Home / Study / Asal-Usul Tsujigiri, Istilah Jepang yang Tidak Ada di Bahasa Lain dan Alasannya yang Mengerikan

Asal-Usul Tsujigiri, Istilah Jepang yang Tidak Ada di Bahasa Lain dan Alasannya yang Mengerikan

header 640x 63

Tsujigiri adalah sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris maupun bahasa lainnya. Kata ini mendeskripsikan sebuah praktik samurai yang kelam dan untungnya hanya terjadi di masa lalu Jepang.

Apa Arti Tsujigiri?

Sang pendekar pedang menebas korban yang tidak menaruh curiga untuk menguji katana barunya… atau sekadar mencari sensasi semata.

Secara harfiah, tsujigiri 辻斬(つじぎり) dapat diartikan sebagai:

Pembunuhan di persimpangan jalan [kata benda]

Namun, makna sebenarnya merujuk pada:

Praktik menebas kepala atau bagian tubuh orang yang tidak curiga menggunakan katana yang baru diasah. Biasanya tindakan ini dilakukan pada malam hari terhadap pejalan kaki tak bersalah yang kebetulan melewati jalan gelap di waktu yang keliru.

Selain itu, istilah ini juga digunakan untuk menyebut pelaku yang melakukan tindakan tersebut.

Untuk memahami istilah ini secara lebih mendalam, mari kita bedah kedua bagian penyusunnya.

Tsuji

Tsuji 辻(つじ) adalah kata yang saat ini sudah jarang digunakan, yang berarti:

“Perempatan jalan” atau “persimpangan”, dan secara lebih luas berarti “jalan raya.”

Awalnya, kata tsuji diucapkan sebagai tsumuji (つむじ), yang sekarang merujuk pada pusaran rambut menggunakan kanji 旋毛.

Giri

Kata giri berasal dari kata kiru 斬る(き), yang memiliki arti:

Memotong, menebas, atau mengiris sesuatu (khususnya kepala atau bagian tubuh hewan) menggunakan pisau atau katana.

Ketika digabungkan dengan tsuji, konsonan pada kata kiri mengalami perubahan bunyi menjadi giri. Fenomena ini dinamakan rendaku atau “suonisasi beruntun”. Penggabungan inilah yang akhirnya membentuk kata utuh: tsujigiri.

Sejarah Tsujigiri

Tsujigiri hiding in forest

Praktik tsujigiri selalu lekat dengan pedang dan pertumpahan darah. Pada mulanya, istilah ini bernada lebih terhormat dan berkaitan dengan tradisi bushi serta duel tradisional. Seiring berjalannya waktu, praktik ini mengalami kemerosotan moral. Memasuki Zaman Sengoku (1467-1600), tsujigiri berubah menjadi tindakan yang tercela, di mana para samurai dan kaum kabukimono (penjahat jalanan) menjadikannya sebagai hiburan yang mengerikan.

Motif di balik aksi tsujigiri sangat beragam, mulai dari mencoba katana baru, melatih jurus anyar, menguji kekuatan fisik, hingga sekadar mencari kepuasan batin. Bahkan, sempat beredar takhayul di tengah masyarakat bahwa melakukan tsujigiri kepada 1.000 orang dapat menyembuhkan penyakit. Sasaran utama kejahatan ini biasanya adalah para pedagang atau rakyat jelata.

Bahkan, sempat beredar takhayul di tengah masyarakat bahwa melakukan tsujigiri kepada 1.000 orang dapat menyembuhkan penyakit.

Untungnya, praktik keji ini mereda pada abad ke-17 setelah pemerintah Keshogunan Edo menetapkan hukuman mati bagi pelakunya… meskipun kenyataannya tidak langsung berhenti begitu saja.

Menjelang akhir periode Edo, aksi tsujigiri sempat marak kembali akibat faktor kemiskinan dan keputusasaan. Berbeda dengan motif sebelumnya, para pelaku di masa ini melakukan pembunuhan demi merampok korban. Banyak warga yang kelaparan, sehingga beberapa samurai terpaksa mengandalkan tsujigiri untuk mencuri uang demi membeli makanan.

Untuk memberantas tsujigiri untuk selamanya, pihak shogunate memperberat hukuman. Pelaku tidak hanya dieksekusi, tetapi mayatnya juga akan diarak keliling kota sebagai peringatan bagi publik. Hukuman yang lebih tegas ini memang membantu menekan angka kejahatan tersebut, namun tokoh kunci di balik berakhirnya praktik mematikan ini adalah seorang ahli pedang senior berusia 50-an bernama Yakuro Saito, yang berhasil membunuh seorang pelaku tsujigiri terkenal dan berjuang menghentikan tradisi mematikan tersebut.

Tsujigiri di Era Modern

Meskipun aksi nyata tsujigiri telah lenyap sejak beberapa abad lalu, warisannya kini hidup di dunia digital. Berikut adalah beberapa contoh kemunculan tsujigiri dalam berbagai video game populer:

  • Game Touhou Project berjudul “Immaterial and Missing Power” menampilkan karakter Youmu Konpaku, seorang pendekar wanita berambut perak yang sering dijuluki sebagai “Tsujigiri Youmu”. Ia adalah sosok setengah manusia setengah hantu yang tangguh dan mengajar ilmu pedang paruh waktu. Meskipun tidak selalu sukses dalam misinya, ia dikenal memiliki gerakan laksana seorang tsujigiri.
Embed for https://youtu.be/mYxgjG8l8t0?t=1m53s no longer exists
  • Fitur “Crossroads Killing” hadir dalam video game “Way of the Samurai 4” (Rising Star Games). Saat pemain terhubung ke PSN, karakter mereka dapat menjadi “samurai pengembara” yang menjelajahi dunia pemain lain untuk melakukan duel atau tsujigiri online demi mendapatkan pedang kustom.
Samurai with sword
  • Dalam franchise Pokémon, terdapat sebuah serangan bernama “Night Slash” yang diperkenalkan pada Generasi IV, yang diterjemahkan sebagai “Tsujigiri” dalam versi bahasa Jepang. Statistik serangannya meliputi: Kategori fisik, kekuatan 70, akurasi 100%, dan bertipe kegelapan (dark). Ini tentu bukan serangan yang ingin Anda hadapi tanpa persiapan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *