Sebagai seseorang yang sangat memperhatikan kesehatan, saya memiliki kecintaan tersendiri pada camilan. Dibandingkan dengan pilihan makanan ringan lain yang memadati rak supermarket, kacang-kacangan cenderung rendah gula, kaya nutrisi, dan minim proses. Di sela-sela kesibukan, alih-alih meraih keripik atau kue kering, saya selalu memilih kacang. Kebiasaan ini berjalan tanpa hambatan sampai akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke Jepang.
Sebuah Pengakuan tentang Kacang
[[MEDIA_0]]
Dari sekian banyak hal yang saya kira akan dirindukan setelah pindah ke Jepang, ketersediaan kacang justru menjadi kejutan terbesar. Meskipun pasar swalayan di Jepang menyediakan lorong khusus untuk natto, seaweed, dan tahu, pilihan untuk produk kacang-kacangan sangatlah terbatas. Pasar di dekat rumah saya hanya menyediakan kacang mede, almond, dan butter peanuts. Apakah semuanya dipanggang secara polos? Diberi garam? Organik? Setelah mencobanya, saya justru mendapati kacang mede yang terlalu asin, almond goreng yang berminyak, serta kacang ala Tiongkok dengan bumbu yang unik.
Apakah saya bisa bertahan hidup tanpa makanan kesukaan tersebut—seperti kenari yang lembut, almond mentah yang ringan, atau biji labu yang berserat? Seperti lirik lagu dari Joni Mitchell, “You don’t know what you got till it’s gone.” Saya tadinya menganggap keberadaan kacang sebagai hal yang biasa, namun saya tidak berniat menyerah begitu saja. Saatnya beraksi.
Karena merasa tidak puas, dimulailah sebuah pencarian. Saya bertekad mendatangi setiap supermarket, menyusuri setiap toko kelontong, dan menjelajahi tempat potensial yang menjual kacang. Berikut adalah hasil dari penjelajahan tersebut. Jika Anda saat ini tinggal di Jepang, simak baik-baik panduan ini karena saya akan memberitahu di mana Anda bisa menemukan kacang. Jika tidak, saya berharap Anda dapat memetik hikmah dari cerita ini.
Kacang-Kacangan di Jepang

Jika Jepang kekurangan jenis kacang ala Barat, negara ini pasti memiliki varietas lokalnya sendiri, bukan? Setidaknya, kacang lokal Jepang bisa menjadi pengganti yang sepadan… Atau begitulah pikir saya sebelumnya.
Beberapa referensi menunjukkan bahwa Jepang sebenarnya memiliki empat spesies kacang asli. Savory Japan menyebutkan adanya ginnan atau kacang ginkgo yang konon sangat lezat jika diolah menjadi sup. The Encyclopedia of Fruit & Nuts mencatat keberadaan hazelnut Jepang. Selain itu, literatur Fruit Breeding, Nuts membahas tentang kenari Jepang dan berangan atau kuri. Di antara keempatnya, berangan adalah yang paling sering ditemui. Buah ini dijual utuh atau diolah menjadi kue tradisional Jepang. Saat musim dingin, Anda bahkan bisa menemukannya di sepanjang jalur pegunungan—tentu saja jika Anda mendahului yang lain.
Selain spesies-spesies asli tersebut, produksi kacang komersial di Jepang tergolong minim. Bahkan kacang berangan yang saya temukan di rak toko swalayan adalah produk impor. Prefektur Chiba memang membudidayakan rakkasei 落花生, namun saya belum pernah melihatnya dijual langsung di toko-toko. Serupa dengan jenis kacang lainnya, hampir seluruh pasokan kacang tanah di pasaran merupakan barang impor.
Tentu saja, ada alternatif camilan lokal yang lezat seperti edamame, kedelai kering, jerky ikan, dan rumput laut kering. Saya sangat menyukai kedelai kering, berangan, dan rumput laut—kecuali jerky ikan. Kendati demikian, hasrat saya terhadap kacang-kacangan konvensional belum juga padam.
Warisan Budaya Kacang

