Bagi pembaca setia blog ini, mungkin Anda sudah menyadari bahwa saya sebenarnya cukup jarang membahas festival tradisional Jepang. Rasanya aneh, bukan? Mengapa seseorang enggan mengangkat topik yang begitu lekat dengan kebudayaan lokal? Alasannya cukup sederhana. Seringkali, saat artikel selesai ditulis dan diterbitkan, kesempatan pembaca untuk ikut serta dalam perayaan tahunan tersebut telah berlalu. Akibatnya, tulisan tersebut hanya menjadi semacam pamer pengalaman semata. Walau artikel itu bisa diterbitkan ulang pada tahun berikutnya, masih ada begitu banyak sudut tersembunyi lain yang lebih menarik untuk dieksplorasi. Oleh karena itu, saya lebih sering memilih konten abadi yang bisa dinikmati kapan saja, tanpa terikat oleh waktu kunjungan ke Jepang.
Kendati demikian, sesekali saya menemukan sebuah festival yang terlalu luar biasa untuk dilewatkan, sehingga aturan tersebut terpaksa saya langgar. Peristiwa yang dimaksud adalah Shujo Onie, sebuah ritual pertengahan musim dingin yang dijamin akan membuat Anda terpukau sekaligus bergidik—bukan hanya karena udara dinginnya. Jika Anda kebetulan berada di Prefektur Oita pada bulan Februari yang membekukan, acara ini wajib masuk ke dalam daftar kunjungan Anda. Secara garis besar, Shujo Onie adalah ritual yang menandai kemunculan makhluk-makhluk mirip iblis ke bumi. Percayalah, ini adalah pemandangan yang akan terus melekat di dalam ingatan Anda selamanya.
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa masyarakat Prefektur Oita justru memuja dan menghormati sesosok makhluk bertanduk yang kerap dianggap jahat. Berbeda dari wilayah Jepang lainnya, penduduk lokal di sini meyakini bahwa para iblis tersebut sebenarnya bukanlah makhluk jahat. Para pemuka spiritual setempat menegaskan bahwa makhluk-makhluk ini justru memiliki sifat Buddha dan dihormati sebagai pelindung masyarakat. Perlu dicatat pula bahwa konsep iblis dalam budaya Jepang sangat berbeda dengan pandangan di belahan dunia lain. Di sini, makhluk tersebut dikenal sebagai oni, yang karakternya lebih mirip raksasa dalam cerita rakyat Barat. Meskipun tampak menyeramkan, Anda patut bersyukur karena mereka berada di pihak umat manusia.
<
Mengenal Lebih Dekat Prefektur Oita

