Dalam bahasa Jepang, terdapat banyak sekali idiom yang mengikuti pola yang cukup unik namun sering kali tidak disadari. Idiom-idiom ini biasanya terdiri dari empat karakter kanji, di mana makna harfiah dari masing-masing huruf sering kali tidak berkaitan langsung dengan arti keseluruhan dari ungkapan tersebut. Konon, ungkapan ini berakar dari sebuah kisah atau legenda, sehingga akan sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk menebak artinya jika seseorang tidak mengetahui latar belakang cerita di baliknya.
Jenis idiom semacam ini dikenal sebagai yojijukugo (四字熟語), yang secara harfiah berarti “senyawa empat karakter” atau “idiom empat karakter”. Hal yang menarik adalah batasan yang dimiliki. Hanya dengan empat karakter, sebuah ungkapan harus mampu merangkum seluruh narasi yang biasanya sarat akan moral, pelajaran hidup, dan nilai edukasi lainnya. Batasan seperti ini sering kali memicu kreativitas yang luar biasa, dan yojijukugo sama sekali tidak mengecewakan dalam hal tersebut.
Fenomena serupa sebenarnya juga ditemukan dalam bahasa Inggris, meskipun dengan batasan yang jauh lebih longgar. Sebagai contoh, ungkapan seperti “serigala berbulu domba” berasal dari berbagai cerita fabel. Ungkapan tersebut tentu tidak diartikan secara harfiah bahwa ada seekor serigala yang benar-benar mengenakan pakaian domba. Melainkan, itu adalah idiom yang merujuk pada sebuah cerita yang sudah seharusnya diketahui oleh pendengar, sehingga konteks dan makna keseluruhannya dapat dipahami.
Asal-Usul Tionghoa pada Yojijukugo

Seperti kebanyakan hal yang berkaitan dengan kanji di Jepang, yojijukugo memiliki akar sejarah dari Tiongkok. Ungkapan ini dapat ditelusuri kembali ke padanan dalam bahasa Tionghoa yang disebut Chengyu. Bahkan, banyak yojijukugo yang diserap langsung dari versi Tionghoa tersebut, dengan beberapa penyesuaian kecil pada cara baca agar lebih sesuai dengan lidah Jepang.
Mirip dengan Chengyu, karakter-karakter kanji dalam yojijukugo sering kali merepresentasikan gagasan dan moral individual dari cerita asalnya. Inilah alasan mengapa sangat sulit memahami arti sebuah idiom tanpa mengetahui kisah di baliknya terlebih dahulu. Ungkapan-ungkapan ini berfungsi seperti alat bantu mnemonik kuno yang membantu seseorang mengingat sebuah cerita beserta pelajaran berharga di dalamnya.
Kendati demikian, tidak semua yojijukugo merupakan hasil adopsi. Meskipun sebagian besar berasal dari akar Tionghoa, ada pula banyak yojijukugo murni buatan Jepang. Ungkapan-ungkapan ini biasanya bersumber dari kitab suci Buddha, pepatah tradisional Jepang, dan cerita rakyat setempat. Namun, sama seperti Chengyu, pemahaman akan cerita di baliknya tetap menjadi kunci utama untuk mengerti makna yang terkandung.
Beberapa Idiom Jepang yang Umum

Jumlah total yojijukugo sangatlah banyak, dengan perkiraan berkisar antara 5.000 hingga lebih dari 20.000 ungkapan. Jumlah ini tentu terlalu banyak untuk dipelajari sekaligus. Dari ribuan daftar yang ada, hanya sebagian kecil yang dinilai paling berguna dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Sebagai titik awal untuk mempelajari ungkapan yang paling sering dijumpai dan memberikan manfaat paling besar, berikut adalah beberapa contoh yojijukugo yang populer:
- 一期一会
- “Kesempatan sekali seumur hidup”
- 一石二鳥
- “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”
- 初志貫徹
- “Mewujudkan niat awal seseorang”
- 以心伝心
- “Memahami tanpa perlu kata-kata”
- 一所懸命
- “Berusaha dengan sekuat tenaga”
- 温故知新
- “Belajar dari masa lalu”
- 花鳥風月
- “Keindahan alam”
- 臥薪嘗胆
- “Tahan uji dalam mencapai tujuan”
- 質実剛健
- “Sederhana dan tulus”
- 十人十色
- “Lain kepala, lain pula isi/pendapatnya”
- 晴耕雨読
- “Menjalani hidup tenang dengan membagi waktu antara bekerja dan kegiatan intelektual”
- 清浄潔白
- “Suci hati dan berhati nurani bersih”
- 切磋琢磨
- “Mengasah diri melalui belajar dengan giat”
- 天真爛漫
- “Sederhana dan polos”
- 日進月歩
- “Kemajuan yang pesat dan konstan”
- 不言実行
- “Tindakan lebih utama daripada kata-kata”
- 粉骨砕身
- “Bekerja keras hingga titik darah penghabisan”
- 悠々自適
- “Menjalani kehidupan yang santai namun bermartabat”
- 臨機応変
- “Bertindak fleksibel sesuai situasi”
Pada beberapa contoh di atas, makna asalnya dapat langsung ditebak dari kanji pembentuknya. Sebagai contoh, 十人十色 secara harfiah berarti “sepuluh orang, sepuluh warna,” yang kemudian merepresentasikan keragaman sifat manusia. Namun, banyak juga ungkapan lain yang tidak begitu jelas dan menuntut pemahaman mendalam mengenai kisah di baliknya agar tidak terlihat sekadar sebagai kumpulan huruf tanpa konteks.
Mengingat masih ada ribuan idiom lain di luar sana, menetapkan prioritas belajar adalah hal yang bijak jika seseorang ingin menguasai bahasa Jepang dengan efisien. Mempelajari yojijukugo yang paling umum tentu akan sangat membantu, sementara upaya menghafal seluruh ribuan idiom tersebut lebih cocok dilakukan setelah seseorang mencapai tingkat kefasihan tertentu.