Adakah negara yang kecintaannya pada kacang sebesar Amerika Serikat? Variasi kacang yang tersedia di toko kelontong Amerika sangatlah luar biasa. Kacang dijual dalam kondisi asin, sedikit asin, dengan garam laut, tanpa garam, dipanggang kering, dipanggang madu, digoreng, mentah, organik, hingga berstandar perdagangan adil. Empat spesies asli Jepang tentu terasa sangat minim jika dibandingkan dengan ragam almond, berangan, hazelnut, hickory, macadamia, pecan, pistachio, kenari, beechnut, dan kacang tanah yang diproduksi di AS.
Tidak seperti Jepang, AS memiliki tradisi budaya yang kuat dalam hal konsumsi kacang. Banyak varietas yang sudah dikenal sejak era pra-kolonial, yang berarti kebiasaan mengonsumsi kacang di Amerika telah ada jauh sebelum negara tersebut terbentuk. Lupakan sejenak pai apel, karena kacang adalah camilan ikonik yang sebenarnya bagi masyarakat Amerika.

Ketiadaan spesies asli membuat Jepang tidak mengembangkan budaya kacang. Sebagai gantinya, Jepang membangun tradisinya sendiri. Kepalan nasi onigiri dan kue beras mochi lahir dari kebudayaan padi di Jepang.

Begitu pula dengan hidangan sushi dan olahan rumput laut yang mencerminkan ketergantungan historis Jepang terhadap hasil laut. Kecap asin, miso, natto, dan kedelai kering adalah bukti nyata dari sejarah panjang penggunaan kedelai di negara ini.

Entah karena faktor kondisi geografis yang kurang mendukung atau kebutuhan yang berbeda, Jepang memang tidak membudidayakan kacang pohon. Akibatnya, ketersediaan dan variasi kacang di sini tidak semelimpah di wilayah lain—yang kemudian memicu petualangan saya.
Pencarian Kacang

Meskipun pilihannya terbatas, tempat pertama yang layak dikunjungi adalah supermarket. Kacang biasanya diletakkan di dekat area penjualan bir dan minuman beralkohol, berdampingan dengan jerky ikan. Bagaimanapun juga, kacang masih diposisikan sebagai camilan pendamping minum di Jepang. Saya pernah menawarkan kacang mede kepada rekan kerja, namun ia menolaknya sambil berkata, “Saya tidak bisa memakannya tanpa minum bir!” Bar-bar lokal juga sering menyediakan mangkuk berisi kacang secara gratis. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa kacang tanpa garam sangat jarang ditemukan di pasaran.
Kelangkaan kacang tanpa garam dulunya juga sempat terjadi di AS. Elaine Watson dari foodnavigator-usa pernah mengungkapkan bahwa jika Anda bertanya kepada kebanyakan orang mengenai posisi kacang pada piramida makanan 20 tahun lalu, mereka mungkin akan menempatkannya di bagian manisan. Namun kini, kacang dipandang sebagai sumber nutrisi yang luar biasa, yang menjelaskan mengapa sebagian besar peluncuran produk camilan berbahan kacang di AS mengusung tema kesehatan.
Kembali ke toko kelontong Jepang. Jika bagian minuman beralkohol tidak memberikan hasil, arahkan pandangan ke bagian buah-buahan. Terakhir, periksa lorong bahan kue—meskipun ukurannya cenderung kecil dan harganya cukup mahal. Kendati demikian, saya berhasil menemukan almond mentah tanpa garam di area ini.
Petualangan saya berikutnya berlanjut ke fenomena favorit di Jepang, yaitu toko serba 100 yen atau hyakkin. Selain perlengkapan rumah tangga dan alat tulis, hyakkin menawarkan berbagai macam camilan. Bahkan, beberapa toko hyakkin memiliki variasi kacang yang lebih banyak daripada supermarket besar. Harganya pun sering kali lebih ekonomis dengan ukuran kemasan yang setara atau lebih besar seharga 100 yen. Hyakkin di dekat rumah saya menyediakan kenari Amerika tanpa garam serta pistachio yang diberi sedikit garam.
Anda sebaiknya mengabaikan toko kelontong 24 jam atau konbini. Harganya jauh lebih mahal dibandingkan supermarket dan pilihan yang ditawarkan sangat minim. Andalkan konbini hanya dalam keadaan terdesak saja.
Batas Akhir Pencarian

Untuk beberapa waktu, supermarket dan toko 100 yen sudah cukup memuaskan kebutuhan saya. Namun, pencarian ini belum benar-benar usai. Apakah saya bisa menemukan almond mentah dengan harga terjangkau? Atau kemasan yang lebih besar dari porsi sekali makan? Perjalanan pun berlanjut.
Atas rekomendasi seorang teman, saya mendatangi toko khusus bahan-bahan kue. Mengingat banyaknya roti, kue, dan biskuit Jepang yang menggunakan kacang sebagai bahan pelengkap, tempat ini tampaknya menjadi pilihan yang tepat. Dan benar saja, saya menemukan apa yang dicari. Toko tersebut menyediakan kantong berukuran grosir berisi almond mentah dan kenari polos. Jadi, jika Anda tinggal di Jepang dan mendambakan kacang, cobalah mengunjungi toko bahan kue lokal.
Jika segala cara gagal, internet selalu bisa diandalkan. Banyak orang mungkin akan mengingatkan tentang keberadaan situs belanja online seperti Amazon.jp dan Rakuten yang menjual berbagai jenis kacang. Pada saat itu, saya belum memiliki kartu kredit Jepang dan belum begitu paham dengan opsi pembayaran lainnya, sehingga saya sempat mencoret internet dari daftar solusi. Di sisi lain, berbelanja langsung di toko kue milik keluarga memberikan kepuasan tersendiri, sekaligus kesempatan untuk melatih kemampuan bahasa Jepang dan bertukar tips memasak dengan sang pemilik.
Di Mana Menemukan Kacang di Jepang

Setelah menyimak bagian sebelumnya, Anda mungkin penasaran di mana letak toko fisik bahan kue yang dapat dikunjungi. Daftar ini tentu bukan satu-satunya, namun bisa menjadi titik awal yang baik jika Anda mencari toko khusus yang menjual kacang dalam jumlah grosir di Jepang.
JHC
JHC adalah salah satu pemasok produk kue berskala besar di Jepang. Mereka menyediakan daftar lengkap toko-toko yang menjual produk mereka, di mana sebagian besar di antaranya adalah toko spesialis bahan kue.
Kunjungi: JHC Dealer Locations
Tomizawa
Memiliki sekitar lima puluh cabang di seluruh Jepang kecuali Hokkaido, Tomizawa hampir selalu berada di lokasi yang cukup dekat untuk dijangkau dengan kereta, dan mereka secara konsisten menyediakan berbagai produk kacang.
Kunjungi: Tomizawa Store Locations
Akhir Perjalanan

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari pencarian ini? Pepatah lama yang mengatakan bahwa seseorang harus memecahkan cangkangnya jika ingin menikmati isinya ternyata benar adanya. Jika Anda menginginkan sesuatu, Anda harus mau berusaah. Terkadang, proses pencarian itu sendiri jauh lebih berharga daripada hasil akhirnya.
Perburuan kacang ini membawa saya pada berbagai penemuan baru. Melalui perjalanan tersebut, saya menjadi lebih akrab dengan lingkungan sekitar. Dengan mempelajari jenis kacang asli Jepang, saya juga menemukan dan mencoba makanan baru. Bayangkan hal-hal apa saja yang akan saya lewatkan jika saya hanya memesan semuanya melalui internet!
Berkat pengalaman ini, saya kini lebih terbiasa dengan belanja online untuk mendapatkan barang yang tidak tersedia di toko lokal. Kendati demikian, di era globalisasi ini tetap ada beberapa hal yang harus direlakan untuk tidak ada.
Jika direnungkan kembali, seluruh situasi ini berakar dari gegar budaya. Seandainya saya adalah seorang warga Jepang yang tinggal di Amerika, saya mungkin akan menulis artikel tentang pencarian sushi, mochi, atau natto yang otentik. Dari pengalaman ini pula, saya mulai memikirkan hal-hal khas Jepang yang akan saya rindukan saat kembali ke Amerika kelak—mulai dari makanan baru seperti natto dan udon, hingga fasilitas seperti toilet berpemanas dan sistem jaminan kesehatan.