Selain memahami sosok oni itu sendiri, penting juga bagi kita untuk menengok latar belakang budaya yang melahirkan Shujo Onie. Dikenal dengan nama Rokugo Manzan, peradaban kuno ini sempat memegang pengaruh besar di wilayah Kyushu selama berabad-abad. Berpusat di Semenanjung Kunisaki, peradaban yang telah berusia 1.300 tahun ini merupakan tempat pertama kalinya ajaran Buddha dan Shinto berpadu menjadi satu sistem kepercayaan sinkretis. Dengan warisan sejarahnya yang kaya, kebudayaan Rokugo Manzan selalu menjadi salah satu topik favorit saya.
Meskipun tidak wajib dipelajari secara mendalam untuk menikmati Shujo Onie, memahami konteks sejarah Rokugo Manzan tentu akan memperkaya pengalaman wisata Anda. Luangkan waktu sejenak untuk mendalami sejarah kawasan ini apabila Anda memiliki waktu luang.
<
Cara Menuju ke Lokasi
Perjalanan menuju Prefektur Oita memang memiliki tantangan tersendiri bagi sebagian besar pelancong asing. Walaupun kawasan ini dapat dijangkau menggunakan kereta, cara paling praktis adalah dengan naik pesawat terbang menuju bandara terdekat. Akibatnya, lokasi ini mungkin kurang efisien bagi wisatawan yang mengandalkan tiket kereta terusan seperti JR Rail Pass. Kendati demikian, Oita membayar lunas tantangan aksesibilitas tersebut dengan menawarkan berbagai destinasi wisata yang luar biasa menakjubkan. Setiap kali kembali ke prefektur ini, saya selalu dibuat takjub oleh banyaknya hal menarik yang bisa dieksplorasi. Memesan tiket penerbangan adalah keputusan terbaik untuk menghemat waktu.
Setibanya di Prefektur Oita, disarankan agar Anda menyewa mobil. Semenanjung Kunisaki didominasi oleh tebing-tebing curam dan hutan lebat, yang membuat pilihan transportasi umum sangat terbatas. Layanan tur memang tersedia pada siang hari, namun sarana tersebut tidak beroperasi hingga larut malam saat rangkaian acara Shujo Onie mencapai puncaknya. Jika Anda tidak ingin menyetir sendiri, alternatif lain adalah menyewa taksi seharian penuh. Biayanya memang cukup mahal, tetapi Anda bisa membaginya dengan rekan seperjalanan. Saya sendiri memilih opsi taksi dan merasa sangat terbantu karena kendaraan sudah siap menunggu saat festival berakhir.
Sayangnya, saat ini perayaan Shujo Onie hanya dapat disaksikan di dua atau tiga lokasi saja di Semenanjung Kunisaki. Pada masa lalu, lokasi penyelenggaraannya jauh lebih banyak, namun berbagai insiden seperti kebakaran telah mengubah fungsi tempat-tempat tersebut. Saat ini, Anda dapat memilih untuk menyaksikan Shujo Onie di Kuil Tennen-ji, atau bergantian setiap tahun antara Kuil Iwato-ji dan Kuil Jobutsu-ji. Ketika saya menghadiri festival ini pada tahun 2019, acara dilangsungkan di Kuil Iwato-ji.
Bagi para pelancong, pemilihan lokasi dapat disesuaikan dengan rencana perjalanan Anda karena jadwal pelaksanaan festival diatur agar tidak saling bentrok. Pastikan untuk memeriksa tanggal serta jadwal acara secara teliti sebelum menyusun rencana kunjungan. Konon, pelaksanaan Shujo Onie di Kuil Tennen-ji telah mengalami sedikit penyesuaian agar lebih ramah bagi pengunjung umum. Namun, jika Anda mencari keaslian tradisi yang utuh, memilih salah satu dari kuil-kuil utama tersebut adalah pilihan yang tepat.
<
Hal yang Dapat Diharapkan

Shujo Onie merupakan salah satu festival terpanjang yang pernah saya saksikan. Rangkaian acaranya dimulai sejak siang hari dan terus berlanjut hingga dini hari keesokan harinya. Jika Anda ingin mengikuti seluruh prosesinya dari awal hingga akhir, Anda tentu membutuhkan stamina yang prima. Namun, bagi wisatawan dengan jadwal padat, Anda tidak harus menghabiskan waktu seharian penuh di sana. Bagian paling menarik biasanya baru dimulai sekitar pukul 6 sore, tergantung pada lokasi kuil yang Anda pilih.
Acara utama pada malam hari diawali dengan ritual penyucian diri. Sejumlah warga setempat mengenakan pakaian tradisional berupa cawat yang disebut fundoshi, lalu menceburkan diri ke dalam kolam air yang dingin. Salah satu keunikan di Kuil Tennen-ji adalah ritual penyucian ini dilakukan tepat di depan ukiran batu Raja Fudo Myoo. Terlepas dari kuil mana yang Anda kunjungi, seluruh rangkaian acara ini berlangsung di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Meskipun telah mengenakan jaket tebal, saya tetap merasa kedinginan sepanjang malam, membayangkan betapa beratnya perjuangan para peserta ritual tersebut.

Setelah menyucikan diri, para peserta kembali ke aula kuil dalam keadaan basah kuyup untuk melakukan meditasi singkat. Setelah itu, bagian acara yang paling menegangkan pun dimulai. Para peserta lokal mulai menyalakan obor raksasa dari bambu yang ukurannya benar-benar luar biasa besar. Panas dari kobaran api tersebut bahkan dapat dirasakan dari jarak yang cukup jauh. Di Kuil Tennen-ji, obor raksasa tersebut bahkan dihantamkan ke fondasi bangunan utama kuil sebagai simbol permohonan kemakmuran.
Setelah atraksi api yang mendebarkan tersebut, para biksu bersiap untuk melakukan ritual perwujudan oni. Sesi ini diisi dengan kegiatan melantunkan mantra dan berjalan secara seremonial selama kurang lebih dua jam. Jika Anda tidak fasih berbahasa Jepang atau tidak terlalu paham mengenai ajaran Buddha, sebagian besar makna ritual ini mungkin akan terasa asing. Saat menghadiri acara di Kuil Iwato-ji pada tahun 2019, pihak kuil menyediakan beberapa api unggun di luar ruangan bagi para penonton untuk menghangatkan diri sementara ritual berlangsung di dalam.

Setelah pelantunan mantra usai, dua sosok bermassa topeng dengan jubah biru dan merah muncul ke panggung. Karakter ini dikenal sebagai Suzu-Oni, yang bertindak sebagai pembuka jalan bagi kemunculan oni lainnya. Secara keseluruhan, terdapat empat jenis oni dalam festival Shujo Onie, yang masing-masing mengenakan topeng berbeda serta memiliki peran tersendiri:
- Suzu-Oni: Membawa lonceng dalam ritualnya untuk menyambut kehadiran tiga jenis demon lainnya.
- Saibarai-Oni: Dipercaya dapat menangkal roh jahat dan mendatangkan keberuntungan bagi masyarakat.
- Shizume-Oni: Memiliki wajah menyeramkan namun dipercaya mendatangkan ketenangan dan kedamaian.
- Ara-Oni: Digambarkan memiliki karakter yang kasar dan agresif sebagai kontras dari Shizume-Oni.
Di Kuil Iwato-ji, para biksu yang memerankan oni dibawa keluar dari sebuah gua terdekat oleh para pembantu kuil sebelum mengenakan topeng mereka. Setelah dinaikkan ke atas panggung dan mengenakan topeng masing-masing, makhluk-makhluk tersebut seolah hidup seketika. Pemandangan ini sungguh menakjubkan, sekaligus melegakan karena makhluk-makhluk tersebut diikat dengan tali untuk mengendalikan kekuatan besar mereka.

Perlu dipahami bahwa Shujo Onie bukanlah sekadar pertunjukan teater biasa, melainkan sebuah upacara keagamaaan yang sakral. Para partisipan berada dalam tingkat konsentrasi yang sangat tinggi sehingga penampilan mereka terasa begitu meyakinkan. Sesi puncak dari festival ini melibatkan para oni yang berkeliling membawa obor bambu menyala, dan para penonton yang hadir di atas panggung akan diberikan ketukan lembut di bahu menggunakan batang bambu tersebut sebagai simbol keberuntungan.
Di Kuil Iwato-ji dan Kuil Jobutsu-ji, setelah ritual di panggung selesai, para oni berlari keluar menuju kawasan pemukiman warga untuk membagikan keberuntungan dari rumah ke rumah. Tradisi mendatangi tiap kediaman ini tidak dijumpai di Kuil Tennen-ji karena area pembatas yang disiapkan untuk mengurung para oni berukuran lebih kecil, sehingga ruang gerak mereka menjadi terbatas.

Terdapat pula cerita rakyat lokal yang berkaitan dengan batasan area tersebut. Konon, siapa pun yang memerankan oni dan nekat melangkah keluar dari area pembatas tidak akan bisa melepas topeng yang mereka kenakan. Meskipun cerita tersebut merupakan bagian dari mitos setempat, fakta menariknya adalah hingga saat ini kuil-kuil tersebut masih menjaga tradisi dengan tidak menampilkan kelengkapan seluruh jenis oni secara bersamaan.
<
Persiapan yang Diperlukan

Hal penting yang harus diperhatikan saat menghadiri Shujo Onie adalah pemilihan pakaian. Anda sangat tidak disarankan mengenakan pakaian berbahan akrilik atau poliester yang mudah terbakar. Setiap tahunnya selalu ada saja pengunjung yang mengenakan jaket tebal berbahan sintetis dan akhirnya mendapati pakaian mereka berlubang akibat percikan bara api dari obor bambu para peserta.
Selain memperhatikan aspek keselamatan dari kobaran api, Anda juga perlu menyiapkan perlengkapan untuk menghalau hawa dingin ekstrem. Mengingat festival ini diadakan pada puncak musim dingin, mengenakan beberapa lapis pakaian hangat serta sepatu yang kokoh saja terkadang belum cukup. Sangat disarankan untuk membeli kantung penghangat tubuh atau kairo yang banyak dijual di toko serba ada di Jepang untuk membantu menjaga suhu tubuh Anda sepanjang malam.
<
Destinasi Wisata Sekitar









