Bagi sebagian besar masyarakat Barat, mengucapkan kata “aku mencintaimu” di awal masa pendekatan mungkin akan membuat sang calon pasangan merasa kaget dan memilih untuk menghindar. Ungkapan cinta dalam bahasa Inggris memiliki makna yang sangat mendalam dan tidak boleh diucapkan secara sembarangan. Seseorang bisa saja berkencan dan menyukai orang lain tanpa harus langsung mencintainya, begitu pula sebaliknya.
Namun, dinamika yang berlaku di Jepang sangatlah berbeda. Segala sesuatunya biasanya bermula dari tradisi kokuhaku 告白, yaitu momen ketika seseorang menyatakan perasaan cintanya sekaligus mengajak gebetannya untuk mulai berpacaran. Mari kita selami lebih dalam mengenai tradisi unik ini!
Seni Melakukan Kokuhaku

Secara harfiah, kokuhaku 告白 berarti “pengakuan”. Tindakan ini dilakukan oleh seorang pria atau wanita untuk menyatakan perasaan kasih sayang mereka dengan harapan bisa merajut hubungan asmara. Bentuk pernyataan yang paling dasar biasanya berbunyi:
- 好きです。付き合ってください。
- Aku menyukaimu. Maukah kita mulai berpacaran?
Kata tsukiau 付き合う sendiri merujuk pada aktivitas berkencan, saling mengenal, atau menjalin hubungan asmara. Kalimat semacam ini sangat sering dijumpai dalam berbagai film maupun anime Jepang. Apabila pernyataan tersebut diterima, maka hal itu menandai dimulainya hubungan pacaran yang serius.
Meskipun Anda mungkin sudah pergi keluar bersama beberapa kali, hubungan resmi tersebut secara teknis belum dimulai sebelum kokuhaku terjadi. Terkadang, ketegangan menjelang momen ini begitu besar hingga ada yang menyatakan cinta bahkan sebelum kencan pertama, lalu dilanjutkan dengan ajakan jalan berdua secara canggung. Walaupun terdengar kurang lazim bagi sebagian orang, langkah ini sering kali dianggap sebagai opsi terbaik.
Selepas pernyataan cinta ini diucapkan, menjalin hubungan dengan orang lain sudah bisa dianggap sebagai bentuk perselingkuhan karena kedua belah pihak telah sepakat untuk berkomitmen secara eksklusif. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep pacaran serius di budaya Barat. Kendati demikian, perbedaan tahapan awal dalam membina hubungan ini kerap memicu kesalahpahaman bagi para pendatang asing di Jepang.
Banyak warga asing merasa bingung dengan sikap pria atau wanita Jepang yang terkesan menjaga jarak dan enggan bergandengan tangan saat berkencan. Akan tetapi, ketika si orang asing menanyakan peluang kencan selanjutnya dan dibalas dengan antusias, itu tandanya mereka mungkin sedang menantikan momen kokuhaku dari Anda. Pernyataan cinta ini berfungsi layaknya sebuah tombol pengaktif; begitu ditekan, barulah mereka masuk ke dalam mode pacaran sepenuhnya, meskipun warga Jepang umumnya tetap jarang menunjukkan kemesraan di muka umum.
Antara Suka dan Cinta

Memahami batasan antara “suka” dan “cinta” dalam bahasa Jepang bisa jadi cukup membingungkan karena kata suki dapat merepresentasikan kedua makna tersebut.
Meskipun ada kosakata khusus untuk menyatakan cinta yaitu aishiteru 愛している, kata ini sangat jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ungkapan ini biasanya hanya dikeluarkan oleh dua orang sahabat karib yang sedang mabuk berat, atau disimpan khusus bagi mereka yang benar-benar memiliki arti istimewa dalam hidup seseorang.
Secara sederhana, aishiteru memikul bobot emosional yang jauh lebih berat ketimbang suki ataupun daisuki (sangat suka). Di dunia Barat, kata “love” kerap disematkan pada hal-hal sepele seperti donat, film, atau bahkan tagar di media sosial. Sebaliknya, aishiteru di Jepang hanya dipakai untuk satu tujuan yang sangat sakral.
Oleh karena itu, kebingungan kerap timbul akibat perbedaan terjemahan dan persepsi budaya. Ketika seseorang menyatakan cinta menggunakan kata suki di Jepang, maknanya tidak seketat aishiteru. Pernyataan cinta dalam kokuhaku tidak selalu berarti cinta yang teramat mendalam, melainkan mirip seperti ungkapan kesukaan pada umumnya.
Hubungan asmara di Jepang umumnya memang berawal dari perayaan “pengakuan” besar ini. Bahkan setelah beberapa kali berkencan, rekan-rekan Anda di Jepang kemungkinan besar akan menanyakan apakah gebetan Anda sudah menyatakan cintanya. Sebagian orang bahkan secara blak-blakan menyatakan niat mereka sejak awal melalui ungkapan seperti:
- 結婚を前提にお付き合いさせてください
- Aku ingin menjalin hubungan denganmu dengan tujuan akhir sebuah pernikahan.
Bagi sebagian kalangan, berkencan tanpa kejelasan arah menuju jenjang pernikahan dianggap sebagai buang-buang waktu, sehingga pendekatan praktis semacam ini dinilai sangat efektif.
Keberanian untuk Melakukan Kokuhaku

Jika Anda menaruh hati pada seseorang di Jepang dan berkeinginan untuk merajut hubungan yang serius, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengakuan perasaan. Berdasarkan survei tentang pernyataan cinta yang dilakukan oleh Unilever Japan pada tahun 2011 terhadap 300 responden pria dan wanita dari berbagai kalangan usia, sebanyak 79% partisipan mengaku kesulitan untuk melakukannya. Dua alasan utamanya adalah:
- Merasa tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sang gebetan.
- Kurangnya rasa percaya diri pada diri sendiri.
Selain itu, sekitar 25% responden menyatakan bersedia menyatakan cinta jika peluang keberhasilannya di atas 90%, sementara 43% lainnya siap mencoba dengan peluang 70%, dan 22% sisanya mau mengambil risiko pada peluang 50-50.
Menariknya, catatan dari jurnal yang sama menunjukkan bahwa hanya 21% orang yang merasa menyesal setelah menyatakan cinta, sedangkan persentase penyesalan bagi mereka yang memilih diam jauh lebih tinggi, yakni mencapai 52%. Selain itu, 55% responden mengaku bisa saja mulai menumbuhkan rasa suka kepada seseorang yang telah menyatakan perasaan kepada mereka, terlepas dari apakah mereka awalnya memandang si pengaku sebagai calon kekasih atau bukan.
Cara-Cara Menyatakan Cinta yang Dianggap Buruk oleh Pria
Meskipun tradisi pengakuan cinta ini tampak menarik, ada kalanya eksekusi dari pihak pria justru berujung pada kegagalan. Berdasarkan survei yang diadakan oleh My-navi-woman pada tahun 2013, tercatat ada 124 dari 476 wanita yang terpaksa menolak pernyataan cinta karena cara penyampaiannya dinilai buruk atau bahkan mengerikan.

- メールで告白された。しかも朝の5時に。(33歳/女性)
- Dia menyatakan cinta lewat pesan singkat. Terlebih lagi dilakukan pada pukul 5 pagi. (Wanita 33 tahun)
Menyatakan cinta atau bahkan memutuskan hubungan melalui pesan teks kini memang semakin jamak ditemui, namun sebagian besar orang menganggap cara ini mencerminkan ketidakseriusan dalam merajut hubungan.
- 「俺、ヒモになりたい」と言ってきた人がいた。あり得ない。(32歳/女性)
- Ada pria yang berkata kepada saya, “Aku ingin menjadi tali (pria simpanan).” Sungguh tidak masuk akal! (Wanita 32 tahun)
Dalam bahasa Jepang, istilah himo 紐 atau tali kerap diasosiasikan dengan pria yang menggantungkan kebutuhan finansialnya sepenuhnya kepada pasangan wanita mereka, yang sering kali lekat dengan hubungan tidak sehat.
- 「俺と両親を養ってくれ」と言われた。ドン引きした。(28歳/女性)
- Saya diminta untuk menafkahi dia beserta orang tuanya, yang membuat saya langsung kehilangan minat. (Wanita 28 tahun)
Ada pula kisah-kisah lain yang tak kalah mencengangkan, mulai dari menerima surat cinta yang terlalu panjang dari rekan kerja yang bahkan belum pernah diajak berbicara, pernyataan cinta dengan suara menggelegar di dalam kereta bawah tanah oleh orang asing, hingga aksi memeluk secara tiba-tiba dari belakang yang justru menimbulkan rasa takut alih-alih romantis.

- 漫画のキャラクターの名前を挙げて、それよりもかわいいから付き合ってと言われた。(25歳/女性)
- Dia membandingkan saya dengan karakter manga tertentu dan meminta saya menjadi pacarnya karena saya dinilai lebih manis dari karakter tersebut. (Wanita 25 tahun)
Bahkan, ada pula pria yang datang membawa resume pribadi seolah-olah sedang melamar pekerjaan, menuliskan ungkapan cinta di papan tulis kelas saat masih duduk di bangku sekolah, hingga tiba-tiba menunjukkan slip gaji mereka kepada sang wanita.

Secara keseluruhan, sistem pengakuan cinta atau kokuhaku ini mungkin terasa asing jika dibandingkan dengan budaya di belahan dunia lain. Kendati demikian, tradisi ini sangat membantu memperjelas status hubungan sejak awal dan merintis jalan menuju kencan dengan lebih terarah. Dengan adanya tradisi ini, pasangan tidak perlu merasa canggung untuk mempertanyakan kejelasan status hubungan mereka, karena kedua belah pihak sudah memahami peran dan ekspektasi masing-masing setelah momen pernyataan cinta tersebut terucap.








