Home / Travel / Alasan Jatuh Cinta dengan Jepang dan 5 Alasan Wajib Berkunjung

Alasan Jatuh Cinta dengan Jepang dan 5 Alasan Wajib Berkunjung

The Chureito Pagoda Mt. Fuji

Beberapa tahun lalu, ketika saya sedang berselancar di Instagram, seorang sesama kreator konten di Tokyo bertanya secara mendadak mengapa saya menghabiskan begitu banyak uang untuk bepergian dan mempromosikan blog perjalanan Jepang saya. Pada saat itu, saya merasa cukup heran dengan pertanyaan tersebut. Maksud saya, bukankah sudah sangat jelas mengapa saya begitu terobsesi dengan negara yang luar biasa ini? Jika ada, justru saya yang bingung mengapa seseorang tidak ingin mendedikasikan sebagian besar dana hiburannya untuk menjelajahi Jepang. Lagipula, apa lagi hal menarik yang bisa dilakukan dengan uang tersebut selain membiarkannya mengendap di bank?

Sejak pertama kali saya menulis surat cinta untuk Jepang pada tahun 2021, banyak hal telah berubah. Saat ini, tidak perlu waktu lama untuk meyakinkan orang agar datang ke Jepang. Negara ini menyambut rekor 42,7 juta pengunjung internasional pada tahun 2025, dan pemerintah setempat bahkan menargetkan angka hingga 60 juta kunjungan pada tahun 2030. Rasanya seolah-olah semua orang, mulai dari kerabat dekat hingga nenek moyar, sedang merencanakan perjalanan ke sana. Akibatnya, beberapa destinasi populer kini sangat kewalahan menghadapi lautan wisatawan asing, sementara sebagian besar wilayah lainnya justru sangat mengharapkan kedatangan pelancong.

Saya awalnya menyusun esai ini di tengah masa pandemi, ketika pandangan saya belum ternodai oleh perilaku buruk sebagian pelancong. Dalam beberapa tahun terakhir, melihat lonjakan kerumunan yang datang demi memanfaatkan melemahnya nilai yen membuat saya sedikit lebih bersikap sinis terhadap masalah pariwisata berlebih di Jepang. Meski demikian, rasa kagum saya tidak pernah surut sedikit pun. Jika ada, gelombang wisatawan tersebut justru membuat saya semakin menghargai sudut-sudut wilayah yang tenang dan sepi.

Dengan pemikiran tersebut, izinkan saya membagikan lima alasan mengapa saya tetap jatuh cinta pada pesona Jepang yang berbeda:

Alasan Pertama: Penemuan Tanpa Henti

The torii gate tunnel of Motonosumi Inari Shrine in Yamaguchi Prefecture

Bukan rahasia lagi bahwa slogan resmi Organisasi Pariwisata Nasional Jepang adalah "penemuan tanpa henti." Kendati demikian, saya rasa sedikit sekali wisatawan yang menyadari betapa tepatnya frasa tersebut. Secara sederhana, daftar tempat impian yang ingin saya kunjungi di Jepang kini sudah sangat panjang hingga membutuhkan waktu lebih dari satu masa hidup untuk menyelesaikannya. Bahkan, seseorang bisa hidup selama satu abad dan belum tentu bisa menjelajahi Tokyo sepenuhnya, apalagi wilayah Jepang lainnya.

Meskipun wilayahnya relatif kecil, Jepang dipenuhi dengan berbagai objek wisata dan permata tersembunyi yang menarik. Berbeda dengan kawasan pinggiran kota di Amerika Utara yang terkesan monoton, hampir setiap sudut di Jepang menyimpan potensi untuk memikat hati pelancong mancanegara. Faktanya, di setiap perjalanan saya menyusuri pedesaan Jepang, saya tidak pernah mendapati satu pun perjalanan yang terasa membosankan. Secara keseluruhan, seseorang harus berusaha sangat keras jika ingin mendapatkan pengalaman yang buruk di negara ini.

Namun, di sinilah letak ironi dari tren pariwisata saat ini. Sekalipun puluhan juta pendatang baru berdatangan, sebagian besar dari mereka hanya berbondong-bondong menuju belasan lokasi foto yang sama yang mereka lihat di media sosial. Masalahnya bukanlah kekurangan informasi, melainkan kurangnya kesadaran untuk mengeksplorasi hal lain. Sementara itu, seluruh prefektur yang kaya akan daya tarik wisata sering kali terlewatkan dan berpekan-pekan tidak dikunjungi oleh wisatawan asing. Bagi seorang petualang sejati, kondisi ini justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri.

Alasan Kedua: Logistik yang Handal

A bullet train bound for Kyoto on the Tokdaido Nozomi Line

Berbicara mengenai mobilitas, alasan kedua mengapa saya sangat menyukai perjalanan di Jepang adalah jaringan transportasinya yang luar biasa. Sebagai seseorang yang tidak pernah mengemudikan kendaraan pribadi, kemudahan untuk berpindah dari satu ujung Jepang ke ujung lainnya hanya dalam hitungan jam adalah sebuah anugerah. Setiap akhir pekan, saya menaiki kereta peluru menuju destinasi pedesaan yang terpencil, dan sebelum saya menyadarinya, saya pun telah sampai di sana. Terlebih lagi, saya bahkan bisa tetap menyelesaikan pekerjaan selama berada di dalam perjalanan.

Tentu saja, pembahasan mengenai transportasi umum di Jepang tidak akan lengkap tanpa menyebutkan ketepatan waktunya. Faktor tunggal inilah yang menempatkan Jepang di kelas tersendiri dalam hal logistik perjalanan. Mengingat perjalanan sering kali memerlukan beberapa kali transit untuk mencapai tujuan akhir, mengetahui jadwal kedatangan kereta secara pasti memberikan ketenangan tersendiri. Selain itu, jadwal yang selalu tepat waktu membuat rencana petualangan menjadi jauh lebih mudah untuk disusun.

Di tengah era pariwisata berlebih saat ini, jaringan transportasi tersebut juga berfungsi sebagai jalur penyelamatan. Kereta yang sama yang membawa rombongan besar wisatawan ke tiga atau empat destinasi populer juga siap mengantarkan Anda ke tempat lain di seluruh negeri. Cukup keluar dari jalur utama dan beralihlah ke jalur kereta pedesaan, maka kerumunan orang akan langsung lenyap. Di kawasan pedesaan, Anda bahkan bisa menghabiskan waktu berhari-hari tanpa berpapasan dengan turis asing lainnya. Jujur saja, sangat disayangkan jika sedikit sekali pelancong yang memanfaatkan fasilitas ini.

Alasan Ketiga: Narasi Sejarah

Nara Prefecture’s Horyu-ji temple complex which is the oldest wooden building in the world

Meskipun Jepang bukan satu-satunya negara di dunia yang memiliki kebudayaan berusia ribuan tahun, warisan masa lalunya tetap menjadi daya tarik utama bagi saya. Secara pribadi, saya merupakan pendukung kuat kekuatan narasi sejarah dalam menghidupkan kembali sebuah lokasi wisata. Dalam hal ini, sedikit sekali destinasi lain di dunia yang mampu menandingi Jepang. Di mana pun Anda melangkah, selalu ada berbagai kisah sejarah dan budaya unik yang menarik untuk ditelusuri. Bahkan bagi pelancong pemula sekalipun, kisah-kisah bersejarah ini sangat mudah dipahami dan dinikmati.

Satu hal yang menakjubkan dari Jepang adalah sebagian besar kekayaan budaya dan sejarahnya masih terjaga dalam bentuk fisik yang nyata. Mulai dari kompleks kuil Horyu-ji yang diakui sebagai bangunan kayu tertua di dunia, hingga tradisi rekonstruksi Kuil Ise Jingu yang konsisten dilakukan setiap dua dekade sekali, bukti sejarah panjang Jepang dapat ditemukan di seluruh penjuru negeri. Banyak dari struktur bangunan ini bahkan telah berdiri jauh sebelum negara-negara modern seperti Amerika Serikat terbentuk. Menyaksikan langsung karya-karya bersejarah ini memberikan perspektif tersendiri mengenai usia dunia modern kita saat ini.

Sayangnya, lonjakan pariwisata telah sedikit mengurangi keajaiban naratif di situs-situs paling terkenal di Jepang. Ketika Anda harus berbagi ruang dengan ribuan pelancong lainnya, esensi keaslian budaya tersebut kerap memudar. Saat ini, kawasan seperti Senso-ji di Asakusa dan Fushimi Inari Taisha di Kyoto terasa lebih mirip taman hiburan ketimbang destinasi budaya yang kaya makna. Kabar baiknya adalah cerita di balik tempat-tempat tersebut tidak pernah hilang. Di kuil-kuil, tempat suci, dan reruntuhan kastil yang lebih sepi di berbagai penjuru kepulauan, jejak sejarah Jepang masih terawat dengan baik dan seringkali bisa Anda nikmati seorang diri.

Alasan Keempat: Keamanan

Tokyo’s busy Shinjuku area at dusk as people cross the road

Mungkin hal ini sudah sering didengar, tetapi Jepang memang diakui sebagai salah satu negara paling aman di dunia. Bahkan, saya sempat meninggalkan laptop dan ponsel saya begitu saja di atas meja saat beranjak ke kamar mandi ketika menulis artikel ini. Sulit bagi saya untuk merasa nyaman melakukan hal serupa di belahan dunia lain. Selain itu, saya hampir selalu bepergian seorang diri. Meskipun sering berkelana sendirian, saya tidak pernah merasa terancam atau tidak nyaman selama menjalani berbagai petualangan tersebut.

Saya menyadari bahwa pengalaman saya mungkin dipengaruhi oleh latar belakang saya sebagai pria asing berperawakan tinggi, namun secara umum masyarakat Jepang memang memiliki sifat yang jujur dan ramah. Dompet yang terjatuh di jalan sering kali dapat kembali ke tangan pemiliknya secara utuh beserta uang di dalamnya. Kendati Anda harus tetap waspada terutama ketika menikmati kehidupan malam yang larut, tingkat keamanan di Jepang jauh melampaui kebanyakan tempat lain di planet ini.

Kendati demikian, gelombang kunjungan wisatawan baru-baru ini juga membawa sebagian pelancong dengan perilaku kurang terpuji, dan penduduk setempat mulai menyadarinya. Kejenuhan terhadap turis asing kini menjadi fenomena nyata yang terus berkembang, khususnya di daerah-daerah yang paling terdampak oleh pariwisata berlebih. Jepang tetaplah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kepercayaan, dan nilai kepercayaan inilah yang membuat pengalaman berwisata di sini begitu menyenangkan. Karena itu, jadilah pelancong yang bijak agar keramahan masyarakat setempat tetap terjaga.

Alasan Kelima: Keindahan Alam

A tree in Japan during the autumn months

Orang-orang sering bertanya kepada saya mengenai waktu terbaik untuk berkunjung ke Jepang. Jawaban saya biasanya adalah kapan saja. Tidak ada waktu yang salah untuk mengunjungi Jepang karena selalu ada pemandangan menarik di setiap musimnya. Berikut adalah beberapa musim favorit saya:

  • Musim Semi
    Meskipun bunga sakura selalu mencuri perhatian utama, musim semi juga menjadi waktu bermekarannya bunga azalea dan nemophila. Anda bisa mengunjungi Kuil Nezu di Tokyo untuk melihat azalea, serta Taman Hitachi Seaside di Ibaraki untuk menikmati hamparan nemophila.
  • Musim Hujan
    Meskipun periode ini biasanya tergolong sepi pengunjung, peralihan antara musim semi dan musim panas menawarkan kesempatan untuk menikmati objek wisata tanpa berdesakan. Waktu ini juga sangat pas untuk menyaksikan keindahan bunga hydrangea di Kamakura.
  • Musim Panas
    Meskipun suhunya cukup panas dan lembap, musim panas merupakan musim penyelenggaraan berbagai festival tradisional yang meriah. Selain itu, banyak pelajar dan pekerja kantoran yang mendapatkan libur panjang pada periode ini.
  • Musim Gugur
    Bulan-bulan musim gugur di Jepang menawarkan pemandangan yang luar biasa indah. Menurut saya pribadi, keindahan warna daun-daun musim gugur bahkan mampu bersaing dengan keindahan bunga sakura.
  • Musim Dingin
    Khususnya di wilayah pesisir Laut Jepang, musim dingin dirayakan dengan hamparan salju yang memukau. Bagi para penggemar olahraga ski atau seluncur salju, berkunjung ke Jepang pada musim dingin adalah pengalaman yang wajib dicoba.

Sebagai keuntungan tambahan, kalender musiman di Jepang dapat dimanfaatkan sebagai strategi untuk menghindari keramaian. Sebagian besar wisatawan memadati destinasi utama hanya pada puncak musim mekarnya sakura. Dengan menggeser jadwal kunjungan atau memilih alternatif destinasi regional, Anda dapat menikmati keindahan alam Jepang yang tenang dan asri.

Omong-omong, waktu favorit pribadi saya adalah musim gugur. Tidak banyak hal di dunia ini yang dapat menandingi kemegahan lanskap Jepang ketika pepohonan berubah warna menjadi rona kuning dan merah menyala. Selain itu, musim dedaunan musim gugur berlangsung selama lebih dari sebulan seiring pergerakan warna dari wilayah utara, memberikan lebih banyak waktu lelucon untuk merencanakan perjalanan dibandingkan periode sakura yang singkat.

Alasan Tambahan: Kuliner

Some Japanese wagyu beef in a sukiyaki hot pot along with other veggies

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan satu alasan terakhir mengapa Jepang adalah negara terbaik untuk dikunjungi. Meskipun saya bukanlah seorang pecinta kuliner yang mementingkan pengalaman gastronomi mewah, saya tetap mengakui bahwa Jepang memiliki salah satu kultur kuliner terbaik di dunia. Jika seseorang yang tidak terlalu peduli dengan makanan sepert saya bisa mengakuinya, Anda tentu dapat membayangkan bagaimana kesan para penikmat kuliner sejati.

Tentu saja, gelombang pariwisata baru-baru ini turut memengaruhi hal tersebut. Berkat rekomendasi media sosial, banyak wisatawan kini rela mengantre selama berjam-jam di depan kedai ramen yang sedang viral, sementara kedai lain dengan kualitas semangkuk mi yang sama lezatnya dibiarkan sepi beberapa blok dari sana. Penggemar kuliner sejati tentu paham betapa kurang efisiennya hal tersebut. Namun, jika Anda mengabaikan tren sesaat tersebut, Anda akan segera mendapati bahwa keunggulan kuliner di Jepang adalah sebuah standar, bukan pengecualian.

Mulai dari hidangan ramen sederhana hingga pilihan bersantap mewah, Jepang menawarkan ragam hidangan yang lezat. Bahkan, makanan yang dijual di toko serba ada di sini memiliki kualitas yang sangat baik jika dibandingkan dengan restoran biasa di luar negeri.

Jika esai ini menginspirasi Anda untuk melangkah lebih jauh dari jalur wisata konvensional, blog ini hadir untuk membantu Anda mewujudkannya. Saya tidak menawarkan apa pun selain sudut pandang lain mengenai Jepang. Jika Anda membutuhkan panduan untuk menentukan destinasi berikutnya, panduan lengkap saya dapat menjadi titik awal yang baik. Sampai jumpa di petualangan berikutnya!


Subscribe to My Newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *