Home / Travel / Joshi-Mane: Fenomena Manajer Wanita di Dunia Olahraga Jepang

Joshi-Mane: Fenomena Manajer Wanita di Dunia Olahraga Jepang

header 640x 13

Kata “manajer” umumnya langsung diasuransikan dengan sosok atasan di tempat kerja, yang sering kali mendatangkan kesan atau perasaan negatif. Namun, situasi ini jauh berbeda di Jepang. Di sana, istilah manajer tidak membawa konotasi buruk, terutama dari sudut pandang kaum pria.

Manajer Wanita untuk Para Insinyur

Two Joshi-Mane in red tracksuits with bento

Pada tanggal 2 September, sebuah perusahaan Jepang bernama DWANGO Co., Ltd. meluncurkan program unik bernama “Joshi-Mane Bento”. Program ini melibatkan kehadiran para “manajer” wanita di kantor untuk memotivasi para insinyur pria yang kerap datang terlambat—biasanya baru muncul di siang hari—agar bisa datang lebih awal. Joshi-mane sendiri merupakan singkatan dari joshi-maneja, yang berarti manajer perempuan, sementara bento adalah istilah untuk makanan bekal porsi tunggal.

DWANGO merekrut 15 manajer wanita untuk menyemangati para karyawannya. Langkah ini mungkin terdengar mengejutkan atau bahkan membingungkan bagi sebagian orang. Menghadirkan belasan manajer tambahan biasanya bukanlah resep utama untuk membangun motivasi kerja. Kendati demikian, sistem baru ini terbukti berjalan sangat efektif di sana. Perlu dicatat bahwa mereka bertindak sebagai manajer pendukung, bukan bos yang suka memerintah.

Apa Itu Joshi-Manager?

Di Jepang, kata manajer lebih sering merujuk pada anak pembawa handuk atau air minum (towel boy) di pinggir lapangan bagi para atlet, ketimbang manajer kantoran. Oleh karena itu, joshi-mane umumnya mengacu pada manajer perempuan yang merawat dan mendukung para pemain olahraga, seperti halnya peran anak-anak pembawa handuk tersebut.

Tugas mereka meliputi pengurusan perlengkapan, pencatatan tim, dan berbagai hal pendukung lainnya. Tidak heran jika banyak anak laki-laki yang kemudian menaruh hati kepada joshi-mane mereka karena dedikasi dan dukungan penuh yang diberikan sepanjang tahun ajaran.

Budaya joshi-mane memegang peran yang cukup penting dalam dunia sekolah di Jepang, dan sering kali muncul dalam manga, novel, film, serta drama. Salah satu karakter paling terkenal adalah Minami Asakura, tokoh utama dalam manga bisbol SMA berjudul Touch. Ada pula kisah populer lainnya dalam novel best-seller berjudul Moshi Dora, di mana sang tokoh utama menggunakan buku panduan manajemen karya Peter Drucker untuk membawa tim bisbol sekolahnya meraih kesuksesan.

DWANGO dan Fenomena Joshi-Mane

Logo of Dwango, progenitor of Joshi-Mane Bento

DWANGO awalnya merupakan layanan gim daring asal Amerika yang didirikan pada tahun 1994 dan berhenti beroperasi pada tahun 1998. Kendati demikian, satu divisi sisanya di Jepang masih bertahan dan berkembang pesat hingga kini, termasuk anak perusahaannya Niwango yang mengelola situs berbagi video Nico Nico Douga.

Sebagai perusahaan telekomunikasi dan media, DWANGO mempekerjakan banyak insinyur. Sebagaimana lazimnya di bidang teknik, jumlah karyawan pria jauh mendominasi wanita. Karakteristik para insinyur yang kerap bekerja hingga larut malam sering kali membuat mereka kesiangan keesokan harinya.

A group of Joshi Mane smiling with bento

Nobuo Kawakami, ketua DWANGO yang juga seorang produser Studio Ghibli, memikirkan cara untuk mengatasi masalah keterlambatan ini. Ia sempat punya gagasan untuk menyajikan bento yang dibagikan oleh gadis-gadis berbusana pelayan agar para insinyur mau datang tepat waktu. Eksperimen awal tersebut ternyata membuahkan hasil yang memuaskan, sehingga ia memutuskan untuk menyempurnakannya dengan merekrut para manajer wanita profesional atau joshi-mane.

Cara Kerja Sistem Joshi-Mane Bento

Five Joshi-Mane Bento girls pose for a photo

Kawakami mewajibkan para joshi-mane mengenakan pakaian olahraga berwarna merah terang agar penampilan mereka menyerupai manajer tim sungguhan. Selain mencerahkan suasana kantor, tugas utama mereka adalah membagikan kotak makan siang bergizi yang disediakan secara gratis oleh DWANGO dalam 6 hingga 7 pilihan menu berbeda.

Two Joshi-Mane Bento girls working and providing bento boxes

Namun, ada syarat khusus untuk mendapatkan bento gratis tersebut: para karyawan harus datang tepat waktu ke kantor. Para joshi-mane juga memimpin kegiatan senam tradisional radio-taisou setiap pukul 10:30 pagi. Karyawan yang mengikuti senam ini akan mendapatkan stempel pada kartu khusus sebagai bukti kehadiran tepat waktu.

Melalui program ini, DWANGO tidak hanya berhasil mendorong kedisiplinan pegawainya, tetapi juga membantu mereka tetap bugar lewat olahraga pagi dan asupan gizi yang baik. Kehadiran para gadis berpenampilan ceria tentu menjadi nilai tambah tersendiri bagi lingkungan kerja para insinyur pria.

Tentu Saja Ada Penolakan

Joshi Mane in a courtroom yelling Objection!

Di sisi lain, program ini tidak lepas dari kritik dan penolakan. Sebagian orang memandangnya sebagai inovasi yang kreatif, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk seksisme kuno atau pelecehan seksual. Kritik ini mencuat di tengah upaya kesetaraan gender yang diperjuangkan sejak disahkannya Undang-Undang Kesempatan Kerja Equal Employment Opportunity Law pada tahun 1986.

Meskipun budaya joshi-mane lumrah dijumpai di sekolah maupun bidang olahraga, perdebatan tetap muncul karena tugas mereka dinilai mirip dengan pekerjaan rumah tangga tradisional. Kendati demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa keterlibatan para gadis tersebut murni didasari oleh kecintaan mereka terhadap suatu cabang olahraga tanpa ada paksaan diskriminatif.

Joshi Mane Bento girl holding up a card

Perdebatan mengenai standar ganda antara manajer pria dan wanita juga turut mewarnai polemik ini. Terlepas dari berbagai kritik pedas yang dialamatkan pada kebijakan DWANGO, fenomena ini memperlihatkan sisi unik bagaimana sebuah perusahaan mencoba mengatasi masalah kedisiplinan karyawannya dengan pendekatan yang tidak biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *