Home / Travel / Dinasti Ryukyu yang Terlupakan: Serba-serbi Kerajaan Tropis Jepang

Dinasti Ryukyu yang Terlupakan: Serba-serbi Kerajaan Tropis Jepang

Keluarga Kerajaan Lain di Jepang yang Terlupakan

Jepang ternyata tidak hanya memiliki satu keluarga kekaisaran. Wilayah yang kini dikenal sebagai Okinawa pernah diperintah oleh Dinasti Sho selama lebih dari empat abad, meskipun fakta ini jarang diketahui banyak orang. Kekuasaan mereka resmi berakhir pada tahun 1879, dan para keturunannya kini hidup membaur sebagai rakyat biasa tanpa gaya hidup yang mewah. Lantas, bagaimana sejarah kerajaan yang kurang terkenal ini dan cara mereka mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini?

Para Penguasa Ryukyu

A map of the Ryukyu Islands during the Sanzan Period

Dinasti Sho memimpin Kerajaan Ryukyu—sebuah kepulauan yang terletak di antara Taiwan dan Kyushu—dari awal abad ke-15 hingga tahun 1879. Hal yang paling membedakan kerajaan ini adalah ketiadaan tentara tetap. Mereka mampu bertahan hidup murni mengandalkan jalur perdagangan dan diplomasi. Di tengah kawasan yang kerap dilanda konflik, mereka justru sukses membangun jaringan dagang luas yang membentang mulai dari Siberia hingga Siam.

Armada kapal Ryukyu, yang banyak di antaranya disediakan oleh China, aktif berniaga di berbagai pelabuhan penting seperti Vietnam, Korea, Jepang, Jawa, Malacca, Pattani, Palembang, Siam, Sumatera, dan China. Komoditas yang diperjualbelikan sangat beragam, mulai dari barang-barang asal Jepang (perak, pedang, kipas, keramik pernis, dan paravaran), produk China (obat-obatan herbal, koin cetak, keramik berglazur, serta tekstil brokat), hingga hasil bumi Asia Tenggara (kayu secang, cula badak, timah, gula, besi, dan ambergris), gading dari India, hingga kemenyan Arab.

Chinese shipping containers in the Ryukyu Islands

Ketika bangsa-bangsa lain sibuk merencanakan invasi, Kerajaan Ryukyu justru membangun reputasi sebagai perantara yang jujur. China bahkan menjuluki mereka sebagai “negara yang menjunjung sopan santun”. Suasana kerajaan diwarnai oleh kedamaian, aktivitas perdagangan yang sibuk, serta kebudayaan lokal yang dinamis.

Keberhasilan mereka menghindari berbagai invasi tidak lepas dari peran penting mereka dalam perdagangan internasional serta dukungan penuh dari kaisar China. Perlu dicatat bahwa pada masa itu, Okinawa belum menjadi bagian dari Jepang, melainkan sebuah kerajaan yang sepenuhnya berdaulat.

Invasi dan Berakhirnya Kemerdekaan

Japanese troops invade the kingdom in the Ryukyu Islands

Titik balik sejarah terjadi ketika pasukan Jepang datang menginvasi. Sekitar tahun 1590, Toyotomi Hideyoshi meminta bantuan Kerajaan Ryukyu untuk menaklukkan Korea, dengan rencana selanjutnya menyerang China. Karena status Ryukyu sebagai negara tributari atau vasal dari Dinasti Ming di China, permintaan tersebut secara tegas ditolak.

Penolakan ini memicu kemarahan Jepang. Pada tahun 1609, penguasa feodal Satsuma mengirim pasukannya untuk menginvasi Kepulauan Ryukyu sekaligus meruntuhkan masa kejayaan mereka. Sang raja diculik dan dipaksa untuk menyatakan sumpah setia kepada Satsuma, sementara seluruh kendali perdagangan diambil alih oleh klan tersebut.

Meskipun kehilangan kedaulatan politiknya, keluarga Sho tetap diizinkan untuk berkuasa selama 270 tahun berikutnya dengan posisi yang dilematis di antara kaisar China dan Jepang. Ryukyu tetap memberikan upeti kepada China, sementara di sisi lain, saat Jepang menutup diri selama 250 tahun, kerajaan ini menjadi jalur utama perdagangan internasional bagi Jepang.

Commodore Matthew Perry's fleet visits the Ryukyu Islands

Bahkan, Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat sempat singgah ke kepulauan ini pada tahun 1853. Ia menuntut pertemuan dengan raja dan disambut dengan hangat oleh istana Ryukyu. Perry mendeskripsikan tempat tersebut sebagai salah satu wilayah yang paling menyenangkan di dunia, dan tampaknya ia sangat menikmati kunjungannya karena membawa pulang banyak cinderamata.

Strategi Dagang Penuh Rahasia

People in the Ryukyu Islands participating in a shady deal

Pihak kekaisaran China sengaja dibiarkan tidak tahu mengenai pengaruh Jepang di balik kendali Ryukyu. Walaupun secara de facto berada di bawah kekuasaan Satsuma, Ryukyu tetap diberikan tingkat otonomi yang tinggi demi kelancaran perdagangan dengan China.

Karena Jepang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan China, sangat penting bagi Beijing untuk tidak menyadari bahwa Ryukyu telah dikuasai oleh Jepang. Oleh karena itu, Satsuma dan pemerintah Jepang membiarkan Ryukyu memerintah diri mereka sendiri demi menjaga kerahasiaan tersebut.

Ryukyu Islands' Satsuma Pavilion at the 1867 International Exposition

Dampaknya, Jepang tidak dapat melakukan pendudukan secara terbuka atau mengatur hukum dan kebijakan di sana secara langsung. Pengaturan yang tidak biasa ini mendatangkan keuntungan bagi pemerintah kerajaan Ryukyu, daimyo Satsuma, maupun shogun sendiri.

Mereka berupaya menampilkan Ryukyu selayaknya negara asing yang unik. Warga Jepang dilarang berkunjung ke Ryukyu tanpa izin khusus, sebaliknya rakyat Ryukyu dilarang menggunakan nama Jepang, mengenakan pakaian gaya Jepang, atau mengadopsi kebiasaan masyarakat Jepang.

Bahkan ketika berkunjung ke Edo, warga Ryukyu dilarang menunjukkan pemahaman berbahasa Jepang. Sebagai satu-satunya klan yang memiliki raja dan satu wilayah kerajaan utuh sebagai vasal, Satsuma memperoleh kehormatan besar dari citra eksotik Ryukyu yang memperkuat kesan bahwa wilayah tersebut benar-benar terpisah dari Jepang.

Seiring berjalannya waktu, Jepang mulai mendesak China untuk melepaskan pengaruhnya demi penguasaan penuh atas Ryukyu. Pada tahun 1875, Jepang memerintahkan mereka untuk menghentikan pengiriman upeti ke China, yang kemudian disusul pemutusan hubungan secara total pada tahun 1879. Kerajaan tersebut dibubarkan dan wilayah kepulauannya dianeksasi menjadi Prefektur Okinawa. Kendati demikian, masyarakat Ryukyu pada masa itu belum sepenuhnya dianggap sebagai bagian dari warga negara Jepang.

Kehidupan Keluarga Sho di Era Modern

Shuri Castle in the Ryukyu Islands, now Okinawa

Kini, Pangeran Tsuguru Sho sama sekali tidak menjalani keseharian bagaikan seorang bangsawan tinggi. Ia mengelola sebuah bar di Tokyo, dan hampir tidak ada pelanggan yang menyadari latar belakang darah biru yang dimilikinya. Tsuguru terlampau sibuk melayani para tamu di restoran bergaya Zen miliknya yang terletak tidak jauh dari Kompleks Istana Kekaisaran Jepang.

Bagi saya pribadi dan kerabat, kami sangat bangga menyandang nama Sho. Namun, Kerajaan Ryukyu telah bertransformasi menjadi Prefektur Okinawa, dan kami menjalani kehidupan sehari-hari selayaknya warga biasa. – Tsuguru Sho

Eksistensi istana Ryukyu telah tiada, sementara berbagai peninggalan serta artefak bersejarah mereka kini tersimpan di berbagai museum di dalam maupun luar negeri. Keluarga ini menjaga warisan budaya mereka melalui penggunaan dialek istana khusus—mirip seperti tradisi yang dipelihara oleh keluarga kekaisaran Jepang—yang biasa mereka gunakan saat berkumpul bersama keluarga.

Illustration of people from the Ryukyu Islands

Pertemuan keluarga rutin diadakan mengingat kerabat Dinasti Sho kini telah tersebar luas. Di Okinawa sendiri, beberapa anggota keluarga mengelola lembaga pendidikan persiapan, taman kanak-kanak, hingga fasilitas parkir. Selepas runtuhnya kekuasaan mereka, pemerintah Jepang sempat memberikan sejumlah hak istimewa dan kedudukan terhormat, seperti kursi di Dewan Bangsawan, bahkan beberapa di antaranya menikahi anggota keluarga kekaisaran.

Sayangnya, berbagai keistimewaan tersebut musnah akibat Pertempuran Okinawa pada Perang Dunia II. Menjelang akhir perang pada tahun 1945, lebih dari 90 persen penduduk Okinawa kehilangan tempat tinggal, termasuk keluarga Sho. Kastil Shuri hancur lebur—meskipun kini telah selesai dipugar—dan Dewan Bangsawan dibubarkan. Okinawa kemudian berada di bawah kendali Amerika Serikat selama 27 tahun sebelum akhirnya dikembalikan kepada Jepang pada tahun 1972.

Keluarga Sho saat ini menjalani kehidupan yang serupa dengan keluarga Jepang pada umumnya. Sebagian anggota keluarga menyimpan kekhawatiran bahwa generasi muda mungkin mulai melupakan tradisi leluhur, termasuk penggunaan dialek istana tersebut. Terlepas dari tingkat kepopuleran mereka di era modern, rekam jejak sejarah keluarga ini akan terus abadi dalam lembaran sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *