Masyarakat Jepang memiliki pandangan yang sangat unik terhadap buah. Di sana, buah-buahan—khususnya melon—kerap dijadikan sebagai hadiah istimewa, bahkan dibudidayakan secara khusus layaknya barang mewah bernilai tinggi.
Dedikasi para petani dalam merawat buah-buahan premium ini memang luar biasa. Bunga-bunga apel diserbuki satu persatu menggunakan kuas kecil, setiap buah dibungkus dengan kantong kertas pelindung agar terhindar dari cuaca ekstrem, dan diberi stensil khusus supaya kulitnya menghasilkan pola huruf kanji tertentu.

Praktik pertanian seperti ini bukanlah hal yang langka di Jepang. Berbagai media besar seperti The New York Times dan BBC bahkan pernah mengulas bagaimana petani di sana menghasilkan buah dengan kualitas kelas atas.
Wajar saja jika harga buah-buahan tersebut kerap membuat orang terkejut. Melon kualitas premium dapat dibanderol dengan harga yang sangat fantastis, bahkan mencapai ribuan dolar untuk satu buah saja.
Namun, di luar pasar buah mewah tersebut, Jepang juga memiliki berbagai buah sehari-hari yang unik dan sulit ditemukan di tempat lain. Sebagian merupakan varietas langka yang tumbuh secara alami, sementara yang lain sengaja direkayasa agar memiliki cita rasa dan bentuk yang menarik.
Akebi
Sekilas, akebi tampak menyerupai terong, tetapi buah ini menyimpan keunikan tersendiri. Berasal dari wilayah utara Tohoku, buah ini baru mulai dibudidayakan secara serius dalam beberapa waktu belakangan.

Di balik kulit ununya yang akan merekah sendiri ketika matang, terdapat daging buah berwarna putih susu yang bentuknya mirip pisang berukuran kecil.

Dari segi rasa, akebi cenderung biasa saja. Teksturnya pun cukup unik, seperti yang dijelaskan oleh Kyoto Foodie:
Teksturnya mirip dengan daging buah leci, namun jauh lebih lunak. Buah ini penuh dengan biji kecil yang hampir tidak mungkin dipisahkan dari dagingnya… Cara terbaik menikmatinya adalah langsung diseruput bersama bijinya. Jika bijinya dikunyah, rasanya akan menjadi pahit. Nikmati saja seperti Anda memakan yogurt atau smoothie buah yang kental.
Meskipun rasanya mungkin tidak terlalu istimewa, bentuk akebi yang sangat khas dan keberadaannya yang langka di luar Jepang tetap menjadikannya buah yang menarik.
Dekopon
Dilihat sekilas, dekopon tampak seperti jeruk biasa. Namun, buah ini sebenarnya adalah hasil persilangan dua jenis jeruk yang dikembangkan di Jepang pada tahun 1970-an. Ukurannya lebih besar dan rasanya jauh lebih manis daripada jeruk pada umumnya.
Hal paling menarik dari dekopon justru terletak pada asal-usul namanya. Aksara kanji untuk deko adalah 凸, yang jika dilihat dari bentuk tonjolan di bagian atas buah tersebut, tampak sangat mirip dengan siluet dekopon.

Proses impor buah ini ke luar negeri sempat terkendala oleh regulasi yang ketat demi melindungi ekosistem lokal, sehingga baru dalam beberapa tahun terakhir buah ini mulai masuk ke pasar Amerika Serikat dengan nama baru yaitu “sumo”.
Semangka Kotak
Tidak ada buah di Jepang yang lebih ikonik selain semangka berbentuk kubus ini. Dikembangkan pada era 70-an oleh para petani setempat yang ingin mempermudah proses penyimpanan dan pengiriman, buah ini ditarik pertumbuhannya di dalam wadah kaca berbentuk kubus.

Meskipun awalnya bertujuan untuk kepraktisan, merawat semangka kubus ternyata jauh lebih sulit daripada membudidayakan semangka biasa. Kendati demikian, buah novelty ini sangat diminati sehingga para petani dapat mematok harga tinggi karena bentuknya yang tidak biasa, meskipun rasanya tetap sama seperti semangka biasa.
Hyuganatsu
Hyuganatsu memiliki sejarah penemuan yang tidak biasa. Berbeda dengan kebanyakan buah yang sengaja direkayasa atau dibudidayakan sejak lama, hyuganatsu ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1820 ketika seseorang mendapati pohon dengan buah yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Para ahli menduga bahwa hyuganatsu adalah hasil persilangan alami antara yuzu dan pomelo.

Sama seperti dekopon, buah ini merupakan bagian dari keluarga jeruk dengan warna kuning dan rasa yang cenderung agak asam. Orang-orang biasanya menyantap hyuganatsu dengan sedikit tambahan gula agar rasanya lebih seimbang.
Buah ini tergolong sangat khas Jepang karena tidak memiliki padanan nama di bahasa lain dan umumnya tidak dibudidayakan di negara lain. Walau bukan buah dengan rasa paling lezat di dunia, hyuganatsu tetap memuat identitas kultural Jepang yang kuat.







