Lebih dari enam bulan telah berlalu sejak penayangan perdana Cyberpunk: Edgerunners di Netflix secara global. Serial orisinal ini berhasil menggemparkan dunia anime, menandai kembalinya Studio Trigger sekaligus mempersembahkan kisah yang memikat di dalam semesta permainan dari CD PROJEKT RED. Meskipun gimnya sempat mengalami peluncuran yang kurang mulus, versi animenya sama sekali tidak menemui kendala serupa dan sukses memborong berbagai penghargaan, termasuk gelar Anime Baru Terbaik 2022 dari Anime Corner serta Anime of the Year dari Crunchyroll.
Untuk mengetahui proses di balik pembuatan proyek unik ini, kami menghubungi Bartosz Sztybor, selaku narasi direktur komik dan animasi di CD PROJEKT RED yang juga berperan sebagai penulis naskah serta produser Cyberpunk: Edgerunners. Kami berhasil menghimpun berbagai pertanyaan menarik dalam sebuah wawancara eksklusif.
Di Balik Layar Produksi dan Kolaborasi Bersama Studio Trigger
T: Bisakah Anda membagikan bagaimana awalnya ide anime Cyberpunk: Edgerunners tercetus? Seberapa besar pengaruh perilisan gim Cyberpunk 2077 terhadap produksi Edgerunners?
J: Proses pembuatan Cyberpunk: Edgerunners memakan waktu cukup panjang, tetapi sejak awal kami sudah bertekad untuk menghadirkan sebuah anime di dalam semesta Cyberpunk 2077. Waralaba ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan anime, dan kami merasa bahwa membuat serial sendiri adalah bentuk penghormatan kami terhadap genre tersebut. Dengan visi itu, kami mulai mencari kisah yang paling sesuai dengan format anime dan dunia Cyberpunk 2077. Setelah melalui puluhan draf karakter dan cerita, serta diskusi panjang bersama Studio Trigger, kami sepakat bahwa kisah antara David dan Lucy adalah pilihan yang paling sempurna.
Mengenai dampak perilisan gim terhadap produksi Edgerunners, sejujurnya pengaruhnya tidak terlalu besar. Biasanya saya menghabiskan sepanjang hari untuk menulis cerita, dilanjutkan dengan panggilan video selama enam hingga delapan jam bersama Studio Trigger, sehingga saya bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di “dunia nyata”, ha ha!
Namun, tentu saja ada hari-hari di mana saya mendengar kabar dari studio atau berbincang dengan rekan-rekan saat jam makan siang, meski hal itu sama sekali tidak mengubah apa pun. Saya tahu Cyberpunk 2077 memiliki potensi yang sangat besar. Saya memainkan gimnya dan menyadari seberapa kaya muatan emosional, pembangunan dunianya, serta potensi ceritanya. Sebagai sebuah studio, kami memiliki banyak kisah luar biasa yang ingin kami sampaikan, dan kesadaran itulah yang memberi saya lebih banyak kekuatan.
T: Apakah Anda sudah tahu sejak awal bahwa Anda akan menulis cerita untuk sebuah anime? Bagaimana reaksi awal Anda?
J: Wah, saya merasa sangat antusias! Saya diminta bergabung ke dalam tim oleh Rafał Jaki (pencipta seluruh proyek ini) karena saya memiliki pengalaman menulis untuk buku komik, serial televisi, dan animasi, sehingga saya paham cara menulis naskah serta mengolah kiasan budaya pop. Namun, saya belum pernah menulis anime sebelumnya, padahal saya sudah menyukai animasi Jepang sejak masa kanak-kanak, jadi ini rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tentu saja ada rasa takut karena saya tidak tahu seberapa jauh perbedaannya dibandingkan menulis film atau animasi Eropa, tetapi komunikasi intensif dengan Trigger memberi saya banyak panduan dan pengetahuan berharga.
T: Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang proses produksinya? Bagaimana rasanya bekerja sama dengan TRIGGER dan Netflix?
J: Proses penulisan naskahnya cukup sulit karena pada beberapa bulan pertama sempat terjadi perbedaan kreativitas yang harus disesuaikan oleh kedua belah pihak. Kami ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dari anime-anime sebelumnya; tujuannya adalah memadukan visual serta narasi anime dengan pendekatan penceritaan ala serial televisi premium seperti Breaking Bad, The Wire, atau The Sopranos. Menemukan keseimbangan itu bukanlah hal yang mudah, baik bagi kami maupun pihak Trigger. Pertama, kami berusaha menciptakan sesuatu yang segar. Kedua, kami adalah dua perusahaan dari negara yang berbeda dengan budaya serta pengalaman yang sama sekali tidak sama. Oleh karena itu, kami harus saling belajar, membangun kepercayaan, dan menyamakan bahasa kreatif.
Kami sempat berencana agar saya bisa pergi langsung ke Jepang untuk menulis naskah final bersama tim di Studio Trigger agar segalanya menjadi lebih mudah. Namun, dua minggu setelah proyek ini mendapat lampu hijau dan saya sedang menghitung hari keberangkatan, pandemi COVID-19 melanda dan memaksa kami melanjutkan komunikasi sepenuhnya melalui panggilan video. Prosesnya tentu jauh lebih berat, tetapi akhirnya kami berhasil melaluinya. Kami mulai saling memahami, berdiskusi mengenai motivasi karakter dan makna dari setiap adegan.
Ketika kami merasa bahwa tema cerita tersebut benar-benar menyentuh kami dan kami melihat diri kami tercermin dalam karakter-karakter tersebut, segalanya menjadi jauh lebih mudah. Kami menyadari bahwa kami sedang menceritakan kisah yang sama-sama kuat. Dari titik itulah proses penulisan dan seluruh upaya produksi berjalan dengan lancar.
Menghidupkan Karakter dan Menjaga Nuansa Night City
T: Anda telah menulis berbagai karya yang berkaitan dengan Cyberpunk 2077. Apakah ada hal khusus yang menjadi inspirasi Anda saat menulis cerita untuk Edgerunners?
J: Saya selalu berusaha menggunakan Cyberpunk 2077 untuk membahas hal-hal yang menyentuh saya, yang saya anggap nyata dan penting di dunia saat ini. Terkadang isu tersebut berukuran besar dan global, tetapi sering kali saya lebih suka menjaga agar ceritanya tetap dekat dengan kehidupan manusia. Saya suka membahas emosi mereka serta hal-hal yang saya rasakan namun belum sepenuhnya saya pahami. Ketika kami tahu bahwa Cyberpunk: Edgerunners akan berfokus pada kisah David—termasuk tiga hubungan kuncinya dengan sang ibu, figur ayah Maine, serta kekasihnya Lucy—saya tahu serial ini harus berbicara tentang seberapa besar pengorbanan yang harus kita berikan untuk orang lain, kapan kita harus mulai memikirkan diri sendiri, dan apa yang bisa kita korbankan demi kebahagiaan orang yang kita cintai.
T: Apakah ada tantangan khusus saat mengadaptasi materi ke dalam format anime? Adakah hal yang mengejutkan Anda?
J: Ada saat-saat di mana saya merasa tidak mungkin memadatkan naskah 35 halaman menjadi episode anime berdurasi 20 menit, tetapi ternyata hal itu berhasil! Menemukan perbedaan tempo antara anime dengan aksi langsung atau animasi Eropa merupakan sebuah penemuan tersendiri yang menarik.
Tempo tersebut juga membuat penulisan dialog menjadi sangat unik. Saya harus berhati-hati agar tidak menulis terlalu banyak petunjuk panggung, dan terkadang saya harus melupakan aturan “tunjukkan, jangan ceritakan”. Dengan kata lain, penulisan harus lebih langsung karena sebagian informasi bisa hilang akibat tempo yang cepat. Proses ini sangat menyenangkan karena anime memiliki ekspresi yang sangat emosional. Jika penulisan laga hidup terasa introver, maka penulisan anime terasa ekstrover. Format ini memberikan kebebasan yang luar biasa, asalkan kita mau membukakan diri untuk mengikutinya.
T: Bagi siapa saja yang pernah memainkan gimnya, Night City dalam Edgerunners terlihat sangat identik dengan Night City di Cyberpunk 2077. Bagaimana reaksi Anda melihat hasil akhirnya?
J: Hasilnya tampak luar biasa. Karena saya terlibat dekat dengan Trigger sepanjang prosesnya, hal itu tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Saya tahu mereka sangat berdedikasi untuk mereka ulang kota tersebut. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam memainkan gimnya hingga mereka bahkan tahu lebih banyak daripada saya mengenai letak setiap bangunan atau arah jalan. Hal itu luar biasa karena membuat Night City terasa begitu nyata seolah-olah benar-benar ada.
T: Mengingat kesuksesan besar serial ini, pernahkah ada pembahasan mengenai pembuatan anime lain yang bersatar di semesta Cyberpunk?
J: Baru-baru ini saya selesai menulis edisi kedua dari miniseri buku komik berjejer empat berjudul Cyberpunk 2077: XOXO yang menceritakan kisah percintaan seorang gangster Maelstrom. Ini adalah kisah romantis bernuansa kelam yang akan dirilis tahun ini oleh Dark Horse Comics.
Selain itu, saya dan rekan-rekan kerja saya masih memiliki banyak kisah untuk diceritakan di dalam maupun di luar Night City, jadi nantikan berbagai hal menarik dari kami di masa mendatang.
Selain naskah Cyberpunk: Edgerunners, Bartosz Sztybor juga menggarap sejumlah buku komik Cyberpunk 2077, termasuk Big City Dreams, You Have My Word, dan Where’s Johnny.
Terima kasih banyak kepada Bapak Sztybor dan CDPR atas wawancara ini.
Penulis: Kuba Kezja dan Tamara Lazic
© Cyberpunk: Edgerunners © 2022 CD PROJEKT S.A.








