Home / Travel / Hidden Yamanashi Redux: Kisah Buddhisme, Panglima Perang, dan Wine

Hidden Yamanashi Redux: Kisah Buddhisme, Panglima Perang, dan Wine

A Nichiren Sect Monk on Mt. Minobu

Artikel ini merupakan bagian kedua dari seri mendalam mengenai destinasi tersembunyi di Prefektur Yamanashi. Meskipun terkenal di kancah internasional berkat kehadiran Gunung Fuji dan kawasan Kawaguchiko, sebagian besar objek wisata lain di prefektur ini masih minim sorotan digital. Ditambah dengan kontur alamnya yang bergunung-gunung, aksesibilitas antarwilayah menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan asing.

Beruntung, organisasi pariwisata lokal sangat proaktif dalam mengatasi hambatan ini. Saat ini, mereka telah merancang berbagai tur menarik yang tidak hanya mempermudah transportasi, tetapi juga menyajikan narasi sejarah dan budaya yang kaya sehingga wisatawan dapat menikmati sisi lain Yamanashi yang kerap terlewatkan.

A ticket to Yamanashi Prefecture’s Kofu Station from Shinjuku in Tokyo

Secara geografis, Prefektur Yamanashi terletak sekitar 100 kilometer di sebelah barat pusat Tokyo. Bagi pelancong yang ingin berkunjung, tersedia pilihan kereta lokal yang lebih ekonomis atau kereta ekspres yang berangkat langsung dari Stasiun Shinjuku untuk perjalanan yang lebih cepat. Untuk sebagian besar tur yang diperkenalkan dalam artikel ini, titik kumpul utama dipusatkan di Stasiun Kofu, bukan Stasiun Yamanashi-shi.

Menjelajahi Keagungan Gunung Minobu

A traditional Japanese artist’s rendition of the Buddhist monk Nichiren standing on a small rock in the ocean

Bagi para pencinta kompleks keagamaan di pegunungan, Gunung Minobu atau Minobusan menawarkan pengalaman yang tidak kalah menarik dari Gunung Koya atau Gunung Takao. Sebagai pusat dari sekte Buddha Nichiren yang didirikan oleh biksu Nichiren pada periode Kamakura, kawasan ini memfokuskan ajaran pada pencapaian pencerahan di dunia nyata.

Dalam tur berpemandu ini, perjalanan dimulai dari Stasiun Kofu menuju Kuil Kuon-ji. Di sana, pengunjung akan takjub melihat Gerbang Sanmon yang megah setinggi sekitar 21 meter. Tantangan fisik berikutnya adalah menaiki Bodai-tei, yaitu 287 anak tangga batu curam yang menjulang setinggi lebih dari 100 meter menuju area utama kuil.

A lantern with the crest of the Nichiren Buddhism sect at Mt. Minobu’s Kuon-ji in Yamanashi Prefecture

Setibanya di area utama Kuon-ji, wisatawan dapat mengagumi pagoda lima tingkat, ruang doa yang indah, serta lukisan naga bermata ilusi di langit-langit aula utama. Pengunjung juga berkesempatan mengikuti ritual kebaktian siang hari sebelum menikmati makan siang berupa hidangan vegetarian Buddha atau shojin ryori di penginapan kuil Kakurinbo, di mana tamu bahkan dapat mencoba mengenakan kimono secara gratis.

A pair of girls wear kimono at Mt. Minobu’s Kakurinbo pilgrimage lodge in Yamanashi Prefecture

Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kereta gantung menuju puncak Gunung Minobu setinggi 1.150 meter ke area Okuno-in untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji dan Pegunungan Alpen Selatan. Sebelum tur berakhir pada pukul 17.00, peserta dapat melihat rumah harta karun kuil dan mendengarkan suara lonceng raksasa yang ditabuh oleh para biksu.

Menyingkap Sejarah Perkotaan Kofu

A statue of Takeda Shingen outside of Kofu Station in Yamanashi Prefecture

Tur kedua mengajak wisatawan menyelami sejarah urban Kofu, ibu kota Prefektur Yamanashi yang dulunya merupakan pusat kekuasaan panglima perang periode Sengoku, Takeda Shingen. Dipandu oleh Miyako Nakamura, tur jalan kaki ini bermula dari patung Takeda Shingen di Stasiun Kofu.

The original stone walls of Kofu Castle in Yamanashi Prefecture’s capital of Koshu City

Rute perjalanan mencakup reruntuhan Kastil Kofu dengan dinding batu aslinya, situs-situs bersejarah peninggalan masa perang, serta lokakarya pembuatan miso tradisional di Gomi Shoyu. Peserta juga diajak mengunjungi Museum Data Keuangan Yamanashi Chuo Bank untuk melihat koleksi artefak bernilai sejarah seperti koin kuno Wado Kaichin, sebelum menikmati santap siang di restoran populer Naomi Camp.

Gomi Shoyu’s miso making workshop space in Kofu City, Yamanashi Prefecture
A lunch plate at Naomi Camp in Kofu City, Yamanashi Prefecture

Wisata Anggur dan Kilang Anggur di Yamanashi

Wine grapes at Yamanashi Prefecture’s Koshu Valley

Sebagai tambahan, Yamanashi juga menawarkan tur khusus bagi para penggemar minuman anggur mengingat wilayah ini dikenal sebagai pusat kebudayaan pembuatan wine di Jepang sejak akhir abad ke-19. Tur ini meliputi kunjungan ke beberapa lokasi terkemuka seperti Fujico Winery, museum sejarah wine di Chateau Mercian, serta perkebunan keluarga bersejarah Lumiere yang telah berdiri sejak tahun 1885.

Yamanashi Prefecture’s Chateau Merican in the Koshu Valley

Di tempat-tempat ini, pengunjung dapat melihat langsung proses produksi, menikmati sesi cicip rasa, hingga membawa pulang produk anggur lokal berkualitas tinggi.

A statue of a Fujiko climber about to ascend Mt. Fuji at Yamanashi Prefecture’s Kitaguchi-Hongu Fuji Sengen Shrine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *