagai salah satu dari Tiga Harta Karun Suci Jepang, bersanding dengan permata dan cermin. Senjata legendaris ini telah melambangkan otoritas garis keturunan Kekaisaran sejak masa lampau, karena pedang tersebut diyakini sebagai pemberian dari dewi matahari, Amaterasu Omikami. Sayangnya, Kusanagi-no-Tsurugi tidak pernah diperlihatkan kepada publik sejak masa pemerintahan Emperor Tenmu (673–686); pedang tersebut diyakini tetap tersimpan aman di dalam kompleks kuil.
Sepanjang sejarahnya, Atsuta Jingu dirawat berkat sumbangan dermawan dari banyak tokoh penting. Beberapa nama besar dalam sejarah, seperti Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi, pernah memberikan kontribusi untuk pemeliharaan kuil ini. Sebagai bentuk syukur atas kemenangan besar di medan perang selama periode Sengoku (1467–1603), para panglima perang ini kerap memberikan bantuan kepada pihak kuil. Hingga hari ini, pengunjung masih dapat melihat dinding yang dihadiahkan oleh Nobunaga, salah satu dari tiga tokoh pemersatu besar Jepang.
Sayangnya, sebagian besar bangunan di kompleks Atsuta Jingu saat ini merupakan hasil rekonstruksi. Selama Perang Dunia II, Nagoya mengalami kerusakan parah akibat serangan pasukan Sekutu, yang mengakibatkan banyak bangunan bersejarah kuil hangus terbakar. Bangunan utama yang ada sekarang selesai dibangun kembali pada tahun 1955. Meskipun demikian, Atsuta Jingu tetap menawarkan suasana retret yang tenang dengan warisan sejarah yang sangat krusial bagi keluarga kekaisaran. Mengingat kompleks kuil ini dapat dijelajahi dalam waktu sedikit lebih dari satu jam, tempat ini sangat layak untuk dikunjungi jika Anda sedang berada di sekitar area tersebut.
Cara Menuju ke Sana

Sebagai sebuah permata tersembunyi yang berkualitas tinggi, Atsuta Jingu sebenarnya sangat mudah diakses. Tantangan utamanya hanyalah bagaimana cara Anda tiba di Nagoya. Meskipun merupakan kota yang relatif besar, wisatawan sering menganggap Nagoya sebagai area transit yang terletak di antara Tokyo dan Kyoto. Namun, jika Anda berencana mengunjungi destinasi yang memerlukan transit melalui Nagoya, seperti Lembah Kiso, menyempatkan diri singgah sejenak ke Atsuta Jingu adalah keputusan yang sangat tepat.
Setibanya di Nagoya, Anda hanya perlu naik Jalur JR Tokaido menuju Stasiun Atsuta. Seperti biasa, Anda dapat memeriksa jadwal melalui Jorudan atau layanan serupa untuk merencanakan waktu perjalanan terbaik. Dari Stasiun Atsuta, Anda bisa berjalan kaki selama sekitar delapan menit untuk mencapai Atsuta Jingu; area hijau di sana sangat mencolok sehingga Anda tidak akan tersesat. Jika stasiun JR tersebut kurang sesuai dengan rute Anda, Stasiun Jingu-mae milik jalur Meitetsu hanya berjarak tiga menit berjalan kaki, sedangkan Stasiun Jingu-Nishi pada jaringan kereta bawah tanah dapat dicapai dalam waktu sekitar tujuh menit berjalan kaki.
Menjelajahi Area Atsuta Jingu

Sebelum berkunjung, ada baiknya Anda mengenali tata letak Atsuta Jingu terlebih dahulu. Anda bisa melihat peta melalui situs web resmi mereka atau mengambil brosur fisik setibanya di kuil. Tanpa berpatokan pada peta, Anda mungkin akan melewatkan berbagai sudut menarik di area kuil ini. Peta cetak tersebut memuat informasi mengenai aula-aula kecil di jalur belakang yang sangat mudah terlewat jika Anda hanya berjalan menuju Hongu lalu langsung kembali.
Setelah memasuki area kuil, hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menuju Temizuya (paviliun penyucian air) untuk membersihkan diri. Jika Anda belum familiar dengan tata cara penyucian di kuil Shinto, mencari panduan khusus terlebih dahulu sangat dianjurkan. Saat bepergian ke Jepang, memahami prosedur yang benar akan membantu Anda menghindari kesalahan etika yang tidak disengaja.
Begitu selesai menyucikan diri, Anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Hongu atau tempat suci utama Atsuta Jingu yang terletak di bagian kiri atas peta. Di sinilah bangunan yang diyakini menyimpan pedang Kusanagi-no-Tsurugi berada, meskipun para sejarawan memiliki pandangan tersendiri mengenainya. Anda dapat menyampaikan doa dari aula persembahan di bagian depan, sementara area suci bagian dalam tetap tertutup untuk umum.

Usai memanjatkan doa, lanjutkan langkah ke jalur setapak yang berada persis di sebelah kiri Hongu. Jalur yang dinamai Kokoro-no-Komichi atau “Jalur Menuju Ketenangan” ini dibuat untuk memperingati hari jadi Atsuta Jingu yang ke-1.900. Jalan setapak ini dikelilingi oleh beberapa kuil kecil dan melintasi bagian belakang Hongu, yang merupakan titik terdekat Anda dengan lokasi penyimpanan Kusanagi-no-Tsurugi. Area kuil terdalam di jalur lingkar ini bahkan sempat tertutup untuk umum hingga tahun 2012.
Di sepanjang jalur ini, Anda juga akan menjumpai Kuil Shimizu yang didedikasikan untuk dewa air, Mizuha-no-Menokami. Legenda setempat meyakini bahwa mata air alami telah mengalir dari bagian belakang kuil ini sejak zaman dahulu berkat perlindungan dewa tersebut. Selain itu, tradisi masyarakat juga percaya bahwa air dari mata air ini memiliki khasiat penyembuhan yang bagus untuk kulit serta mata.

Terdapat dua titik menarik lainnya yang patut dikunjungi di Atsuta Jingu. Yang pertama adalah aula harta karun kuil yang menampilkan berbagai peninggalan bersejarah serta warisan leluhur Atsuta Jingu. Sesuai dengan mitologi kuil ini, terdapat banyak koleksi pedang dan belati yang dipamerkan, meski tentu saja Anda tidak akan menemukan Kusanagi-no-Tsurugi di sini. Koleksi tersebut sangat sebanding dengan harga tiket masuknya, dan tepat di sebelah bangunan ini terdapat aula pedang Kusanagi-kan yang baru dibuka pada tahun 2021 bagi para pecinta senjata tajam.
Terakhir, dalam perjalanan pulang, Anda dapat mampir ke kuil pendamping Atsuta Jingu yang bernama Betsugu Hakkengu. Didirikan pertama kali pada tahun 708, kuil ini telah dihormati oleh banyak keluarga militer terkemuka sejak awal berdirinya, di mana para panglima perang masa lalu kerap datang untuk memohon kemenangan dalam pertempuran.
Apakah Pedang Tersebut Benar-Benar Ada di Atsuta Jingu?

Sebelum mengakhiri pembahasan ini, mari menelisik apakah Kusanagi-no-Tsurugi benar-benar berada di Atsuta Jingu. Selama para pendeta Shinto menolak untuk memamerkan pedang tersebut, keberadaannya memang tidak dapat diverifikasi secara mutlak. Penampakan terakhir pedang ini dilaporkan terjadi pada tahun 1989 ketika penobatan Kaisar yang baru. Sayangnya, seluruh perangkat pusaka kekaisaran tersebut tetap berada di dalam peti tertutup sehingga wujudnya tidak dapat dipastikan.
Kita mengetahui bahwa pada tahun 1945, Emperor Hirohito memerintahkan salah satu orang terpercayanya, Lord Keeper of the Privy Seal Jepang, untuk melindungi perangkat pusaka tersebut dengan segala cara. Mengingat situasi Jepang saat itu yang tengah menghadapi pengeboman hebat dari pasukan Sekutu, tindakan ini mengindikasikan bahwa pedang, cermin, dan permata tersebut memang benar-benar ada. Kendati demikian, saat ini tidak ada satu pun orang yang masih hidup yang bisa mengaku pernah melihat langsung Kusanagi-no-Tsurugi.
Orang terakhir yang dikabarkan sempat melihat bilah pedang tersebut adalah seorang pendeta Shinto bernama Matsuoka Masanao. Ketika melakukan berbagai perbaikan di Atsuta Jingu, termasuk mengganti kotak kayu tempat penyimpanan Kusanagi-no-Tsurugi, Matsuoka bersama beberapa orang lainnya sempat melihat sekilas pedang tersebut. Catatan deskripsinya menjadi laporan saksi mata terperinci terakhir yang beredar. Dokumentasi mengenai pengalaman tersebut mencatat:
“Sebuah kotak batu berada di dalam kotak kayu sepanjang 150 cm, dengan tanah liat merah yang mengisi celah di antara keduanya. Di dalam kotak batu tersebut terdapat batang pohon kamper yang dilubangi dan berfungsi sebagai kotak pelapis tambahan, dengan bagian interior dilapisi emas. Di atasnya diletakkan sebuah pedang. Tanah liat merah juga dipadatkan di antara kotak batu dan kotak kayu kamper tersebut.
Panjang pedang tersebut sekitar 82 cm. Bilahnya menyerupai daun bunga tasbih. Bagian tengah pedang memiliki ketebalan dari gagang sekitar 18 cm dengan bentuk menyerupai tulang punggung ikan. Pedang tersebut berwarna putih keperakan dan terawat dengan baik.”
— Dokumentasi Sejarah Mengenai Atsuta Jingu
Kisah yang tersisa menyebutkan bahwa semua orang yang menyaksikan pedang tersebut pada hari itu meninggal dunia akibat penyakit aneh, kecuali sang pendeta agung yang diasingkan serta Matsuoka sendiri. Mengingat catatan peristiwa tersebut berasal dari masa periode Edo (1603–1868), keakuratan sejarah dari kesaksian Matsuoka tentu sulit untuk diverifikasi secara pasti.







