Bagi sebagian orang, masa kecil diisi dengan minum susu Yakult, menyantap natto, menonton serial Doraemon, serta mengenakan topi kuning cerah dan tas ransel sekolah berwarna merah tua yang disebut randoseru. Pengalaman ini sangat lumrah bagi anak-anak yang besar di pinggiran Tokyo, termasuk saya sendiri.

Namun, rutinitas tersebut berubah drastis ketika saya menginjak usia delapan tahun.
Ayah saya yang bekerja di sebuah perusahaan perdagangan internasional ditugaskan ke luar negeri. Gelombang ekspatriat Jepang yang kian meningkat membuat keluarga kami harus pindah dan menetap di Texas pada tahun itu.
Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, kebiasaan saya bergeser. Yakult berganti menjadi Capri-Sun, sementara Doraemon digantikan oleh tayangan seperti Arthur dan Hey Arnold! Saya mulai bersekolah di lembaga pendidikan publik setempat, mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, serta berteman dengan anak-anak Amerika dari berbagai latar belakang ras.
Di tanah air saya, anak-anak dengan latar belakang seperti inilah yang disebut sebagai kikokushijo.
Arus globalisasi ekonomi memaksa banyak perusahaan Jepang untuk mengirimkan pegawai mereka bertugas di luar negeri. Negara tujuannya pun beragam, mulai dari kawasan Asia tetangga seperti Singapura, benua Amerika, hingga wilayah Afrika. Ketika para pekerja ini merantau, tentu saja mereka memboyong serta anggota keluarga.
Anak-anak dari keluarga ekspatriat inilah yang menyandang status sebagai kikokushijo, atau secara harfiah berarti “anak-anak yang kembali ke negeri asal”. Sebagian besar atau bahkan seluruh masa pendidikan mereka dihabiskan di luar negeri, baik melalui sekolah internasional, sekolah lokal, maupun sekolah khusus Jepang di luar negeri jika tersedia. Mereka seakan dicabut dari akar budaya asal dan dibesarkan di tengah masyarakat yang asing. Di Amerika Serikat, istilah serupa yang sering digunakan untuk mendefinisikan fenomena ini adalah “third culture kids”.
Berkat pola pengasuhan yang unik dan mendunia tersebut, kikokushijo sering kali memiliki citra tersendiri di mata media dan masyarakat Jepang. Di balik stereotip yang kerap melabeli mereka sebagai kelompok elit, tidak sedikit pula anak-anak returnee yang justru merasa kesulitan saat harus beradaptasi kembali di negeri sendiri. Lantas, siapakah sebenarnya kikokushijo itu?
Kikokushijo dalam Media: Kisah Anak Super
Dunia hiburan Jepang, khususnya manga dan anime, sangat gemar menggunakan label kikokushijo untuk karakter protagonis utama.
Salah satu contoh paling ikonik adalah petenis jenius Ryoma Echizen dari serial The Prince of Tennis karya Takeshi Konomi. Dalam cerita tersebut, ia dikisahkan tumbuh besar di Los Angeles sebelum akhirnya kembali ke Jepang, bergabung dengan klub tenis sekolah, dan langsung mendominasi sebagai pemain tahun pertama yang kemampuan permainannya kerap dianggap melampaui batas nalar manusia.

Karakter serupa juga dapat ditemukan pada sosok Taiga Kagami dari serial populer Kuroko no Basuke. Berasal dari Los Angeles, ia kembali ke Jepang untuk melanjutkan sekolah menengah atas dan langsung memperkuat klub bola basket sekolah berbekal kemampuan yang diasah di Amerika Serikat.

Penggemar anime tentu tidak asing dengan Asuka Langley Soryu dari franchise Evangelion. Ia juga merupakan seorang kikokushijo yang memiliki darah keturunan Jerman, sehingga latar belakang internasionalnya semakin menonjol.

Media massa kerap melekatkan predikat kikokushijo pada karakter utama yang memiliki bakat luar biasa, baik dalam bidang olahraga maupun dalam hal mengendalikan robot raksasa.
Singkatnya, media menggambarkan kikokushijo sebagai sosok anak super yang memiliki keahlian istimewa. Padahal, tentu saja tidak semua anak yang kembali dari luar negeri lantas memiliki kemampuan di luar nalar—meskipun mengoperasikan robot raksasa terdengar cukup menarik.
Upaya “Menyelamatkan” Kikokushijo
Jika kembali ke dunia nyata, anak-anak ini sama sekali bukan manusia super. Bahkan, pada era 1970-an, masyarakat Jepang memandang para kikokushijo dengan sudut pandang yang cenderung negatif.
Jepang pada masa lalu dikenal sangat menjunjung tinggi homogenitas dan berkeinginan untuk mempertahankan kebudayaan lokal yang murni. Akibatnya, anak-anak yang kembali dari luar negeri sering dianggap terlalu individualistis, terlalu berbeda, dan terlalu terpengaruh budaya barat. Publik beranggapan bahwa anak-anak ini perlu “diselamatkan” dan direintegrasikan kembali ke dalam norma masyarakat Jepang. Segala unsur asing yang mereka pelajari di luar negeri—mulai dari bahasa, pola pikir, hingga nilai-nilai kehidupan—dianggap tidak pantas jika mereka ingin hidup di tengah masyarakat Jepang.
Hal inilah yang diduga menjadi latar belakang diciptakannya istilah kikokushijo; sebuah kategori untuk memudahkan identifikasi publik agar anak-anak tersebut dapat “diselamatkan” dari stigma sebagai orang yang kurang menjunjung nilai-nilai ke-Jepangan.
Namun, pandangan yang kaku tersebut tidak bertahan selamanya. Seiring dengan masuknya era globalisasi dan meningkatnya interaksi internasional selama ledakan ekonomi tahun 1980-an, masyarakat Jepang mulai melihat anak-anak returnee sebagai aset penting bagi masa depan negara.
Bagaimanapun juga, mereka kembali dengan kemampuan bahasa asing yang baik serta kepercayaan diri dalam berinteraksi lintas budaya. Jepang menyadari bahwa kapasitas tersebut sangat dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi sebagai negara modern di kancah global. Karena sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga mapan dengan latar belakang pendidikan tinggi, publik lantas mengaitkan kikokushijo dengan kelas sosial elit yang memiliki akses istimewa terhadap kesempatan belajar di luar negeri.
Perubahan pandangan ini turut memengaruhi sistem pendidikan di Jepang. Sekolah tingkat menengah hingga perguruan tinggi mulai membuka jalur khusus penerimaan siswa yang disebut kikokushijo-waku. Jalur ini memberikan perhatian khusus pada latar belakang pendidikan internasional yang telah mereka tempuh di luar negeri.
Tantangan dan Hambatan Sosial yang Masih Tersisa

Perubahan sikap positif dari institusi pendidikan bukan berarti stereotip dan prasangka buruk di tengah masyarakat serta-merta hilang sepenuhnya.
Sebagai seseorang yang dibesarkan dengan latar belakang kikokushijo, saya telah mendengar banyak kisah mengenai anak-anak returnee yang mengalami perundungan atau dikucilkan di sekolah hanya karena dianggap berbeda.
Sedikit saja kata berbahasa asing terucap, seluruh kelas akan langsung menatap dengan penuh selidik. Ketika menceritakan pengalaman tinggal di luar negeri secara terbuka, mereka sering kali dicap sedang menyombongkan diri. Para pelaku perundungan terkadang memaksa anak-anak returnee untuk membuktikan kemampuan bahasa asing mereka, padahal tidak sedikit kikokushijo yang justru bersekolah di lembaga pendidikan khusus Jepang selama di luar negeri sehingga tidak serta-merta mahir bahasa setempat.
Sayangnya, sebagian guru di sekolah lokal terkadang gagal memberikan pemahaman kepada para siswa untuk menyambut pendatang baru dengan baik. Seorang rekan saya yang kembali ke Jepang saat duduk di bangku SMP pernah menceritakan bagaimana gurunya bersikap acuh tak acuh dan menganggap perundungan sebagai sesuatu yang wajar karena status mereka yang “berbeda”.
Dulu, saat saya berada di kelas lima SD, orang tua saya sempat mempertimbangkan untuk memasukkan saya ke sekolah internasional demi menghindari risiko perundungan di sekolah lokal apabila kami kembali ke Jepang. Hingga kini, saya terkadang merenungkan apa yang mungkin terjadi seandainya saya kembali lebih awal, sembari merasa ngeri mendengarkan berbagai kisah kelam yang dialami para kikokushijo di tanah air mereka sendiri.
Menghilangkan Dilema Kikokushijo
Jumlah kikokushijo di Jepang dipastikan akan terus bertambah seiring dengan proses globalisasi yang berjalan pesat serta keterbukaan negara terhadap pertukaran budaya, perdagangan, dan dunia bisnis internasional.
Saat ini, masyarakat Jepang jauh lebih terbuka dan memahami kebutuhan anak-anak returnee dibandingkan masa lalu. Semakin banyak institusi pendidikan yang siap mengakomodasi dan memberikan pengalaman transisi yang mulus bagi mereka yang kembali ke tanah air. Sebagian besar anak-anak ini pun dapat beradaptasi dengan baik, mendapatkan teman baru, dan menjalani kehidupan normal tanpa kendala berarti.
Kendati demikian, stereotip tertentu masih melekat dan kerap memicu kesalahpahaman antara anak-anak returnee dengan komunitas lokal. Berbeda dengan penggambaran di dalam media populer, kikokushijo tetaplah anak-anak Jepang pada umumnya. Tinggal di luar negeri tidak lantas membuat mereka otomatis mahir dalam segala hal, baik itu tenis, bola basket, maupun mengoperasikan robot raksasa.
Status sebagai kikokushijo mungkin menghadirkan dinamika tersendiri bagi para remaja Jepang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun, seiring dengan langkah Jepang yang semakin terintegrasi dengan dunia global, diharapkan berbagai dilema yang kerap dihadapi anak-anak returnee ini pada akhirnya akan dapat teratasi sepenuhnya.








