Home / Travel / Masa Depan Ghibli yang Belum Pasti: Pasca-Miyazaki, Marnie, Goro, CGI, dan Semuanya

Masa Depan Ghibli yang Belum Pasti: Pasca-Miyazaki, Marnie, Goro, CGI, dan Semuanya

header 640x 61

Awal Baru Tanja Miyazaki dan Takahata: Omoide no Marnie

Bagi banyak orang, film-film keluaran Studio Ghibli memegang tempat istimewa di masa kecil. Karya-karya klasik garapan Hayao Miyazaki dan Isao Takahata sering kali diputar berulang kali, menyampaikan pesan mendalam mengenai kerusakan lingkungan, kemajuan teknologi, serta keserakahan manusia. Karakter ikonis seperti Totoro atau Cat Bus telah menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang tak terlupakan.

Oleh karena itu, ketika film terbaru mereka yang berjudul Omoide no Marnie dirilis pada bulan Juli, penayangan perdana tersebut langsung disambut dengan antusias.

animated protagonists from studio ghibli movie
Ghibli sering menampilkan karakter gadis sebagai pemeran utama, namun film baru ini menghadirkan dua tokoh sentral sekaligus.

Sebelum resmi diluncurkan, Marnie sudah menarik perhatian publik karena dibuat tanpa keterlibatan langsung dari Miyazaki dan Takahata, dua sutradara utama di balik kejayaan Studio Ghibli. Trailer yang dirilis sempat memicu kebingungan sekaligus perdebatan di kalangan penonton. Terlebih lagi, keputusan Miyazaki untuk pensiun dari pembuatan film panjang setelah The Wind Rises membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah Marnie dan sutradaranya, Hiromasa Yonebayashi, mampu menjadi penerus sang maestro animasi.

Marnie dan Lepas dari Unsur Fantasi Tradisional

Omoide no Marnie atau yang dikenal secara internasional sebagai When Marnie was There disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi, sosok yang sebelumnya pernah mengarahkan The Secret World of Arrietty pada tahun 2010.

Hiromasa Yonebayashi at desk
Banyak yang bilang Miyazaki menggunakan sosoknya sebagai inspirasi untuk karakter No-Face dari Spirited Away.

Film ini menandai babak baru bagi Studio Ghibli. Tanpa kehadiran Miyazaki dan Takahata, muncul keraguan mengenai arah masa depan studio animasi tersebut. Tantangan besar dihadapi Yonebayashi dalam mengadaptasi buku anak-anak asal Inggris ini agar sesuai dengan standar estetika anime Jepang, sekaligus menjaga kualitas agar tidak kalah dari karya-karya pendahulunya.

Cerita bermula ketika seorang gadis dikirim ke Hokkaido untuk pemulihan kesehatan, lalu bertemu dengan sosok misterius bernama Marnie di sebuah mansion terbengkalai. Ketika poster perdana dirilis dengan menampilkan kutipan yang berarti “Aku sangat menyukaimu”, berbagai spekulasi bermunculan di internet. Sebagian warganet Jepang menduga bahwa film ini akan mengangkat unsur romansa sesama jenis, yang kemudian memicu diskusi hangat hingga perdebatan di berbagai forum online.

poster for studio ghibli film marnie

[[MEDIA_0]]

Marnie justru hadir dengan latar dunia nyata yang jujur dan membumi.

Kisah Anna, seorang gadis remaja yang menghadapi berbagai pergulatan emosional dan kerumitan latar belakang keluarga, terasa sangat relevan bagi penonton dari berbagai kalangan usia. Meskipun terdapat batas tipis yang menyentuh dunia mimpi, fokus utamanya tetap pada penyelesaian masalah nyata yang dihadapi karakternya.

visual description of the image
Penggambaran visual yang tetap memukau khas Ghibli.

Isu mengenai “romansa homoseksual” yang sempat ramai dibahas sebenarnya mencerminkan tema yang sering diangkat dalam karya Ghibli, yaitu kasih sayang dan ikatan yang melampaui batasan tertentu—sama seperti hubungan antara Ashitaka dan San dalam Princess Mononoke, Chihiro dan Haku dalam Spirited Away, atau cinta lintas waktu antara Anna dan Marnie.

Langkah Baru Goro Miyazaki

Di sisi lain, Goro Miyazaki selaku putra dari Hayao Miyazaki, tengah menempuh tantangan yang berbeda di luar studio utama. Ia menggarap serial televisi animasi berjudul Sanzoku no Musume Ronia atau Ronia the Robber’s Daughter yang diadaptasi dari buku anak-anak karya Astrid Lindgren.

[[MEDIA_1]]

Atas saran produser Toshio Suzuki, Goro mencoba keluar dari zona nyamannya dengan memanfaatkan teknologi animasi 3D CG bersama Polygon Pictures, sebuah langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh Studio Ghibli.

Goro and Hayao Miayazaki at work
Goro Miyazaki saat bekerja dalam proyek animasi.

Meskipun karya pertamanya melalui Tales of Earthsea sempat mendapat kritik tajam, kemampuan Goro dinilai semakin berkembang lewat film From Up on Poppy Hill. Kehadiran serial televisi terbaru ini menjadi pembuktian tersendiri bagi kapasitasnya sebagai seorang kreator.

Restrukturisasi dan Masa Depan Studio Ghibli

Di tengah produktivitas para animatornya, Studio Ghibli sempat diguncang rumor pembubaran divisi produksi menyusul masa pensiun Hayao Miyazaki. Toshio Suzuki kemudian memberikan klarifikasi bahwa alih-alih tutup total, studio tersebut sedang menjalani proses restrukturisasi besar-besaran.

Untuk sementara waktu, Ghibli memutuskan vakum dari memproduksi film layar lebar berdurasi panjang, sembari mempertimbangkan pembuatan proyek animasi berdurasi pendek. Keputusan ini diambil mengingat tingginya biaya produksi setiap film, terlebih karena Ghibli tetap mempertahankan standar produksi internal yang mahal tanpa mengandalkan tenaga kerja luar negeri yang lebih murah. Karya seperti The Wind Rises dan Tale of Princess Kaguya tercatat memerlukan biaya yang sangat besar untuk diselesaikan.

Kendati demikian, masih ada harapan bagi para penggemar. Hayao Miyazaki dikabarkan tetap tertarik untuk berkarya dalam skala kecil, khususnya untuk keperluan Museum Ghibli.

Dengan berbagai arah baru yang ditempuh oleh para kreatornya—mulai dari gaya penceritaan Yonebayashi yang lebih realistis hingga Eksplorasi Goro ke ranah 3D—Studio Ghibli membuktikan bahwa mereka terus beradaptasi dan siap menghadapi babak baru di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *