Suatu malam Minggu di Matsuri-no-Yu, sebuah pemandian air panas yang berada di atas Stasiun Seibu-Chichibu, saya sempat merasa heran melihat kerumunan pria yang begitu padat memadati lokasi tersebut. Tempat ini biasanya menjadi pelarian favorit saya yang tenang setelah penat beraktivitas di Tokyo. Namun, malam itu suasana santai mendadak buyar karena banyaknya pengunjung pria yang memenuhi area pemandian, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, mendekati keberangkatan kereta ekspret terbatas Laview terakhir menuju Stasiun Ikebukuro.
Tak lama kemudian, saya baru teringat bahwa keesokan harinya adalah Hari Olahraga (Sports Day), yang berarti akhir pekan tersebut merupakan libur panjang tiga hari bagi para pekerja kantoran di Jepang.
Jangan Berwisata Saat Libur Nasional di Jepang

Bepergian saat hari libur nasional di Jepang atau akhir pekan panjang adalah keputusan yang cukup melelahkan. Berbagai tempat wisata dipastikan akan dipadati oleh keluarga dan pasangan. Selain itu, ketersediaan kursi reservasi pada kereta seperti Shinkansen serta kamar hotel menjadi sangat terbatas. Akibatnya, tarif penginapan melonjak tinggi, dan Anda mungkin terpaksa harus berdiri selama perjalanan kereta berlangsung. Situasi semacam ini tentu dapat merusak kesenangan liburan.
Kondisi paling ekstrem biasanya terjadi pada periode Golden Week. Berlangsung dari akhir April hingga minggu pertama Mei, periode ini menggabungkan beberapa hari libur nasional dan akhir pekan, membuat sebagian besar perusahaan di Jepang tutup. Akibatnya, masyarakat berbondong-bondong untuk bepergian. Bersamaan dengan libur akhir tahun dan libur musim panas Obon, Golden Week adalah salah satu waktu paling padat bagi wisatawan domestik.
Lonjakan wisatawan ini tidak hanya terjadi saat Golden Week saja. Akhir pekan panjang biasa pun kerap memicu peningkatan jumlah pelancong secara signifikan. Oleh karena itu, sebaiknya hindari perjalanan jarak jauh yang penting—seperti naik Shinkansen dari Tokyo ke Kyoto—selama periode libur para pekerja Jepang. Lebih baik jadwalkan perjalanan sehari setelahnya atau berangkat sebelum libur panjang dimulai.
Mengapa Libur Panjang di Jepang Terasa Sangat Melelahkan

Fenomena di mana semua orang bepergian di hari yang sama sangat dipengaruhi oleh budaya kerja di Jepang. Meskipun banyak karyawan memiliki jatah cuti berbayar yang cukup banyak, tidak banyak yang mengambilnya. Di sini, sebagian besar perusahaan tidak membedakan antara hari libur cuti dan izin sakit. Akibatnya, banyak pekerja menyimpan jatah cuti mereka untuk keadaan darurat, sehingga jatah tersebut sering kali hangus begitu saja. Warga lokal lebih memilih memanfaatkan libur panjang resmi dari pemerintah untuk bepergian.
Situasi ini diperparah oleh minimnya sistem cadangan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan Jepang. Saat saya masih menjadi karyawan tetap di salah satu agensi pemasaran terbesar di negara ini, absen selama sehari berarti klien tidak terlayani dengan baik karena tidak ada rekan kerja lain yang dapat menggantikan beban kerja tersebut. Hal serupa juga berlaku di banyak perusahaan lain. Karyawan memang berhak mengambil cuti, namun selalu ada beban tersendiri bahwa mangkir hari ini akan berujung pada pekerjaan yang menumpuk di kemudian hari.
Karena tidak ingin membebani rekan kerja atau menghadapi tumpukan tugas sepulang berlibur, para pekerja di Jepang sangat berhemat dalam menggunakan jatah cuti. Cuti biasanya hanya disiapkan untuk acara mendadak seperti pernikahan teman atau saat anggota keluarga jatuh sakit. Dampaknya, semua orang akhirnya bepergian pada waktu libur resmi yang sama. Ditambah dengan masalah overtourism, bahkan kawasan yang dulunya tenang seperti Chichibu kini dipadati pengunjung berkali-kali lipat dari biasanya.
Bagi saya pribadi, waktu terbaik untuk bepergian adalah tepat setelah hari libur nasional usai, saat tarif hotel jauh lebih murah dan transportasi tidak terlalu sesak. Selama periode seperti Golden Week, saya memilih untuk tetap berada di ruang kerja dan menghindari keramaian. Saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menyusun rencana jangka panjang. Setelah liburan usai dan masyarakat kembali bekerja, barulah saya mulai bepergian.
Jadi, baik menggunakan kereta maupun kendaraan pribadi, bersiaplah menghadapi mobilitas yang lambat dan kesabaran yang diuji.
Jika Anda Terpaksa Bepergian Saat Libur Nasional

Sebagai wisatawan asing, Anda mungkin tidak selalu bisa menghindari musim liburan puncak di Jepang. Namun, selain menghindari waktu seperti Golden Week, pastikan untuk memeriksa apakah ada hari libur nasional selama masa kunjungan Anda. Terutama jika libur tersebut jatuh pada hari Senin atau Jumat, tempat-tempat wisata populer akan jauh lebih padat dari biasanya.
Jika rencana perjalanan Anda ternyata berbarengan dengan hari libur nasional, situasinya masih bisa diatasi dengan mengubah strategi penjadwalan. Karena libur akhir pekan panjang sering kali dimanfaatkan untuk tamasya keluarga, mulailah aktivitas perjalanan Anda lebih pagi sebelum anak-anak mulai memadati tempat wisata. Selain itu, pesan tiket kereta jauh-jauh hari dan pertimbangkan jadwal keberangkatan yang lebih malam.
Saya juga menyarankan untuk makan di luar jam sibuk. Sebagian besar keluarga dan pasangan mengikuti jadwal makan tiga kali sehari yang teratur. Jika Anda sarapan porsi besar, menunda makan siang, dan baru makan sekitar pukul 2 siang, restoran akan jauh lebih lengang dibandingkan jika Anda datang tepat pukul 12 siang. Atau, Anda bisa memilih untuk tidak makan seharian lalu menikmati pesta yakiniku besar-besar di malam hari setelah tempat wisata tutup.
Tips lainnya adalah menjelajahi wilayah yang kurang begitu populer sebelum melanjutkan perjalanan utama. Sebagai contoh, saat berkunjung ke Matsuyama City, saya memilih untuk pergi lebih ke selatan guna menjelajahi Kastil Uwajima dan Kastil Ozu di bagian selatan Prefektur Ehime. Karena tempat-tempat ini cenderung lebih sepi, saya berhasil menghindari kereta yang penuh sesak sebelum kembali ke Tokyo sehari setelah liburan berakhir.
Sebagai referensi, berikut adalah daftar lengkap hari libur nasional di Jepang:
- Tahun Baru — 1 Januari
- Hari Kedewasaan — Senin kedua di bulan Januari
- Hari Pendirian Negara — 11 Februari
- Ulang Tahun Kaisar — 23 Februari
- Hari Ekuinoks Musim Semi — Sekitar 20 Maret
- Hari Showa — 29 April
- Hari Peringatan Konstitusi — 3 Mei
- Hari Hijau — 4 Mei
- Hari Anak-Anak — 5 Mei
- Hari Kelautan — Senin ketiga di bulan Juli
- Hari Gunung — 11 Agustus
- Hari Penghormatan Lansia — Senin ketiga di bulan September
- Hari Ekuinoks Musim Gugur — Sekitar 23 September
- Hari Olahraga — Senin kedua di bulan Oktober
- Hari Kebudayaan — 3 November
- Hari Thanksgiving Tenaga Kerja — 23 November
Penutup Mengenai Hari Libur di Jepang

Libur akhir pekan tiga hari memang membuat infrastruktur pariwisata Jepang bekerja ekstra keras, tetapi bukan berarti liburan Anda akan gagal total. Dengan sedikit perencanaan, Anda bisa menghindari kepadatan terburuk dan menikmati perjalanan dengan nyaman. Perhatikan selalu jadwal libur yang akan datang dan lakukan penyesuaian agar liburan Anda di Jepang tetap menyenangkan.
Perlu diingat juga bahwa mengendarai mobil sewaan tidak otomatis membebaskan Anda dari kemacetan. Selama hari libur nasional, jalan tol di Jepang kerap mengalami kemacetan panjang hingga beberapa kilometer, terutama pada rute keluar dan masuk kota besar seperti Tokyo, Osaka, and Nagoya. Area istirahat akan penuh sesak, dan perjalanan yang biasanya memakan waktu dua jam bisa berubah menjadi lima jam.
Sampai jumpa di artikel perjalanan berikutnya!








