Home / Travel / Mencari Simbol Utama Jepang: Kastil, Kuil, Gunung, dan Kereta, Bagaimana Cara Memilihnya?

Mencari Simbol Utama Jepang: Kastil, Kuil, Gunung, dan Kereta, Bagaimana Cara Memilihnya?

header 640x 47

Saat merencanakan perjalanan ke destinasi baru, setiap pelancong biasanya memiliki daftar impian tersendiri—mulai dari kuliner yang wajib dicoba, gunung yang ingin didaki, hingga bangunan ikonis yang ingin disaksikan secara langsung. Terkadang, daftar tersebut bersifat sangat personal, seperti menelusuri tempat tinggal leluhur atau mencari lokasi yang terinspirasi dari karya seni Ukiyo-e. Namun, bagi sebagian besar turis mancanegara, tujuan utama bepergian ke luar negeri adalah melihat sesuatu yang berskala besar—sesuatu yang mampu merangkum identitas utama dari tempat tersebut.

Artikel ini akan membahas mengenai Edo Castle, sebuah organisasi nirlaba yang berambisi untuk membangunnya kembali, serta berbagai tanggapan masyarakat Jepang terkait rencana tersebut. Di bagian akhir, penulis juga akan membagikan beberapa gagasan mengenai apa yang layak menjadi simbol utama dari negara Jepang.

Apakah Edo Castle Merupakan Simbol Jepang?

NPO Tokyo Edo castle

Tokyo terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, sebuah momentum besar yang dimanfaatkan secara maksimal untuk mendongkrak sektor pariwisata. Di tengah persiapan tersebut, sebuah organisasi bernama NPO江戸城再建 (NPO Rebuilding Edo Castle) berupaya menggalang dukungan publik serta pendanaan untuk mewujudkan proyek ambisius: membangun kembali menara utama dari kompleks kota benteng Edo Castle yang ikonis.

Untuk memahami seberapa masif kawasan tersebut, parit luar Edo Castle membentang sejauh 15 kilometer, sementara parit dalamnya mencapai 5 kilometer. Tanpa berhenti, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mengelilingi parit luar dan 1 jam untuk parit dalam.

Tokyo modern saat ini tidak memiliki sebuah kastil utama. Di Chiyoda ward, terdapat Imperial Palace tempat keluarga kekaisaran tinggal, lengkap dengan parit dan menara kecil bernama Fujimi-yagura. Kendati demikian, bangunan-bangunan tersebut tidak berbentuk benteng megah seperti kastil di Nagoya atau Osaka, yang ukurannya pun sebenarnya hanya separuh dari tinggi menara utama Edo-jo di masa lampau.

Seperti banyak situs bersejarah di Jepang, lokasi fisik Edo-jo tidak banyak berubah, meskipun struktur bangunannya sering berganti. Kawasan Edo mulai berkembang sejak abad ke-11, namun baru pada tahun 1457 kawasan ini resmi disulap menjadi sebuah kompleks benteng pertahanan. Benteng ini kemudian jatuh ke tangan Tokugawa Ieyasu, yang memprakirakan perluasan skala besar termasuk pembangunan menara utama (donjon) setinggi 59 meter. Benteng tersebut sempat berdiri, hancur, dibangun kembali, hingga akhirnya musnah untuk terakhir kalinya akibat Kebakaran Besar Meireki pada tahun 1657. Bencana tersebut diperkirakan merenggut nyawa 100.000 orang atau seperlima dari populasi Edo saat itu.

edo castle schematic

Upaya Membangun Kembali Kastil

Berdasarkan informasi dari situs resmi NPO tersebut, pasca musibah kebakaran besar, paman dari shogun sempat berpesan agar prioritas utama diberikan kepada pemulihan korban bencana dan rekonstruksi wilayah perkotaan, bukan membangun ulang menara. Kendati demikian, pihak shogun telanjur menyiapkan dana dan merekonstruksi bagian fondasi batunya sebelum akhirnya mengurungkan niat menyelesaikan seluruh menara.

Sejak saat itu, menara tersebut tidak pernah benar-benar berdiri kembali secara utuh. Selama masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa yang berlangsung sekitar 250 tahun, menara utama tersebut hanya sempat berdiri dalam kurun waktu sekitar 50 tahun saja. Lantas, mengapa organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2004 ini bersikeras ingin membangun ulang menara yang tergolong “sial” tersebut?

remains of tenshukaku tower edo castle

Mereka berargumentasi bahwa keberadaan Edo-jo diperlukan untuk mewariskan peninggalan sejarah yang merepresentasikan semangat tradisional dan keunikan Jepang kepada generasi mendatang, sekaligus menarik minat wisatawan global melalui pesonanya. Menurut mereka, turis yang berkunjung ke Tokyo saat ini umumnya hanya mendatangi kawasan Asakusa atau Akihabara, yang dinilai kurang menampilkan esensi sejarah yang mendalam di pusat metropolitan.

Rencana mereka adalah mendirikan kembali benteng enam lantai yang akurat secara historis di atas fondasi batu asli yang selama ini terbengkalai. Biaya pembangunannya diperkirakan mencapai 40 hingga 50 miliar yen (sekitar 400 hingga 500 juta USD). Proyek ini juga memerlukan perizinan khusus mengingat strukturnya yang tinggi berbahan kayu, posisinya yang berada dekat dengan kediaman keluarga kekaisaran, serta lokasinya yang berdiri di atas situs arkeologi asli yang belum sepenuhnya diekskavasi.

Pandangan Masyarakat Jepang Terhadap Edo-jo

pray for tohoku carton

Meski organisasi nirlaba ini telah beroperasi selama hampir satu dekade, rencana rekonstruksi yang kembali mencuat menjelang Olimpiade menuai beragam reaksi dari masyarakat Jepang melalui pemberitaan surat kabar Asahi Shinbun:

  • 「そんな無駄金あったら震災復興に使えよ」
  • “Jika punya uang sebanyak itu untuk dibuang-buang, lebih baik gunakan untuk pemulihan daerah yang terdampak bencana.” — Anonim

Terdapat pula warga yang mengkhawatirkan penggunaan anggaran negara:

  • 「寄付だけでやるなら反対はしない。税金は一切使うなよ!」
  • “Jika murni menggunakan dana sumbangan, saya tidak keberatan. Tapi jangan berani-berani menggunakan sepeser pun uang pajak kami!” — Anonim

Di sisi lain, ada pula yang menyambutnya dengan antusiasme tinggi:

  • 「…東京に江戸城とかカッコヨクね?え。なんでみんな批判てきなんだろう。めっちゃカッコイイじゃん。たぶん、超みんな行くと思う。おれ、めっちゃ行きたいもん。」
  • “Bukankah memiliki kastil Edo di Tokyo itu keren? Saya heran mengapa banyak yang mengkritiknya. Tempat itu pasti sangat luar biasa dan saya yakin semua orang akan ingin berkunjung ke sana.” — Takuya Sebec Kawamura

Namun, pandangan pesimistis juga dilontarkan oleh pihak yang menentang pembangunan replika:

  • 「バッキンガム宮殿、紫禁城、凱旋門。全部本物。東京には歴史的ランドマークがないことを痛感自国の歴史に無知なだけ。東京の事をまともに知らない人間が外国で日本を売り込もうとするから恥をかくのだよ。そもそもレプリカ造って「歴史的」ランドマークだなんてありえないでしょ?」
  • “Istana Buckingham, Kota Terlarang, Arc de Triomphe—semuanya adalah bangunan asli. Orang yang merasa Tokyo tidak punya landmark bersejarah hanyalah mereka yang abai terhadap sejarah negaranya sendiri. Sangat memalukan jika mempromosikan Jepang ke luar negeri tanpa memahami Tokyo secara mendalam. Lagipula, membangun replika dan melabelinya sebagai landmark ‘bersejarah’ adalah hal yang tidak masuk akal.” — Mahito Kanayama

Negara Tanpa Monumen?

heian chrine kyoto japan

Sebagai negara yang kerap dilanda gempa bumi, angin muson, kebakaran, dan kelembapan tinggi, rekonstruksi berkala sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pelestarian bangunan penting di Jepang, seperti halnya Ise Jingu yang menjadi tempat bersemayam Dewi Amaterasu. Kendati demikian, terdapat beberapa alternatif simbol dan monumen potensial bagi Jepang di sekitar Tokyo yang tidak membutuhkan biaya fantastis, melainkan strategi pemasaran yang tepat.

Tenshu-dai

Gagasan para pendukung restorasi Edo-jo sebenarnya patut dicermati, di mana sisa fondasi menara atau Tenshu-dai itu sendiri dapat diangkat menjadi simbol nasional. Mengingat sejarah keputusasaan shogun di masa lalu yang lebih memilih mengalihkan dana pembangunan untuk kepentingan rakyat, ketiadaan menara megah di atas fondasi tersebut justru melahirkan identitas Tokyo yang unik. Terkadang, ruang kosong justru memiliki makna yang mendalam. Berdiri di atas situs bekas menara kekuasaan tersebut, pengunjung dapat menatap langit bebas dan merajut impian—sebuah filosofi simbolis yang kuat tentang Jepang.

Mount Fuji

mt fuji japan

Untuk urusan pengenalan internasional, Menara Eiffel di Paris atau Kremlin di Moskwa telah lama menjadi representasi visual yang kuat bagi kota masing-masing. Di Tokyo sendiri, menemukan monumen historis berskala besar menjadi tantangan tersendiri karena banyak bangunan masa lalu yang musnah akibat Perang Dunia II.

Namun, Gunung Fuji berhasil bertahan melewati masa-masa kelam tersebut. Menjadi subjek dari ratusan karya seni Ukiyo-e serta dikelilingi oleh lanskap pedesaan teh yang asri, Gunung Fuji telah lama menjadi ikon global. Meskipun tidak terletak persis di pusat Tokyo dan menghadapi tantangan ekologis akibat kunjungan masif, reputasi alami yang dimilikinya membuktikan bagaimana sebuah landmark alam mampu berdiri sejajar dengan monumen buatan manusia mana pun.

Asakusa

asakusa kannon park

Melalui strategi pemasaran yang matang, kawasan Senso-ji di Asakusa juga memiliki potensi besar untuk menjadi siluet arsitektur yang langsung diasosiasikan dengan Jepang. Berawal dari desa nelayan kecil hingga penemuan arca Buddha emas di sungai, Asakusa berkembang menjadi pusat spiritual dan budaya yang dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun mancanegara.

Meskipun sebagian besar bangunan aslinya sempat hancur akibat kebakaran dan perang, kawasan ini konsisten dibangun kembali di atas lokasi yang sama selama ratusan tahun. Dengan pagoda lima lantai, gerbang Kaminari-mon, serta lentera raksasanya, Asakusa memegang peranan historis yang kuat dan diakui lintas generasi di Jepang.

Jadi, Apa Sebenarnya Simbol Jepang?

fuji matsuri wisteria festival

Bagi banyak pelancong, simbol suatu tempat seringkali ditemukan pada hal-hal kecil dan sederhana. Mulai dari jembatan melengkung di Kameido Tenjin Jinja hingga pemandangan perkotaan modern yang berpadu dengan jejak sejarah, makna sebuah landmark selalu terbuka untuk diperdebatkan.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai proyek rekonstruksi Edo-jo, penelusuran terhadap monumen-monumen bersejarah ini memberikan sudut pandang tersendiri mengenai kekayaan budaya Jepang.


Sebagai bonus, tersedia ilustrasi latar belakang bernuansa simbol-simbol Jepang yang dapat Anda nikmati.

symbol of japan wallpaper dark color scheme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *